Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Hukuman Untuk Devan


__ADS_3

Devan sudah berada di rumah sakit, dia sudah tidak lagi mempedulikan penampilannya saat ini, dia hanya memakai celana pendek jeans dan juga baju atasan kaos, tentu saja hal ini berbeda sekali dengan penampilan Devan yang biasa orang lihat, di sepanjang koridor rumah sakit penampilan Devan menjadi sorotan banyak orang, siapa yang tidak mengenal Devan yang sudah menjadi pembisnis sukses yang namanya memenuhi berbagai majalah bisnis dengan image yang tegas dan dingin.


Tapi kali ini raut wajahnya tidak menunjukkan raut dingin sama sekali hanya rasa cemas dan khawatir yang saat ini di rasakan nya, tadi dia sudah memberitahu ibunya dan juga kedua orang tua Renatta kalau Renatta mengalami kecelakaan.


Sesampainya di depan ruang UGD, Devan langsung terduduk lemas di kursi tunggu, ketakutan yang di rasakan nya mengenai kondisi Renatta membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih, dia juga tidak memberitahu mengenai kecelakaan ini kepada Zio dan Zia.


Tidak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka, menampilkan seorang dokter yang datang menghampirinya "Bagaimana kondisi istri saya"


"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan di otaknya tetapi untuk kondisi bayinya kami harus melakukan pemerikasaan lebih detail, tapi kemungkinan terburuknya kita terpaksa mengangkat janin di kandungan istri anda dan lebih buruknya kami akan mengangkat rahim istri anda juga"


Merasa tidak terima dengan jawaban dari dokter tersebut, Devan mencengkram kerah bajunya "Jangan mengatakan yang tidak - tidak, anakku akan baik baik saja dan tidak akan ada pengangkatan rahim yang dilakukan kepada istriku" dirinya kini sudah di liputi kemarahan.


Raka yang melihat Devan sedang mencengkram kerah baju seorang dokter segera melepas cengkraman Devan "Apa yang kamu lakukan Dev, ingat kita sedang ada di rumah sakit" Raka masih berusaha melepas cengkraman tangan Devan.


Devan terpaksa melepaskan cengkraman nya akibat tarikan kuat Raka pada tubuhnya.


"KONTROL EMOSI KAMU DEV, INI RUMAH SAKIT" Teriak Raka pada Devan


Devan mengacak rambutnya frustasi, ucapan dari dokter tadi benar - benar mengganggu pikirannya, bagaimana bisa tadi dokter mengatakan kalau anaknya bisa jadi tidak selamat dan juga apa yang harus dia katakan kepada Renatta kalau sampai rahimnya harus di angkat.


Melihat kondisi Devan yang masih di penuhi emosi, dokter yang menangani Renatta memilih mengajak Raka untuk membicarakan tentang kondisi Renatta saat ini.


"Tenangin diri kamu dulu, aku yang akan bicara dengan dokter mengenai kondisi Renatta" Raka pergi meninggalkan Devan yang masih berusaha meredam emosinya.


Kecemasan juga melanda kedua orang tua Renatta yang saat ini juga sudah berada di depan ruang UGD, sedangkan Raka baru keluar dari ruang dokter dengan pandangan sendu, dia menghampiri Devan lalu menunjukkan sebuah tes hasil kondisi tubuh Renatta saat ini.


"Renatta harus melakukan operasi pengangkatan rahim dan juga kemungkinan anak kalian selamat sangat minim, dokter mengatakan kalau kecelakaan yang di alami Renatta menyebabkan benturan cukup keras pada perutnya, sehingga terpaksa dokter melakukan operasi pengangkatan rahim"


Devan menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui apa yang di ucapkan "Itu tidak mungkin" Ucap Devan kepada Raka.


"Tapi itu yang harus di lakukan Dev, atau itu akan membahayakan nyawa Renatta" Di serahkan nya bukti persetujuan operasi pengangkatan rahim kepada Devan


Devan memandang kertas yang ada di tangannya dengan tatapan nanar, semua ini seolah mimpi untuknya, padahal baru kemarin dia dan Renatta bahagia menyambut akan kehadiran anak ke tiga mereka tetapi justru takdir seolah tidak berpihak kepada mereka, lalu apa yang harus dia lakukan, apa ini jalan terbaik untuk semuanya, tapi apa yang harus di katakan nya pada Renatta tentang operasi pengangkatan rahim yang akan di lakukan nya.


Tatapan Devan beralih ke arah ibunya yang juga menatapnya, dia juga bisa melihat kalau ibunya tersenyum seolah memberikannya kekuatan, akhirnya mau tidak mau dia menanda tangani surat tersebut walaupun dengan tangan yang sedikit gemetar, sungguh ini pilihan yang berat untuknya.

__ADS_1


Operasi sudah di lakukan setelah Devan membubuhkan tanda tangannya tanda setuju, sedari operasi di lakukan Devan hanya bisa melamun memikirkan bagaimana kondisi Renatta setelah ini, kemarahan apa yang akan Renatta berikan kepadanya karena dengan tega menyetujui hal ini.


Pintu ruang operasi terbuka, keluarkan beberapa dokter dan pasien yang sudah membawa tubuh Renatta yang terbaring di brankar pasien dengan mata yang masih terpejam erat.


.


.


.


Kini Renatta sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, matanya masih setia terpejam tanpa berniat untuk membuka matanya, Devan menggenggam tangan Renatta erat sesekali dia mencium tangan dingin milik Renatta.


"Bangunlah Re, jangan memejamkan matamu secara terus menerus apa kamu tidak kasian melihat Zio dan Zia yang bisa sedih jika melihat kondisi kamu yang sekarang" Ucapnya lalu mengusap pipi Renatta pelan.


Devan merasakan kalau jari tangan Renatta yang dia genggam tiba - tiba bergerak, lalu tidak lama kemudian mata Renatta perlahan terbuka "haus" lirihnya.


"Sayang kamu sudah sadar" Devan segera mengambil minum dan memberikannya kepada Renatta.


"Apa yang terjadi kepadaku Dev?" Tanyanya masih dengan suara yang sedikit terputus putus, kemudian dirabanya perutnya yang terasa berbeda.


"Aku tanya, apa yang terjadi denganku Dev, kenapa perutku rasanya berbeda, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Renatta dengan tatapan menuntut.


"Aaanak... kita tidak bisa di selamatkan Re" di pejamkan nya matanya saat mengatakan hal tersebut sungguh kata - kata tersebut juga sangat menyakitinya.


"Nggak mungkin" Renatta menggelengkan kepalanya "Kamu pasti berbohong kan Dev" Renatta meraba perutnya.


"Aku tidak berbohong Re" Di helanya nafasnya pelan "Dan juga rahim kamu terpaksa harus di angkat karena benturan keras yang kamu alami saat kecelakaan" di tatapnya Renatta yang raut wajahnya mendadak tidak menampilkan ekspresi apapun.


"Sayang" Ucapnya lalu tangannya menggenggam tangan Renatta, tetapi sebelum tangannya berhasil menggenggam tangan Renatta, Renatta terlebih dahulu menepis tangan Devan.


"Keluarlah Dev, aku ingin berbicara dengan Kak Raka" Suaranya berubah menjadi bergetar.


"Re"


"Keluarlah Dev, aku mohon aku hanya meminta aku hanya ingin berbicara dengan Kak Raka" Pintanya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.

__ADS_1


Akhirnya Devan menuruti ucapan Renatta, walaupun sebenarnya dia enggan untuk melakukannya.


Setelah Devan keluar dari ruang rawat inap Renatta, tidak lama munculnya Raka yang masuk ke dalam ruang perawatannya.


"Kak" Panggilnya pada Raka.


Raka duduk di kursi dekat brankar pasien "Kenapa kamu melakukan semua ini Re, alasan apa yang membuat kamu menyuruhku untuk berbohong mengenai semua ini kepada ku".


"Aku hanya ingin memberikan hukuman kepada Devan karena sudah menyembunyikan hal besar kepadaku kak"


Ya, Renatta memang baik baik saja, anak yang di dalam kandungannya juga baik baik saja, dia memang yang meminta kepada dokter untuk mengatakan semua kebohongan ini kepada Devan dengan bantuan Raka, awalnya tentu saja dokter tersebut menolak permintaan Renatta karena jelas ini melanggar kode etik kedokteran, tetapi dengan paksaan yang dia berikan akhirnya dokter tersebut mau membantunya.


Tadi dia memang melakukan operasi, tapi itu hanya operasi untuk memperbaiki tulang kakinya yang patah akibat kecelakaan, bukan operasi pengangkatan rahim


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back🏃🏃


Selamat Pagi, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Happy New Year 2022🥳🥳🥳


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....


Happy Reading


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2