Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Melakukan di Rumah Sakit


__ADS_3

Sejak Devan dinyatakan sadar dari komanya dan kondisinya mulai berangsur membaik, Renatta memberikan perhatian lebih kepada Devan, dan tentu saja hal itu di sambut senang oleh Devan.


"Dev makanlah lagi, ini sudah saatnya kamu makan" Renatta memaksa Devan untuk memakan buburnya karena sedari tadi dia hanya menghabiskan dua sendok saja.


"Aku sudah kenyang Re, jangan memaksa, astaga aku baru kemarin terbangun dari koma dan kamu sekarang ingin melihatku koma lagi karena sedari tadi kamu menyuruhku menghabiskan bubur" Renatta memanyunkan bibirnya yang membuat Devan gemas sendiri melihatnya.


CUP


Diciumnya bibir Renatta cepat "Nggak ada cium - cium ya aku masih kesal, karena kamu tidak menghabiskan buburnya" Kesalnya menghapus bekas ciuman bibir Devan dengan kasar.


Devan hanya terkekeh melihat perilaku Renatta yang menurutnya dalam seharian ini bisa berubah - ubah.


Tiba - tiba pintu ruang rawat inap Devan terbuka dengan kasar "PAPAH" Teriak Zia dan Zio bersamaan, mereka berdua naik ke ranjang Devan lalu memeluk papahnya dengan erat.


"Zia kangen banget sama papah" Ucapnya yang menyandarkan kepalanya di dada Devan.


"Zio juga kangen sama papah, setiap kita kesini papah selalu tidur dan tidak mau membuka mata" Balas Zio, walaupun Zio terlihat baik - baik saja tetapi terkadang setiap malam tanpa sebab Zio akan menangis dalam tidurnya, oleh karena itu sejak Devan koma, Renatta tidur lagi bersama kedua anaknya.


Karena terlalu merindukan papahnya, Zio dan Zia terlelap tidur di samping Devan setelah menceritakan semua kegiatannya kepada papahnya.


Merasa tidak tega melihat kedua tangan Devan yang di jadikan tumpu Zio dan Zia tidur, dia berinisiatif ingin memindahkan Zio ke sofa besar yang ada di sini.


"Aku akan memindahkan Zio dan Zia ke sofa" Renatta beranjak dari duduknya, ketika dia bersiap untuk mengangkat tubuh Zia Devan menghentikan Renatta


"Tidak masalah biar mereka tetap tidur disini, aku juga sangat merindukan Zio dan Zia, kamu juga harus ingat Re sekarang kamu sedang hamil kalau kamu mengangkat tubuh Zio dan Zia itu akan sangat berbahaya untuk calon anak kita" Ucap Devan.


Renatta hampir saja melupakan kalau dia saat ini sedang hamil, sebab di kehamilannya sekarang dia tidak merasakan apapun, hanya di awal saja dia merasakan pusing dan ngidam.


"Kalau begitu aku keluar sebentar" Pamit Renatta lalu berjalan menuju pintu.


Dia berjalan di sepanjang lorong rumah sakit, begitu dia sampai di kantin rumah sakit, dahinya mengernyit saat dia mengenali orang yang sedang berjalan di depannya, ketika dia ingin menghindari orang tersebut tiba - tiba tangannya terlebih dahulu di cekal.


Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya, dia benar - benar masih trauma dengan kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu.


"Bisa kita bicara Re?" Pinta laki - laki yang saat ini sudah melepas cekalan tangannya.


Renatta sedikit menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan permintaan laki - laki di depannya.


Lama mereka terdiam, akhirnya Renatta lebih memilih memulai pembicaraan terlebih dahulu "Lama tidak bertemu Kak Ken" Dia berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar.


"Cukup lama sekali, sampai aku hampir lupa kapan terakhir kita bertemu" Ucapnya di iringi senyuman, lalu mereka kembali terdiam.

__ADS_1


Kenan masih menatap wajah Renatta dalam, wajah yang dulu mungkin sampai sekarang masih dia kagumi.


Renatta yang di tatapan begitu dalam oleh Kenan meras tidak nyaman.


"Kalau memang tidak ada hal penting yang ingin di bicarakan aku akan pergi" Ucap Renatta yang sudah bersiap berdiri dari duduknya.


"Apa kamu begitu takutnya melihatku Re" Di tatapnya Renatta dengan sendu "Aku hanya berharap kita bisa seperti dulu walaupun hanya sebagai teman karena aku sadar posisiku sekarang sudah jauh berbeda jika dibandingkan dulu dan aku sangat minta maaf atas kejadian di masa lalu yang membuat kamu jadi seperti ini"


"Aku sudah melupakannya kak, jadi Kak Kenan tidak perlu minta maaf" Renatta kembali duduk lagi.


"Kalau kamu sudah melupakan semuanya, kamu tidak mungkin ketakutan seperti ini saat melihatku Re"


Renatta hanya diam mendengar ucapan terakhir Kenan, kalau boleh jujur memang masih ada sedikit rasa takut jika mengingat apa yang akan Kenan lakukan kepadanya dulu walau dia sudah berusaha melupakan kejadian itu.


"Aku hanya tidak ingin suamiku salah paham jika melihat kita duduk berdua seperti ini kak" Alibinya kepada Kenan.


"Ah iya, selamat atas pernikahan kalian, walaupun aku sangat terlambat mengucapkannya tapi aku ikut bahagia melihat kamu sekarang bahagia" Ucapnya kepada Renatta "Walaupun itu bukan bersamaku" Lanjutnya dalam hati.


"Terima kasih atas ucapan selamatnya"


"Ah iya aku hanya ingin memberitahu kamu sesuatu" Ujarnya lalu memberi jeda sedikit "Aku yakin Devan pasti sudah menceritakan tentang Angel kepada kamu"


Kenan menganggukkan kepalanya "Kalau aku mengatakan jika Angel anakku apa kamu akan percaya?" Tanyanya pada Renatta.


"Anak?" Renatta mengulang ucapan Kenan untuk memastikan.


"Iya, Angel adalah anak kandungku yang Aline tutupi selama ini, dan mengatakan kepada Devan kalau selama ini Angel anaknya" Tentu saja ada perasaan sakit saat mengatakan itu, dia masih ingat betul dia harus merelakan anaknya sendiri memanggil orang lain dengan sebutan papah hanya agar Aline tidak menggugurkan kandungannya saat itu.


"Bagaimana bisa?" Lirihnya masih tidak percaya dengan fakta yang baru saja dia dengarkan.


Kenan menceritakan semuanya kepada Renatta, entah kenapa sejak dulu hingga sekarang dia begitu nyaman menceritakan segala sesuatu tentangnya kepada Renatta.


Setelah menceritakan semuanya kepada Renatta, Kenan pamit untuk pergi "Kalau begitu aku permisi, semoga setelah ini kita bisa bertemu lagi"


Renatta masih terdiam mencerna semua perkataan Kenan barusan "Apa sebegitu cintanya Aline kepada Devan" Lirihnya.


Dengan langkah gontai Renatta kembali ke ruang perawatan Devan, saat dia membuka pintu dia hanya melihat Devan saja yang sedang menyandarkan kepalanya di ranjang sambil menatap Renatta dalam diam.


"Dimana Zio dan Zia?" Renatta menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kedua anaknya.


"Aku menyuruh Daniel untuk membawa Zio dan Zia pulang" Ucapnya sedikit ketus.

__ADS_1


Renatta mengernyit melihat sikap Devan yang sedikit ketus kepadanya.


"Kamu ada masalah Dev?" Tanyanya.


"Siapa laki - laki yang tadi duduk sama kamu di kantin?" Tanyanya balik kepada Renatta "Jangan mencoba berbohong kepadaku Re, Daniel tadi mengatakan kalau melihat kamu duduk bersama laki - laki" Ujarnya dengan nada ketus lalu menatap Renatta tajam


"Jangan bilang kamu saat ini sedang cemburu" Renatta justru tersenyum mengetahui kalau Devan saat ini dalam mode cemburu.


"Ini bukan masalah cemburu atau tidak, kamu ingat kan kalau kamu sudah menikah dan punya suami, apa kamu kira berduaan dengan laki - laki lain saat aku sedang sakit itu baik dan...." Ucapan Devan terputus saat Renatta mencium bibirnya dengan sangat sensual dan menggoda.


Devan berusaha agar tidak tergoda dengan ciuman Renatta tetapi usahanya gagal karena Renatta dengan sengaja menggigit bibirnya, sehingga membuat Devan menyerah dan membalas ciuman Renatta tidak kalah menuntutnya.


Entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka masih melanjutkan ciuman ini tanpa ada yang mau mengakhiri terlebih dahulu, kini bahkan tanpa sadar Devan sudah membuka kancing baju atas Renatta.


Dan mungkin setelah ini mereka akan melakukannya di rumah sakit tanpa memikirkan kalau bisa saja akan ada dokter maupun suster yang masuk secara tiba - tiba.


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back🏃🏃


Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Yuhuu di bab selanjutnya kayaknya ada yang hot tuh☕, jadi ditunggu bab selanjutnya ya.....


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....


Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...


Happy Reading


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2