Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Menjadi Keluarga Bahagia untuk Zio dan Zia?


__ADS_3

"PAPAH"


"MAMAH"


Teriak Zio dan Zia bersamaan kemudian berlari ke arah meja yang di tempati Renatta dan Devan.


Sedangkan Renatta dan Devan sama - sama terkejut dengan kedatangan Zio dan Zia di restauran ini.


"Mah tadi Zia nungguin mamah jemput kita sekolah tapi Om Raka bilang mungkin mamah lagi ada pekerjaan penting jadi tidak bisa menjemput Zia dan Kak Zio" Ucap Zia kepada mamahnya, Renatta sendiri saat ini terlihat begitu gugup dan panik beberapa kali di melirik ke arah Devan yang tidak menampilkan ekspresi apapun.


"Zio tadi di dalam mobil Om Raka juga sudah berusaha telfon mamah, tapi ponsel mamah tidak aktif" Sahut Zio yang saat ini menatap Renatta.


Astaga, Renatta baru mengingat kalau dia lupa mencharger ponselnya, pasti sekarang ponselnya mati sehingga sedari tadi tidak ada bunyi kalau ada panggilan maupun pesan masuk.


"Maaf kan mamah, tadi mamah lupa mencharger ponsel milih mamah" Renatta merasa bersalah dengan kedua anaknya.


Renatta kembali melirik Devan yang sekarang sedang memperhatikan interaksi antara dirinya dan kedua anaknya, ketika dia akan membuka suaranya untuk menjelaskan sesuatu kepada Devan, hal tidak terduga justru membuatnya terkejut.


"Pah, Zio rindu banget sama papah" Zia sudah berlalu pergi dari hadapan mamahnya kemudian naik kepangkuan Devan dan memeluk leher Devan erat.


"Zio juga sangat rindu papah, setiap hari Zio selalu nungguin telfon dari papah" Sahut Zio, lalu Devan juga mengangkat tubuh Zio untuk duduk di pangkuannya.


"Maaf kan papah nak, mulai sekarang papah akan sesering mungkin bertemu dengan kalian" Ucap Devan kemudian mencium kening Zio dan Zia secara bergantian.


Renatta masih diam terpaku melihat kedekatan Devan dengan si kembar, bagaimana bisa kedua anaknya sudah terlihat begitu akrab dengan Devan, apa yang sebenarnya sudah terjadi, dan kenapa Devan tidak menunjukkan kemarahan apapun, banyak sekali hal yang saat ini menjadi pertanyaan di kepalanya.


Devan sendiri tidak terlalu mempedulikan tatapan terkejut dan bingung Renatta, mungkin memang ini waktu terbaik untuk segera menyelesaikan permasalahan yang menyangkut keberadaan kedua anaknya.


Raka tiba - tiba datang dengan tergesa - gesa untuk menghampiri Zio dan Zia yang tadi naik ke lantai atas restauran tanpa sepengetahuannya.


"Zio, Zia kalian jangan buat Om Khawa...." Ucapannya terputus saat melihat keberadaan Renatta dan Devan yang saat ini sedang memangku si kembar.


Dia menatap Renatta yang terlihat terdiam di tempat duduknya yang kemudian beralih menatapnya.


"Kak Raka" Ucap Renatta kepada Raka.

__ADS_1


Raka yang paham dengan situasi yang saat ini terjadi lebih memilih untuk berpamitan, dia hanya tidak ingin ikut campur ke dalam urusan keluarga adiknya lagi "Ah, maaf kalau mengganggu percakapan kalian, karena sudah ada kalian berdua di sini, Zio dan Zia bisa pulang bersama kalian, aku permisi" Ucap Raka yang berlalu meninggalkan lantai atas.


Setelah kepergian Raka dia menatap ke arah Renatta "Ikut aku, ada hal penting yang harus kita bicarakan" Ucapnya kepada Renatta.


Devan menurunkan tubuh Zio dan Zia dari pangkuannya "Sayang, papah mau membicarakan hal penting dengan mamah, kalian tunggu di sini ya, kalian bisa makan makanan yang masih tersisa di meja ini atau kalian bisa pesan kembali makanan kesukaan kalian, sebentar lagi salah satu pelayang akan mengantarkan buku kepada kalian berdua, pilih apapun yang Zio dan Zia mau" Ujar Raka kepada Zio dan Zia yang di angguki oleh mereka berdua.


Renatta mengikuti langkah Devan dari belakang, dia sempat menolehkan kepalnya dan melihat Zio dan Zia sedang asyik memakan makanannya, tidak lama kemudian ada seorang pelayan yang memberikan buku menu ke pada kedua anaknya.


Saat ini Devan dan Renatta sudah berada di balkon restauran yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat Zio dan Zia duduk.


1 menit


2 menit


3 menit


Mereka masih saling diam, dan berkutat dengan pikiran masing - masing


"Apa sekarang ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan Re?" Tanya Devan memulai pembicaraan di antara mereka.


Renatta mendongakkan wajahnya yang tadi tertunduk "Bukankah kamu sudah mengetahui semuanya?" Tanyanya.


Renatta berusaha memberanikan diri menatap Devan tepat pada matanya "Aku terpaksa melakukan itu semua" Lirihnya


"Apa alasan kamu melakukan semua ini?" Tanyanya pada Renatta.


"Aku hanya takut kamu tidak mengharapkannya dan melenyapkan mereka, aku juga takut kalau kamu akan merebut mereka dariku Dev"


Devan menyugar rambutnya ke arah belakang dan berusaha untuk tidak berkata dengan nada tinggi kepada Renatta "Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu, aku tidak mungkin Setega itu melukai darah dagingku sendiri apalagi memisahkannya dari kamu" Ucapnya pelan.


"Tapi kamu dulu pernah menyuruhku untuk melenyapkan mereka Dev, kalau kamu lupa" Renatta berusaha menahan ucapannya sepelan mungkin agar jangan sampai di dengan oleh Zio dan Zia.


"Itu dulu Re sebelum aku tahu kalau kamu memang benar sedang mengandung anakku"


Devan memang kedua bahu Renatta "Kamu tahu? 6 tahun aku tidak mengetahui keberadaan mereka, aku memang bersalah tapi kamu tidak bisa menghukum ku dengan menyembunyikan keberadaan mereka dariku, aku papahnya Re, papah kandungnya" Ucap Devan meluapkan semua rasa kecewanya.

__ADS_1


Renatta hanya diam mendengar perkataan Devan, sejujurnya dia juga merasa bersalah sudah melakukan semua ini, tetapi banyak hal yang membuatnya takut untuk mengungkapkan keberadaan kedua anaknya kepada publik terutama kepada Devan.


"Maaf" Hanya itu yang saat ini bisa di katakan Renatta.


Devan berusaha meredakan amarahnya yang ingin meluap, dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Renatta karena dia juga ikut andil dalam masalah ini, tetapi apa harus alasan Renatta memisahkannya dengan kedua anaknya karena Renatta ketakutan kalau Devan akan melenyapkan darah dagingnya sendiri, dia tidak akan Setega itu melakukannya bahkan Devan akan bertaruh nyawa demi keselamatan kedua anaknya.


"Lebih baik kita segera kembali, Zio dan Zia sudah terlihat tidak nyaman di tinggalkan sendirian" Devan memutuskan untuk mengajak Renatta kembali menemui Zio dan Zia, dia tidak yakin akan bisa mengontrol emosinya dengan baik jika terus berdua saja dengan Renatta.


Dia memang ingin Renatta yang mengatakan kebenarannya tetapi mendengar alasan Renatta memisahkan dan menyembunyikan keberadaan Zio dan Zia darinya membuatnya merasa sebegitu buruknya Renatta menilainya selama ini.


"Papah sama mamah kok lama sih?" Tanya Zia ke pada ke dua orang tuanya yang saat ini sudah kembali duduk di antara mereka.


"maaf ya sayang tadi mamah sekalian mengangkat telfon dari teman mamah, bagaimana makanya enak tidak?" Renatta membersihkan sisa makanan yang ada di mulut Zia dengan sapu tangan miliknya.


Zia mengangguk, kemudian berdiri dari duduknya dan menghampiri Devan yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Pah weekend Zia mau pergi ke Disneyland bareng mamah, papah dan Kak Zio" Pinta Zia


Devan tersenyum mendengar permintaan anaknya, "Kamu tanya sama mamah, mau ikut apa tidak"


Zio menatap Renatta dengan mata puppy eyes nya "Mamah mau kan?" Tanya Zio


Renatta menimbang nimbang apa dia harus mengiyakan permintaan Zia apa tidak, dia melirik ke arah Devan yang masih terlihat jelas kekecewaan dan amarah di matanya, hari ini dia belum menyelesaikan pembicaraannya dengan Devan secara baik, mungkin dengan mereka liburan bisa membuat Devan melunak dengan amarahnya, padahal baru tadi pagi mereka berbaikan.


"Iya kita pergi liburan"


"Horeee" Teriak Zia gembira sedangkan Zio masih asyik dengan makanannya dan sedang memikirkan perkataan Angel di sekolah tadi saat dia melihat foto Devan di tasnya lalu Angel mengatakan kalau itu papahnya Angel.


...🍃🍃🍃...


Ada yang masih ingat Angel? Kalau kalian lupa bisa di cek di Bab 25


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2