
Renatta melangkah dengan cepat menuju ruang kerja kakaknya Raka, dia akan meminta penjelasan kenapa kakaknya menyuruhnya yang datang untuk bertemu dengan Devan.
"Maaf Bu, Pak Raka sedang ada tamu di dalam" Ucap Siska sekretaris Raka yang menghalangi Renatta yang berusaha masuk ke ruang kerja Raka.
Dia tidak mempedulikan ucapan Siska dan tetap masuk ke dalam karena dia tahu pasti yang di dalam ruang kerja Raka adalah Nicholas karena dia tadi sempat mengirim pesan ke Renatta kalau dia akan berkunjung ke perusahaannya setelah jadwal prakteknya di rumah sakit selesei.
Dugaan Renatta benar saat membuka pintu ruang kerja kakaknya, di situ tampak Nicholas yang sedang berbicara serius dengan Raka, sedangkan Siska tampak takut akan di marahi Raka karena membiarkan Renatta masuk ke ruangannya padahal tadi Raka berpesan kepadanya kalau tidak ada yang boleh masuk ke ruangan kerjanya selama dia berbicara dengan Nicholas.
"Kamu sudah kembali Re?" Tanya Raka yang berusaha terlihat biasa saja padahal dia baru saja membahas sesuatu hal yang penting dengan Nicholas dan tentu saja hal itu tidak boleh sampai diketahui oleh siapapun termasuk Renatta.
Renatta mengabaikan pertanyaan Raka dan mengambil minuman yang ada di meja kerja Raka kemudian membuka tutup botolnya dan meminumnya sampai habis.
"Maaf pak, tadi saya sudah memberi tahu Bu Renatta untuk tidak masuk keruangan anda, tapi beliau tetapi memaksa masuk" Ucap Siska dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah, keluarlah" Ucapnya yang membuat Siska seketika lega karena Raka tidak memarahinya.
Setelah menghabiskan minumannya dia menatap Raka tajam "Kenapa kakak menyuruhku yang datang ke perusahaan DN Corp bukankah seharusnya kakak yang datang ke sana bukan aku"
"Daniel, asisten dari Devan yang meminta untuk kamu yang datang ke sana" Ucapnya, dia sempat akan menolak permintaan dari Daniel tapi dia urungkan ketika Daniel mengatakan kerja sama akan di batalkan kalau sampai bukan Renatta yang datang ke sana, mungkin kerugian dari pembatalan kerja sama ini tidak akan seberapa untuk perusahaan Devan tetapi untuk perusahaannya tentu saja itu merupakan kerugian yang cukup besar.
Renatta mengernyit bingung, apa tujuan Devan menyuruhnya datang ke sana, apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Clara tadi, apa niat Devan sebenarnya, entah kenapa pikiran Renatta tidak bisa berfikir dengan jernih semuanya terasa membingungkan untuknya saat ini.
Nicholas yang melihat Renatta melamun seperti memikirkan sesuatu memunculkan ide jail untuk memancing ke marahan Renatta "Cup" Nicholas dengan tiba - tiba mencium pipi Renatta yang seketika membuat Renatta tersentak dari lamunannya dan menatap Nicholas tajam yang saat ini sudah sedikit berlari keluar dari ruangan Raka.
"Nichooolaaassss" Teriak Renatta yang sudah melempar botol minuman ke arah Nicholas yang justru tertawa melihat kemarahan Renatta.
Bagi Nicholas membuat Renatta marah dan kesal adalah kebahagiaan tersendiri untuknya, dia tidak suka kalau melihat Renatta sedih apalagi sampai menangis karena Renatta mengingatkannya pada seseorang, seseorang yang sudah dia lukai terlalu dalam karena egonya, oleh karena itu dia tidak ingin memaksa Renatta untuk membalas perasaannya, dia tidak siap jika harus merasakan kehilangan orang yang dia sayangi untuk kedua kalinya, biarkanlah semua mengalir seiring berjalannya waktu.
Raka mendengus kesal melihat tingkah laku Nicholas dan Renatta yang seperti anak kecil, dia sudah sering melihat hal seperti itu, dari dulu Nicholas memang Suka menggoda Renatta yang berujung dengan teriakan kencang Renatta yang diberikan untuk Nicholas.
.
.
.
"Sebenarnya aku tidak terlalu berminat datang ke acara ini, kamu tahu sendiri kan sekarang aku sudah memilik seorang anak" Ucap Renatta kepada Sherly.
Saat ini Renatta sedang berada di rumah Sherly, tadi Sherly menelfonnya dan mengajaknya untuk menemani dia datang ke acara peresmian salah satu cabang perusahaan yang papahnya bangun.
"Ah iya, kamu kapan mengenalkan ku dengan kedua anakmu itu, astaga bahkan saat aku melihatnya lewat foto mereka terlihat begitu manis dan lucu pasti aslinya lebih menggemaskan" Ucap Sherly dengan antusias.
"Mangkannya tuh cepat nikah biar bisa segera punya anak sendiri, umur sudah segini tapi belum nikah juga jangankan menikah melihat kamu dekat dengan laki - laki lain saja tidak pernah" Gerutu Renatta kepada Sherly, jujur Renatta sampai sekarang tidak mengerti mengapa Sherly tidak pernah mau membuka hati untuk laki - laki manapun, sedari mereka berteman dia belum pernah melihat temannya itu dekat ataupun menjalin hubungan serius dengan seorang laki - laki padahal banyak sekali pria yang berusaha mendekatinya.
__ADS_1
Sedangkan Sherly menyunggingkan senyum dengan sendu, andai saja Renatta tahu apa yang menjadi alasan dia sampai sekarang menutup diri dari laki - laki lain karena luka di hatinya yang masih belum sembuh.
Sherly merubah raut wajahnya menjadi ceria kembali dan menatap Renatta "Pakailah ini Re, aku jamin kamu akan kelihatan cantik" Sherly menunjukkan gaun berwarna merah miliknya.
"Kamu yakin aku harus memakai gaun ini" Renatta mengangkat gaun merah yang cukup terbuka yang diberikan Sherly.
"Sudahlah, sekali - kali kamu juga perlu memakai gaun seperti ini, biar terlihat lebih menantang" Ucap Sherly dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi....." Renatta tidak melanjutkan perkataannya karena Sherly sudah mendorongnya masuk ke ruang walk in closet di kamar Sherly.
.
.
.
Renatta dan Sherly sudah sampai di tempat acara, tamu undangan yang datang rata - rata memang para petinggi perusahaan dan juga teman bisnis papahnya Sherly.
"Re aku samperin papah dulu ya, kamu bisa duduk di tempat yang kamu suka, nanti aku akan segera kembali"Renatta menganggukan kepalanya
Setelah kepergian Sherly, dia berjalan untuk mengambil minum dan duduk di kursi paling ujung dari tempat acara.
"Boleh aku duduk di sini?" Ucap seorang laki - laki yang terasa tidak asing baginya.
"Apa kamu melupakanku?" Tanyanya "Aku Axel temannya Devan" Ucapnya diiringi dengan senyuman.
"Kak Axel" Ucap Renatta berbinar "Astaga kak maafkan aku, aku tidak bermaksud melupakan kakak"
"It's okey Re, mungkin kita yang sudah lama tidak bertemu jadi wajar kalau kamu tidak mengingatku" Ucapnya.
"Bagaimana kabar Kak Axel sekarang?" Tanyanya, Dulu saat dia pergi bermain ke rumah Sesyl, Renatta justru lebih sering bertemu dengan Axel dibandingkan dengan Devan, bahkan Axel sering kali memberinya permen lollipop kesukaannya, Axel juga dulu pernah memberinya sebuah gantungan kunci berbentuk bunga mawar yang sampai sekarang masih dia simpan.
"Sangat baik, jauh lebih baik saat bisa bertemu dan ngobrol dengan kamu Re" Ucap Axel yang ditanggapi kekehan oleh Renatta.
Mereka terlibat obrolan yang cukup panjang, bahkan tanpa sadar Renatta banyak tersenyum saat berbicara dengan Axel, hal itu membuat Devan yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Axel dan Renatta merasakan marah dan cemburu secara bersamaan.
Raka sendiri juga hadir di acara yang di selenggarakan oleh papahnya Sherly, dia sebenarnya tidak terlalu mengenal siapa penyelenggara acara ini, yang dia tahu ini adalah acara pembukaan cabang perusahaan Arthamajaya, dia menggantikan papahnya yang tidak bisa hadir di acara ini.
Dia memasuki tempat acara tepat saat acara pembukaan di mulai, dia tidak sengaja melihat keberadaan Renatta yang sedang berbicara dengan seseorang dan menghampirinya.
"Kamu juga datang di acara ini?" Tanya Raka yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempat duduk Renatta.
"Kak Raka" ucap Renatta yang terkejut dengan keberadaan Raka "Kakak kenapa ada disini?" Tanyanya balik.
__ADS_1
Raka duduk di samping Renatta "Aku menggantikan papah yang tidak bisa hadir, kalau bukan karena paksaan papah aku tidak mungkin hadir di acar seperti ini" Ucapnya kemudian menatap Axel.
"Ah iya kak, ini kenalkan Kak Axel temannya Renatta" Ucapnya "Dan ini Kak Raka, kakakku" Lanjutnya
Raka dan Axel saling berjabat tangan untuk memperkenalkan diri.
"Axel"
"Raka"
Raka mengalihkan tatapannya untuk fokus ke atas panggung, saat dia mengenali suara seseorang yang saat ini sedang memberikan sambutan.
"Sherly" Ucapnya.
Renatta menolehkan kepalanya saat mendengar kakaknya menyebut nama Sherly
"Kakak mengenal Sherly?" Tanyanya
"Kamu juga mengenal Sherly?" Tanyanya balik.
Renatta menganggukkan kepalanya "Dia temanku kak, perempuan yang pernah aku ceritakan ke Kak Raka dulu" Ucapnya.
Raka mengalihkan kembali tatapannya ke arah dimana saat ini Sherly berdiri, hingga tatapan mereka saling bertemu.
...🍃🍃🍃...
Hallo selamat malam🦇.....
Kayaknya next Bab bakalan seru nih, apalagi kalau melihat Devan cemburu dan berantem sama Axel gara - gara Renatta🤭, terus ada yang akan saling melepas rindu nih antara Raka dan Sherly.....
Kalau ada typo bisa di tulis di komentar ya...
Maaf kalau masih banyak kata yang berbelit - belit🙏
Cerita akan aku revisi ulang kalau udah End ya....
Happy Reading......
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue