
Setelah acara resepsi selesei Devan dan Renatta sudah berada di kamar hotel, dia memang sengaja menyewa hotel untuk keluarganya dan dirinya beristirahat malam ini.
Mereka akan menginap satu malam di hotel ini dan akan pulang ke esok an harinya.
"Dev bisakah kamu membantuku membuka resleting gaunku" Pinta Renatta kepada Devan yang sedang fokus pada tabnya yang sedang mengecek email pekerjaannya yang masuk.
Devan menaruh tabnya di meja dan menghampiri Renatta yang terlihat kesusahan melepaskan gaunnya, perlahan dia menatap Renatta dari pantulan kaca cermin yang berada di dalam kamar hotel ini, dia membuka resleting gaun Renatta dengan pelan bahkan tangannya dengan sengaja menyentuh kulit punggung Renatta yang membuat tubuh Renatta meremang.
"Dev" lirih Renatta saat Devan mengecup bahunya dengan sensual.
Gaun yang Renatta pakai sudah terlepas dari tubuhnya, kini Renatta hanya terlihat memakai pakaian dalamnya saja, Devan menarik Renatta dan mencium bibir Renatta dengan sedikit rakus, dia memojokkan Renatta ke tembok dan lebih memperdalam ciumannya lagi.
Renatta mengerang nikmat, saat Devan menggigit luar bibirnya dan menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Renatta, tidak lama kemudian Devan melepas ciumannya lalu menuntun Renatta ke atas tempat tidur dan menciumnya lagi lebih brutal dari sebelumnya.
"Aku menginginkan lebih dari ini Re" Ucap Devan dengan nada lirihnya seperti menahan sesuatu di dalam dirinya.
Renatta mengangguk mengerti apa maksud dari ucapan Devan, dengan cepat Devan membuka seluruh pakaiannya meninggalkan boxer yang masih membungkus tubuh bagian bawahnya saja kemudian menindih tubuh Renatta, dia menjelajahi setiap inci tubuh Renatta dengan pelan seolah menikmati setiap bagian tubuh yang saat ini berada di bawah kungkungan tubuhnya.
"Dev, Ahhh" Desah Renatta yang membuat Devan semakin menggila, dia melepas kain terakhir yang membungkus tubuh mereka, lalu menutup tubuh telanjang mereka dengan selimut.
Ketika Devan mulai akan menyatukan tubuh mereka, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu berkali - kali dari luar kamar tidur.
"Dev hentikan di luar ada yang mengetuk pintu" Renatta berusaha mendorong tubuh Devan.
"Biarkan saja, aku sudah tidak bisa menahannya lagi Re" Devan masih melancarkan terus aksinya.
"Papah, mamah buka pintunya" Gedoran dari luar pintu semakin keras di ikuti oleh suara teriakan Zio dan Zia.
Saat mendengar yang sedari tadi mengetuk pintu adalah kedua anaknya, Devan langsung mengehentikan cumbuan nya pada tubuh Renatta lalu menghela nafasnya pelan.
"Aku yang akan membuka pintunya, pakailah pakaian kamu kembali" Devan berguling dari atas tubuh Renatta, kemudian berjalan ke arah kopernya mengambil kaos dan celana pendeknya untuk dia pakai.
Sedangkan Renatta segera memunguti semua pakaian mereka yang berserakan di lantai lalu beralih mengambil pakaiannya dan mengenakannya di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Pintu kamar tidur sudah di buka oleh Devan, menampilkan Zio dan Zia yang terlihat ketakutan "Kalian kenapa?" Tanya Devan kepada kedua anaknya yang sudah berlari naik ke atas tempat tidur mereka.
"Tadi Om Nicholas bilang kalau di hotel ini banyak Monster nya jadi Zia dan Kak Zio takut kalau tidur sendirian di kamar hotel ini" Ucap Zia yang sudah merebahkan tubuhnya.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka, Renatta menatap heran anaknya yang sudah berada di atas tempat tidur mereka.
Renatta menatap ke arah Devan penuh tanya, lalu beralih melihat Zio dan Zia kembali.
"Om Nicholas juga bilang kalau kita tidak tidur sama papah dan mamah, nanti mamah di gigit sama monster" Zio bergidik takut.
Renatta hampir saja menyemburkan tawanya saat mendengar perkataan Zio apalagi melihat wajah Devan yang terlihat kesal dan memerah menahan sesuatu yang belum sempat mereka lakukan tadi.
"Aku akan ke kamar mandi dulu untuk menuntaskan semuanya sendiri" Ucap Devan berlalu pergi menuju kamar mandi.
Sebenarnya dia kasian melihat Devan yang harus menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan karena sudah ada kedua anaknya di kamar tidur mereka.
"Mah, papah kenapa?" Tanya Zia yang tadi melihat papahnya seperti merasa kesakitan.
Tidak lama kemudian Zio dan Zia sudah terlelap tidur, melihat kedua anaknya yang sudah terlelap, dia menghampiri Devan
Tok, Tok, Tok
"Dev, kamu nggak kenapa - Napa kan?" Tanya Renatta yang tidak mendapat jawaban dari Devan.
Devan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah bersih sehabis mandi.
"Kamu marah?" Tanya Renatta.
"Mana bisa aku marah Re, aku hanya merasa..." Devan tidak melanjutkan perkataannya "Ah sudahlah lebih baik kita tidur ini sudah malam" Devan mengambil tidur di sisi kanan Zio.
"Aku minta maaf karena membuat kamu harus melakukannya sendiri di kamar mandi tadi" Ucap Renatta penuh sesal.
__ADS_1
"Tidur Re, kamu mau kita melakukannya di kamar mandi sekarang" Ancam Devan yang membuat Renatta spontan menggelengkan kepalanya, dia tidak mau mengambil resiko kalau tiba - tiba suara erangan mereka nanti bisa di dengar oleh Zio dan Zia.
Renatta merebahkan tubuhnya di samping Zia, kemudian tidak lama dia sudah masuk ke alam mimpinya.
Devan beranjak dari tidurnya menghampiri sisi tempat tidur Renatta lalu mencium kening Renatta " Selamat tidur Re" kemudian beralih mencium kening Zio dan Zia "Selamat tidur anak papah" Dia kembali lagi merebahkan tubuhnya di samping Zio kemudian terlelap tidur.
.
.
.
Raka menatap anaknya yang sedang tidur dengan sayang, setelah mengatakan kalau anaknya masih hidup, dia meminta Sherly untuk bertemu dengan anaknya, Darren.
"Dia begitu mirip denganku" Ucap Raka yang di balas senyuman oleh Sherly.
"Darren memang begitu mirip dengan kamu, terkadang aku iri melihatnya" Kekehnya.
Raka dan Sherly keluar dari kamar Darren, mereka duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Kenapa kamu menyembunyikan Darren dari semua orang termasuk dariku Sher?" Tanyanya
"Aku hanya belum siap jika semua orang bertanya tentang siapa ayah kandungnya dan aku tidak ingin melihat kesedihan Darren jika mendengar pertanyaan seperti itu" Sherly memberikan seulas senyum kepada Raka "Tapi aku pernah mengirimkan foto Darren waktu masih bayi ke alamat rumah kamu"
Raka mengernyit, dia tidak merasa kalau ada kiriman foto ke alamat rumahnya, mamah maupun papahnya juga tidak mengatakan apapun kepadanya, tapi Renatta pernah menemukan sebuah foto seorang bayi di dalam gudang rumahnya, apa mungkin itu foto yang di maksud oleh Sherly.
"Ini sudah larut malam lebih baik kamu menginap di sini, di samping kamar Darren itu ada kamar tidur kosong kamu bisa menempatinya, aku akan tidur bersama Darren" Sherly berdiri dari duduknya tetapi tangannya di pegang oleh Raka.
"Biarkan aku yang tidur bersama Darren, aku ingin lebih dekat dengan Darren" Sherly mengiyakan permintaan Raka, lalu masuk ke kamar tidur tepat di samping kamar Darren.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue