
Renatta masih nyaman memandangi wajah Devan yang tertidur di sampingnya, semalam mereka menghabiskan malam yang cukup panas setelah beberapa bulan tidak ada kehangatan di dalam tidur mereka berdua.
Dia menopang kepalanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri nya dia gunakan untuk menelusuri setiap inci wajah Devan hingga jari tangannya berhenti di hidung Devan yang mancung lalu beralih ke bibir Devan yang menurutnya sangat menarik, bentuk bibir yang terlihat berwarna merah dan penuh menjadi hal yang paling dia sukai dari Devan.
Saat dia akan menarik tangannya dari bibir Devan, tiba - tiba tangannya di tahan oleh Devan lalu kedua mata Devan terbuka yang membuat Renatta terkejut dan berusaha menarik tangannya tapi Devan justru semakin menggenggam erat jari Renatta.
"Sudah puas mengamati wajahku, hmm?" Tanya Devan dengan senyum tipis menggodanya yang membuat Renatta seketika salah tingkah karena apa yang dilakukannya beberapa menit lalu di ketahui oleh Devan.
"A...aaku tidak mengamati wajah kamu" Sangkal Renatta dengan suaranya yang terbata- bata.
Devan membalikkan badannya kemudian menindih tubuh Renatta "Kamu tidak cukup pintar untuk berbohong Re" Ujar Devan
Cup
Satu kecupan singkat dia berikan ke bibir Renatta, lalu dia turun dari ranjang memakai pakaiannya yang berserakan di lantai "Aku akan pesankan makanan untuk kita sarapan" Ucap Devan yang beranjak keluar dari kamar yang mereka tempati.
Setelah kepergian Devan Renatta menutup tubuhnya dengan selimut, sungguh dia benar - benar malu karena ucapan Devan.
Dengan segera Renatta melilitkan selimutnya lalu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum kedatangan Devan kembali.
Renatta menatap tubuhnya di depan kaca, kini tubuhnya sudah di penuhi bercak merah akibat ulah Devan semalam, Devan tidak pernah mendengar perkataannya kalau jangan sampai membuat tanda kemerahan di tubuhnya apalagi dia yang masih memberikan asi kepada Zea, takutnya kalau Zia dan Zio melihatnya bisa di pastikan kalau kedua anaknya itu akan bertanya macam - macam.
Tetapi dia tersenyum bahagia akhirnya Devan tidak jadi marah kepadanya, dan semoga saja Devan bisa melupakan semuanya.
Karena tidak ingin membuat Devan menunggunya makan, dengan cepat Renatta menyalakan shower untuk menyegarkan tubuhnya.
"Re" Panggil Devan dari luar kamar mandi dengan sedikit berteriak karena tidak menemukan keberadaan Renatta
Sedangkan Renatta sendiri yang hampir tertidur di dalam bath up dengan segera membuka matanya kembali, satu hal yang Renatta lupakan kalau dia ke dalam kamar mandi tidak membawa pakaian apapun hanya selimut yang ada di dalam kamar mandi, dengan terpaksa dia meminta bantuan Devan untuk mengambilkan pakaiannya kembali.
"Dev, tolong ambilkan pakaianku aku lupa tidak membawanya ke dalam" Pinta Renatta dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
Devan yang mendengar permintaan Renatta, langsung mengambilkan pakaian Renatta yang masih berada di lantai tapi tiba - tiba ide licik muncul di kepalanya namun sebelum memberikan pakaian kepada Renatta, dia terlebih dahulu menutup dan mengunci pintu kamar tidur mereka, takutnya akan ada salah satu pegawai vila yang datang dan mendengar suaranya dan Renatta.
Lalu Devan melepas pakaiannya lagi "Re, buka pintunya aku sudah di depan pintu kamar mandi untuk membawakan pakaian yang kamu minta" Ucap Devan sambil mengetuk pintu.
Pintu kamar mandi di buka sedikit oleh Renatta, dia mengulurkan tangannya untuk meminta pakaiannya tapi justru Devan ikut masuk ke dalam kamar mandi yang membuat Renatta tersentak kaget.
"Akhh, apa yang kamu lakukan Dev?" Tanya Renatta yang kini mengalihkan tatapannya dari Devan.
"Memberikan pakaianmu Re" Ucapnya dengan senyum smirk "Dan tentu saja melanjutkan kegiatan kita semalam" Lanjut Devan.
Renatta mendelik kan matanya mendengar perkataan Devan, tapi seperti biasanya belum sempat Renatta menjawab ucapan Devan, suaminya itu sudah terlebih dahulu menciumnya dengan kasar.
Devan membawa tubuh Renatta menempel pada dinding kamar mandi, dia semakin memperdalam ciumannya.
Tanpa sengaja tangan milik Renatta menyentuh tombol shower sehingga menyebabkan air shower menyala dan membasahi tubuh nya dan tubuh Devan.
Kini keringat mereka sudah menyatu dengan guyuran air, hawa yang seharusnya panas akibat kegiatan yang mereka lakukan kini berubah menjadi dingin.
Tubuh Renatta sudah terkulai lemas dalam pelukkan tubuh Devan "Kita mandi sekarang" kecupan singkat dia berikan kepada Renatta.
.
.
.
Setelah selesei sarapan Devan dan Renatta memutuskan untuk pulang ke rumah karena Renatta tidak tega harus meninggal Zea terlalu lama apalagi sudah sejak kemarin sore dia belum memberikan asi sama sekali ke anaknya itu.
Devan sendiri sebenarnya sudah memberitahukan ke Daniel kalau dia tidak masuk kerja untuk hari ini, dia ingin menikmati waktu lebih banyak dengan Renatta tetapi dia juga tidak bisa memaksa keinginan Renatta, dia sadar betul kalau Renatta memang begitu menyayangi anak - anaknya terutama Zea yang sejak bayi tidak mendapatkan asi eksklusif dari Renatta, ditambah lagi Zio dan Zia yang tidak berhenti menanyakan keberadaannya dan Renatta yang tidak pulang sejak tadi malam.
"Apa kamu marah Dev karena aku mengajakmu pulang" Tanya Renatta sedikit takut yang melihat Devan hanya diam saja.
__ADS_1
Devan tersenyum dan menggenggam tangan Renatta lalu di kecupnya singkat "Tentu saja aku tidak marah Re, apalagi ini menyangkut soal anak anak kita, mana bisa aku marah karena hal ini" Jelas Devan yang membuat Renatta lega karena ternyata Devan tidak marah, Renatta memang dari dulu begitu takut dengan kemarahan Devan sebab Devan ketika marah akan mendiamkannya berhari - hari hingga amarahnya Reda.
"Terima kasih karena sudah begitu pengertian kepadaku" Ucap Renatta tulus.
Devan hanya tersenyum membalas ucapan Renatta, justru dialah yang harus berterima kasih kepada Renatta, istrinya yang sudah merubah hidupnya dan membuat hidupnya lebih berwarna dengan kehadiran Zio, Zia, dan Zea.
Harapan Devan hanya satu semoga keluarganya akan selalu bahagia dan dia juga berharap tidak akan ada masalah berat yang menghampiri rumah tangga mereka kelak.
...πππ...
Hallo author come back ππ
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Gimana, gimana sama part ini, jujur author nggak terlalu bisa kalau buat adegan yang terlalu hot, jadi bagi author ini udah cukup bikin panasπ
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue