Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Kebohongan


__ADS_3

"Siapa Twins?" Tanya Devan yang membuat Renatta terkejut.


Mendengar pertanyaan Devan membuat Renatta terdiam, sejujurnya Renatta belum siap untuk mengatakan semuanya kepada Devan, dia takut Devan akan merebut Zio dan Zia darinya, dia juga belum bisa mempercayai apa yang tadi Devan katakan kepadanya karena selama ini terlalu banyak kebohongan yang tercipta diantara mereka.


Merasa tidak mendapat jawaban dari Renatta, Devan mengulang kembali pertanyaannya.


"Siapa Twins, Re?" Devan mulai meninggikan suaranya, rasa curiga kini mulai mengganggu pikiran dan hatinya.


Renatta menarik nafasnya pelan dan menatap Devan "Mereka anakku" Ucapnya pelan.


"Anak?"


"Iya anakku dengan laki - laki lain" lirihnya.


Sungguh dia tidak bermaksud mengatakan itu, tetapi rasa takut akan kehilangan Zio dan Zia, jadi dia terpaksa mengatakan hal itu kepada Devan, dia perlu pembuktian dari .


Renatta menatap Devan yang raut wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali, hanya raut wajah dingin yang saat ini ditampilkannya.


"Siapa nama laki - laki itu?" Ucapnya pelan, masih berusaha mengontrol emosinya.


Merasa lagi - lagi tidak mendapat jawaban, Devan semakin mendekat dan mencengkram kedua bahu Renatta, yang membuatnya meringis sakit akibat cengkraman tangan Devan yang terlalu kuat.


"SIAPA LAKI - LAKI ITU RE!!?" Teriaknya yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.


Renatta menyentak cengkraman tangan Devan di bahunya "Ka..kamu tidak perlu tahu siapa laki - laki itu" Ucapnya dengan sedikit gugup.


"Kamu bilang, aku tidak boleh tahu siapa dia?" Devan menatap Renatta tajam. "Aku ini masih suami kamu Re, dan kamu dengan mudahnya tidur dengan laki - laki lain, apa sebegitu murahannya dirimu, HAH?" Devan benar benar sudah tidak bisa menahannya lagi, kecewa sudah mendominasi dirinya saat ini, bagaimana bisa Renatta melakukan hal itu.


"Sekarang kamu katakan siapa ayah dari anak HAR....." Ucapan Devan terputus saat Renatta menampar wajahnya dnegan keras dengan mata yang berkaca kaca.


"Kamu boleh menghinaku, tapi jangan sekali kali kamu berani menghina kedua anakku, dan yang perlu kamu ingat, aku bukan wanita murahan dan kamu seharusnya sadar semua masalah ini terjadi juga karena kamu, bukankah lebih baik aku memiliki anak dari laki laki lain daripada aku memilik anak dari seorang pria yang tidak menginginkan kehadiran seorang anak dari rahimku" Renatta mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya


"Dan aku baru sadar ternyata kamu tidak pernah berubah, kamu tetap menjadi laki laki egois yang selalu menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu kebenarannya dan mudah sekali mempercayai perkataan seseorang" Dia mengambil tasnya dan ponselnya kemudian pergi meninggalkan apartemen.


Sebelum benar - benar meninggalkan apartemen Devan, dia menolehkan kepalanya kembali dan menatap Devan yang masih tetap berdiri di tempatnya tadi tanpa berniat mengejar Renatta kembali "Semua ini juga bukan kesalahanku, aku tidak mengetahui apapun kalau kita belum bercerai dan satu lagi, lebih baik mulai sekarang kita benar - benar bercerai dan mengakhiri semuanya" Renatta berlalu pergi dengan rasa sakit dihatinya akibat ucapan Devan, dia baru saja merasakan kebahagiaan saat Devan mengatakan mencintainya dan di saat yang hampir bersamaan dia merasakan sakit dihatinya saat Devan mengatakannya wanita murahan.

__ADS_1


Dia berharap saat dia mengatakan kalau Twins anaknya dengan laki laki lain, Devan tidak dengan mudah mempercayainya dan berusaha meyakinkannya kalau memang dia akan menerimanya dan juga kedua anaknya tanpa berniat memisahkan mereka.


Tapi justru fakta yang dia dapat membuatnya lebih terluka, ternyata selama ini Devan tidak benar - benar mempercayainya, hanya dengan perkataan yang dia ucapkan tadi Devan langsung mempercayainya dan menyimpulkan kalau dia bukan perempuan baik - baik bahkan Devan mengatakan hal yang lebih buruk kepada kedua anaknya tanpa mau menuntut penjelasan lagu darinya.


.


.


.


Renatta berjalan gontai memasuki rumahnya, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, pasti kakak dan papahnya akan mengintrogasinya karena mendadak menghilang dari kantor setelah rapat tadi padahal setelahnya dia masih ada jadwal rapat lagi.


"Mamah" Teriak Zia yang kini sudah berlari ke arahnya.


"Mamah habis menangis?" Tanya Zia yang mengusap jejak air mata di pipi Renatta.


Raka yang akan menghampiri Renatta dan Zia seketika berhenti ketika mendengarkan perkataan yang diucapkan Zia.


Renatta segera membersihkan sisa air mata di pipinya "Ah mamah tidak menangis, mata mamah tadi hanya kelilipan."


Dia memeluk tubuh Zia erat, dia masih begitu takut akan kehilangan anaknya, baginya Zio dan Zia adalah malaikat penyelamatnya saat dia merasa sedih dan terpuruk.


"Mamah sayang sekali dengan Zia dan Kak Zio, Zia jangan tinggalin mamah ya"


Zia membalas pelukan mamahnya dengan erat "Zia juga sayaaanggg sekali dengan mamah, Zia janji nggak akan ninggalin mamah"


"Re" Panggil Raka yang saat ini sudah berdiri di hadapannya "Ada yang ingin aku bicarakan"


"Sayang, mamah mau bicara dulu sama Om Raka, kamu tunggu mamah di kamar dulu ya, nanti mamah menyusul"


Zia menganggukkan kepalanya dan berlari menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.


"Aku tadi tidak sengaja melihatmu dan Devan berada di lift yang sama, apa ada yang terjadi di antara kalian?" Tanya Raka meneliti wajah Renatta yang masih terlihat bekas air mata yang baru mengering, dia yakin pasti terjadi sesuatu di antara mereka.


"Tidak terjadi apa - apa kak, kita hanya bertemu biasa" Ucap Renatta, dia belum siap mengatakan yang sejujurnya kepada kakaknya.

__ADS_1


"Tatap mata kakak Re, kamu bisa berbohong ke Zia tapi kamu tidak bisa berbohong kepada kakak, tidak mungkin tidak terjadi apapun, melihat kondisimu saat ini yang terlihat begitu kacau"


Baiklah Renatta menyerah, dia memang dari dulu tidak bisa berbohong kepada kakaknya, akhirnya dia menceritakan semuanya kepada Raka mulai dari Devan yang memaksanya untuk ikut dengannya sampai dimana dia bertengkar hebat dengan Devan.


"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan kepada Devan justru bisa memicu keadaan terburuk untuk kalian berdua Re, Astaga kenapa kamu lebih memilih memperburuk kesalahpahaman diantara kalian daripada menceritakan kebenarannya" Raka menghela nafasnya berat, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Renatta yang lebih memilih menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lamanya yang jelas itu akan menyebabkan hubungan mereka semakin renggang.


"Sampai kapan kamu akan menutupi semua ini, jangan egois Re pikirkan Zio dan Zia yang sangat merindukan kasih sayang papah kandungnya"


"Aku hanya takut Devan melakukan sesuatu kepada Zio dan Zia" Ucap Renatta pelan.


"Itu tidak mungkin Re, Devan adalah papah kandung Zio dan Zia, tidak mungkin dia berniat mencelakai mereka ataupun merebut si kembar dari kamu" Tegas Raka, sebenarnya Raka sudah cukup lelah hari ini, banyak sekali masalah yang menghampirinya akhir - akhir ini mulai dari pertemuannya dengan Sherly kemudian fakta kalau Sherly dengan tega melenyapkan anak mereka, dan sekarang Renatta semakin mempersulitnya untuk menepati janjinya untuk mempertemukan kedua ponakannya dengan Devan.


"Tapi aku masih ingat dengan jelas saat Devan menyuruhku menggugurkan kandunganku jika sampai aku mengandung anaknya"


"Itu dulu Re, sekarang belum tentu juga dia akan melakukannya, apalagi tadi kamu bilang dia sudah meminta maaf dan mengungkapkan isi hatinya ke kamu" Ucap Raka kemudian beranjak meninggalkan Renatta "Jangan sampai kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan hari ini, pikirkan perkataanku baik - baik" Raka berlalu pergi dan membiarkan Renatta untuk merenungi semua perkataannya.


...🍃🍃🍃...


Hallo kak, author balik up lagi nih👏👏👏....


Jangan bosen - bosen ya nungguin kelanjutan ceritanya, masih banyak kejutan yang akan author berikan di cerita ini......


Karena hari ini Abang Zio nggak nongol lagi, aku mau kasih bonus nih foto Abang Zio yang habis pulang dari sekolah🥳🥳🥳



Tatapan dinginnya udah mirip banget kayak papah Devan nih.....


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2