
Benar saja sedari tadi Zia tidak mau lepas dari Renatta, Zia yang terbiasa selalu bermanja - manja dengan mamahnya tidak ingin perhatiannya lebih banyak ke Zea, walaupun begitu Zia sangat menyayangi Zea selayaknya kakak menyayangi adiknya, hanya saja dia tidak suka jika perhatian kedua orang tuanya selalu ke Zea bukan kedirinya lagi.
Berbeda dengan Zio yang tampak acuh, dia lebih banyak menghabiskan waktu pulang sekolahnya untuk bermain di depan komputer pemberian papahnya.
Melihat sikap Zia yang tidak mau lepas darinya membuat Renatta paham kalau Zea juga ingin di perhatikan seperti adiknya, dari dulu Zia memang lebih manja di bandingkan Zio, dia selalu berusaha menarik perhatian semua orang agar memperhatikannya, dari kecil pun Zia cenderung anak yang sulit lepas darinya, kalaupun dia bekerja Renatta harus dengan ekstra membujuk Zia agar mau di tinggal berkerja atau di titipkan ke tetangga samping rumahnya.
"Mah, kapan sih Zea tidur? kan Zia pengen juga tidur di peluk mamah" Manja Zia yang bergelayut manja di tangan mamahnya.
Renatta tersenyum ke arah Zia "Sebentar lagi ya, Zea sudah mulai terlelap, nanti gantian kamu yang mamah peluk saat tidur" Ucap Renatta memberikan pengertian kepada Zia.
Zia memajukan bibirnya kesal, tetapi dia tetap saja memperhatikan Zea yang sudah mulai terlelap di pangkuan mamahnya.
Ya, begitulah Zia, walaupun dia tidak terlalu suka dengan kehadiran adiknya yang di anggap mengurangi perhatian papah dan mamahnya kepadanya tetap saja Zia begitu menyayangi Zea dengan caranya sendiri.
Benar saja Zea sudah benar - benar mulai terlelap dalam tidurnya, dengan perlahan Renatta meletakkan Zea pada box bayi, setelahnya dia menghampiri Zia "Katanya tadi mau tidur siang di peluk sama mamah" Renatta mengelus pelan pipi Zia yang semakin bertambah gemuk "Nanti mamah bacakan dongeng kesukaan kamu deh" Bujuk Renatta.
Zia yang tadi memasang wajah cemberutnya seketika tersenyum senang "Ayo mah, Zia sudah mengantuk nih" Ucap Zia yang menarik tangan Renatta masuk ke kamarnya.
Sesampainya di kamar tidur milik Zia, Renatta mulai membacakan dongeng kesukaan Zia sejak masih kecil dulu, hingga tidak lama Zia mulai memejamkan matanya lalu terdengar dengkuran halus dari mulut Zia menandakan kalau Zia sudah masuk ke alam mimpinya.
Renatta mengusap rambut Zia "Mamah akan selalu sayang sama kamu, kasih sayang mamah ke kalian bertiga tidak akan pernah berkurang"
"Cup" Renatta mengecup kening Zia lalu menyelimuti tubuh Zia, kemudian Renatta keluar dari kamar tidur Zia.
__ADS_1
Renatta berjalan, bergantian menuju kamar Zio, dengan langkah pelan dia membuka pintu kamar Zio yang masih fokus dengan laptop di depannya hingga tidak menyadari kehadirannya.
Devan sudah menceritakan semuanya tentang Zio, sebenarnya Renatta sudah melihat kemapuan Zio sejak dulu, saat Zio yang saat itu berusia 5 tahun sering sekali memainkan laptop milik Raka secara diam - diam, dia juga tahu kalau informasi yang mereka dapatkan tentang Devan semuanya Zio yang mendapatkannya.
"Suatu saat mamah yakin, kamu akan menjadi orang yang bisa membanggakan mamah dan papah serta adik - adik kamu" Ucap Renatta dengan pandangan masih fokus menatap ke arah Zio.
.
.
.
Di kantornya Devan sedang berbicara serius dengan Daniel, ada hal penting yang memang harus dengan segera Devan seleseikan atau hal ini akan membuat rumah tangganya dengan Renatta kembali merenggang.
"Semua informasi yang anda butuhkan sudah saya kirimkan ke email anda" Jawab Daniel dengan menyodorkan sebuah flashdisk.
"Ingat, jangan sampai Renatta tahu tentang semua ini atau semuanya akan menjadi kacau" Ucap Devan yang mulai membuka file kiriman Daniel di laptopnya.
"Baik tuan, saya akan berusaha agar masalah ini tidak diketahui Nona Renatta" Daniel berdiri dari duduknya lalu berpamitan keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah Daniel keluar dari ruangannya, Devan menghembuskan nafas lelah, untuk kali ini dia akan menyelesaikan malahan ini sebelum Renatta mengetahuinya dan menyebar ke khalayak umum, dia juga masih berusaha mencari tahu siapa pengirim foto dan file yang akan menghancurkan reputasinya jika sampai hal ini tersebar ke media.
"Rania Azzaria, seharusnya masalah ini tidak mencuat lagi karena hal itu sudah menjadi masa lalu kelam dalam kehidupanku, kamu juga mungkin sudah tenang sekarang" Ucap Devan yang mengeluarkan sebuah liontin yang sudah lama sekali tidak dia sentuh, liontin yang sudah dia sembunyikan begitu lama, terdapat foto seorang perempuan di dalam liontin yang saat ini Devan pegang.
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang berbeda, seorang laki - laki dengan tatapan sendunya menatap pemandangan kota dari lantai atas apartemen miliknya "Maaf karena saat itu tidak bisa mencegah kamu melakukannya, dan maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak membalas dendam karena melihatnya sekarang yang bahagia membuatku merasa ini tidak adil untuk kamu" Ujar laki - laki tersebut.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back 🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Hai, kalau menurut author ini bukan konflik ya, ini hanya tambahan agar ceritanya nggak monoton.....
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading