
"ASTAGA, Apa yang kalian lakukan" Teriak seseorang yang membuat Renatta menghentikan kunyahan kuenya.
Dengan santainya Renatta mengabaikan teriakan Sherly, sedangkan Sherly nampak mengangakan mulutnya tidak percaya kalau barusan dia di abaikan oleh Renatta bahkan Renatta dengan tidak tahu malunya tetap menyuruh Devan untuk menyuapinya tanpa mempedulikan keberadaannya.
Devan sendiri lebih memilih untuk tetapi menyuapi Renatta, baginya hal seperti ini tidak memalukan untuknya bahkan dia senang jika kemesraannya di lihat oleh orang lain, biar semua tahu kalau kehidupan pernikahan mereka amatlah sangat bahagia.
Sherly mendengus kesal, dia duduk tidak jauh dari meja makan yang saat ini di duduki Devan dan Renatta, walaupun kesal sudah di abaikan oleh pasangan suami istri di depannya saat ini, tetapi dalam hatinya dia bahagia melihat rumah tangga Renatta dan Devan yang terlihat harmonis.
"Sampai kapan aku harus menonton kalian melakukan hal menyebalkan seperti ini" Gerutu Sherly.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menontonku Sher" Jawab Renatta dengan mudahnya.
"Apa kalian tidak malu apa yang kalian lakukan di lihat oleh pelayan?" Tanya Sherly.
"Untuk apa aku malu, lagian ini kan mansion milikku, semua pelayan yang bekerja di sini di gaji oleh suamiku, sudah resiko mereka kalau melihat aku seperti ini bersama Devan" Balasnya, sifat pemalu Renata benar - benar sudah hilang akibat hormon kehamilannya ini, entahlah Renatta sendiri kadang merasa bukan dirinya sendiri.
Oke untuk kali ini Sherly berusaha untuk tidak menanggapi perkataan Renatta lagi, padahal dalam hatinya dia sudah mati Matian menahan kekesalannya, kalau bukan karena ingin membicarakan rencana pernikahannya dengan Renatta pasti dia sekarang sudah pergi dari sini.
Setelah kue yang tadi dia beli sudah habis, Renatta segera turun dari pangkuan Devan
"Bicaralah dengan Sherly" Ucap Devan melirik ke arah Sherly yang menampilkan wajah kesalnya "Aku akan ke ruang kerjaku dulu" Lanjutnya, lalu pergi meninggalkan Renatta berdua dengan Sherly.
"Apa ada masalah? Kenapa wajahmu terlihat seperti pakaian kusut seperti itu Sher?" Tanya Renatta tanpa rasa bersalah.
"Sudahlah, lupakan, aku baik baik saja" Jawab Sherly dengan menghela nafasnya pelan.
"Jangan bilang kamu marah karena aku abaikan tadi, atau kamu marah karena kamu iri melihatku bermesraan dengan Devan" Ujarnya kepada Sherly.
"Tidak, hanya saja memang mood ku hari ini sedang buruk" Jawabnya kepada Renatta
"nanti kalau kamu sudah menikah dengan Kak Raka, kamu bisa sepuasnya bermesraan dengan Kak Raka seperti yang aku lakukan tadi bersama Devan" Ucapnya lalu mendekatkan tubuhnya ke samping Sherly "Dan kamu akan merasakan bagaimana nikmatnya melakukan sesuatu hal yang menyenangkan di setiap malamnya" Lanjutnya membuat pipi Sherly memerah membayangkan perkataan Renatta barusan.
"RENATTA...., sejak hamil kamu menjadi begitu menyebalkan" Teriak Sherly sedikit keras
Renatta tertawa mendengar ucapan Sherly "Benarkan? ku rasa menjadi menyebalkan cukup menyenangkan"
Sebenarnya Renatta sendiri merasakan kalau banyak sekali perubahan pada dirinya karena kehamilannya ini, bahkan tanpa dia sadari hampir semua sikap dan sifatnya saat ini bertolak belakang dengan sikap yang biasanya dia tunjukkan.
.
__ADS_1
.
.
Renatta bergerak gelisah di atas tempat tidurnya, berkali kali dia melirik ke arah Devan, ada hal yang saat ini sangat dia inginkan, tetapi tentu saja jika dia memintanya kepada Devan, ini akan menjadi hal yang paling memalukan untuk dirinya, apalagi melihat baju tidur Devan yang tersingkap ke atas memperlihatkan bagian perut Devan yang menurutnya sangat indah dan seksi, Renatta memutuskan untuk mengambil minum di dapur untuk menjernihkan pikirannya.
sedangkan Devan membuka matanya merasa terganggu dengan pergerakkan yang sedari tadi di lakukan Renatta, Saat dia melihat ke samping tempat tidur dia sudah tidak menemukan keberadaan Renatta.
Devan turun ke lantai satu untuk mencari keberadaan Renatta, Devan melihat Renatta yang sedang duduk di meja patri sambil meminum air dingin dari dalam kulkas.
"Kenapa kamu malam - malam ada di dapur?" Tanyanya kepada Renatta
"Astaga Dev, kamu mengagetkanku saja" Renatta mengusap dadanya karena terkejut dengan ke datangan Devan di sampingnya.
"Kamu melamun?" Tanya Devan kepada Renatta.
"Tidak" Jawabnya singkat.
Devan menatap Renatta lekat " Ada yang kamu inginkan?"
Renatta menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bagian bawahnya, dia masih tidak berani mengungkapkan kepada Devan tentang apa keinginannya saat ini.
Renatta masih mempertimbangkan apakah dia akan mengatakannya atau tidak, tetapi keinginannya ini benar - benar menyiksanya, tadi dia sempat berbicara dengan anaknya yang masih berada di dalam perutnya agar tidak meminta sesuatu hal yang macam - macam tetapi rasanya itu tidak berguna justru sekarang keinginannya semakin besar.
"Aku hanya itu...." Renatta menjeda ucapannya yang membuat Devan mengernyitkan keningnya menunggu kelanjutan dari perkataan Renatta "Aku hanya ingin melakukannya di atas meja makan" Lanjutnya yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan.
Pada awalnya Devan tidak mengerti maksud dari ucapan Renatta, tetapi saat dia paham maksud dari perkataan istrinya, dia menyunggingkan senyumnya tetapi dia memilih untuk pura - pura tidak mengerti maksud ucapan Renatta barusan.
"Maksud kamu melakukan apa Re?" Tanyanya menggoda Renatta
Renatta semakin merasa jengkel karena Devan tidak bisa mengartikan maksud dari ucapannya, apa harus dia mengatakan dengan jelas maksud perkataannya.
"Aku ingin melakukan kegiatan ranjang dengan kamu di atas meja Dev" Ucap Renatta dengan cepat, kini pipinya sudah benar benar seperti kepiting rebus.
Devan melepaskan pelukan Renatta darinya, lalu di mencium bibir Renatta dengan rakus "Kamu yakin ingin melakukannya di sini?" Tanyanya pada Renatta
"Iya, tapi ini bukan keinginanku tapi keinginan anak ka..." Ucapan Renatta terputus saat Devan mencium bibirnya dengan kasar, hal itu membuat Renatta mendesahkan nama Devan.
Devan mengangkat tubuh Renatta untuk dia dudukkan di atas meja makan yang berukuran cukup besar, Devan menciumi setiap inci tubuh Renatta dan berkali kali juga Renatta meneriaki nama Devan.
__ADS_1
Devan menyingkap baju tidur Renatta sampai atas perut menampilkan kaki jenjang Renatta, dengan pelan Devan membaringkan tubuh Renatta di atas meja sedangkan dia masih sibuk menikmati setiap aroma tubuh Renatta yang saat ini sudah di penuhi dengan peluh dan keringat.
"Dev" Erangan Renatta yang membuat Devan semakin di penuhi oleh gairah, ini untuk pertama kalinya mereka melakukan hal seperti di atas meja makan, itupun atas permintaan dari Renatta yang tentu saja di sambut senang oleh Devan.
Kini posisi Renatta sudah duduk kembali dengan tangannya yang sudah dia kalungkan di leher Devan dengan erat sedangkan Devan sendiri sudah memposisikan tubuh mereka dengan nyaman.
Tidak lama kemudian mereka sudah sama sama mendapatkan pelepasannya yang membuat mereka terkulai lemas dengan tangan Devan yang menumpu di antara sisi meja makan dan kepala Renatta yang sudah dia letakkan di atas pundak Devan.
Mungkin besok Renatta akan menyuruh Devan untuk mengganti meja makan mereka akibat kegiatan yang barusan mereka lakukan.
"PAPAH, MAMAH, Apa itu kalian" Ucap Zio dan Zia yang terbangun dari tidurnya.
...๐๐๐...
Balik lagi......
Devan dan Renatta ketahuan lagi nih๐๐๐Mana ngelakuin hal begituan nggak tahu tempat lagi๐
Ngidamnya Renatta semakin hari akan semakin aneh ya, jadi tungguin kelanjutan ceritanya....
Untuk konfliknya aku selingi sama keromantisan mereka ya biar tidak bosan...
Terima kasih buat semua pembaca cerita Suami Bayaran Renatta yang selalu setia menunggu kelanjutannya....
Semoga makin suka...
Kalau suka jangan lupa like, komen dan vote๐
Mohon koreksi kalau ada typo nya.
Happy Reading
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1