
Renatta menyesap teh di tangannya sambil menemani Zio dan Zia yang saat ini sedang bermain di taman bersama beberapa pelayan yang sudah di siapkan Devan untuk membantunya merawat si kembar, hari ini dia sudah meresmikan butik yang selama ini dia impikan setelah kepulangannya ke Indonesia beberapa bulan yang lalu.
Hari pertama peresmian butiknya banyak sekali pelanggan yang datang di karenakan Devan sengaja mempromosikan butiknya lewat perusahaannya, alhasil kebanyakan yang datang ke butiknya adalah istri dari rekan kerja Devan.
Dia merasakan ada yang memeluk lehernya dari belakang lalu mencium pipinya
Renatta tersenyum saat melihat kehadiran Devan sehabis pulang dari kerja "Kamu sudah pulang Dev?" Renatta menolehkan kepalanya ke atas melihat ke arah Devan.
"Maaf, hari ini aku agak telat pulang karena tadi ada sedikit masalah dengan pekerjaan kantor" Ucapnya, dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kalau dia tadi telat pulang di karenakan menemui Angel terlebih dahulu di rumah sakit.
Zio dan Zia yang melihat kepulangan Devan segera menghentikan permainannya lalu menghampiri Devan.
"Pah Zia mau di gendong papah" Zia sudah merentangkan kedua tangannya ke arah Devan, Zia memang begitu manja dengan Devan berbeda dengan Zio yang tidak semanja Zia, tetapi dia sedikit bingung dengan sikap Zio yang akhir akhir ini lebih banyak diam dari biasanya bahkan terkadang dia tidak seheboh Zia jika menyambut kepulangan Devan dari kantor.
Renatta sudah pernah mencoba bertanya kepada Zio tentang alasan perubahan sikapnya yang sedikit berbeda seperti biasanya tetapi anaknya itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau dia baik baik saja.
"Mah" Ucap Zio yang saat ini sedang menatapnya.
"Ada apa, apa ada yang ingin kamu katakan?" Renatta mengalihkan pandangannya ke arah Zio.
"Zio boleh bertanya sesuatu kepada mamah?" Ucapnya yang sudah beralih duduk di samping Renatta.
Sedangkan para pelayan yang tadi menemani Zio dan Zia bermain sudah masuk ke dalam mansion atas suruhan Devan yang saat ini sudah duduk di atas rumput memberi makan ikan bersama Zia.
"Boleh dong, memang anak mamah mau bertanya apa?"
"Apa papah punya anak selain Zio dan Zia?" Tanya Zio yang membuat Renatta bingung sekaligus terkejut
"Maksud kamu apa? ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari mamah?" Tanyanya balik kepada Zio.
"Tidak ada yang Zio sembunyikan dari mamah, Zio hanya ingin bertanya saja" Zio memeluk Renatta dari samping.
"Tentu saja tidak ada, hanya kamu dan Zia anak papah dan mamah" Jawabnya mengusap lembut rambut Zio.
Zio menganggukkan kepalanya setelah itu tidak ada pembicaraan lagi antara Zio dan Renatta, Zio masih menyembunyikan kepalanya di perut mamahnya, dia masih memikirkan ucapan Angel yang mengatakan kalau Devan adalah papahnya, walaupun usianya masih kecil, dia sudah mengerti kalau sampai yang di ucapkan Angel benar kalau dia juga anak papahnya tentu saja hal itu akan menyakiti hati mamahnya.
Sedangkan Renatta masih memikirkan perkataan Zio barusan, dia heran kenapa tiba tiba Zio bertanya seperti itu kepadanya tetapi dia memilih untuk tidak menanyakan lagi kepada Zio, dia akan mencari tahu sendiri semuanya.
__ADS_1
.
.
.
"Dev" Panggil Renatta yang sudah masuk ke ruang kerja Devan.
"Apa ada hal penting yang ingin kamu katakan?" Devan melepas kacamata bacanya dan beralih menatap Renatta yang masih berdiri di depannya tanpa berniat untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
Renatta berjalan ke arah kursi kerja yang saat ini di tempati oleh Devan lalu dia duduk di atas pangkuannya, Renatta menyandarkan kepalanya di bahu Devan.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari ku Dev?"
Tanya Renatta menatap dalam mata Devan
"Tentu saja tidak ada yang aku sembunyikan Re, Apa kamu sedang mencurigai ku saat ini?" Devan menangkup wajah Renatta dan mengusap pelan pipinya.
"Aku hanya merasa kalau ada hal besar yang sengaja kamu sembunyikan dariku, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa berfikir seperti itu" Tentu saja Renatta tidak akan mengatakan tentang apa yang Zio tanyakan padanya tadi, sejujurnya hal itu juga sangat menganggu pikirannya, tidak mungkin Zio bertanya seperti itu apabila tidak ada sebabnya.
"Kamu ingatkan apa yang pernah aku katakan sebelumnya" Renatta mengangguk "Cukup kamu percaya kepadaku dan terus berada di sampingku apapun yang terjadi, karena apa yang suatu saat kamu ketahui belum tentu itu fakta yang sebenarnya" Devan mencium bibir Renatta sekilas lalu melepaskan ciumannya lagi.
Devan berdiri dari duduknya, hal itu reflek membuat Renatta mengalungkan tangannya di leher Devan dan kedua kakinya yang memeluk pinggang Devan dengan erat
"Kita lanjutkan di tempat tidur" Ucap Devan berbisik di telinga Renatta.
Renatta hanya mengangguk dengan wajah yang sudah memerah membayangkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini, entah kenapa walaupun dia sudah sering melakukan hal seperti ini dengan Devan tetapi dia masih saja merasa malu bahkan pipinya masih sering bersemu merah saat Devan mengatakan hal hal romantis sebelum mereka melakukannya.
Dan malam itu Renatta mulai melupakan sejenak kecurigaannya kepada Devan dan berusaha untuk mempercayai Devan sepenuhnya.
.
.
.
Raka dan Sherly sudah berada di salah satu restauran Jepang terkenal yang memang sengaja mereka pesan untuk pertemuan mereka dengan Renatta.
__ADS_1
Tadi Raka sudah menghubungi Renatta kalau dia dan Sherly ingin bertemu untuk membicarakan masalah yang saat ini membuat hubungan Renatta dan Sherly sedikit merenggang.
Raka melambaikan tangannya ke atas saat melihat kedatangan Renatta yang sedang mencari keberadaannya.
"Re, aku minta maaf, jujur aku sangat menyesal dari awal tidak menceritakan semuanya kepada kamu" Ucap Sherly saat melihat Renatta sudah duduk di kursi depannya.
Renatta menghela nafasnya pelan "Aku sudah memaafkanmu Sher, aku hanya sedikit kecewa karena kamu menyembunyikan hal sebesar ini, aku memang juga pernah menyembunyikan tentang Zio dan Zia kepada kamu tetapi pada akhirnya aku menceritakan semuanya kepada kamu, sedangkan kamu?, kalau bukan karena aku yang bertanya dan menemukan bukti foto anak kamu mungkin saja sampai saat ini kamu tidak berniat memberitahukan apapun kepadaku Sher" Ucap Renatta kepada Sherly yang membuat Sherly seketika terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Re, kakak meminta maaf atas nama Sherly untuk kamu, ini semua juga kesalahan kakak di masa lalu, mungkin saja Sherly memang belum siap mengatakan semuanya kepada kamu" Devan berusaha meluluhkan hati adiknya agar mau memaafkan Sherly, dia tidak tega jika melihat Sherly terus sedih karena Renatta yang seolah olah sedang menghindarinya.
Renatta berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Sherly lalu memeluknya "Aku juga minta maaf Sher untuk aku yang tidak jujur sama kamu, mulai sekarang aku harap kita tidak saling menyimpan kebohongan apapun" Ujarnya, Renatta tidak bisa marah dengan Sherly terlalu lama karena baginya Sherly adalah teman terbaiknya, teman yang selalu ada untuk Renatta hanya saja dia memang merasa menjadi teman yang tidak berguna karena tidak mengetahui beban besar yang selama ini di tanggung Sherly.
"Re" Sherly membalas pelukan Renatta, bahkan saat ini mereka sudah menjadi tontonan banyak orang karena aksi berpelukan yang mereka lakukan.
Sherly dan Renatta melepas pelukannya, lalu Renatta melihat ke arah kakaknya, Raka "Kapan kakak akan menikahi Sherly? dan kakak juga harus segera mengenalkan keponakkanku kepada papah dan mamah"
"Secepatnya, aku akan membawa Sherly dan Darren untuk bertemu papah dan mamah" Raka tersenyum ke arah Renatta, mengenal Renatta hampir sekitar 6 tahun ini membuat dia tahu betul sifat Renatta, adiknya itu memilik hati yang lembut dan pemaaf walaupun terkadang sifat itu tertutupi oleh tangguhnya Renatta menghadai kehidupan yang di jalaninya selama ini
Raka hanya berharap Renatta akan selalu bahagia, dia tidak akan memaafkan Devan jika Devan berani menyakiti hati Renatta seperti dulu lagi, dia juga mengharapkan kelak dia dan Sherly juga akan hidup dengan kebahagiaan.
...🍃🍃🍃...
Selamat malam, author datang lali🥳🥳🥳...
Kalau suka jangan lupa like, komen dan vote ya
Terima kasih karena masih selalu setia membaca Suami Bayaran Renatta🤗
Kalau ada typo bisa di tulis di komentar ya kak...
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue