
Renatta dan Devan benar - benar menghabiskan waktu bersama, bahkan Devan sudah menyiapkan makan malam romantis di atas kapal pesiar, dia sebenarnya sudah menyiapkan semuanya dari beberapa hari yang lalu, entah kenapa perasaan khawatirnya membuat Devan sadar kalau selama ini dia belum bisa membahagiakan Renatta dengan baik dan sebelum semuanya terlambat dia ingin memberikan kenangan indah untuk Renatta
"Kamu tahu Dev, ini untuk pertama kali nya aku makan malam di atas kapal pesiar dan itu dengan kamu" Ucap Renatta semakin mengeratkan jaket yang Devan pakaikan di tubuhnya.
"Aku bahagia jika kamu menyukainya" Devan memeluk tubuh Renatta dari belakang, mereka sudah menyelesaikan makan malam, kini Devan dan Renatta menikmati suasana nyaman yang membuat Devan maupun Renatta hanyut dalam pemikiran masing - masing.
Devan sendiri memikirkan bagaimana kehidupannya kedepannya bersama Renatta jika istrinya itu tahu masa lalu kelamnya, memang mungkin saja Renatta tidak akan meninggalkan nya mengingat dengan adanya keberadaan ketiga anaknya tapi dia juga takut jika Renatta berbuat nekat dan pergi lagi membawa ketiga anaknya.
Sedangkan Renatta memikirkan sifat dan sikap Devan yang menurutnya sedikit aneh akhir - akhir ini, kadang - kadang dia melihat Devan lebih sering melamun, dan sekarang sikap Devan yang tiba - tiba menjadi seromantis ini membuatnya semakin berfikir keras, apa ada hal yang di sembunyikan Devan dari dirinya.
"Dev, apa ada hal yang kamu sembunyikan dariku" Tanya Renatta yang membuat Devan tersentak kaget tetapi Devan bisa dengan cepat mengontrol rasa kagetnya, agar Renatta tidak menyadarinya.
"Kenapa kamu tiba - tiba tanya hal seperti itu? Apa kamu mencurigaiku akan sesuatu hal?" Tanya Devan balik kepada Renatta
"Ah, tidak aku hanya sedikit khawatir dengan keadaan kamu Dev" Renatta membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Devan
Devan tersenyum ke arah Renatta "Semuanya baik - baik saja dan akan selalu baik - baik saja Re" Ucap Devan lalu mengangkat tubuh Renatta , hal itu membuat Renatta terkejut lalu dengan spontan mengalungkan tangannya di leher Devan.
"Apa yang kamu lakukan?" Pekik Renatta meminta Devan untuk menurunkannya.
"Menikmati malam ini tanpa ada gangguan dari anak - anak" Ucap Devan dengan senyum penuh artinya"
Paham dengan apa yang di ucapkan Devan Renatta menyembunyikan wajahnya di ceruk leher milik Devan "Dev" Lirih Renatta masih menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Devan.
Sedangkan Devan terkekeh kecil mendengar dengusan Renatta, Ah rasanya Devan ingin waktu berhenti saat ini, entah kenapa walaupun dia sudah berusaha untuk membuat Renatta tidak mengetahui tentang masa lalunya tetapi dia merasa akan ada hal besar yang akan terjadi setelah ini, entah apa itu yang jelas itu akan membuat permasalah di dalam rumah tangganya.
Devan membaringkan Renatta di tempat tidur yang ada di kapal pesiar yang mereka tumpangi dengan pelan "Kamu sangat cantik Re" Ucap Devan menyelipkan anak rambut Renatta ke samping telinganya.
__ADS_1
Kedua pipi Renatta merona mendengar perkataan Devan "Aku suka dengan warna merah di kedua pipi kamu ketika aku menggodamu" Lanjutnya kemudian mencium kedua pipi Renatta bergantian lalu beralih ke kening dan terakhir di bibir Renatta.
Hingga malam itu menjadi malam terindah untuk Devan dan Reanatta, mereka berdua berbagi kehangatan di tengah dinginnya angin malam tanpa takut adanya gangguan dari anak - anak mereka.
.
.
.
Di tempat yang berbeda Daniel merasa sedikit kewalahan membereskan dan menghapus beberapa artikel yang mulai menyebar tentang berbagi foto Devan dan seorang perempuan yang tak lain adalah Rania, mantan tunangan Devan yang meninggal beberapa tahun lalu.
Bahkan Daniel sudah berusaha menghubungi Devan berkali - kali tapi tidak ada jawaban sama sekali, dia takut kalau artikel ini tidak segera di hentikan akan menyebabkan rumor buruk tentang Devan, dia juga takut kalau sakit yang dialami Devan dulu akan kambuh lagi.
"Sebenarnya apa yang di inginkan orang tersebut sampai harus menyebarkan foto dan video Tuan Devan bersama Rania lagi" Lirih Daniel menatap beberapa foto dan artikel tentang atasannya itu.
Tidak lama ponsel Daniel berbunyi menampilkan nama Devan, dengan cepat Daniel mengangkatnya
"Hallo" Ucap Daniel terlebih dahulu, lalu dia menceritakan semuanya kepada Devan, terdengar Devan menggeram marah mendengar ucapan Daniel, setelahnya panggilan telfon dari Devan terputus setelah Devan mengatakan kalau akan membicarakan masalah ini besok di kantor.
Setelah memastikan Renatta sudah tertidur lelap setelah apa yang mereka lakukan tadi, Devan keluar dari kamar menuju luar kapal, matanya menatap tajam ke depan, dia tidak mempedulikan suhu udara yang semakin dingin yang dia pedulikan saat ini adalah ingin dengan cepat menyelesaikan semuanya, apalagi mendengar perkataan Daniel dari sebrang telfon tadi membuat Devan semakin tidak tenang.
Ingatannya melayang kepada kejadian beberapa tahun sebelum dia bertemu lagi dengan Renatta, ya Devan menyadari kalau semua ini kesalahannya, jadi wajar saja jika ada yang tidak menerima kematian Rania apalagi Rania meninggal karena dirinya.
"Ra maafkan aku, sungguh aku menyesal sudah membuat kamu menyakiti diri kamu sendiri, bahkan aku tidak mencegah kamu saat kamu mengancam akan melakukan bunuh diri" Tatapan Devan berubah menjadi sendu, penyesalan dan rasa bersalah kembali menggeronggoti hatinya, kenangan yang seharusnya sudah di kubur, kini kembali menghantuinya, semuanya terasa begitu nyata saat bayangan tubuh Rania yang sudah di penuhi darah berkelebat lagi di pikirannya, Tidak lama Devan memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit, dia hanya berdoa semoga penyakitnya tidak kambuh lagi.
"Akhh" Teriak Devan berusaha meredakan rasa sakit di kepalnya, butiran keringat sudah mulai membasahi dahi dan juga punggung Devan, hawa dingin malam tidak bisa mengalahkan tubuhnya yang tiba - tiba terasa panas.
__ADS_1
Renatta yang menyadari Devan tidak berada di sampingnya segera turun dari tempat tidur, tapi sebelumnya dia memakai bajunya kembali yang masih tergeletak di lantai.
Langkah Renatta menyusuri setiap bagian kapal yang khusus di sewa Devan malam ini, langkahnya mendadak berhenti saat dia mendengar suara seseorang yang berusaha menahan rasa sakit, merasa mengenali suara tersebut Renatta berlari ke arah sumber suara
Betapa terkejutnya Renatta saat melihat Devan sudah terduduk di bagian depan kapan dengan tangan yang mencengkram erat tiang pembatas besi.
"Dev" Panggil Renatta lalu membalikan tubuh Devan yang sudah terlihat pucat dengan dahi yang sudah di penuhi dengan peluh keringat.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back, setelah sekian lama hibernasi di goa 🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading