
Devan yang melihat Agnes sudah bersiap untuk menembakkan pistolnya ke arah Renatta, segera berlari untuk melindungi tubuh istrinya.
DORR.... DORR.....
Ditekannya pistolnya dua kali ke arah Renatta "Akhh" Teriak Renatta menutup matanya.
Hingga Devan merasakan sebuah peluru menembus kepalanya dan juga punggung sebelah kirinya yang seketika membuat tubuh Devan melemah dan terjatuh tepat di depan tubuh Renatta
Melihat siapa yang baru saja di tembaknya seketika membuat tangan Agnes bergetar.
Renatta tersadar kalau tidak ada rasa sakit di tubuhnya, saat membuka matanya dia justru melihat tubuh Devan sudah ambruk di depannya dengan luka tembak di kepala dan darah yang sudah memenuhi lantai.
"Dev" lirihnya dengan nada bergetar melihat kondisi Devan yang sudah berlumuran darah.
Sedangkan Axel, Daniel dan Raka yang mendengar suara tembakan keras segera mencari sumber suara berasal setelah mereka berhasil mengalahkan kedua anak buah Agnes.
Saat mereka sudah sampai, mata mereka langsung tertuju kepada Devan yang sudah terkapar di lantai dengan kepala yang sudah berada di pangkuan Renatta.
Axel yang melihat Agnes mengarahkan pistolnya ke arah Renatta dengan segera mengangkat pistolnya dan terlebih dahulu menembak tangan Agnes sehingga pistol yang di bawanya jatuh ke lantai.
Tidak lama kemudian polisi datang untuk menangkap Agnes yang sudah memberontak "Lepas, kalian tidak akan bisa menangkap ku" Agnes masih berusaha melepaskan diri dari polisi, saat melewati tubuh Devan yang sudah terkapar tidak berdaya pandangan Agnes berubah menjadi sendu "Dev"
Daniel sudah melepaskan Zio dan segera membawa Zio ke rumah sakit karena kondisinya yang sudah sangat lemah.
"Dev, bangun jangan tinggalkan aku" Renatta menepuk - nepuk pipi Devan, sedangkan Devan yang masih tersisa kesadarannya berusaha tersenyum ke arah Renatta.
Tubuh Devan sudah berada di mobil untuk segera di bawa ke rumah sakit.
"A...ku, uhuk uhuk" Devan terbatuk saat ingin mencoba berbicara pada Renatta.
"Aku mohon jangan pejamkan mata kamu Dev, tetap buka mata kamu sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, anak dalam kandunganku butuh papahnya, maafkan aku karena sudah berbohong kepada kamu soal anak kita" Ucapnya dengan mata yang sudah berkabut karena sedari tadi tidak berhenti menangis.
Devan tersenyum, tangan lemahnya terangkat untuk menyentuh perut Renatta "A..aaku senang mendengarnya, jaga dia dan bilang kalau papahnya sangat menyayangi nya" lirihnya dengan nada yang terbata lalu tidak lama matanya terpejam dengan erat.
"Dev, aku mohon Dev bangun jangan tinggalin aku dan anak - anak" Warna merah sudah memenuhi baju Renatta akibat darah dari luka Devan.
"Kamu tenang Re, sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit" Ucap Raka yang berusaha menenangkan Renatta dari bangku depan mobil, sedangkan Axel yang saat ini sedang menyetir tidak kalah khawatirnya, tadi dia sudah mengira kalau yang menculik Zio adalah Aline tapi pada kenyataannga ternyata yang merencanakan semua ini adalah Agnes, lalu di mana Aline sekarang?.
__ADS_1
Ketika sudah sampai di rumah sakit, tubuh Renatta langsung di bawa masuk ke ruang UGD, melihat kondisi Devan yang mulai melemah, tim medis segera menyiapkan ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Devan.
"Re lebih baik kamu ganti bajumu terlebih dahulu, jangan sampai Zio dan Zia melihat kamu dengan pakaian penuh darah seperti ini" Di serahkannya paper bag berisi baju ganti untuk Renatta.
Dengan langkah gontai Renatta menuju toilet rumah sakit untuk berganti pakaian, setelah selesei berganti pakaian dia segera duduk kembali di depan kursi tunggu operasi, tadi kakaknya sudah mengatakan kalau keadaan Zio sudah mulai stabil, anaknya hanya mengalami trauma dan beberapa lebam yang sudah di tangani oleh dokter.
"Kak, aku akan melihat keadaan Zio sebentar, nanti aku akan kembali lagi ke sini" Pamitnya kepada Raka.
Renatta berjalan mencari ruang rawat inap Zio yang tadi diberitahukan Daniel kepadanya.
"Nona anda sudah datang, sedari tadi Tuan muda Zio memanggil nama Tuan Devan terus menerus, di dalam sudah ada Nyonya Vira" Ucap Daniel yang merasa lega "Bagaimana kondisi Tuan Devan?" Tanyanya lagi.
Mendengar nama Devan membuat pandangan Renatta kembali sendu "Saat ini Devan sedang menjalankan operasi, kita berdoa saja semoga operasinya berhasil, kalau Devan sampai tidak selamat aku pasti tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri karena sudah banyak membohonginya" Ucapnya.
"Saya yakin Tuan Devan pasti mampu bertahan, dia tidak mungkin tega meninggalkan istri dan juga anak - anaknya" Senyumnya "Kalau begitu saya permisi untuk melihat kondisi Tuan Devan"
Setelah kepergian Daniel, Renatta memasuki ruangan Zio, tampak ibu mertuanya sedang mengusap rambut Zio yang matanya masih terpejam "Bu" Panggilnya.
Vira menolehkan kepalanya "Re" Vira berdiri dari duduknya lalu di peluknya Renatta "Bagaimana kondisi Devan, tadi ibu di hubungi oleh Daniel dan langsung menuju kesini"
"Ini semua bukan kesalahan kamu, ibu tahu betapa besarnya Devan mencintai kamu selama ini, mungkin ini yang memang harus dia lakukan untuk orang paling dia sayangi" Di usapnya air mata Renatta.
"Kalau begitu ibu akan melihat kondisi Devan, ibu titip cucu ibu ke kamu dari tadi dia terus memanggil papahnya" Pintu tertutup kembali setelah ibu mertuanya keluar untuk pergi ke ruang operasi Devan, sejujurnya Renatta juga ingin melihat kondisi Devan tapi dia juga tidak mungkin meninggal Zio sendiri.
Di tatapnya Zio yang sedang terlelap tidur "Maafkan mamah karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik" Renatta duduk lalu kepalanya di taruh di samping ranjang tidur Zio, tidak lama dia terlelap tidur karena dia sangat lelah apalagi kondisinya yang saat ini sedang mengandung.
Baru saja terlelap dari tidurnya, dia merasakan seseorang menggoyang - goyangan tubuhnya "Re bangun" merasa tidurnya terusik Renatta membuka matanya kembali.
"Sherly" Ucapnya dengan suara serak.
"Ikut aku sebentar yuk, untuk ke ruangan Devan" Senyumnya yang bercampur dengan raut sendu.
"Operasi Devan sudah selesei? Apa operasinya berhasil?" Tanyanya kepada Sherly.
Sherly hanya diam "Lebih baik kamu lihat kondisinya sendiri langsung ya"
Renatta mengikuti langkah Sherly dari belakang, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
__ADS_1
Tepat saat dia sudah sampai di depan ruang operasi dia melihat ibu mertuanya yang sedang berbicara dengan seorang dokter dengan tangis histerisnya.
DEG
Renatta menggelengkan kepalanya "Sher, katakan kalau apa yang aku pikirkan tidak benar kan" Di guncangnya tubuh Sherly.
"Terima kenyataan ya Re, semuanya sudah jalannya"
Tubuh Renatta langsung lemas, dan hampir saja terjatuh kalau saja Sherly tidak menahannya, kemudian dia merasakan telinganya berdengung dan tidak bisa lagi menangkap permbicaraan orang - orang di sekitarnya.
"Aku harap ini mimpi Dev" Lirihnya.
...๐๐๐...
Hallo author come back๐๐
Selamat siang, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Author lagi bingung Devan enaknya di buat tetap hidup atau meninggal, kalau di buat meninggal kalian maunya Renatta sama siapa? Sama Axel apa Nicholas?, Tapi Author masih sayang sama Devan jadi nggak tega kalau di buat meninggal, Yuk kasih sarannya๐ค๐
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
Happy Reading
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1