
Renatta terbangun dari tidurnya saat sinar matahari menerobos dari celah jendela di kamar hotelnya, dia menggeliat pelan kemudian meraba sebelah tempat tidurnya yang tampak kosong tidak ada siapapun.
Menyadari Zio dan Zia tidak berada di sampingnya, Renatta segera bangun dari tidurnya untuk mencuci mukanya terlebih dan pergi ke kamar Devan.
Tok
Tok
Tok
Tidak ada tanda tanda pintu kamar akan di buka oleh Devan, Renatta mengambil ponselnya lalu menelfon ke nomer Devan tetapi hanya terdengar bunyi sambungan operator.
Dia mencoba menelfon Devan kembali tetapi hasil yang dia dapatkan tetap sama yaitu suara operator.
"Kamu kemana sih Dev" Renatta berjalan mondar mandir di depan kamar hotel, dia takut terjadi sesuatu dengan Devan, dia juga tidak tahu keberadaan Zio dan Zia, apakah dia bersama Devan atau tidak.
Ponsel Renatta tiba tiba berbunyi dan menampilkan nama Devan di layar ponsel miliknya dengan cepat dia mengangkat panggilannya.
"Hallo" Ucap Renatta mengawali pembicaraan.
"Hallo" Renatta mengernyit saat yang dia dengar saat ini bukan suara dari Devan
"Maaf, dimana pemilik ponsel ini? Kenapa bisa ada pada anda?" Tanya Renatta bertubi - tubi.
"Saya menemukan ponsel ini tidak jauh dari lokasi kecelakaan"
Renatta segera menurunkan ponselnya dari telinganya dengan lemah saat mendengar ucapan dari laki laki yang mengatakan kalau Devan mengalami kecelakaan, tidak lama kemudian muncul notifikasi masuk mengirimkan lokasi kecelakaan Devan.
Air mata Renatta tanpa sadar sudah menetes, dia berlari menuju kamarnya mengganti bajunya lalu dengan cepat dia berlari ke luar hotel dan berusaha mencari taksi, saat dia melihat taksi lewat dia segera memberhentikan taksi tersebut.
Di dalam taksi, air matanya tidak berhenti menetes, dia begitu khawatir dengan keadaan Devan, dia juga khawatir kalau Zio dan Zia ikut bersama Devan dan mengalami hal yang sama dengan Devan.
"Ya Tuhan, semoga semuanya baik baik saja" Ucap Renatta pelan.
Sesampainya di tempat lokasi kecelakaan Devan, Renatta mengernyit bingung karena yang di lihat saat ini adalah sebuah villa dengan halaman yang dipenuhi dengan bunga.
Renatta mengusap air matanya dan mengecek kembali lokasi yang di kirim ke ponselnya tadi tapi ternyata memang benar ini lokasinya.
"Mamah" Terdengar suara Zio dan Zia yang sedang memanggilnya.
Renatta menolehkan tubuhnya ke belakang lalu melihat keberadaan Zio dan Zia yang sedang berdiri dengan senyuman manisnya, di tangannya membawa bunga edelweis.
__ADS_1
Bungan edelweis sendiri memiliki makna bahwa cinta sejati memerlukan sebuah pengorbanan, perjuangan dan juga kesungguhan untuk mendapatkannya.
"Kalian baik - baik saja kan? mamah takut terjadi sesuatu dengan kalian" Renatta membawa Zio dan Zia kepelukkannya.
"Kita baik - baik saja mah" Ucap Zia
Renatta menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Devan tapi dia tidak menemukan keberadaan Devan sama sekali "Lalu di mana papah kalian?"
Zio dan Zia tidak menjawab pertanyaan Renatta
"Mamah tutup mata dulu ya" Ucap Zia yang sudah menutup mata Renatta dengan selembar kain yang tadi dia bawa.
"kamu mau bawa mamah kemana?" Tanya Renatta yang saat ini sudah di tuntun Zio dan Zia berjalan masuk ke dalam villa.
Tiba tiba tangan Renatta di lepas oleh Zio dan Zia.
"Zio, Zia kalian di mana?" Tanya Renatta mencari keberadaan kedua anaknya dengan mata yang masih tertutup kain.
Dia merasakan ada yang memeluk tubuhnya dari belakang "Devan" Ucap Renatta yang mengenali perpaduan aroma parfum musk dan mint yang sering di pakai Devan.
Devan memutar tubuh Renatta untuk menghadap ke arahnya lalu melepas kain penutup mata Renatta.
Mata Renatta berkaca - kaca saat menatap wajah Devan
"Kamu jahat Dev, aku hampir saja berasa mati rasa saat mendengar kabar kalau kamu kecelakaan"
"Maaf, aku tidak bermaksud melakukan semua itu" Ucap Devan dengan mengusap mata Renatta yang hampir mengeluarkan air mata
"Sekarang kamu lihat ke belakang" Pinta Devan yang memutar tumbuh Renatta pelan.
Renatta menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa terharu dengan apa yang saat ini ada di hadapannya, di depannya berdiri kedua orang tuanya, Kakaknya, Sherly, Zio, Zia dan ibunya Devan yang tersenyum ke arahnya.
"Dev, apa maksudnya semua ini?" Tanya Renatta dengan terbata masih tidak percaya dengan kejutan yang baru saja di berikan Devan.
Devan berjongkok di depan Renatta "Will You Marry Me" Dia membuka kotak merah yang berisi sebuah cincin berlian mahal dengan harga yang bisa ditafsir sampai milyaran rupiah.
"Dev.. tapi kita sudah menikah" lirihnya menatap Devan.
"Tapi dulu pernikahan yang kita jalani tidak seperti pernikahan pada umumnya, untuk kali ini aku ingin memulai semuanya dari awal Re, dengan pernikahan yang penuh dengan ke sakralan dan pernikahan yang menjadi impian semua orang"
"Aku memang bukan laki - laki baik ataupun romantis, aku bahkan terlalu banyak menyakiti hati kamu tetapi aku Devandra Narendra Abimana ingin hidup susah dan senang bersama kamu, Renatta Desinta Maharani Will You Marry Me" Ucap Devan penuh dengan ketulusan.
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya menetes juga, kali ini air mata yang dia keluarkan bukan lagi air mata kesedihan tetapi air mata kebahagian "Yes I Will" Ucap Renatta tanpa ragu.
Semua orang yang ada di sekitar mereka bertepuk tangan dan bersorak gembira mendengar jawaban Renatta, Devan memasangkan cincin di jari manis Renatta setelahnya dia berdiri dan memeluk Renatta dengan erat "Terima kasih Re" bisik Devan di telinga Renatta.
Zio dan Zia menghampiri kedua orang tuanya
"Mamah, papah Zia dan Kak Zio juga ingin di peluk" Zia sudah merentangkan kedua tangannya yang membuat semua orang tertawa melihat kelakuan Zia.
Renatta menyeka air matanya kemudian melepaskan pelukannya dengan Devan, Devan mengangkat tubuh Zia ke dalam pelukannya, sedangkan saat Renatta akan mengangkat tubuh Zio, Zio menggelengkan kepalanya "Kata Om Raka, Zio sudah besar apalagi Zio anak laki - laki jadi tidak boleh meminta gendong sama mamah lagi maupun papah"
Renatta menatap Raka tajam sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
Sherly menghampiri Renatta lalu memeluknya "Semoga setelah ini kamu akan selalu bahagia Re, aku juga senang akhirnya bisa bertemu dengan kedua anak kamu, mereka benar benar sangat menggemaskan"
"Cepatlah menikah dan punya anak Sher agar Zio dan Zia segera memiliki teman baru" Sherly melihat ke arah Raka yang saat ini juga sedang melihat ke arahnya
Mungkin memang benar apa yang di katakan papahnya kemarin kalau dia harus mengatakan semuanya kepada Raka, bagaimanapun Raka berhak mengetahui semuanya.
...🍃🍃🍃...
Hallo, maaf ya akhir akhir ini aku suka update cuma satu Bab karena memang lagi di sibukkan dengan kegiatan di dunia nyata...
Yang ingin tahu seperti apa Bunga edelweis yang dibawa Zio dan Zia ini aku kasih gambarnya
Dan ini kemewahan cincin yang di berikan Devan untuk Renatta
Devan emang bener bener holkay😌, kapan - kapan mau nebeng di jet pribadinya Devan
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue