
"Kamu sudah bangun?" Tanya Renatta kepada Devan yang masih menatapnya tajam.
Devan tidak menjawab pertanyaan Renatta
"Siapa yang baru saja kamu telfon?" Tanyanya kemudian turun dari tempat tidur menghampiri Renatta.
"Aku tadi hanya memberitahu Kak Raka, kalau hari ini aku datang ke kantor sedikit terlambat" Ucap Renatta berharap Devan tidak mengetahui kebohongannya, dia tidak mungkin mengatakan kalau baru saja menelfon Zio dan Zia, untuk saat ini dia tidak ingin memancing masalah dan amarah dengan Devan.
"Hari ini kamu tidak perlu berangkat bekerja, aku akan mengajak mu ke suatu tempat" Ucapnya yang sudah berjalan menuju ke kamar mandi.
Renatta mengernyitkan dahinya "Kamu mau mengajakku kemana Dev?" Tanyanya.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Devan menolehkan kepalanya ke arah Renatta "Kamu nanti akan tahu sendiri"
Di dalam kamar mandi Devan menatap wajahnya di cermin, tadi pagi sebelum Renatta bangun dari tidurnya, dia sempat terlebih dahulu bangun karena suara ponselnya yang berbunyi, ternyata itu email dari Daniel yang dia suruh menyelidiki tentang Axel, dugaannya benar kalau memang ada yang di sembunyikan Axel darinya.
Setelah memikirkan ulang semuanya, dia berusaha menekan egonya untuk sedikit mengalah dengan Renatta, dia hanya tidak ingin kehilangan Renatta lagi untuk kesekian kalinya apalagi itu karena ke egoisnya dan sikapnya yang kurang baik memperlakukan Renatta, dia tidak bisa membohongi hatinya kalau selama ini dia tidak pernah benar - benar bisa membenci Renatta.
Devan akan mencari cara lain agar Renatta mau mengakui keberadaan Zio dan Zia sebagai anaknya, tetapi tidak dengan membuat Renatta semakin jauh dari jangkauannya lagi.
Renatta sendiri sedari tadi jalan mondar - mandir di dalam apartemen Devan, sambil sesekali melihat kearah pintu kamar mandi, Renatta merasa aneh dengan dirinya, kenapa dia begitu menuruti semua perkataan Devan, seharusnya sekarang dia pergi dari apartemen Devan bukan malahan tetap berada di sini.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu Re"
Tanya pada dirinya sendiri, Renatta menghela nafasnya untuk ke sekian kalinya.
"Re bisakah kamu mengambilkan aku handuk di dalam lemari pakaianku, aku lupa tidak membawanya" Teriak Devan dari dalam kamar mandi.
"Tunggu sebentar aku akan mengambilkannya" Jawabnya, Renatta segera mengambil handuk di lemari Devan dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Tok Tok Tok....
"Dev, buka sedikit pintunya" Ucap Renatta, tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka sedikit, Renatta menjulurkan tangannya untuk menyerahkan handuk yang di minta Devan.
Tetapi, dia justru merasakan Devan menarik tubuhnya untuk ikut masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa" Teriak Renatta saat tubuhnya kini sudah berada di dalam kamar mandi, berdua bersama Devan.
"Apa yang kamu lakukan, HAH" Renatta berteriak sambil menutup matanya rapat, tidak berani melihat tubuh telanjang Devan.
Devan justru semakin memajukan tubuhnya dan dengan cepat melepas kaos yang di pakai Renatta hingga menyisakan pakaian dalam yang di pakai Renatta.
"DEVAAAANNN" Teriak Renatta lebih keras lagi karena terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan Devan kepadanya.
"Tidak usah berteriak seperti itu, aku hanya ingin mengajakmu mandi bersama untuk menghemat waktu" Ucap Devan di samping telinga Renatta.
Kemudian Devan mendudukkan tubuh Renatta kedalam Bath up di ikuti oleh dirinya yang duduk di belakang Renatta kemudian melepas semua pakaian yang tersisa di tubuh mereka.
"Aaakkuu bisa sendiri" Ucap Renatta gugup saat Devan menggosok tubuh bagian belakangnya dengan sabun.
"Diam lah Re, biar aku yang melakukannya" Ucap Devan yang masih terus menggosok tubuh Renatta pelan, hal itu justru membuat tubuh Renatta meremang, dia merasa kalau Devan saat ini sedang menggodanya dengan melakukan hal seperti ini.
Sebenarnya Devan berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu hal yang berlebihan terhadap Renatta, apalagi bagian dari inti tubuhnya yang terasa sakit karena harus menahan sesuatu yang segera minta di tuntaskan, bagaimanapun dia laki - laki normal yang dengan mudahnya terpancing apalagi melihat kondisi mereka yang saat ini sama sama naked.
.
.
.
Sejujurnya Renatta masih kesal dengan Devan karena insiden di kamar mandi tadi, dia sudah berusaha menahan sesuatu di dalam tubuhnya hanya karena perlakuan Devan tadi, dia terkadang bingung dengan sikap Devan yang berubah - ubah kadang dia bisa menjadi seperti bongkahan es, kadang bisa berlaku baik dan jahat secara bersamaan.
Dan yang paling membuatnya lebih kesal ketika tiba - tiba Devan pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang masih terduduk di dalam Bath up tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Renatta mengikuti langkah Devan yang berjalan lebih dulu menuju parkiran mobil, baru saja tadi Renatta mengatakan kalau sifat Devan berubah - ubah, dan benar saja Devan bersikap seolah - olah mengabaikannya padahal tadi pagi Renatta menganggap Devan peduli dan bersikap romantis kepadanya tetapi Sekarang sudah berubah menjadi dingin kembali.
"Kita akan kemana Dev?" Tanya Renatta memecah keheningan di antara dirinya dan Devan.
Devan tetap saja diam hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah mansion mewah dengan pagar menjulang tinggi, saat pintu pagar di buka dia bisa melihat bangunan mansion dengan gaya Victoria yang di sekitarnya di tumbuhi berbagai macam jenis pohon dan berbagai macam bunga.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Renatta "Dan ini mansion milik siapa?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Kita akan bertemu dengan ibuku dan ini adalah salah satu mansion milikku yang sekarang di tempati ibu" Ucap Devan kemudian turun dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Renatta.
Renatta mematung mendengar ucapan Devan, untuk apa Devan membawanya untuk menemui ibunya, dia masih tidak percaya kalau Devan benar - benar sekaya ini, dia masih ingat saat Devan dulu menutupi statusnya yang sebenarnya hanya untuk balas dendam, dan apa tadi yang Devan bilang kalau ini hanya mansion salah satu yang dia miliki, itu berarti masih ada mansion lain yang di miliki keluarga Abimana.
Ah, Renatta tidak menyangka kalau ternyata dia menikah dengan seseorang yang sangat kaya raya, seseorang yang awalnya dia kira kurang mampu hingga membutuhkan bantuannya ternyata adalah seseorang yang lebih kaya darinya, dirinya yakin kalau kehidupan kedua anaknya akan sangat terjamin tetapi sayangnya dia terlanjur mengatakan kepada Devan kalau Zio dan Zia anaknya bersama laki - laki lain.
Ah sudahlah nasi sudah menjadi bubur, itulah kata pepatah yang Renatta ketahui.
"Apa kamu akan berdiam diri terus di dalam mobil tanpa berniat untuk turun" Ucap Devan yang membuyarkan lamunan Renatta.
Renatta turun dari mobil, dan dengan spontan menggenggam tangan Devan "Aku sangat gugup, bisakah kita tidak bertemu ibumu sekarang?" Tanyanya kepada Devan.
"Tidak" Jawabnya "Kita harus segara masuk karena ibuku sudah menunggu kedatangan kita di dalam" Ucap Devan sambil menggandeng tangan Renatta menuju mansionnya.
...🍃🍃🍃...
Yuhuuuuu, gimana nih bab ini, masih kurang nggak keromantisan mereka berdua, kalau masih kurang terus tungguin Bab bab selanjutnya ya kak.....
Ternyata Devan walaupun dingin kayak bongkahan Es tetap ada sisi romantis dan mesumnya juga🤭😌
Semoga makin suka dengan cerita ini dan alurnya semakin rapi.
Next partnya Renatta dan Devan tidak sengaja bertemu Zio dan Zia🌝
Kalau ada typo bisa di tulis di komen ya kak🤗
See you Next Bab.....
Happy Reading....
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue