Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Bertemu Tetapi Tidak Saling Mengenal


__ADS_3

Devan berjalan keluar dari ruang rapat "Bagaimana apa kamu sudah bisa mengambil kerja sama dengan perusahaan Adhitama?"


"Semuanya bisa diatasi dengan baik pak, perusahaan Adhitama mau bekerja sama dengan perusahaan kita dalam penanganan proyek pembangunan hotel di Bali saya yakin proyek ini akan berjalan sesuai keinginan kita" Nicholas menjelaskan secara detail mengenai kerja sama perusahaan DN Corp dengan perusahaan Adhitama.


Langkah Devan dan Daniel berhenti ketika mereka akan memasuki lift khusus petinggi perusahaan karena tiba tiba lift tidak bisa dibuka.


"Cepat hubungi petugas keamanan untuk segera memperbaiki lift, aku tidak ingin sampai ada kerusakan fatal yang bisa merugikan perusahaan dan orang lain" Seru Devan kemudian memilih untuk menaiki lift karyawan biasa.


"PAPAH" Teriak seseorang yang baru saja keluar dari lift dan menghambur memeluk kakinya, tentu hal itu membuat dia dan semua orang yang ada di sekitarnya terkejut.


Devan memandang kakinya yang dipeluk oleh dua orang anak kecil dengan masker yang menutupi wajah mereka.


Sejujurnya Devan tidak terlalu suka dengan anak kecil, apalagi anak kecil yang tidak dia kenal, tetapi entah kenapa melihat dua bocah yang saat ini sedang memeluk kakinya membuatnya penasaran dan mensejajarkan tingginya.


"Siapa yang kalian panggil papah, apa papah kalian bekerja di perusahaan ini?" Usapnya lembut ke kepala kedua anak di depannya.


Zio dan Zia menggeleng sambil menatap wajah Devan penuh kerinduan, mereka ingin memeluk Devan tetapi dia takut karena Devan seolah olah tidak mengenal mereka.


"Apa kalian tersesat?" Tanyanya lagi masih dengan tangan yang mengelus kepala Zio dan Zia.


Zia menatap wajah Devan dengan berkaca kaca


"Papah tidak kenal dengan kita, papah melupakan kita ya?"


Devan mengerutkan keningnya bingung, tidak mengerti maksud perkataan Zia, tetapi melihat mata gadis kecil di depannya berkaca kaca entah mengapa membuat hatinya terasa sakit.


Zio menunjukkan sebuah foto dan memberikannya kepada Devan "Om Raka bilang ini foto papah kita"


Devan semakin dibuat terkejut dan bingung karena memang ini fotonya, tetapi foto ini adalah fotonya 6 tahun yang lalu.


Zio dan Zia secara kompak memegang pipi Devan "Dulu mamah juga pernah bilang kalau wajah papah mirip dengan kita"

__ADS_1


Untuk memastikan perkataan kedua anak di depannya, Devan berniat untuk melepas masker yang di gunakan kedua anak di depannya, entah kata kata mirip dengannya membuat dia penasaran dengan wajah kedua anak di depannya ini tetapi niatnya urung dia lakukan saat tiba tiba sebuah suara menghentikan gerakan tangannya.


"TWINS" Raka sedikit berlari menghampiri Zio dan Zia yang saat ini masih memegang pipi Devan.


Mendengar suaranya di panggil Zio dan Zia segera melepaskan tangan mereka dari pipi Devan dan berlari menghampiri Raka.


Entah kenapa Devan merasa kehilangan saat melihat Zio dan Zia pergi menjauh darinya.


"Om kenapa Papah Devan tidak mengenali kita, Mamah bilang papah sayang sekali dengan kita tetapi kenapa papah tidak mengenal kita " Zia berucap dengan nada lirihnya berbeda dengan Zio yang masih memperhatikan Devan dengan lekat.


Dia menghela nafasnya lalu menatap Devan sekilas "Om kan sudah bilang, mungkin saja papah lupa dengan kalian kan papah Devan sudah lama tidak bertemu kalian"


Raka menghampiri Devan yang saat ini masih berdiri melihat interaksi antara pria dewasa dan dua anak kecil.


"Saya minta maaf atas kelancangan kedua keponakan saya, apalagi sudah membuat sedikit keributan di kantor anda, perkenalkan saya Raka Adhitama".


Devan menerima uluran tangan Raka dan tersenyum ramah "Tidak masalah Pak Raka, saya tidak merasa terganggu, justru saya merasa terhormat atas kedatangan anda di perusahaan saya, kedua keponakan anda terlihat sedang mencari papahnya"


Sebelum pergi Raka menoleh kembali kepada Devan " Senang bekerja sama dengan anda" Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Devan yang masih terpaku menatap kepergian kedua anak kecil tadi.


Pandangan mereka saling beradu, hal itu yang membuat dia seolah olah tidak rela melihat kepergian mereka.


"Ada apa sebenarnya denganku, bukankah aku tidak terlalu suka dengan anak kecil tapi entah kenapa dia merasa ada sesuatu hal yang membuatnya begitu tertarik kepada mereka" Gumannya lirih sambil memegang dadanya yang tiba tiba berdetak tak karuan.


"Anda terlihat sedikit pucat pak, apa anda kurang sehat?" Daniel menatap bosnya dengan sedikit aneh pasalnya dia melihat tatapan sayang kepada kedua anak tadi sedangkan yang dia tahu Devan tidak pernah memberikan tatapan lembut dan sayang ke siapapun kecuali kepada ibunya saja.


Devan beralih menatap Daniel "Aku hanya merasa aneh saat pertama kali bertemu dengan kedua anak itu, ada perasaan aneh yang muncul di hatiku yang tidak bisa aku jelaskan perasaan seperti apa itu"


"Apa perlu saya selidiki tentang keluarga Raka Adhitama dan kedua ponakannya tersebut?"


Usul Daniel yang dibalas anggukan oleh Devan.

__ADS_1


"Cari semuanya secara detail dan pastikan itu tidak akan mempengaruhi kerja sama kita"


Devan memasang wajah dinginnya kembali kemudian masuk ke dalam lift, tentu saja hal itu berbanding terbalik dengan raut wajahnya tadi.


.


.


.


Raka sebenarnya tidak tega marah ataupun mengintrogasi Zio dan Zia tetapi kelakuan kedua ponakannya tadi sangat beresiko bukan hanya untuk mereka tetapi juga untuk dirinya dan Renatta, apalagi kalau Devan melihat wajah Zio dan Zia sudah dipastikan dia akan menyadari siapa sebenarnya mereka.


"Kenapa kalian tadi nekat masuk sendiri ke dalam, kalian masih ingat kan kesepakatan yang kita buat kalau kalian hanya boleh melihat papah kalian dari jauh bukan menemui seperti tadi" Ujarnya yang membuat kepala Zio dan Zia terus menunduk karena merasa bersalah dan sedih secara bersamaan.


Zio menaikan pandangannya dan menatap Raka dalam "Kami minta maaf, ini semua salah Zio yang mengajak Zia masuk ke dalam"


"Zia juga minta maaf, tetapi Zia pengen memeluk papah seperti teman Zia lainnya jadi Zia masuk dan menemui papah di dalam" Matanya kembali berkaca kaca saat mengingat kejadian tadi padahal Zia sangat ingin memeluk papahnya tetapi mengetahui fakta kalau papahnya tidak mengenalinya membuat hatinya terluka.


Raka menghela nafas berat, dia tidak habis fikir dan kasian kepada Zio dan Zia yang harus menjadi korban ke egoisan kedua orang tuanya yang tidak mau berdamai dengan masa lalu.


"Om berjanji kalian pasti bisa bertemu dan memeluk papah kalian tanpa harus menutup identitas kalian, tetapi tidak untuk saat ini" Raka menatap lembut Zio dan Zia dan melepaskan masker dan kaca mata mereka berdua "Nanti jika waktunya sudah tiba kalian pasti bisa berkumpul dan menjadi keluarga yang bahagia, kalian mengerti kan" Lanjutnya yang dibalas anggukan oleh Zio dan Zia


Zio dan Zia mengusap air matanya yang tadi sempat menetes karena takut jika Raka akan memarahi mereka dan tidak mengizinkannya bertemu lagi dengan papahnya tetapi dugaan mereka salah ternyata Raka tidak memarahi mereka dan berjanji akan mengantarkan mereka bertemu papahnya kembali.


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2