
Renatta saat ini sedang berjalan di perusahaan milik mendiang papahnya Brata, sebagian karyawan ada yang menundukkan kepalnya sebagai tanda hormat ada juga yang tidak mempedulikan keberadaan Renatta, kebanyakan yang menundukkan kepalanya adalah karyawan lama di perusahaan ini yang tentu saja mengenal siapa itu Renatta, sedangkan yang abai dengan keberadaan Renatta rata - rata karyawan baru di perusahaan ini yang tidak begitu mengenal Renatta sebab sudah 6 tahun ini Renatta tidak menampakkan wajahnya di sini.
Selain membantu pekerjaan kakaknya Raka di perusahaan Adhitama, dia juga akan menjalankan perusahaan milik mendiang papahnya Brata, karena bagaimanapun dia tetap menjadi pemegang saham tertinggi di perusahaan WRN Corp ini, walaupun sebagian sahamnya sudah dia serahkan kepada Tante Inggit.
Ternyata keberadaan Renatta sudah di tunggu oleh Regan di depan ruang kerjanya dulu.
"Bagaimana kabar Om Regan sekarang?" Tanyanya yang saat ini sudah duduk di sofa ruang kerjanya dulu.
"Kabar saya baik, seperti yang Nona Renatta lihat sekarang" Renatta tersenyum mendengar jawaban dari Regan.
"Saya yakin pasti banyak perubahan yang Non Renatta alami selama di New York" Regan menatap penampilan Renatta yang sangat berbeda saat terakhir kali mereka bertemu.
"Banyak hal yang merubah saya, 6 tahun adalah waktu yang sangat cukup untuk membuat suasana hati saya menjadi lebih baik lagi" Jawabnya.
Regan menatap Renatta dalam, dia begitu menyayangi Renatta seperti anaknya sendiri, dia juga banyak berutang budi dengan Tuan Brata apalagi selama ini yang menanggung biaya pengobatan putrinya adalah Tuan Brata bahkan setelah Tuan Brata meninggal, biaya pengobatan itu masih di lanjutkan oleh Renatta, tidak ingin terlalu terlarut dalam kesedihan jika mengingat keadaan putrinya, dia segera menyerahkan beberapa berkas kepada Renatta.
"Ini beberapa surat kerja sama dan peralihan kepemilikan modal selama 6 tahun ini"
Kemudia Regan menyerahkan kembali sebuah map cokelat kepada Renatta "Dan ini semua informasi mengenai Nyonya Inggit yang sudah saya kumpulan selama ini, susuai dengan permintaan anda"
Renatta menerima map cokelat yang berisi semua informasi tentang Tante Inggit, selama ini dia memang mencari tahu semua hal tentang tantenya itu, karena ada hal yang selama ini sangat dia curigai tentang siapa sebenarnya Tante Inggit itu.
"Terima kasih untuk semuanya, Renatta tidak tahu lagi akan seperti apa perusahaan papah jika tanpa adanya Om Regan" Ucap Renatta dnegan tulus.
"Seharusnya saya yang selama ini berterima kasih kepada anda, berkat bantuan anda dan Tuan Brata kehidupan saya dan putri saya menjadi lebih baik"
"Ah, iya bagaimana keadaan putri Om Regan saat ini?" Tanya Renatta.
"Setelah melewati masa komanya, keadaan Karin sudah mulai membaik hanya saja sekarang dia lebih banyak diam" Ucap Regan yang berusaha kuat saat menceritakan putri semata wayangnya.
"Kalau ada waktu, saya akan berkunjung untuk menemui Karin lagi"
"Baik, nanti akan saya sampaikan ke Karin, pasti dia senang karena anda akan mengunjunginya lagi"
__ADS_1
Renatta dulu memang sering bertemu dengan Karin, dia juga sudah menganggap Karin sebagai adiknya sendiri, dulu dia sering bercerita banyak hal tentang dirinya begitupun Karin juga sering menceritakan banyak hal tentang kehidupannya yang lebih berwarna ketika bertemu dengan seorang laki - laki yang begitu baik kepadanya dan berencana akan menikah muda dengan laki - laki itu.
Tapi entah kenapa tiba - tiba sifat Karin yang periang menjadi lebih murung bahkan dia sering menangis saat bertemu dengannya, tetapi tidak mau mengatakan apapun kepadanya, dia juga masih ingat saat Om Regan mengatakan kalau Karin mengalami kecelakaan mobil dan mengalami koma selama hampir 1 tahun.
.
.
.
"Hari ini anda memiliki jadwal untuk bertemu dengan perwakilan Adhitama untuk membahas kelanjutan dari proyek kerja sama kita di Bali" Ucap Daniel yang membacakan apa saja jadwal Devan hari ini.
"Siapa yang akan menjadi perwakilan dari perusahaan Adhitama?" Tanyanya.
"Yang saya tahu hari ini hanya Tuan Raka Adhitama yang akan datang untuk membahas proyek ini" Jawabnya.
"Aku ingin Renatta yang menjadi perwakilan dari perusahaan Adhitama, kamu atur sedemikian rupa agar dia yang datang ke kantor ini" Pinta Devan kepada Daniel.
"Baik pak saya akan usahakan kalau Nona Renatta yang akan datang ke sini" Ucapnya.
Saat ini Renatta sudah berada di depan perusahaan milik Devan, berkali - kali dia berusaha menyemangati dirinya agar tidak merasa gugup, sebab pertemuan terakhirnya dengan Devan bisa di bilang cukup tidak baik karena kebohongan yang dia katakan.
"Semuanya pasti akan baik - baik saja, ini hanya pertemuan bisnis bukan pertemuan pribadi di antara mereka" Ucapnya dengan dirinya sendiri.
Renatta sudah berapa di depan lift, ketika akan masuk ke dalam lift tiba - tiba namanya di panggil oleh seseorang yang tak lain adalah Daniel asisten pribadi Devan.
"Tuan Devan sudah menunggu anda di ruangannya, anda bisa menggunakan lift khusus petinggi perusahaan agar lebih cepat sampai ke atas" Ucap Daniel yang sudah mengarahkannya untuk ikut masuk lift bersamanya.
Renatta mendengus kesal kemudian mengikuti Daniel masuk ke dalam lift, tidak ada pembicaraan apapun antara Daniel dan Renatta, mereka hanya saling diam dengan pemikiran masing - masing.
TING....
Suara lift yang sudah terbuka membuyarkan lamunan Renatta, dia segera mengikuti langkah Daniel yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju ruangan Devan.
__ADS_1
Daniel membukakan pintu ruangan Devan "Silahkan masuk, Tuan Devan sudah menunggu anda di dalam" Ucap Daniel mempersilahkan Renatta masuk.
Renatta bingung menatap Daniel " Kenapa kamu tidak ikut masuk?" Tanyanya.
Ketika Daniel akan menjawab pertanyaan Renatta, Devan sudah muncul di hadapan mereka.
"Pergilah" Ucap Devan dingin yang menyuruh Daniel meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Daniel, Devan dengan cepat menarik Renatta masuk ke dalam ruangannya dan mengunci tubuh Renatta.
"Aaa..apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Renatta dengan gugup sambil memejamkan matanya.
Devan menatap Renatta tajam "Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Seketika Renatta membuka matanya mendengar pertanyaan dari Devan "Apa maksud kamu" Ucapnya pelan.
Devan menyingkirkan rambut Renatta ke belakang telinganya agar dia bisa melihat raut wajah Renatta dengan jelas, senyum kecil menghiasi wajah Devan saat melihat raut wajah Renatta yang terlihat panik.
Devan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Renatta "Apa tidak ada sesuatu yang ingin kamu katakan kepadaku" Tanyanya lagi.
Renatta yang semakin gugup dan panik dengan arah pembicaraan Devan segera mendorong tubuh Devan, "Maaf, aku kesini ingin membahas masalah pekerjaan bukan masalah pribadi seperti ini" Renatta berusaha menormalkan nada bicaranya agar tidak terlihat bergetar, semoga saja yang dia pikirkan tidak terjadi, jujur dia belum siap jika Devan mengetahui semuanya, dia memang sudah berjanji kepada kedua anaknya untuk mengatakan yang sebenarnya tetapi tidak dalam waktu dekat ini.
Devan menahan tangan Renatta yang hendak membuka pintu ruang kerjanya "Tidak ada yang membahas masalah pribadi di sini, saya hanya bertanya apakah ada yang ingin anda bicarakan, kenapa seolah - olah anda berfikir kalau saya membahas masalah lain selain pekerjaan" Ucap Devan dengan bahasa formalnya.
Damn it.....
Renatta seketika bingung harus bagaimana menjawab perkataan Devan, dia terlihat begitu bodoh karena rasa takutnya, bagaimana bisa dia menyimpulkan kalau kemungkinan Devan mengetahui tentang si kembar, sudah jelas kalau kakaknya sudah menutup semua akses informasi tentang kedua anaknya tetapi pertemuan Devan dengan anaknya di mall tentu saja membuatnya berspekulasi kalau bisa jadi Devan saat ini sedang curiga dengannya.
Oke, setelah pulang dari sini dia akan menyalahkan kakaknya karena sudah menyuruhnya untuk datang ke perusahaan Devan sehingga membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue