Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Bertemu dan Melepaskan


__ADS_3

"Ada sesuatu yang kalian inginkan lagi?" Tanya Devan kepada Zio dan Zia yang sedang asyik dengan mainannya.


Saat sampai di dalam ruangan kerjanya tadi, Zio dan Zia merengek ingin di belikan mainan, akhirnya Devan menyuruh Daniel membeli berbagai jenis mainan untuk anak laki laki dan perempuan.


Dan alhasil saat ini di ruang kerjanya di penuhi dengan mainan yang di belikan Daniel, sebenarnya setelah ini dia masih ada rapat lagi tetapi karena dia tidak tega meninggalkan kedua anaknya di ruang kerjanya sendirian apalagi setelah kejadian tadi yang menimpa Zio dan Zia, dia meminta Daniel untuk menggantikannya mengikuti rapat.


"Kalian mau bertemu dengan Oma?" Tanya Devan kepada kedua anaknya.


Zio dan Zia beralih menatap Devan "Oma?" Tanya Zia bingung.


Devan menghampiri Zio dan Zia "Iya Oma Vira, orang tua dari papah"


"Mau" Jawab mereka antusias.


.


.


.


Zio dan Zia menatap takjub, keindahan mansion milik papahnya.


"Ini rumahnya papah?" Tanya Zia yang masih mengamati sekitar halaman mansion.


"Iya Ini mansion milik papah, otomatis ini juga milik kalian berdua" Ucap Devan yang dibalas ke antusiasan Zio dan Zia.


"Ada lapangan golfnya juga" Tunjuk Zio ke arah halaman samping mansion.


"Kamu bisa main golf?" Tanya Devan kepada Zio.


Zio mengangguk "Dulu waktu di New York Om Nicholas sering mengajak Zio dan Zia bermain ke lapangan golf"


Mendengar Zio menyebut nama Nicholas membuat Devan merasa tidak suka apalagi selama ini yang berada di sisi kedua anaknya adalah Nicholas bukan dirinya.


"Nanti kita main golf bersama" Ucapnya


"Beneran pah?" Zio tersenyum bahagia.


"Iya, tapi kita sekarang temui Oma Vira dulu"


Semua pelayan menyambut kedatangan Devan dan kedua anaknya, walaupun mereka penasaran dengan kedua anak yang saat ini bersama Devan, mereka lebih memilih menekan rasa penasaran mereka karena mereka tidak mungkin menanyakannya kepada Devan apalagi sekilas mereka melihat kemiripan kedua anak itu dengan tuannya sewaktu masih kecil.


"Devan, kamu bersama siapa nak?" Tanya Vira yang melihat ada kedua anak kecil yang saat ini memunggunginya karena Zio dan Zia sedang asyik melihat ikan - ikan kecil yang berada di dalam aquarium.


Vira yang penasaran dengan kedua anak yang di bawa Devan berjalan menghampiri Zio dan Zia "Hai, siapa nama kalian berdua?" Tanya Vira.


Merasa ada yang mengajak mereka berbicara Zio dan Zia segera membalikkan badannya.


DEG

__ADS_1


Vira melihat wajah Zio dan Zia mengingatkannya saat Devan masih kecil dulu, Vira menoleh ke arah Devan dengan pandangan bertanya.


"Namanya Zio dan Zia bu, mereka berdua anaknya Devan dan Renatta"


"Anak?" Tanya Vira berusaha meyakinkan dirinya atas ucapan Devan barusan.


Devan mengangguk dan tersenyum.


Vira kembali menatap Zio dan Zia, matanya sudah berkaca - kaca melihat mereka berdua, sedangkan Zio dan Zia menatap Vira bingung.


"Sini sayang peluk Oma" Vira mensejajarkan tubuhnya dengan Zio dan Zia.


"Oma" Ucap mereka bersamaan kemudian berlari masuk ke dalam pelukan Vira.


"Cucu Oma, maafkan Oma karena baru mengetahui keberadaan kalian" Ucap Vira dengan air mata yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.


"Zio sayang Oma" Ucap Zio


"Zia juga sayaaang sekali dengan Oma" Sahut Zia.


"Oma lebih sayang dengan kalian berdua"


Vira melepas pelukannya pada kedua cucunya.


"Oma kenapa menangis?" Tanya Zia yang sudah mengusap air mata yang membasahi pipi Omanya.


"Oma senang bisa bertemu dengan kalian berdua" Ucap Vira yang mencium bergantian kedua cucunya.


Kedua mata Zio dan Zia berbinar senang "Suka Oma"


"Kalian mau kan bantu Oma untuk membuat kue di dapur"


"Mau" Jawab mereka bersamaan dengan senang dan berlalu ke dapur untuk membuat kue bersama omanya


Melihat kedekatan Zio dan Zia dengan ibunya saat memasak kue, Devan masih merasa tidak menyangka kalau dia sekarang sudah menjadi seorang ayah, semuanya masih terasa mimpi baginya.


Tiba - tiba ponsel Devan berbunyi, melihat nama yang tertera di layar ponselnya dia sedikit menjauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Hallo"


"Kapan kamu menemuinya, dia sudah sangat merindukan papahnya dari kemarin dia terus menanyakan kamu Dev" Ucap seseorang diseberang telfon.


"Bilang kepadanya kalau aku masih belum bisa menemuinya, nanti aku akan atur waktu untuk bertemu dengan dia lagi" Ucap Devan.


"Baiklah, maaf mengganggu waktumu Dev" Ucapnya kemudian memutus sambungan telfon.


Devan menghela nafasnya pelan lalu masuk ke dalam mansion menuju ruang kerjanya, dia duduk di kursi kerjanya sambil memijit pelipisnya pelan, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalahnya yang satu ini.


Ya, Devan harus segera mengatasinya, dia tidak bisa terus menyembunyikan fakta ini terlalu lama, cepat atau lambat semuanya harus di ungkapkan.

__ADS_1


Dia mengirim email ke Daniel lalu menelfonnya "Cari tahu semuanya dan segera kumpulkan buktinya kalau sudah kamu bisa langsung kirim ke emailku, pastikan jangan sampai ada yang mengetahuinya termasuk dia" Ucap Devan kepada Daniel lewat telfon.


.


.


.


"Jangan menatapku seperti itu Nich" Kesal Renatta kepada Nicholas yang sedari tadi terus menatapnya.


"Apa kamu berniat kembali dengan mantan suamimu?" Tanya Nicholas yang akhirnya membuka pembicaraan setelah sedari tadi hanya diam saja.


Renatta ragu harus menjawab pertanyaan yang di lontarkan Nicholas kepadanya, tetapi dia tidak bisa terus memberikan Nicholas lebih banyak harapan lagi, apalagi statusnya yang masih sah sebagai istrinya Devan.


"Aku dan Devan belum pernah bercerai, dia menarik kembali gugatan perceraiannya dan membatalkannya tanpa sepengetahuanku selama ini" Ucap Renatta kepada Nicholas.


"Jadi kalian masih sah suami istri?" Tanyanya.


"Kamu benar Nich, kami masih sah sebagai suami istri"


Nicholas tersenyum ke arah Renatta, dia berusaha menutupi rasa sakit dihatinya untuk kesekian kalinya lagi.


"Aku rasa, mulai sekarang aku harus belajar berhenti mencintai kamu Re, dan melupakan perasaanku kepadamu, aku akan tarik kata - kataku dulu yang pernah mengatakan akan tetap memperjuangkan kamu, karena aku tidak ingin memperjuangkan seseorang yang masih terikat pernikahan dengan orang lain, walaupun untuk melupakan kamu akan membutuhkan waktu yang cukup lama" Nicholas tersenyum sendu lalu dia menggenggam tangan Renatta.


Untuk pertama kalinya Renatta membalas genggaman tangan Nicholas "Kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari aku Nic, maaf karena selama ini aku tidak pernah bisa menganggap kamu lebih dari sekedar teman"


"Aku berharap juga seperti itu, bisa mendapatkan yang lebih baik dari kamu, dan yang pasti harus lebih cantik dari kamu" Canda Nicholas yang justru membuat Renatta tersenyum, dia tidak merasa tersinggung dengan perkataan Nicholas, karena dia tahu Nicholas mengatakan hal itu karena ingin menghibur dirinya sendiri.


"Kalau begitu aku pergi dulu, kapan - kapan aku akan menemui Zio dan Zia, pasti dia sangat merindukanku" Ucapnya sambil sedikit tertawa kemudian keluar dari ruang kerja Renatta tanpa menunggu perkataan Renatta yang selanjutnya.


"Semoga kamu mendapatkan perempuan yang tulus kepada kamu Nich" Ucap Renatta sambil melihat kepergian Nicholas dari ruangannya.


...🍃🍃🍃...


Hallo, jumpa lagi....


Semoga semakin suka sama ceritanya....


Nggak nyangka udah mau Bab 50 aja, Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, kalau aku bakal buka rahasia per tokohnya mulai dari sekitar Bab 50an ke atas ya.


Jadi semoga selalu setia menunggu kelanjutannya🤗


Maaf kalau masih banyak typonya....


Happy Reading.....


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2