
Seperti yang sudah dia bilang sebelumnya sewaktu di kantor, kalau dia akan menceritakan semuanya kepada Renatta saat dia pulang dari kerja nanti, tetapi justru saat dia sudah tiba di mansion dia tidak menemukan keberadaan Renatta, hanya ada Zio dan Zia yang sedang bermain bersama beberapa pelayan di taman belakang mansion.
Devan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuhnya lalu menunggu kepulangan Renatta di dalam kamarnya, sebelum pulang dia sempat mampir ke sebuah toko berlian, dia membelikan Renatta sebuah kalung dengan permata berlian berwarna biru safir di tengahnya, dia berharap Renatta akan menyukainya.
Di lain tempat Renatta saat ini sedang duduk berdua dengan Aline di sebuah restauran, tadi tiba - tiba Aline menelfonnya lalu mengatakan kalau ada hal penting yang ingin di bicarakan dengannya.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" padangan Renatta fokus menatap ke arah Aline.
Di taruhnya sebuah amplop di atas meja "Bukalah, kamu akan tahu alasanku mengajak kamu untuk bertemu"
Di ambilnya amplop tersebut oleh Renatta, dengan pelan dia membuka isi amplop yang diberikan Aline kepadanya, saat melihat isi dari amplop tersebut, dia bingung harus berekspresi seperti apa, terkejut dan bingung bercampur menjadi satu.
"Apa maksud semua ini" Di tunjukkan nya sebuah foto saat Aline dan Devan tertidur berdua di dalam sebuah hotel tanpa menggunakan sehelai pakaian apapun di balik selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Kamu bisa melihat sendiri kan, kalau di situ ada foto ku bersama Devan, sebelumnya aku minta maaf Re, bukan maksudku untuk menghancurkan ataupun mengusik rumah tangga kamu dan Devan tapi untuk kali ini kamu harus tahu sebuah kenyataan yang mungkin saja itu bisa menyakiti hati kamu"
"Sebuah kenyataan apa yang kamu maksud?" Wajahnya kini berubah menjadi serius dan pandangannya lurus menatap ke arah Aline.
"Aku orang yang sudah mengirim foto Devan yang menggendong seorang bayi kepada kamu Re, dan bayi yang ada di gendongan Devan itu anak kami, anak aku dan Devan lebih tepatnya" Ujarnya kepada Renatta
Seketika tubuh Renatta menegang mendengar ucapan Aline "Anak?" Lirihnya tidak percaya.
Aline menganggukkan kepalanya "Namanya Angel, usianya sekitar 5 tahunan lebih, dia hampir seumuran dengan anak kalian berdua"
"Bagaimana bisa" Cicitnya dengan suara yang terasa berhenti di tenggorokannya.
__ADS_1
"6 tahun lalu, kami tidak sengaja melakukan hal tersebut yang akhirnya membuat aku hamil dan lahirnya Angel di antar aku dan Devan, tapi sayangnya Devan tidak terlalu memperhatikan Angel seperti dia memperhatikan kedua anak kalian" Ucapnya lalu tangannya menggenggam tangan Renatta "Angel juga butuh kasih sayang Devan Re, bagaimanapun dia tidak bersalah dalam hal apapun, jadi ku mohon kamu bisa kan menerima Angel di kehidupan kalian dan biarkan Angel menjadi bagian dari keluarga kalian" Harapannya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
Dada Renatta terasa sesak mengetahui fakta yang begitu menyakitkan seperti ini, mungkin dia bisa saja tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Aline tetapi melihat wajah sedih Aline, dia merasa kalau apapun yang di katakan Aline semuanya benar, apa ini yang dimaksud Devan tentang hal yang dia sembunyikan Selama ini, bagaimana bisa Devan melakukan hal seperti ini dan bagaimana dia dengan tega menyembunyikan hal sebesar ini kepadanya.
"Aakkuu, tidak tahu harus melakukan apa untuk saat ini" Suaranya berubah menjadi sedikit gagap akibat dia masih belum bisa mengontrol keterkejutannya saat ini.
"Aku tahu ini berat untuk kamu Re, tapi kasih sayang Devan sangat di butuhkan oleh Angel, anak kami, ini permohonan ku sebagai seorang ibu kepada kamu" harapnya kepada Renatta, semoga saja Renatta mau mengabulkan permintaannya.
"Beri aku waktu untuk mencerna semua ini dan mempercayai semua yang kamu katakan barusan" Renatta berdiri dari tempat duduknya sedikit sempoyongan karena tubuhnya yang tiba - tiba terasa lemas"
Ditahannya tubuh Renatta yang hampir jatuh oleh Aline "Kamu tidak apa apa Re?"
"Ya, aku tidak apa apa" Renatta begitu saja pergi dari hadapan Aline tanpa berpamitan"
Aline menatap kepergian Renatta dengan senyuman kecil di bibirnya, dia menyeka air matanya dengan pelan, harapannya hanya satu, semoga saja Renatta mempercayai semua ucapannya barusan jadi dia sudah selangkah maju lagi untuk mendapatkan Devan seutuhnya.
Berkali - kali Renatta hampir tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya akibat terlalu terkejut mendengar ucapan Aline mengenai Devan kalau dia sudah memiliki anak dengan wanita lain yang tak lain adalah Aline.
Renatta mengecek ponselnya ternyata banyak sekali pesan dari Devan yang mengatakan kalau dia sudah sampai di mansion, dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini, dia ingin tidak mempercayai semua ini tapi bukti yang di bawa Aline cukup membuktikan kalau ternyata selama ini sudah bermain di belakangnya.
Renatta terkekeh dengan memasang wajah sendunya "Aku merasa menjadi perempuan bodoh untuk kesekian kalinya karena sudah mempercayai kamu dalam sebuah kebohongan"
Dengan air mata yang terus mengalir deras, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi bahkan dia melupakan kalau ada nyawa yang harus dia lindungi, hingga karena pandangan matanya yang mulai mengabur karena air mata, dia tidak menyadari kalau dari depan muncul sebuah mobil box dengan kecepatan tinggi, dengan otomatis Renatta membanting setir ke arah kanan yang membuat mobilnya berbenturan keras dengan pembatas jalan.
"Dev" Ucapnya pelan dengan kepala yang sudah di penuhi darah, akibat benturan keras di kepalanya, lalu dia meraba perutnya yang terasa sangat sakit, ketakutan mulai menghampirinya kala mengingat kalau di perutnya saat ini ada nyawa yang sedang bergantung hidup kepadanya.
__ADS_1
Karena sudah tidak bisa menahan sakit di seluruh tubuhnya, perlahan mata Renatta mulai terpejam dengan erat, sebelum matanya benar - benar terpejam dia mendengar suara orang orang yang meneriakinya dengan panik dan berusaha menolongnya dari dalam mobil
Perasaan Devan tiba - tiba merasa tidak enak apalagi sedari tadi Renatta tidak juga membalas pesan yang dia kirim, dia takut terjadi sesuatu kepada Renatta.
Devan tersenyum saat melihat ponselnya berbunyi yang menampilkan nama Renatta, tapi tidak lama kemudian tubuhnya seketika terasa terdiam kaku saat mendengar orang yang berbicara dengannya bukanlah Renatta tetapi seseorang yang mengatakan kalau pemilik ponsel tersebut mengalami kecelakaan yang cukup parah dan sedang di bawa ke rumah sakit, dengan segera dia mematikan panggilannya lalu berlari keluar untuk memastikan kondisi Renatta, dalam hatinya dia berdoa semoga tidak terjadi apa apa dengan Renatta dan juga calon anak mereka.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back🏃🏃
Selamat Malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue