
"Dev, hari ini kamu tidak bekerja?" Tanya Renatta yang melihat Devan masih bergelung dengan selimut di atas tempat tidur tanpa berniat untuk bangun dan pergi bekerja
Sedangkan dia sendiri sudah rapi dengan pakaian kerjanya, Devan sempat melarangnya untuk bekerja setelah mengetahui kabar kehamilannya, tetapi Renatta tetap memaksa untuk pergi bekerja, dia akan merasa bosan jika harus di rumah tanpa melakukan apapun.
"hmm" Jawab Devan dengan mata yang masih terpejam
Renatta mendekat ke arah Devan, panas itulah yang di rasakan Renatta saat punggung tangannya menyentuh kening Devan.
"Dev, kamu demam?" Tanya Renatta sedikit panik.
"Kepalaku hanya sedikit pusing, mungkin istirahat sebentar, pusingnya akan hilang, aku akan berangkat ke kantor nanti" Lirihnya
"Kamu demam Dev, aku akan menghubungi dokter pribadi kamu untuk memeriksanya, untuk hari ini kamu tidak boleh bekerja, aku akan menelfon Daniel untuk menghandle pekerjaan kamu untuk sementara" Ucap Renatta kepada Devan.
Tiba - tiba pintu kamar tidur terbuka menampilkan Zio dan Zia yang sudah rapi dengan seragam sekolah mereka.
"Mah, papah kok belum bangun katanya mau anterin Zio dan Zia ke sekolah" Ucap Zio yang melihat papahnya masih tidur.
"Papah sedang sakit, hari ini kalian di antar sama sopir saja ya" Ujar Renatta memberitahu kondisi papahnya
"Papah sakit mah?" Tanya Zia.
"Iya, tubuh papah demam" Jawabnya
Zio dan Zia menghampiri Devan "Papah sakit?" Tanya Zia,
Mendengar suara Zia membuat Devan membuka matanya dan memaksakan senyumannya ke arah kedua anaknya "Kepala papa hanya pusing sayang, maaf ya papah hari ini tidak bisa mengantar kalian ke sekolah"
"Iya pah, papah istirahat saja, biar Zia sama Kak Zio di antar sama sopir" Ucap Zia kepada papahnya.
Setelah Zia dan Zio berangkat sekolah, tidak lama kemudian Dokter Edgar, dokter pribadi Devan datang lalu memeriksa kondisi Devan.
"Bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Renatta kepada Dokter Edgar.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Devan hanya mengalami demam dan kecapekan, saya akan memberikan beberapa obat agar demamnya segera turun" Ucap Dokter Edgar "Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu" Lanjutnya
"Terima kasih Dok"
Setelah kepergian Dokter Edgar, Renatta berjalan menghampiri Devan, tadi dia sudah menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar tidur mereka.
"Dev bangun, kamu makan dulu ya setelah itu minum obat biar demam kamu cepat turun"
Renatta membantu Devan bangun dari tidurnya, menyuapinya makan lalu memberikan obat kepada Devan, walaupun Devan sempat menolak untuk minum obatnya dengan sedikit paksaan akhirnya Devan mau menuruti perkataan Renatta.
"Kamu mau tahu caranya, bagaimana agar demamku cepat turun?" Tanya Devan yang masih menyenderkan kepalanya di kepala ranjang.
Renatta mengernyit bingung mendengar pertanyaan Devan, bukankah dia tadi sudah meminum obat penurun demam yang di berikan Dokter Edgar.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Tanyanya.
"Kemarilah Re" Suruhnya pada Renatta
Renatta mendekat ke arah Devan, setelah sampai di dekat ranjang, dengan cepat Devan menarik tubuh Renatta untuk duduk di pangkuannya.
"Dev, apa yang mau kamu lakukan?" Tanyanya, Renatta berusaha berdiri dari pangkuan Devan.
Devan lalu membawa Renatta untuk berbaring di sampingnya, dia melepas baju yang dia pakai Renatta dan membuka kancing baju kerja Renatta lalu melepasnya dari tubuh Renatta.
"Untuk menyembuhkan demamku" Jawabnya yang sudah memeluk tubuh Renatta.
"Kamu tidak sedang mencari kesempatan kan?" Renatta menatap Devan curiga
"Bisa jadi" Jawab Devan singkat yang sudah mulai memejamkan matanya lagi.
Renatta ingin membalas perkataan Devan, tetapi dia merasakan nafas Devan yang sudah mulai tenang menandakan kalau dia sudah tertidur kembali karena efek obat yang diminumnya tadi membuat Renatta mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan Devan
Dia bisa merasakan tubuh panas Devan yang bersentuhan langsung dengan tubuhnya, Renatta mengusap kepala Devan yang disembunyikan di cerukkan lehernya , dan melingkarkan kakinya di kaki Renatta.
Sebenarnya hari ini, dia ada janji dengan salah satu client di butiknya tetapi dia tidak tega meninggalkan Devan yang sedang sakit, dia tadi juga sudah menghubungi Daniel mengatakan kalau Devan hari ini tidak bisa berangkat bekerja di karenakan sedang tidak enak badan,
Tidak lama kemudian Renatta ikut tertidur bersama Devan, dengan tubuh mereka yang saling berpelukkan.
.
.
.
Merasa terganggu dengan sentuhan Devan, Renatta perlahan membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah Devan yang saat ini sedang menatap kearahnya.
"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Devan saat melihat mata Renatta mulai terbuka.
Renatta menggelengkan kepalanya, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Devan "Syukurlah, demam kamu sudah mulai turun"
Devan memegang tangan Renatta lalu membawa punggung tangan Renatta ke pipinya "Aku sudah lebih baik berkat bantuan kamu"
Renatta beranjak dari tidurnya lalu memakai kembali atasan bajunya yang tadi di lepas oleh Devan, "aku akan menyiapkan kamu bubur dan teh hangat biar kondisi tubuh kamu lebih baik lagi"
Devan ikut beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar terlihat lebih segar lalu ikut turun dari lantai atas menuju lantai bawah untuk menyusul Renatta yang sedang membuatkannya bubur.
Melihat kedatangan Devan di dapur semua pelayan yang ada di situ langsung pamit pergi dari dapur.
Seperti biasanya Devan memeluk tubuh Renatta dari belakang dan mencium pipi Renata dari samping.
"Baunya harum sekali" Ucap Devan, Renatta sudah tidak terkejut lagi dengan sikap Devan yang tiba - tiba memeluknya dari belakang karena Devan sudah sering melakukannya ketika melihat Renatta sedang memasak.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut menyusulku ke dapur, Kondisi kamu belum sembuh total Dev" Seru Renatta kepada Devan
"Aku hanya terlalu bosan jika terus berada di kamar" Devan melepas pelukannya dari Renatta lalu beralih berdiri di samping tubuh Renatta, melihat bagaiman begitu gesitnya Renatta saat memasakkannya bubur.
Saat ini Devan dan Renatta sudah kembali lagi ke kamar tidur mereka
"Makan buburnya Dev, setelah itu kamu harus segera meminum obat lagi" Suruhnya kepada Devan.
"Aku sudah sembuh Re tidak perlu meminum obat lagi seperti ini"
"Tapi kamu belum sembuh sepenuhnya Dev, badan kamu saja masih terasa hangat"
Akhirnya Renatta memilih untuk tidak memaksa Devan untuk meminum obatnya lagi.
"Oke, baiklah yang terpenting sekarang kamu makan buburnya terlebih dahulu" Ucap Renatta yang sudah bersiap untuk menyuapi bubur ke mulut Devan, mau tidak mau Devan memakan bubur yang sudah di buatkan Renatta untuknya, sebenarnya Devan tidak terlalu menyukai bubur tetapi dia hanya ingin menghargai usaha Renatta yang membuatkannya bubur.
Renatta berusaha mencari ide agar Devan mau meminum obatnya lagi, setelah menemukan ide yang tepat untuk dia lakukan, dengan cepat dia memasukkan obat milik Devan ke mulutnya kemudian dia menangkup wajah Devan lalu mencium Devan, Renatta sedikit memberikan gigitan di bibir Devan agar Devan membuka mulutnya sehingga dia bisa memasukkan obat di mulutnya ke dalam mulut Devan.
Namu ketika Renatta sudah berhasil memasukkan obat ke mulut Devan, saat dia berusaha melepaskan ciumannya, Devan justru menahan kepala Renatta lalu memperdalam ciuman mereka.
"PAPAH, MAMAH, apa yang kalian lakukan" Teriak Zio dan Zia yang saat ini sudah berdiri di depan pintu kamar tidur melihat Devan dan Renatta yang sedang berciuman.
...🍃🍃🍃...
Hallo author balik lagi.....
Gimana nih sama episode ini?????
Metode yang di gunakan Devan itu namanya Skin To Skin ya....
Biar ceritanya nggak manis manis terus kayaknya saatnya aku mulai untuk memasukkan konflik utamanya deh....
Menurut kalian gimana nih, mau lanjut yang manis manis dulu apa konflik aja dulu🤔
Kalau suka ceritanya jangan lupa, vote, dan komen ya...
Kalau ada typo bisa di tulis di kolom komentar...
Happy Reading
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1