
Devan mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya dan memberikannya kepada Zio dan Zia
"Kalian bisa kan menggunakan ponsel?" Zio dan Zia mengangguk "Disini ada nomer papah, kalau ada apa - apa kalian bisa hubungi papah lewat ponsel ini, tapi ingat jangan sampai ada yang tahu termasuk mamah kalian, oke?
"Oke pah" Jawab mereka bersamaan.
Devan melihat jam di tangannya "Sekarang kalian harus kembali lagi ke sekolah, biar Om Daniel yang mengantar kalian"
"Tapi kita masih mau main sama papah" Ucap Zia dengan wajah cemberutnya karena waktu bertemu dengan papahnya masih kurang lama untuknya.
"Zio juga masih mau cerita banyak sama papah" Sahut Zio yang saat ini masih duduk di pangkuan Devan.
"Nanti kapan - kapan kita main bareng lagi, papah akan belikan apapun untuk kalian, tapi sekarang kalian kembali lagi ke kalas ya, sebentar lagi kan waktu jam pulang sekolah, pasti sebentar lagi mamah akan menjemput kalian untuk pulang" Devan berusaha membujuk anaknya agar mau turun dari mobil dan kembali lagi ke kelas mereka.
"Beneran ya pah kita main bareng lagi?"
"Iya, sayang" Ucap Devan lembut
Zio dan Zia mencium pipi Devan, kemudian keluar dari dalam mobil bersama Daniel, Devan dapat melihat senyum bahagian dari kedua wajah anaknya, selama ini dia merasa begitu bodoh karena dengan mudahnya bisa percaya dengan ucapan Renatta, bahkan selama 6 tahun ini dia tidak tahu tentang keberadaan Zio dan Zia.
Daniel sudah masuk kembali ke dalam mobilnya dan menatap Devan dari kaca spion mobil, Devan masih tampak tersenyum walaupun hanya terlihat senyum tipis di wajahnya, Daniel ikut bahagia melihat bosnya bahagia, selama hampir 10 tahun dia ikut bekerja dengan Devan baru pertama kalinya dia bisa melihat senyum tulus dan bahagia Devan saat bersama kedua anaknya tadi.
"Saya juga sudah mencari tahu tentang laki laki yang kemarin bersama Nona Renatta, Namanya Nicholas Alexander" Ucap Daniel kemudian menyerahkan tab miliknya kepada Devan.
Devan melihat tab pemberian Daniel dan melihat data diri milik Nicholas "Jadi dia seorang dokter bedah?" Tanyanya.
"Selain seorang dokter bedah dia juga anak dari pemilik perusahaan Alexandra Corp dan merupakan anak tidak resmi dari Efendi Alexander dan mantan sekretarisnya yang bernama Anisa Maharani" Ucap Daniel yang membuat Devan terkejut.
"Maksudnya Anisa Maharani istrinya Om Brata,?" Tanyanya penasaran.
"Anda benar, dan setelah saya selidiki lagi ternyata alasan kenapa mendiang kakek dan nenek anda melarang Tuan Brata menikahi Nyonya Anisa karena hal ini"
Terkejut, tentu saja hal itu di rasakan Devan saat ini, selama ini tidak ada yang berani mengungkit masalah ini, bahkan papah dan mamah nya tidak ada yang membahas tentang Om Brata dan istrinya sama sekali yang dia tahu dulu keluarganya memang tidak merestui pernikahan Om Brata, tetapi setelah kepergian kakek dan neneknya papahnya dan Om Brata memilih untuk berdamai kembali.
.
.
.
Di dalam mobil Zio dan Zia sedari tadi berceloteh riang, hal itu membuat Renatta sedikit bingung karena tadi pagi saat dia mengantarkan Zio dan Zia ke sekolah kedua anaknya itu masih tampak murung.
"Kalian kenapa senyum - senyum seperti itu?" Tanya Renatta kepada Zio dan Zia.
"Kami tidak kenapa - kenapa kok mah" Ucap Zia kemudian menoleh ke kakaknya "Iya kan kak?"
Tanyanya.
"Iya mah kita memang cuma ingin tersenyum saja kok" Zio mengeluarkan cengiran nya ke arah mamahnya.
__ADS_1
Renatta berusaha mempercayai perkataan kedua anaknya, walaupun di hatinya masih ada perasaan aneh dengan perubahan sikap Zio dan Zia yang tiba - tiba.
Sesampainya di rumah, Zio dan Zia segera berlari masuk ke rumah kemudian menuju kamarnya, setelah mengantar pulang kedua anaknya, Renatta langsung menuju perusahaan milik papahnya Brata untuk bertemu dengan Regan yang saat ini masih dia percaya untuk memantau kondisi perusahaan.
Di Kamar Zio segera mengeluarkan ponsel yang di berikan papahnya dan segera menelfon papahnya.
Panggilan pertama tidak di angkat oleh papahnya, panggilan ke dua juga tidak ada tanda - tanda kalau telfonnya akan di angkat.
"Tidak di angkat ya kak telfonnya sama papah" Zia berucap sendu kepada kakaknya wajah yang tadi ceria kini berubah menjadi sedih kembali.
"Akan kakak coba sekali lagi" Ucap Zio berusaha menghibur adiknya.
Zio langsung tersenyum senang saat telfonnya diangkat oleh papah, Zia yang tadinya murung juga iku bahagia saat mendengar suara papahnya.
"Hallo, ada apa nak?" Ucap Devan di seberang telfon
"Hallo pah ini Zio" Ucap Zio kepada Devan
"Pah, Zia udah kangen sama papah" Sahut Zia yang berujar sedikit keras di depan telfon.
"Ih Zia, kuping Kakak sakit tau" Zio mengusap kupingnya yang sedikit berdenyut akibat teriakan Zia.
"hehehe, maaf kak, habisnya Zia udah pengen ketemu papah lagi" Ucapnya dengan cengiran di wajahnya.
Diseberang telfon, Devan terkekeh mendengar perkataan kedua anaknya.
"Zio juga pengen banget bisa main bola sama papah" Ucapnya.
"Iya nanti papah atur pertemuan kita lagi ya, untuk kondisi sekarang papah belum bisa secara terang - terangan bertemu kalian" Ucap Devan untuk memberi pengertian kepada kedua anaknya.
"Iya pah" Ucap keduanya dengan nada lesunya.
"Kak itu oma" Ucap Zia
"Pah, Zio tutup telfonnya ya soalnya Oma sedang berada di depan pintu kamar Zio dan Zia" Ucap Zio dengan sedikit panik karena takut ketahuan Omanya.
"I Love You papah" Ucap Zio dan Zia bersamaan.
"I Love You too anak papah" Ucap Devan di sebrang telfon.
.
.
.
Setelah menghampiri Zio dan Zia di sekolahnya tadi, Devan segera kembali lagi ke kantor untuk melakukan meeting penting dengan client nya.
Saat meeting beberapa kali ponselnya menyala tanda ada telfon masuk, dia berusaha mengabaikannya tetapi setelah tanpa sengaja melihat siapa yang menelfonnya dia bergegas mengambil ponselnya untuk mengangkat telfon.
__ADS_1
"Saya akan mengangkat telfon sebentar, rapat akan saya alihkan sementara kepada asisten saya" Devan beranjak pergi untuk keluar dari ruang rapat.
Daniel sendiri merasa aneh, baru pertama kali ini Devan lebih mementingkan mengangkat telfonnya di banding melanjutkan rapatnya karena yang dia tahu selama ini Devan tipe orang yang lebih mementingkan pekerjaan di bandingkan hal - hal lainnya.
Di luar ruangan Devan segera menggeser tombol warna hijau pada layar ponselnya.
Hallo, ada apa nak?" Ucap Devan bertanya kepada Zio dan Zia.
"Hallo pah ini Zio" Ucap Zio di seberang telfon
"Pah, Zia udah kangen sama papah" Sahut Zia dengan sedikit keras yang membuat Devan menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Ih Zia, kuping Kakak sakit tau" Terdengar suara Zio yang terdengar kesal oleh teriakan Zia.
"hehehe, maaf kak, habisnya Zia udah pengen ketemu papah lagi" Devan terkekeh saat mendengar permintaan maaf Zia kepada Zio.
"Zio juga pengen banget bisa main bola sama papah" Devan tersenyum tipis mendengar permintaan putranya, sungguh dia juga ingin melakukan semua hal dengan kedua anaknya, rasanya dia sangat menyesal kehilangan momen selama 6 tahun tentang anaknya.
"Iya nanti papah atur pertemuan kita lagi ya, untuk kondisi sekarang papah belum bisa secara terang - terangan bertemu kalian" Ucap Devan untuk memberi pengertian kepada kedua anaknya.
"Iya pah" Ucap keduanya dengan nada lesunya.
"Zio, Zia ini omah buka pintunya" Terdengar suara teriakan seorang wanita dari sebrang telfon.
"Kak itu omah" Ucap Zia
Pah, Zio tutup telfonnya ya soalnya Oma sedang berada di depan pintu kamar Zio dan Zia" Ucap Zio dengan sedikit panik karena takut ketahuan Omanya.
"I Love You papah" Ucap Zio dan Zia bersamaan.
"I Love You too anak papah" Ucap Devan dengan tulus.
Setelah sambungan telfon mereka terputus, Devan memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya, kemudian masuk ke ruang rapat, dia memasang wajah dinginnya kembali.
...🍃🍃🍃...
Udah double up ya untuk hari ini👏👏👏 semoga besok juga bisa double up lagi💪
Maaf kalau alur ceritanya berantakan😌, baru penulis pemula soalnya😊
Kritik, Saran dan Kesalahan penulisan ( Typo ) bisa di tulis di komen ya kak😁
Happy Reading....
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue