
"Dev, kamu kenapa?" Tanya Renatta yang melihat wajah panik Devan.
"Kamu tetaplah di sini aku akan mencari keberadaan Zio" Ucap Devan yang sudah bersiap masuk ke mobilnya tapi tangannya di tarik oleh Renatta.
"Kamu belum mengatakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi kepada Zio Dev"
Devan melepas tangan Renatta dari tangannya, lalu menunjukkan sebuah pesan yang di kirimkan kepadanya tadi, melihat pesan di ponsel Devan, membuat Renatta menutup mulutnya tidak percaya.
"Dev aku harus ikut, aku juga khawatir dengan keberadaan Zio"
"Lebih baik kamu mengunggu di sini Re, kamu bisa baca sendiri kan isi pesan tadi mengatakan kalau tidak boleh ada siapapun yang ikut mencari keberadaan Zio atau hal buruk akan terjadi kepada Zio" Ujarnya berusaha memberi pengertian kepada Renatta.
Tetapi Renatta tetap kekeh ingin ikut dengan Devan "Aku ibunya Dev, bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk tetap di sini sedangkan anakku sekarang dalam bahaya"
"Kalau kamu ikut siapa yang akan menjaga Zia, bagaimana kalau Zia mengetahui kalau saudaranya dalam keadaan tidak baik - baik saja, untuk kali ini saja kamu percaya denganku, aku berjanji akan menyelamatkan Zio walaupun itu dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri Re" Di usapnya pipi Renatta yang sudah banjir oleh air mata.
"Tapiii..." Ucapan Renatta berhenti saat Devan menaruh jari telunjuknya di bibir Renatta.
"Kamu harus percaya kalau semuanya akan baik - baik saja" Ucap Devan yang sekali lagi berusaha meyakinkan Renatta.
"Renatta benar Dev, akan sangat berbahaya jika kamu ikut pergi bersama Devan, aku yakin kalau yang menculik Zio adalah Aline, dia bisa saja berbuat nekat kepada kamu dan juga Zio" Axel ikut menimpali perkataan Renatta.
"Benar apa yang dikatakan Tuan Axel, itu akan sangat berbahaya apalagi jika yang di ucapkan Tuan Axel benar kalau Nona Alien pernah mengalami gangguan mental BPD, bisa saja Nona Aline akan melakukan hal buruk kepada anda dan Tuan muda Zio jika dia tahu kalau anda ikut bersama Tuan Devan" Balas Daniel menimpali perkataan Renatta dan Axel.
Mengabaikan perkataan Daniel, Devan segera masuk ke mobilnya untuk menuju lokasi yang yang tetera sesuai dengan yang ada di ponselnya.
Axel pun juga segera berlari untuk mengikuti mobil Devan "Kamu tenang saja aku akan mengikuti mobil Devan dari belakang"
"Aku ikut kak" Pinta Renatta kepada Axel.
"Lebih baik kamu tunggu di sini saja, itu akan sangat berbahaya apalagi kamu baru saja pulih dari kecelakaan"
"Biar Tuan Axel bersama saya Nona, anda tidak perlu terlalu cemas karena saya yakin Tuan Devan pasti bisa menyelamatkan anak kalian" Ucap Daniel
Tidak lama Daniel dan Axel sudah pergi mengikuti Devan dari belakang.
"Tuhan, aku mohon tolong selamatkan anakku" Lirihnya dengan air mata yang menetes
__ADS_1
Saat ini semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga mansion milik Devan, sedari tadi Renatta tidak berhenti mondar mandir sebab Devan tidak menghubunginya sama sekali, ponselnya pun sangat sulit untuk di hubungi, acara resepsi pernikahan Raka dan Sherly terpaksa selesei lebih cepat karena insiden ini.
"Duduklah Re, kamu membuatku pusing jika terus berjalan kesana kemari" Ucap Raka.
"Bagaimana aku bisa tenang kak, kalau sampai sekarang tidak ada kabar dari Devan maupun dari Kak Axel"
"Om, Kak Zio sama papah perginya lama ya, kok sampai sekarang belum pulang dan kenapa Zia tidak di ajak" Tanya Zia kepada Raka yang saat ini sedang memangku Zia, semua orang memang sengaja tidak memberitahu kepada Zia tentang apa yang sebenarnya terjadi sebab di usia Zia yang sekarang dia begitu peka dengan kondisi.
Renatta menolehkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan anaknya "Zia sini sama mamah" Panggil Renatta kepada Zia.
Zia turun dari pangkuan Raka lalu menghampiri Renatta "Mata mamah kok merah, mamah habis menangis?" orang - orang yang berada di ruangan itu menatap sendu ke arah Zia.
"Mamah nggak nangis kok, Zia sekarang lebih baik berdoa ya supaya Kak Zio sama papah pulang dengan selamat"
Zia menatap mamahnya bingung "Kenapa harus berdoa mah, kan papah sama Kak Zio cuma pergi beli mainan buat Zia" Ucap Zia dengan polosnya.
Semua orang hanya diam mendengar ucapan Zia, mereka semua juga bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Zia.
"Maksud mamah, kamu berdoa saja semoga papah dan Kak Zio cepat sampai di rumah" Alibinya.
Zia menganggukkan kepalanya, lalu kembali duduk di samping Darren.
"Hallo kak" Sapa Renatta terlebih dahulu
"Re, kita kehilangan jejak Devan" Ucap Axel dari seberang telfon.
"Lalu sekarang Kak Axel ada dimana" Tanyanya khawatir
"Kita tidak tahu lokasi pastinya Re, tapi aku rasa Devan memasuki sebuah hutan" Jawabnya.
Raka yang mendengar percakapan antara Renatta dan Axel, memberi kode kepada Renatta kalau dia akan membantu melacak keberadaan Devan sekarang.
"Kak telfonnya aku tutup dahulu, aku akan meminta bantuan Kak Raka untuk melacak keberadaan Devan, nanti aku akan kirimkan lokasinya ke Kak Axel"
"Baiklah" Lalu panggilan telfon terputus.
Renatta dan Raka berjalan ke ruang kerja Devan lalu Raka membuka laptop yang ada di ruang kerja Devan untuk melacak keberadaannya.
__ADS_1
"Aku akan melacaknya lewat nomer ponselnya, karena aku rasa Devan tidak mengaktifkan GPS di ponselnya" Raka sudah mulai berkutik di laptop milik Devan
"Bagaimana Kak, apa Kak Raka sudah berhasil melacak keberadaannya" Tanya Renatta penasaran.
"Devan menuju ke sebuah bangunan kosong yang terletak di pinggiran kota" Ucapnya "Aku akan menyusul Devan, dan aku rasa kita harus meminta bantuan polisi untuk menanganinya" Lanjutnya.
"Kak aku mohon izinkan aku ikut, aku sangat mengkhawatirkan keadaan mereka" Mohon Renatta yang menggenggam tangan Raka.
Merasa tidak tega menolak permintaan Renatta apalagi melihat kondisi Renatta yang terlihat cemas akhirnya Raka menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Renatta, sebelum itu Renatta sudah memberitahu lokasi yang akan di tuju Devan kepada Axel.
Sedangkan seorang perempuan terlihat bahagia melihat seorang anak laki - laki yang sedang menangis karena menahan sakit akibat pukulan di pipinya.
"Hiks Hiks Hiks, lepasin Zio Tante" Zio menangis tergugu, menahan rasa perih di pipinya, awalnya Zio tidak ingin menangis karena tidak ingin terlihat cengeng tapi tamparan ke dua yang di berikan perempuan di depannya membuat sudut bibirnya terluka.
Merasa terganggu dengan teriakan dan tangisan Zio, perempuan tersebut mendekati Zio dan melakban mulutnya "Diamlah anak manis, sebentar lagi papah kamu pasti akan segera datang untuk menolong kamu dan saat papah kamu datang aku akan pastikan dia memohon kepadaku untuk melepaskan anak kesayangannya, tapi justru aku akan membuat dia melihat bagaimana anak kesayangannya meninggal di hadapannya" di cengkramannya kedua pipi Zio kemudian perempuan tersebut tertawa dengan kerasnya membayangkan Devan akan tunduk di hadapannya dan menangis karena melihat Zio yang terkapar tidak berdaya di depannya.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue