Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Hukuman Untuk Devan 2


__ADS_3

Devan saat ini sedang duduk di bangku taman rumah sakit, setelah Renatta menyuruhnya keluar dari ruang rawat inapnya Devan lebih memilih menyegarkan pikirannya, rasa kehilangan sangat dia rasakan setelah anaknya bersama Renatta harus pergi sebelum melihat kedua orang tuanya.


"Papah sangat sayang kamu nak, maaf karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik" Permintaan maaf dia ucapkan kepada anaknya, sungguh hatinya terasa sakit mengetahui kalau anak yang selama ini dia harapkan harus pergi begitu cepat apalagi di tambah fakta kalau dia dan Renatta tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi.


Ponselnya dari tadi terus berbunyi, tapi Devan lebih memilih mengabaikannya, bahkan dia tidak berniat sama sekali untuk mengangkatnya ataupun hanya untuk melihat siapa orang yang menelfonnya.


Merasa sudah tidak nyaman karena ponselnya terus berbunyi berkali - kali, akhirnya Devan memilih mengambil ponselnya dari saku celananya, dia mengernyit saat ada puluhan panggilan tidak terjawab dari Daniel, sebab tidak biasanya malam hari seperti ini Daniel menelfonnya kalau bukan membahas hal yang cukup penting.


"Hallo"


"Syukurlah akhirnya anda mengangkat telfonnya"


"Apa yang membuatmu menelfonku malam - malam seperti ini Niel"


"Bisakah kita bertemu sekarang tuan, sebab ada hal yang sangat penting yang ingin saya katakan kepada anda" Pintanya.


"Baiklah, Kita bertemu di lantai bawah apartemen milikmu"


Sambungan telfon terputus, Devan berjalan menuju mobilnya untuk menemui Daniel, walau begitu pikirannya tetap saja masih tertuju kepada kondisi Renatta.


Sesampainya di lobi apartemen Daniel, dia bisa melihat Daniel sedang menunggunya "Ada hal apa yang ingin kamu berikan kepadaku" Devan berjalan mendekati Daniel.


"Saya sudah bisa melacak keberadaan Tuan Kenan" Diserahkannya sebuah majalah lama kepada Devan "Majalah tersebut dulu pernah menerbitkan berita tentang kondisi Tuan Kenan pada saat itu tetapi dari pihak keluarga Tuan Kenan menarik semua peredaran majalah tersebut karena di anggap bisa merusak citra perusahaan Sanjaya" Lanjutnya.


Di bukanya majalah yang di berikan Daniel kepadanya, di situ tertulis kalau Kenan pernah mengalami kecelakaan parah sehingga menyebabkan dia mengalami koma dan juga kelumpuhan, di majalah itu juga di tulis tentang penyebab kecelakaan tersebut di akibatkan karena pertengkaran yang di lakukan Kenan dan juga mantan istrinya.


"Lalu bagaimana kondisi dan keberadaannya saat ini?" di tutupnya kembali majalah yang saat ini berada di tangannya.


"Justru hal ini yang cukup mengejutkan, dalam waktu dekat Tuan Kenan akan muncul lagi untuk mengambil alih semua perusahaan Sanjaya lagi, padahal info yang saya dapatkan selama penyelidikan kalau Tuan Kenan memang sengaja menyembunyikan dirinya dari kalayak umum untuk menghindari skandal perceraiannya dan juga perselingkuhannya"


"Lalu ada hal apa lagi yang kamu dapatkan?"


"Kata salah satu anak buah yang anda suruh untuk mengawasi Nona Renatta mengatakan kalau tadi siang Nona Renatta dan Nona Aline bertemu di sebuah restauran sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang penting kala itu"


Jantung Devan langsung berdetak lebih cepat mendengar perkataan Daniel, tidak mungkin kan kalau Aline sudah mengatakan semuanya kepada Renatta tapi dari tatapan Renatta kepadanya seperti ada tatapan marah yang ingin di tunjukkan kepadanya.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun lagi kepada Daniel, Devan berlalu pergi begitu saja menuju ke rumah sakit untuk memastikannya langsung kepada Renatta.


.


.


.


Sedangkan saat ini Renatta sedang bersama Nicholas di rumah sakit, ya Renatta memang di larikan ke rumah sakit dimana Nicholas dan Aline bekerja, tadi Nicholas tidak sengaja bertemu dengan Raka yang baru saja ke luar dari ruang rawat Renatta.


Mengetahui kalau Renatta mengalami kecelakaan dia dengan cemas berniat menjenguk Renatta ke ruang rawat inap nya, dan untung saja di dalam tidak ada Devan, kalau ada di pastikan tidak mungkin dia saat ini masih berada di sini.


"Re, bagaimana kamu bisa mengalami kecelakaan seperti ini?" Nicholas menyuapi buah yang tadi di minta oleh Renatta.


"Hanya ada sedikit masalah yang mengganggu konsentrasi ku saat menyetir, sehingga aku tidak bisa fokus saat mengemudikan mobilku" di kunyahnya pelan buah yang di suapi Nicholas untuknya.


"Apa kamu tidak takut Devan marah jika melihat keberadaan ku di sini" Selidik Nicholas kepada Renatta yang terlihat santai tidak seperti biasanya yang selalu menghindarinya untuk menjaga perasaan Devan.


"Aku tidak peduli" Jawabnya singkat.


Terdengar pintu terbuka dari luar, menampakkan sosok Devan yang menatap tajam ke arah Nicholas yang masih menyuapi Renatta, rasa tidak suka kini sudah mendominasinya.


"Aku yang mengizinkannya dan aku yang memintanya untuk menyuapiku makan" Jawabnya dengan nada ketusnya yang membuat Devan tercengang, sedangkan Nicholas sendiri menatap bingung Renatta.


"Karena di sini sudah ada Devan, aku akan keluar Re, semoga lekas sembuh" Pergelangan tangan Nicholas di pegang erat oleh Renatta.


"Tetaplah di sini Nich, temani aku hingga tidur" Pintanya kepada Nicholas, hal itu membuat Devan semakin mantap tajam ke arah mereka, dan hal itu di abaikan oleh Renatta yang masih marah dengan kebohongan yang di sembunyikan Devan kepadanya.


"Tapi....." Ucap Nicholas ragu lalu melirik ke arah Devan yang menatap tidak suka kepadanya.


"Aku mohon Nich" Renatta memasang wajah memelasnya ke arah Nicholas.


Devan maju menghampiri Nicholas dan Renatta, berusaha melepas genggaman tangan Renatta kepada Nicholas tetapi justru Renatta semakin mempererat cengkraman tangannya.


"Kamu apa - apa an sih Re, di sini sudah ada aku, untuk apa kamu menyuruh Nicholas yang menemani kamu di sini" Sentaknya sedikit kasar.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bersama Nicholas, apa itu salah" Tanyanya tak salah sengit.


"Tentu saja salah, kamu sudah menikah dan aku suami kamu jadi apapun yang kamu lakukan harus atas persetujuanku"


Renatta menghela nafasnya pelan karena tidak ingin berdebat dengan Devan dan membuat Nicholas masuk ke dalam masalahnya, dia melepaskan cengkraman tangannya pada Nicholas, setelahnya Nicholas keluar dari ruang rawat inap Renatta, dia tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka, tetapi jujur di dalam hatinya dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya tejadi di antara Devan dan Renatta.


Setelah pintu tertutup, Devan mendekat ke arah Renatta, tapi Renatta justru memalingkan wajahnya dari Devan, dia lebih memilih memunggungi Devan lalu berusaha memejamkan matanya.


"Re aku minta maaf" Ucap Devan pada akhirnya.


Sedangkan Renatta masih mempertahankan posisinya saat ini "Aku ngantuk Dev, aku ingin tidur" Lirihnya.


"Baiklah, selamat malam" Di kecupnya kening Renatta dari samping "Aku akan tidur di sofa jika kamu butuh sesuatu" Devan merebahkan tubuhnya di atas sofa, tidak lama dia tertidur karena sudah terlalu lelah.


Mendengar suara dengkuran halus Devan, Renatta membalikkan tubuhnya menatap Devan, tidak bisa di pungkiri rasa kecewanya dengan Devan begitu besar, dia tidak menyangka kalau dengan teganya Devan menyembunyikan hal sebesar ini kepadanya.


"Kalau bukan karena Zio, Zia dan anak yang saat ini aku kandung mungkin aku akan egois kembali Dev" Ucapnya dengan nada sendunya.


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back🏃🏃


Selamat Sore, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....


Happy Reading


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2