Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Satu Dua Tiga


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, kini sudah satu bulan sejak kepergian Aline untuk selamanya, dan sampai sekarangpun Devan masih belum mau datang ke makam Aline maupun Agnes.


Sejak kemarin Devan sudah mulai bekerja lagi di kantornya, walaupun Renatta sempat melarangnya karena kondisi Devan yang belum stabil tapi Devan tetap kekeh dengan keinginannya.


Sedangkan Renatta sendiri juga sudah mulai kembali lagi ke butiknya walaupun sekarang tubuhnya sudah terasa sangat letih karena usia kehamilannya yang semakin bertambah.


"Hai, kamu kenapa Re?" Tanya Sherly yang memang hari ini berada di butik milik Renatta.


"Emang aku kenapa?" Tanyanya menunjuk dirinya sendiri.


"Sedari tadi kamu tampak melamun dan gelisah" Jawabnya.


"Ah aku hanya kepikiran sesuatu saja" Ucapnya sambil sedikit menggigit bibir bawahnya.


Lagi - lagi sekarang pikirannya melayang kepada Devan, entah kenapa dia sangat ingin bertemu dengan Devan


Sherly menatap Renatta menyelidik, matanya mulai menyipit melihat tubuh Renatta yang terlihat cukup gelisah sedari tadi "Katakan sesuatu Re, aku yakin ada yang kamu inginkan saat ini"


Renatta masih diam, dia bingung apakah harus mengatakan sejujurnya kepada Sherly atau tidak tentang keinginannya.


Renatta menghela nafasnya pelan "Aku tiba - tiba ingin bertemu Devan Sher, bukan aku tepatnya anak yang ada dalam kandunganku yang ingin bertemu papahnya" Ucapnya dengan cepat.


Sherly tertawa pelan mendengar jawaban dari Renatta "Astaga Re, aku kira kamu kenapa, aku rasa anak kamu tidak bisa berjauhan dengan papahnya sampai - Sampai ingin selalu dekat dengan Devan" Kekehnya.


"Kamu menertawakan permintaanku?" Tanyanya dengan nada kesal kepada Sherly yang seketika membuat tawa Sherly berhenti.


Oke, hormon kehamilan Renatta memang sangat mengerikan, untung saja dia dan Raka menunda untuk memiliki anak kembali karena memang Raka ingin mengoptimalkan perhatiannya untuk Darren terlebih dahulu sebelum mereka memberikan adik untuk Darren.


"Kalau begitu aku akan menemui Devan ke kantor nya" Ucapnya lalu berdiri dari duduknya.


Sherly mendongakkan kepalanya "Apa kamu tidak ingin bertanya terlebih dahulu apakah Devan sedang sibuk atau tidak"Ujarnya pada Renatta.


"Tidak perlu, aku akan langsung ke sana saja" Ucapnya dengan nada ketus lalu beranjak pergi meninggalkan Sherly, Sherly sendiri menggelengkan kepalanya tanda heran dengan sikap Renatta barusan.


Sesampainya di kantor Devan, dia di sapa oleh beberapa karyawan yang memang sudah mengenal Renatta sebagai istri dari atasan mereka.

__ADS_1


Saat berada di depan ruang kerja Devan dia langsung berjalan begitu saja, ketika dia akan membuka pintu tiba - tiba sekretaris Devan menghadangnya.


"Maaf Bu, di dalam ruangan, Pak Devan sedang menerima tamu" ucapnya dengan sopan.


"Tapi aku sangat ingin bertemu dengan Devan, ada hal penting yang harus segera aku katakan kepadanya" Alibinya agar dia di izinkan masuk.


"Sekali lagi saya minta maaf, ini sudah perintah dari Pak Devan kalau tidak boleh ada yang di izinkan masuk keruangan nya jika ada tamu atau rekan bisnisnya" Sekretaris tersebut menundukkan kepalanya.


Renatta menghentak hentakkan kakinya kesal, jika dia nekat masuk yang ditakutkannya ini akan terjadi seperti dulu lagi yang ternyata memang benar Devan sedang bertemu dengan rekan kerjanya saat dia menerobos masuk ke ruangannya.


Lama Renatta menunggu tapi tidak ada tanda tanda pintu ruang kerja Devan terbuka, karena sudah tidak sabar Renatta berjalan cepat membuka pintu ruangan Devan.


Hal pertama yang dia lihat adalah seorang perempuan yang berusaha membuka kemeja Devan yang sedang terduduk di atas kursi kerjanya dan juga ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk dengan angkuhnya di atas sofa.


Renatta menghampiri perempuan tersebut, menariknya lalu menamparnya dengan keras, dia bisa melihat dengan jelas kalau Devan merasa kepanasan dengan tubuhnya, tatapannya terarah pada sebuah gelas minum yang sudah kosong.


Laki - laki paruh baya tadi langsung berdiri dari duduknya merasa terkejut dengan kedatangan Renatta, tidak jauh berbeda dengan seorang perempuan yang Renatta tampar tadi.


"Apa yang kamu lakukan HAH" Ucap Renatta penuh intimidasi.


Perempuan tersebut masih memegang pipinya yang memerah akibat tamparan keras Renatta.


"Seharusnya aku yang tanya sama kamu lancang sekali kamu memasukkan obat perangsang ke minuman suamiku" Teriaknya di depan wajah perempuan tersebut.


Tidak lama masuk beberapa satpam yang tadi sempat di panggil oleh sekretaris Devan karena mendengar keributan di ruangan milik atasannya.


"Lepas jangan berani beraninya kamu pegang tangan saya" Ucap seorang laki - laki paruh baya.


"Lancang sekali, lepaskan aku bisa keluar sendiri" Ujar Perempuan yang tadi hampir melecehkan Devan.


Sebelum mereka di seret keluar Renatta berjalan mendekat "Ingat urusan kita belum selesei, akan aku pastikan kalian mendapatkan balasan dari apa yang kalian lakukan barusan" Setelah mengatakan itu Renatta menutup pintu ruang kerja Devan lalu menguncinya, dia masih bisa mendengar suara teriakan dan makian dari luar ruangan


Dia mendekat ke arah Devan "Dev, kamu masih baik - baik saja kan?" Tanya Renatta khawatir melihat tubuh Devan yang sudah banyak mengeluarkan keringat.


"Re, please bantu aku, ini sangat menyiksa" Pinta Devan sudah tidak bisa menahan siksaan gairah dari obat perangsang yang di berikan oleh perempuan tadi.

__ADS_1


Mendadak pikiran Renatta tidak bisa di gunakan dengan baik, dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.


Merasa sudah tidak bisa mengendalikan efek dari obat perangsang tadi, dengan cepat Devan menarik Renatta untuk duduk di pangkuannya lalu dia mencium bibir Renatta dengan kasar dan menuntut, Renatta membalas ciuman Devan tidak kalah menuntut, dia sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Devan.


Ciuman mereka berdua semakin dalam, bahkan kini Devan sudah membaringkan tubuh Renatta di atas meja kerjanya sehingga membuat beberapa berkas berserakan di lantai.


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi Re" Lirih Devan yang sudah melepas kemejanya, bisa Renatta lihat tubuh Devan sudah penuh dengan peluh dan keringat, matanya memancarkan gairah yang sudah hampir memuncak.


"Dev" Desah Renatta saat Devan menjelajahi seluruh bagian atas tubuh Renatta, mendengar ******* Renatta semakin meningkatkan gairah pada tubuh Devan.


Dengan tidak sabar Devan merobek baju Renatta hingga menyisakan pakaian bagian dalamnya saja "Dev apa yang kamu lakukan, kamu merobek pakaianku" Protes Renatta di sela ciuman Devan di lehernya.


"Aku akan menyuruh Daniel menggantinya nanti, sekarang biarkan aku segera menyelesaikan semuanya satu, dua bahkan untuk tiga ronde ke depan" Ucap Devan di iringi erangan dari bibirnya.


Mata Renatta membelalak kaget, tadi apa Devan mengajaknya bermain hingga tiga ronde, ingin protespun dia tidak bisa karena Devan sudah membungkam mulutnya dengan bibir milik Devan.


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back 🏃🏃


Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....


Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...


Happy Reading


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2