
Renatta sudah di perbolehkan pulang setelah hampir satu Minggu dia berada di rumah sakit, tetapi tetap saja dia merasa bosan karena harus berada di tempat tidur tanpa melakukan apapun.
Tiba - tiba dia ingin memakan sesuatu yang di buat langsung oleh Devan, tapi dia bingung bagaimana harus memintanya kepada Devan sedangkan Devan tahunya kalau Renatta saat ini sudah tidak dalam keadaan hamil.
Dia melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat dan masih terdengar suara shower air yang masih menyala, itu menandakan kalau Devan masih mandi.
Renatta mengelus perutnya "Aduh nak, untuk kali ini jangan minta yang aneh aneh ya, kamu tahu sendiri kan kalau mamah sedang pura - pura menutupi keadaan kamu yang sebenarnya dari papahmu, lalu bagaimana mamah mengatakan soal keinginan aneh mamah ini" Keluh Renatta kepada anaknya.
Devan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, dia hari ini akan bersiap untuk bekerja kembali setelah beberapa hari cuti untuk menemani Renatta di rumah sakit.
Renatta menatap ke arah Devan dengan pandangan puppy eyes nya, membuat Devan mengernyit bingung "Ada apa? Apa ada hal yang ingin kamu katakan?" Tanyanya
"Memangnya aku boleh meminta sesuatu kepada kamu?"
"Tentu saja, memang apa yang kamu inginkan Re?" Ujarnya kepada Renatta.
"Aku ingin kamu memasakkan aku nasi goreng kuah" Pintanya
"Nasi goreng kuah?" Tanya Devan memastikan.
"Iya Dev, nasi goreng tapi yang ada kuahnya dan itu harus kamu yang memasaknya langsung, tidak boleh ada pelayan di mansion ini yang membantu kamu membuatnya"
"Tapi aku tidak bisa memasak Re, bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk memasak makanan yang tidak pernah aku makan" di berikan nya ponselnya kepada Devan yang berisi resep masakan nasi goreng.
"Kamu bisa melihatnya di situ, nanti tinggal kamu kasih air saja nasi gorengnya" Ucapnya.
"Kenapa permintaan kamu aneh aneh? kamu tidak mungkin lagi mengidam kan?" Selidiknya
"Tentu saja tidak, mungkin saja ini sisa mengidam aku kemarin yang tidak kesampaian" Lirihnya memasang wajah sesedih mungkin agar Devan mau menuruti keinginannya dan tidak mencurigainya.
"Baiklah, aku akan memasakkan nya terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja" Devan keluar dari kamar menuju dapur.
Di dapur Devan merasa kebingungan apa yang harus dia lakukan, Devan benar benar tidak bisa memasak, jangankan memasak memegang penggorengan pun dia hampir tidak pernah sama sekali, akhirnya Devan melakukan semuanya dengan kondisi dapur yang berantakan, beberapa pelayan ingin berusaha membantu Devan tetapi selalu di larang oleh Renatta yang saat ini sedang duduk di kursi rodanya melihat Devan yang sedang memasak.
__ADS_1
Sedangkan Zio dan Zia yang memang hari ini libur sekolah ikut duduk melihat papahnya memasak "Ih papah masaknya kok berantakan sekali sih mah" Bisik Zia di telinga Renatta.
Renatta hanya terkekeh mendengar ucapan Zia, baginya melihat Devan kesulitan dalam memasak seperti ini justru membuatnya senang, entahlah akhir - akhir ini dia ingin sekali melihat Devan menderita karena ulahnya.
Zio sendiri tidak terlalu memperhatikan Devan, dia justru lebih memilih memainkan game yang ada di ponsel pemberian papahnya.
Lama Renatta menunggu, akhirnya masakan Devan selesei juga tentu dengan hasil yang aneh menurut Zia "Mamah yakin ingin memakan masakan aneh buatan papah" Zia bergidik ngeri melihat hasil masakan papahnya yang menurutnya sangat aneh.
"Tentu mamah akan memakannya, memangnya kenapa?" Zia hanya menggelengkan kepalanya.
Devan bahkan tidak yakin kalau masakannya akan enak, dia saja tidak bisa membedakan mana gula dan garam kalau tidak mencicipinya terlebih dahulu.
Semua menatap Renatta ketika dia akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, Devan sudah bersiap jika makanannya akan di buang oleh Renatta tetapi Renatta justru memakan masakan Devan dengan santainya seolah olah nasi goreng buatannya terasa enak.
Zia yang penasaran dengan masakan papahnya ingin sekali mencicipinya walaupun melihat bentuknya saja sudah membuat Zia tidak nafsu makan tapi melihat mamahnya yang begitu menikmati makanannya membuat dia ingin mencobanya.
Saat Zia mencicipi nasi goreng kuahnya seketika wajah Zia berubah menjadi masam "Ih kok masakan papah tetap di makan sih mah, padahal rasanya tidak ada enaknya sama sekali" Di minumnya air yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Re, kalau memang tidak enak tidak perlu kamu makan seperti itu, aku tidak akan marah kalaupun kamu mengatakan masakkanku tidak enak" Ucap Devan yang melihat Renatta begitu lahap memakan nasi goreng buatannya.
Devan menerima suapan dari Renatta, lalu dia berlari ke arah wastafel untuk memuntahkannya, bagaimana bisa Renatta mengatakan kalau masakkannya enak, bahkan lidahnya pun bisa merasakan sehambar apa nasi goreng buatannya bahkan rasanya lebih ke arah aneh.
Renatta mengedikkan bahunya dia tetap melanjutkan memakan nasi gorengnya yang hampir habis dengan lahap, sedangkan Devan menatap curiga ke arah Renatta yang tidak di sadari oleh Renatta.
.
.
.
Tangan Aline bergetar saat membaca majalah yang berada di tangannya saat ini, di situ di tuliskan kalau Kenan Sanjaya yang tidak lain adalah papah kandung dari Angel akan mengambil alih kembali semua perusahaan yang dia tinggalkan selama ini.
"Ini tidak mungkin, bagaimana bisa dia kembali lagi setelah memutuskan untuk menghilang selama ini" Lirihnya
__ADS_1
Berkali kali Aline menggelengkan kepalanya tanda tidak mempercayai isi dari majalah tersebut, tidak jauh dari tempat Aline duduk saat ini seorang laki laki dengan kaca mata hitam dan juga masker hitam yang menutupi wajahnya menatap ke arah Aline dengan senyuman kecilnya.
Kedua tangannya mengetuk ngetuk meja "Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu, ternyata dulu dan sekarang kamu tidak ada bedanya" Kekehnya.
Ya orang itu adalah Kenan, setelah memikirkan semuanya dia memutuskan untuk melakukan semua ini, sudah cukup dia mengalah selama ini hanya untuk melindungi anaknya Angel tapi melihat bagaimana Aline sudah keterlaluan memasukkan Angel untuk mencapai ambisinya tentu saja dia tidak akan bisa menerima semuanya.
Apalagi di masa lalu Aline juga sudah terlalu banyak mempermainkannya, kini giliran dirinya yang akan mengambil alih permainannya karena baginya saat ini hatinya untuk Aline sudah mati setelah begitu banyak penghianatan yang diberikan Aline kepadanya.
Perlahan kakinya melangkah pelan mendekati Aline lalu duduk di hadapannya "Lama tidak bertemu kamu semakin menarik dan sukses" Ucapnya yang membuat Aline terkejut.
"Keenann.... " Ucap Aline gugup.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back🏃🏃
Selamat Sore, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen....
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue