
Cup
Renatta menggeliatkan tubuhnya saat merasakan ada seseorang yang mencium keningnya "Dev, kamu sudah pulang?" Tanya Renatta dengan nada serak khas orang bangun tidur.
"Kalau masih mengantuk tidurlah, aku akan mandi terlebih dahulu" Ucap Devan berjalan menuju kamar mandi.
Mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup dengan perlahan Renatta membangunkan tubuhnya dari ranjang, dilihatnya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam, itu berarti dia sudah tertidur hampir selama 3 jam dan ternyata dia juga melewatkan jam makan malam nya.
Setelahnya dia tersadar kalau Zea yang tadi dia baringkan di atas tempat tidur sudah tidak berada di sampingnya.
Renatta menjepit rambutnya asal, lalu dengan segera turun ke lantai bawah mencari keberadaan anak - anaknya.
Rasa lega ia rasakan saat melihat ternyata ketiga anaknya sedang bermain bersama mamahnya "Mamah sejak kapan datang?" Tanya Renatta.
"beberapa jam lalu, dan salah satu pelayan mengatakan kalau kamu sedang menidurkan Zea" Jawab nya kepada Renatta.
Renatta ikut duduk di samping Zia yang masih fokus dengan mainannya, Zea sendiri hanya tertawa lucu melihat kedua kakaknya yang sedang asyik bermain, lama Renatta terdiam mengamati ketiga anaknya, dia baru teringat kalau dia meninggalkan Devan sendirian di dalam kamar mereka.
"Mah aku ke atas dulu, aku hampir saja melupakan Devan dan belum menyiapkan makan untuk makan malam nya" Ucap Renatta lalu beranjak menghampiri Devan.
Sesampainya di depan pintu, Renatta tidak melihat keberadaan Devan, pintu kamar mandi pun sudah terbuka, lalu langkahnya menuju ruang kerja Devan yang memang bersebelahan dengan kamar tidur utama.
Sedangkan Devan saat ini berada di balkon ruang kerjanya, pikirannya tidak bisa tenang setelah mendapat beberapa kiriman pesan dan email dari orang yang tidak dia kenali, dia juga sudah berusaha melacak tentang siapa orang tersebut tetapi hal itu begitu sulit karena orang tersebut sangat menjaga keamanan datanya agar jangan sampai terlacak oleh nya.
Untuk meredakan pikirannya yang berkelana kemana - mana dia mengambil vapor dari saku celananya yang sudah dia beli saat dia pulang dari kantor tadi, sebenarnya Devan sudah berhenti minum dan tidak merokok lagi sejak memutuskan untuk bersama Renatta kembali tapi terkadang untuk bisa menenangkan pikirannya sesekali dia akan menghisap vapor kesukaannya.
Karena sedikit melamun membuat Devan tidak menyadari kalau Renatta sudah berdiri tidak jauh darinya.
Renatta mengernyitkan keningnya saat melihat Devan menghisap vapornya lagi padahal dulu Devan pernah bilang kepadanya kalau dia akan meninggalkan kebiasaan buruknya apalagi dia sekarang sudah memiliki tiga orang anak, hanya saja Devan juga pernah mengatakan kepadanya kalau dia akan menghisap vapor nya saat dia sedang ada dalam masalah.
__ADS_1
Perlahan Renatta menghampiri Devan dan menepuk bahu Devan pelan "Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Renatta yang membuat Devan sedikit terkejut.
"Kamu kenapa bisa ada di sini? Bukannya kamu tadi menghampiri anak - anak?" Tanya Devan balik ke Renatta, lalu dia mematikan vapor nya agar asapnya tidak mengganggu Renatta.
"Aku tadi mencarimu ingin mengajak makan malam, tapi aku tidak menemukan kamu di kamar jadi aku menuju ke ruang kerja kamu Dev, apa kamu sedang ada masalah?" Renatta mengusap lembut pipi Devan, dia bisa melihat kantung mata Devan yang menghitam menandakan kalau Devan terlihat lelah dan butuh istirahat.
"Aku sudah makan Re, di kantor tadi" Alibi Devan agar tidak membuat Renatta khawatir.
"Kamu ada masalah?" Kini tangan Renatta sudah di genggam oleh Devan.
"Aku baik - baik saja, hanya sedikit masalah kantor, kamu tidak perlu khawatir" Ucap Devan meyakinkan Renatta.
"Baiklah, jangan terlalu lama di balkon, udaranya cukup dingin Dev, kalau ada masalah kamu bisa berbagi masalahmu kepadaku" Peringat Renatta yang di angguki oleh Devan, justru jika dia menceritakan masalah kepada Renatta, hanya akan membuat Renatta berfikir buruk soal masa lalunya.
Setelahnya Renatta meninggalkan Devan, tapi sebelum bener - benar pergi dari ruang kerja Devan dia menolehkan kepalanya kebelakang kembali melihat Devan yang saat ini memunggunginya, dia yakin kalau masalah yang saat ini di hadapi Devan bukan hanya maslah kantor tapi pasti ada masalah lain yang cukup mengganggu pikiran suaminya.
Sebenarnya ada apa dengan Devan?
Kesadaran Renatta kembali saat mendengar Zea menangis, mamahnya memang sudah izin pulang dari beberapa menit yang lalu kini hanya tinggal dirinya dan ketiga anaknya saja, para pelayan pun sudah banyak yang istirahat.
Zea sudah berada dalam gendongan Renatta, suara tangisnya pun sudah mereda, Zia dan Zio sudah dia suruh naik ke atas untuk segera istirahat karena jam sudah menunjukkan cukup larut malam untuk jam tidur anak kecil.
Merasa di yakini Zea sudah mulai tertidur nyenyak dia menidurkan Zea di box bayinya, kemudian dia menghampiri Devan yang masih berada di ruang kerjanya, saat membuka pintu ruang kerja Devan, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Devan sudah tertidur di sofa
Renatta berniat ingin membangunkan Devan tapi niatnya terhenti saat ponsel Devan berbunyi menampilkan pesan dari Daniel yang bertuliskan nama seorang laki laki
"Siapa dia, kenapa namanya begitu tidak asing" Lirih Renatta pada dirinya sendiri
.
__ADS_1
.
.
"Jangan lakukan ini Ray, Rania pasti akan sangat membenci apa yang kamu lakukan saat ini, ikhlaskan semuanya, ini bukan sepenuhnya kesalahan Devan" Jelas seorang perempuan tapi tidak di gubris oleh lawan bicaranya.
"Aku tidak bisa dengan mudah mengikhlaskan semuanya, bohong jika aku bisa melepas Devan begitu saja, apalagi melihat kebahagiaan Devan yang berbanding terbalik dengan kehidupan Rania dulu" Kekehnya.
Perempuan tersebut berdiri dari duduknya "Lupakan dendam itu, kalaupun kamu menghancurkan Devan itu tidak akan membuat Rania kembali lagi di kehidupan kita" Perempuan tersebut pergi dari hadapan laki - laki yang di panggilnya tadi Ray.
Di ambilnya sebuah foto kecil yang menampilkan seorang perempuan yang tertawa bahagia sambil memeluk kucing kesayangannya "Mungkin aku tidak bisa menghancurkan Devan hingga benar - benar hancur tapi aku akan pastikan dia merasakan apa yang dulu kamu rasakan sayang" Ucapnya lirih lalu memasukkan kembali foto tersebut ke dompetnya, senyum tipisnya terbit kala mengingat langkahnya semakin dekat untuk membuat Devan merasakan apa yang orang dicintainya rasakan dulu.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back 🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading