
Devan sudah kembali lagi bekerja ke kantornya, saat ini dia sedang berbicara serius dengan Daniel
"Bagaimana keadaan Angel saat ini?" Tanya Devan kepada Daniel
"Anda tidak perlu khawatir Nona Angel hanya mengalami demam dan sampai sekarang masih di rawat di rumah sakit tetapi kondisinya sudah berangsur membaik" Jawab Daniel.
"Nanti aku akan menjenguknya ke rumah sakit sudah lama aku tidak bertemu dengannya, lalu sejauh mana kamu sudah menemukan bukti - bukti yang aku suruh untuk mengumpulkannya"
"Untuk saat ini saya sudah meminta bukti rekaman CCTV yang ada di hotel, walaupun sangat sulit tetapi akhirnya pihak hotel akan mengusahakan mencari rekaman CCTV 6 tahun lalu, dan berjanji akan menyerahkan rekaman CCTV itu kepada kita" Ucap Daniel kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Seperti yang dikatakannya kepada Daniel tadi, dia sudah berada di rumah sakit tempat Angel di rawat, sebelum keluar dari mobil dia terlebih dahulu memakai masker dan kaca mata hitam agar tidak ada orang yang mengenalinya, dia mengambil sebuah paper bag berisi boneka yang akan dia berikan kepada Angel, tadi dia sudah memberi tahu Aline kalau dia hari ini akan mengunjungi Angel di rumah sakit.
Dia berjalan di lorong rumah sakit untuk mencari nomer kamar rawat yang tadi dikirimkan Aline ke ponselnya.
Dia melihat Aline yang sudah menunggunya di depan ruang rawat Angel dengan menggunakan baju dokternya "Akhirnya kamu datang juga Dev, dari tadi dia sudah menanyakan kehadiran kamu sejak aku memberitahunya kalau papahnya akan menjenguknya" Devan hanya mengangguk tanpa berniat menjawab ucapan Aline lalu masuk untuk bertemu Angel.
Sejak dulu Aline sudah terbiasa dengan sikap Devan yang terlampau dingin dan cuek kepadanya, bahkan pertemuannya dengan Devan hanya sebatas saat Devan ingin menemui Angel saja, sakit memang tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan hati Devan apalagi sekarang Devan sudah mengumumkan pernikahannya dan mengenalkan kedua anaknya ke publik, tetapi Devan justru tetap menyembunyikan keberadaan Angel dari semua orang tanpa berniat memberitahu siapa Angel sebenarnya.
Aline menyeka air matanya yang tanpa sadar menetes, dan menampilkan senyumannya kembali agar Angel tidak bertanya macam - macam karena melihatnya menangis.
Angel langsung tersenyum bahagia saat mengetahui Devan sudah berdiri di sampingnya "Papah" Teriak Angel dengan senangnya
"Hai, bagaimana keadaan kamu?" Tanya Devan yang membelai lembut kepala Angel.
__ADS_1
"Papah kemana saja, Angel merindukan papah" lirih angel yang saat ini memeluk lengan Devan dengan erat.
"Maafkan papah ya, papah akhir - akhir ini sibuk, jadi baru bisa menemui kamu sekarang" Ucapnya lembut "Papah bawa boneka Frozen kesukaan kamu" Devan memberikan paper bag yang dia pegangnya kepada Angel.
"Terima kasih papah, Angel sangat suka bonekanya" Angel memeluk bonekanya erat.
"Papah tidak bisa terlalu lama di sini, nanti papah akan mengunjungi Angel lagi kalau pekerjaan papah sudah selesei" Devan menatap Angel penuh kelembutan.
Mendengar ucapan Devan seketika membuat wajah Angel yang tadinya ceria kini berubah menjadi suram kembali, Aline hanya bisa menatap Angel dengan sedih, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menahan Devan tetap berada di sini lebih lama, Devan mau menemui Angel pun dia sudah senang.
"Apa papah tidak bisa lebih lama di sini, Angel masih kangen sama papah" Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca
Devan tidak tega melihat Angel yang matanya sudah berkaca - kaca, dia memutuskan untuk lebih lama menemani Angel di rumah sakit "Baiklah, papah akan di sini sampai Angel tidur"
Angel tersenyum gembira, lalu bercerita semua kegiatannya sebelum sakit dan saat di sekolah dia mempunyai teman baru yaitu kakak beradik yang satunya baik, tapi ada juga yang tidak mau berkenalan dengan Angel.
"Aku pergi dulu, sampaikan salamku pada Angel saat dia bangun nanti" Ucap Devan berlalu pergi, langkah Devan terhenti saat mendengar ucapan Aline.
"Tidak bisakah kamu memiliki lebih banyak waktu untuk Angel, dulu walaupun kamu tidak setiap hari mengunjungi Angel tapi paling tidak kamu bisa menemuinya seminggu dua kali, tapi sejak kamu bertemu dengan kedua anakmu yang lain kamu semakin tidak peduli dengan Angel bahkan hampir satu bulan ini kamu hanya sekali mengunjunginya itupun saat dia sakit Dev"
"Aku minta maaf, setelah ini aku akan usahakan lebih sering bertemu dengan Angel" Ucapnya
"Sesering apa?, aku bahkan berfikir mungkin setelah ini kamu sudah tidak peduli lagi dengan Angel bahkan kamu akan melupakannya karena kehadiran kedua anak kesayanganmu itu" Ucap Aline dengan sedikit emosi, tetapi dia tetap berusaha mengontrol volume suaranya agar tidak terlalu keras agar tidak mengganggu tidur anaknya.
__ADS_1
Devan menatap Aline tajam "Jaga ucapan kamu dan batasanmu, jangan membuat aku bertindak sesuatu yang justru tidak akan kamu sukai Lin"
Setelah mengucapkan hal itu, Devan memakai masker dan juga kaca mata hitamnya kembali lalu keluar dari ruang rawat inap Angel meninggalkan Aline yang masih di selimuti dengan aura kemarahan dan kekecewaan.
Nicholas yang baru saja keluar dari ruang operasi tidak sengaja melihat Devan di dalam kamar rawat Angel seperti membicarakan sesuatu yang serius dia bisa mengenali kalau itu Devan sebab pintu ruang perawatan Angel tidak tertutup dengan sempurna dan dari suara pun, dia yakin kalau itu Devan.
Nicholas segera bersembunyi saat mendengar suara pintu yang di buka dari dalam, dia mengernyit saat Devan keluar dengan memakai kaca mata hitam dan juga masker yang menutupi wajahnya, Nicholas penasaran kenapa Devan seolah tidak ingin ada orang yang mengetahui kalau dia baru saja datang ke rumah sakit ini, lalu ada hubungan apa antara Dokter Alien, Angel dan Devan.
Dia ingin bertanya langsung kepada Dokter Aline tetapi rasanya itu bukan hal yang sopan jika harus ikut campur urusan pribadi orang lain, apalagi dia juga tidak terlalu akrap dengan Dokter Aline.
Devan menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi mobilnya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi untuk menyelesaikan semua masalah ini, dia hanya takut Renatta mengetahui apa yang dia sembunyikan selama ini lalu berniat untuk pergi lagi dari kehidupannya, tentu saja Devan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Devan mengambil ponselnya lalu menghubungi Daniel
"Aku ingin kamu segera mengumpulkan semua buktinya, jangan sampai Renatta tahu masalah ini" Ucapnya kepada Daniel.
"Baik pak, secepatnya saya akan menemukan semua bukti itu" Jawab Daniel dari seberang telfon.
Sedangkan di dalam ruang rawat inap Angel, Aline masih merasakan amarah mendengar ancaman yang di lontarkan Devan padanya tadi "Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil kebahagiaan Angel, apapun akan aku lakukan agar Angel mendapatkan kasih sayang penuh dari Devan, dan aku pasti bisa membuat kamu membalas perasaanku Dev walaupun dengan cara paling buruk sekalipun karena aku sudah cukup sabar menghadapi sikap kamu kepadaku dan Angel selama ini" Ucap Aline lirih.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue