Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Keraguan


__ADS_3

Devan dan Renatta sudah pulang kembali ke Indonesia, Mereka di Maldives hanya tiga hari saja sebab Renatta tidak tega meninggalkan Zio dan Zia terlalu lama alhasil honeymoon yang di rencanakan selama satu Minggu hanya sampai tiga hari saja.


Mobil yang menjemput mereka sudah tiba, Daniel mempersilahkan Renatta dan Devan untuk masuk ke kursi penumpang


"Apa kamu capek?" Tanya Devan kepada Renatta yang saat ini sudah menyenderkan kepalanya di bahu Devan.


Renatta mengangguk, lalu memejamkan matanya, padahal selama perjalan pulang tadi di dalam pesawat dia sudah tidur tetapi sekarang ngantuk sudah melandanya lagi.


"Re, bangun kita sudah sampai" Devan menepuk pipi Renatta pelan.


"Ehh" Renatta membuka matanya pelan, ketika kesadarannya sepenuhnya kembali, dia menatap bingung mansion di depannya.


"Kita di mana? Kenapa kita tidak pulang ke rumah mamah dan papah untuk menjemput Zio dan Zia?" Tanya Renatta bingung.


"Zio dan Zia ada di dalam" Jawab Devan menggandeng Renatta turun dari mobil lalu masuk ke dalam mansion


Kedatangan mereka sudah di sambut oleh beberapa pelayang yang menunduk hormat kepada Devan dan Renatta.


"Dev ini mansion siapa?" Devan tidak menjawab pertanyaan Renatta dan tetap menggandeng Renatta masuk ke dalam.


"Mamah" Teriak Zio dan Zia berlari ke arah Renatta


"Mamah merindukan kalian" Dia memeluk Zio dan Zia dengan erat.


"Kita juga merindukan mamah"


"Kalian tidak merindukan papah?" Tanya Devan yang membuat Zio dan Zia melepaskan pelukannya dan menghampiri Devan sambil merentangkan tangan mereka.


Devan terkekeh, lalu mengangkat kedua tubuh anaknya "Om Raka bilang, papah mau kasih hadiah buat kita sepulang dari Maldives" Tanyanya membuat Devan menatap bingung Zio dan Zia.


"Hadiah?" Tanya Devan yang di angguki oleh Zio dan Zia.


"Kata Om Raka hadiahnya adik bayi untuk kita berdua" Ucap Zia dengan polosnya.

__ADS_1


Renatta yang sedang meminum air putih seketika tersedak mendengar perkataan anaknya, memang kakaknya itu terlalu banyak memberikan pengaruh yang tidak baik kepada kedua anaknya.


"Memangnya kalian mau punya adik?"


Devan melirik ke arah Renatta yang mendapat tatapan tajam Renatta seolah olah memberi isyarat kalau Renatta menyuruh Devan untuk tidak melanjutkan pembahasan Zio dan Zia sebab dia tahu Zio dan Zia memiliki sifat ingin tahu yang tinggi.


Zio dan Zia mengangguk dengan antusias "Kalian berdoa saja, semoga kalian segera punya adik lagi" Devan mencium pipi kedua anaknya.


"Memang gimana sih pah, cara membuat adik bayi untuk Zio dan Zia memang susah ya? Apa lebih susah dari buat kue dengan oma?" Tanya Zia menatap Devan dengan penasaran.


Sedangkan Renatta tidak bisa menahan tawanya, melihat ekspresi Devan yang langsung terdiam mendengar pertanyaan Zia.


"Mamah kenapa kok tertawa" Tanya Zio yang sudah turun dari gendongan Devan.


Renatta berdehem untuk meredakan tawanya "Mamah tidak apa apa, kalian berdua tadi ke sini sama siapa?" Tanyanya pada Zio


"Tadi kita dijemput sama Om Daniel terus di ajak ke rumah besar ini" Jawab Zio yang saat ini pergi menuju bagian belakang mansion di ikuti salah satu pelayan di belakangnya.


"Ih papah, pertanyaan Zia kok belum di jawab sih" Ujar Zia kesal karena tidak mendapat jawaban dari papahnya.


Devan menghela nafas lega, ketika Zia menuruti perkataannya lalu pergi menyusul Zio yang saat ini berada di halaman belakang mansion.


"Dev Kamu belum jawab pertanyaanku, ini mansion siapa? kenapa kita ada di sini?"


Devan menghampiri Renatta "Ini mansion yang mulai sekarang akan kita tinggali berasa Zio dan Zia Re"


"Kamu jangan bercanda, mansion ini terlalu besar Dev" Ucap Renatta.


"Justru bagiku mansion ini tidak terlalu besar Re untuk kita, apalagi jika suatu saat akan ada anggota baru lagi di keluarga kita"


Devan mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Renatta yang masih datar


"Apa kamu begitu menginginkan kehadiran seorang anak lagi?" Dia meletakkan tangannya di atas tangan Devan.

__ADS_1


"Aku ingin merasakan bagaimana melihat tumbuh kembang anakku mulai dia masih di dalam perut kamu hingga dia melihat dunia ini untuk pertama kalinya, aku sudah melewatkan banyak hal mengenai tumbuh kembang Zio dan Zia"


Penyesalan sering kali menghampiri Devan apalagi dulu dia sudah banyak menyakiti Renatta, bahkan di saat Renatta mengandung anaknya dia tidak mengetahuinya sama sekali.


"Apapun yang pernah terjadi di masa lalu itu hanya masa lalu, aku tidak ingin setelah aku benar - benar mempercayai semua kebahagiaan yang kamu janjikan kepadaku tapi kamu justru menyakiti hatiku lagi"


Devan mengusap pipi Renatta "Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti kamu lagi Re, apapun yang terjadi nanti, kamu cukup percaya sama aku"


Entah dia merasa ada keraguan saat mendengar ucapan Devan, dia merasa ada yang Devan sembunyikan darinya, sesuatu yang mungkin saja bisa menghancurkan hubungan lagi dengan Devan, dia berharap semua ini hanya rasa takutnya saja.


.


.


.


Sherly tersenyum senang melihat keakrapan Darren dan Raka, sejak di mana pertama kali Darren mengetahui kalau Raka adalah ayah kandungnya dia terlihat begitu bahagia, bahkan dia selalu ingin berdekatan dengan Raka.


Tidak jauh berbeda dengan Raka, dia juga amat sangat bahagia saat untuk pertama kalinya Darren memanggilnya dengan sebutan ayah, hampir setiap hari selama tiga hari ini dia meluangkan waktu kerjanya untuk mengantar Darren pergi ke sekolah, anaknya itu bilang kalau dia ingin mengenalkan Raka sebagai ayahnya ke semua temannya sebab temannya selalu mengatai dirinya kalau tidak memiliki seorang ayah, mengetahui hal itu seketika membuat Sherly sedih karena ke egoisannya Darren harus mengalami semua ini.


Raka duduk di samping Sherly meninggalkan Darren yang masih asyik bermain dengan Lego yang tadi di belikan Raka "Aku ingin secepatnya mengenalkan kamu dan Darren ke kedua Orang tuaku Sher"


"Tapi aku belum siap Ka, aku takut papah sama mamah kamu tidak menerima keberadaan Darren karena kamu tahu sendiri dalam hubungan seperti apa Darren terlahir"


Raka menggenggam tangan Sherly "kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, aku yakin kedua orang tuaku akan menerima kamu dan Darren apalagi kamu teman baik Renatta"


"Soal Renatta, dia belum mau bicara apapun sama aku Ka, bahkan dia tidak pernah membalas pesan yang aku kirim" Sherly tertunduk sedih karena Renatta terlihat begitu kecewa kepadanya apalagi sejak awal dia tidak mau jujur dengan kondisinya, di tambah lagi saat dia mengetahui kalau Raka kakak kandung Renatta tetapi dia tidak juga mau mengatakan apapun dan lebih memilih menyembunyikan kebenarannya.


"Beri dia waktu Sher, mungkin dia hanya merasa kecewa karena kamu menyembunyikan hal sebesar ini, aku yang akan bicara dengannya nanti" Ucap Raka yang berusaha meyakinkan Sherly kalau semuanya akan baik - baik saja termasuk hubungannya dengan Renatta.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2