Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Berusaha Saling Menerima dan Memaafkan


__ADS_3

Sherly dan Raka saat ini sudah berada di depan rumah Sherly, setelah kejadian di parkiran tadi membuat suasana hati Sherly berubah menjadi kacau, bahkan saat perjalanan pulang di dalam mobil hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka berdua.


"Aku harap kamu mau mempertimbangkan semuanya, jujur bahkan sampai saat ini aku tidak bisa menghilangkan kamu di hatiku Sher" Ucap Raka kemudian menggenggam tangan Sherly, untuk kali ini dia membiarkan Raka menggenggam tangannya.


"Beri aku waktu, biarkan aku memikirkan semuanya" Ucap Sherly kemudian keluar dari mobil Raka dan masuk ke rumahnya.


Raka menatap kepergian Sherly dengan sendu, dulu dia selalu memimpikan sebuah kehidupan keluarga yang bahagia bersama Sherly dan anaknya kelak bahkan di saat dia baru merintis karirnya di perusahaan milik papahnya, dia sudah bertekad untuk menikahi Sherly yang saat itu masih duduk di bangku kuliah.


Hingga malam di mana yang seharusnya tidak mereka lakukan harus terjadi karena rasa ingin memilikinya yang begitu besar kepada Sherly, sejak saat itu dia sudah berjanji kepada Sherly akan segera menikahinya dan akan betanggung jawab apapun yang terjadi, tetapi mimpi itu hancur dalam sekejap karena kebodohannya yang tidak mau jujur dengan Sherly sejak awal, dan lebih parahnya dia harus kehilangan seorang anak yang bahkan belum sempat terlahir di dunia, menyesal itulah yang saat ini di rasakan Raka saat ini.


Raka tidak sepenuhnya menyalahkan Sherly jika memang benar dia sudah menggugurkan anak mereka, dia juga ikut bersalah di sini karena sudah berbohong kepada Sherly.


Setelah berada di dalam rumahnya Sherly sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi, dia menangis sesegukan dan berlari menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya, ketika dia akan masuk ke kamarnya, papahnya memanggil namanya.


"Sher, kamu baru pulang, apa terjadi masalah?" Tanya Dion, papahnya Sherly.


Melihat papahnya saat ini berdiri di harapannya, dia segera memeluk Dion dengan erat "Pah, apa yang harus Sherly lakukan?" Tanya Sherly ke papahnya.


"Ceritakan apa yang terjadi ke kamu Sher ?" Dion membawa Sherly untuk duduk, berharap anaknya akan lebih nyaman saat menceritakan semuanya.


Dion memang sudah merasa aneh saat tiba - tiba Sherly yang pergi dari acara tadi dan sopir pribadinya yang di telfon Sherly untuk mengambil mobilnya di acara tadi karena dia beralasan akan pulang bersama temannya.


Merasa sudah tenang, Sherly berusaha menceritakan semuanya kepada papahnya karena hanya papahnya lah yang tahu tentang semua ini.


"Aku tadi bertemu ayahnya Darren" Ucap Sherly.


"Maksud kamu ayah biologis Darren, cucu papah?" Tanya Dion kepada Sherly.


"Iya pah, dia tadi meminta maaf kepada Sherly dan mengatakan semua kebenarannya, dan dia meminta kesempatan lagi untuk bersama dengan ku, Sherly tidak tahu harus bagaimana, di sisi lain Sherly masih mencintai dia, tapi rasa sakit yang di torehkannya masih terasa sampai sekarang, Sherly masih sulit untuk melupakan semuanya" Ucap Sherly di iringi Isak tangisnya.


"Apa dia tahu soal keberadaan Darren?" Tanyanya lagi


Sherly menggelengkan kepalanya "Dia tidak mengetahuinya pah, Sherly masih belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya"


Sherly menceritakan semuanya kepada papahnya soal pertemuannya dengan Raka dan dia juga mengatakan mengenai surat yang di berikan Tania untuknya.


Setelah mendengar semua cerita anaknya, Doni menatap ke dalam mata Sherly "Lalu apa yang kamu ragukan lagi?" Tanyanya "Bahkan dia mau menerima kamu walaupun yang dia tahu kalau kamu sudah menggugurkan anak kalian"


"Aku hanya takut kalau dia akan menyakiti dan membohongi aku lagi pah" Ucap Sherly lirih.

__ADS_1


"Saran papah, kamu tanya ke hati kamu karena hati tidak akan berbohong, kalau kamu memang masih mencintai dia turunkan ego kamu, Ingat Darren juga membutuhkan sosok ayahnya" Ucap Dion kepada anaknya.


.


.


.


Renatta terbangun saat jam menunjukkan pukul 7 pagi, dia berusaha menggerakkan tubuhnya tetapi semua terasa kaku dan sulit karena Devan yang memeluknya dengan erat


Hal pertama yang dia lihat saat membuka matanya adalah dada bidang milik Devan yang notabennya masih sah menjadi suaminya, astaga tiba - tiba pipinya terasa memanas saat mengingat kejadian tadi malam.


Flashback On (Kemarin Malam)


Menurutmu apa yang dilakukan seorang suami dan istri jika sudah berduaan seperti ini di atas tempat tidur?" Tanya Devan yang masih berada di atas tubuh Renatta.


"A..aapa maksud kamu?" Ucap Renatta dengan gugup mendapat pertanyaan seperti itu dari Devan.


"Kamu jelas tahu apa maksud dari pertanyaan ku Re" Devan menatap intens wajah Renatta yang saat ini berada di bawah tubuhnya dan semakin mendekatnya bibirnya ke bibir Renatta.


Sebelum Renatta menjawab pertanyaan yang di ucapkan Devan, bibirnya terlebih dahulu di bungkam oleh bibir Devan.


Dia menyeka bibir Renatta yang terlihat membengkak akibat ulahnya, Devan segera memindahkan tubuhnya dari atas tubuh Renatta kemudian berbaring di samping Renatta dan menarik Renatta ke dalam pelukannya.


Renatta masih berusaha mengatur kembali nafasnya yang terasa sesak dan habis, dia tidak berusaha melawan saat Devan membawanya ke dalam pelukan Devan.


"Tidurlah, ini sudah malam" Ucap Devan yang memeluk tubuh Renatta erat.


Renatta yang memang sudah sangat mengantuk tidak terlalu memikirkan kejadian yang baru saja dia alami.


Suara dengkuran halus dan nafas yang mulai teratur menandakan kalau Renatta sudah tertidur lelap, Devan menyibakkan rambut Renatta yang menutupi keningnya dan mencium kening Renatta lama.


"Selamat tidur" Ucapnya kemudian mengikuti Renatta menuju alam mimpinya.


^^^Flashback Off^^^


Saat sudah berhasil lepas dari pelukan Devan, dia segera melihat ponselnya dan menyalakannya, terlihat terdapat banyak sekali pesan yang masuk dan juga panggilan tidak terjawab terutama dari kakaknya, papahnya dan juga mamahnya, juga tidak lupa kedua anaknya yang mengiriminya lebih dari puluhan pesan.


Astaga pasti semua orang mengkhawatirkannya, akhirnya dia menelfon kedua anaknya dan tidak lama kemudian panggilan telfonnya di angkat.

__ADS_1


"Hallo mah" Ucap Zio di seberang telfon


"Astaga Zio, maafkan mamah, karena baru menghubungi kalian sekarang" Ucapnya


"Mamah sekarang dimana? Zia dan Kak Zio khawatir terjadi sesuatu dengan mamah, Oma, Opa dan Om Raka juga khawatir dengan mamah"


"Maafkan mamah sayang, sebentar lagi mamah pulang, maaf mamah tidak bisa mengantar kalian ke sekolah" Ucap Renatta penuh penyesalan.


"Iya mah tidak apa apa, mamah cepat pulang ya, see you mah" Ucap Zio di seberang telfon.


"See you too sayang" Balasnya.


Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Devan yang sudah bangun dari tidurnya dan menatapnya tajam.


DEG


Astaga, Apa mungkin Devan tadi mendengar pembicaraannya dengan anaknya.


...🍃🍃🍃...


Balik lagi malam - malam🦇


Sebenernya udah ngantuk banget mau lanjut ngetik, tapi tadi udah janji kalau malam ini bakal update lagi, jadi ya ngetik sambil ngopi biar nggak ngantuk dan akhirnya bisa tepati janji update..........


Mulai Bab selanjutnya Renatta sama Devan udah mulai baikan lagi, walau masih ada perdebatan sedikit, mau kasih mereka kebahagiaan dulu 🥳🥳, sebelum menuju konflik yang sesungguhnya😌


Untuk proses pembuatan adiknya si kembar di batalin dulu di Bab ini, nanti di buat di bab - bab yang akan datang, tenang nanti di kasih yang hot ☕....


Selamat tidur gaes🌛🌜


Happy Reading......


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2