
Nicholas sudah kembali lagi ke ruangannya, dia membiarkan Karin pergi tanpa berniat untuk mencegahnya, saat memeriksa kaki Renatta, Nicholas lebih banyak diam, dia seolah melupakan apa yang dia ucapan barusan kepada Renatta.
Sedangkan Renatta ingin menanyakan hubungan ala yang terjalin antara Nicholas dan Karin, dari yang di lihatnya, dia yakin kalau pernah ada hubungan spesial antara mereka.
"Nich, kamu dan Karin saling mengenal?" Tanyanya pada Nicholas
Nicholas sedikit tersentak lalu menatap ke arah Renatta "Kaki kamu sudah mulai membaik, mungkin dalam waktu dekat kamu sudah mulai bisa berjalan kembali" di alihkan nya pertanyaan yang di ucapkan Renatta.
Merasa kesal karena pertanyaannya tidak di jawab, Renatta menarik ujung pakaian dokter Nicholas "Aku bertanya sama kamu Nich, jangan mengalihkan pembicaraan, Nicholas yang aku kenal tidak pernah mengalihkan pembicaraan seperti ini" Ucapnya
Setelah terdiam cukup lama, dia menatap Renatta dalam "Kami sudah saling mengenal sejak dulu" Jawabnya.
"Lalu kenapa Karin seolah menghindar saat melihat keberadaan kamu?"
"Aku sudah melakukan kesalahan besar yang kemungkinan akan sangat sulit untuk di maafkan" Ingatan Nicholas berputar pada masa di mana dengan teganya dia mencampakkan Karin di depan teman - temannya bahkan setelahnya dia tidak berniat untuk mengejar Karin ataupun meminta maaf kepada Karin.
"Jangan bilang penyebab depresi Karin selama ini adalah kamu" Di tatapnya Nicholas dengan raut wajah tidak percaya.
"Depresi?" Tanyanya.
"Dulu Karin pernah mengalami Depresi dan kecelakaan yang cukup parah, setelah bangun dari komanya Karin lebih banyak pendiam" Jelasnya kepada Nicholas.
Mendengar itu semua, membuat pikiran Nicholas menjadi blank DNA kosong, dia berusaha mengaitkan ucapan Karin tadi dan juga sesuatu yang pernah dia lakukan kepada Karin di masa lalu.
"Aaakkuu... akan mengantarkan kamu pulang, aku harus segera pergi ke suatu tempat"
"Tidak perlu aku bisa menelfon sopir kembali untuk menjemputku di sini" Ucapnya, dia ingin bertanya kepada Nicholas banyak hal tentang masa lalunya bersama Karin tapi melihat Nicholas yang seperti ini membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Sesuai permintaan Karin, dia datang pada pemakaman yang di beritahunya tadi, dia masih berjalan menyusuri makan dan mencari makam yang bertuliskan Mikaela Alexander.
Lama dia mencarinya akhirnya dia menemukannya, Nicholas berjongkok di samping makan yang di penuhi dengan bunga lily, jantung Nicholas berdetak kencang saat melihat ada namanya juga yang tertulis di sana.
FlashBack On
Setelah melakukan suatu hal yang seharusnya tidak di lakukan, khususnya bagi Karin yang usianya masih 18 tahun, Nicholas dan Karin hanya berdiam diri di atas tempat tidur dengan tubuh yang masih dalam kondisi naked.
"Kak Nich, mau bertanggung jawab kan jika suatu saat nanti aku hamil" Tanya Karin yang menyandarkan kepalnya di dada Nicholas.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan tanggung jawab, tapi kamu tidak perlu khawatir, aku yakin kamu tidak mungkin hamil, kita hanya melakukannya cuma sekali" Di usapnya rambut Karin pelan.
"Oh ya Kak Nich kalau nanti punya anak mau kakak kasih nama siapa" Tanyanya kepada Nicholas
"Kalau perempuan Mikaela, kalau laki - laki Mike" Jawabnya "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Karin menggelengkan kepalanya "Hanya ingin bertanya saja" Jawabnya singkat.
"Ah iya, aku harus segera kembali ke apartemen" Nicholas turun dari ranjang memakai semua pakaiannya kembali "Aku akan menunggu kamu di ruang tamu, cepat pakai semua pakaian kamu dan aku akan mengantarkannya pulang" Perintahnya yang hanya di angguki oleh Karin.
"Yah, maafkan Karin karena sudah melakukan semua ini" Sesalnya dengan mata berkaca - kaca, sejujurnya Karin menyesal sudah melakukan semua ini tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan sudah tidak ada yang bisa mengembalikan ke virginannya lagi, kini hal yang paling di banggakannya sudah di ambil oleh Nicholas, dia berharap Nicholas akan menepati janjinya dan tidak akan meninggalkannya.
seperti yang di perintahkan Nicholas dia memakai semua bajunya kembali, dia merasakan sedikit sakit saat berjalan tapi dia berusaha menahannya.
Nicholas mengantar pulang Karin tanpa mengatakan apapun, entah kenapa Karin merasa ada perubahan sikap pada Nicholas setelah kejadian barusan tetapi dia masih berusaha bersikap positif.
Hari berlalu begitu cepat hingga sudah lebih dari 3 bulan setelah kejadian dia menyerahkan kehormatannya kepada Nicholas, sikap Nicholas memang sedikit berubah tapi dia masih tetap memperhatikan keberadaan Karin walau sudah tidak seperhatian dulu saat awal awal mereka bertemu.
Saat bangun tidur tadi tubuh Karin terasa tidak enak, apalagi perutnya yang terasa seperti di aduk - aduk, dia juga ingat kalau siklus bulanannya sudah telat sejak tiga bulan lalu tetapi dia masih berusaha perfikir positif sebab dia juga sering mengalami telat saat datang bulan.
Karena rasa khawatirnya yang tidak kunjung reda dia segera beranjak dari tidurnya lalu berganti pakaian untuk pergi ke apotek membeli testpack
"Mbak saya mau membeli 2 testpack dengan merek yang berbeda" Ucapnya lirih.
Karin merasa risih saat di tatap begitu dalamnya oleh penjaga apotek tadi, setelah selesei membayar dia segera pergi untuk pulang ke rumah, kebetulan hari ini rumahnya dalam keadaan sepi karena ayahnya yang pergi bekerja dan ART nya yang memang hari ini sedang cuti.
Tangannya terus bergetar saat melihat hasil dua testpack yang ada di tangannya menunjukkan hasil positif "Tidak, ini tidak mungkin, apa yang harus aku lakukan" tubuhnya merosot bersandar di belakang pintu kamar mandi dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Kenapa kamu hadir di saat seperti ini" Di elusnya perutnya dengan pelan.
Setelah puas menangis dia segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Nicholas tapi tidak ada jawaban apapun, di usapnya air matanya dengan kasar "Aku harus segera menemui Kak Nicholas dan mengatakan semuanya kepadanya, Kak Nich pasti menepati janjinya untuk bertanggung jawab atas dirinya dan anak yang di kandungnya"
Saat sampai di depan apartemen Nicholas, Karin berusaha mengumpulkan keberanian untuk menekan bel apartemen, tapi sebelum dia menekannya, pintu apartemen terlebih dahulu terbuka menampakkan Nicholas dan beberapa temannya.
"Wahhh, siapa ini yang datang?" Ucap salah satu teman Nicholas.
Mengabaikan ucapan teman Nicholas, Karin mendekati Nicholas "Kak ada hal penting yang perlu kita bicarakan sekarang" Pintanya.
__ADS_1
"Mulai sekarang di antara kita sudah tidak ada hubungan apapun jadi berhenti menggangguku" Ucapnya dengan nada dingin yang membuat Karin tersentak kaget.
"Aapaa... maksud kakak?" Tanya nya dengan nada tidak percayanya.
Seorang perempuan mendekat ke arah Karin "Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Nicholas barusan kalau di antara kalian sudah tidak ada hubungan apapun lagi" Ucapnya sinis "Dan satu lagi yang perlu kamu tahu aku sekarang sudah menjadi pacarnya Nicholas dan kamu hanya bahan taruhan Nicholas bersama teman temannya saja, mana mungkin Nicholas menyukai perempuan seperti kamu" Lalu di apitnya tangan Nicholas oleh tangannya.
Karin menatap Nicholas sendu "Apa yang di katakan perempuan itu benar kak?" Air matanya sudah menetes kembali dengan derasnya
"Ya" Jawabnya singkat, yang membuat hati Karin seketika hancur, lalu dia berlari pergi dengan rasa sakit yang amat dalam di hatinya.
Tidak ada niatan sama sekali untuk Nicholas mengejar kepergian Karin, walaupun ada perasaan tidak nyaman saat melihat air mata kehancuran Karin tapi sisi lain egonya melarangnya untuk peduli lagi dengan Karin.
FlashBack Off
"Maaf kan papah" Ucap Nicholas di samping makam yang sudah dia pegang erat batu nisannya.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back🏃🏃
Selamat Pagi, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Aku nggak tahu ya kenapa kok part 79 bisa double padahal udah aku hapus tapi masih nggak bisa, nanti aku coba lagi deh buat hapus semoga saja sudah bisa.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....
Jika ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen....
Happy Reading
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue