
Zio dan Zia sedari tadi merengek ingin di antar ke perusahaan Devan, Renatta bukannya tidak ingin menuruti permintaan anaknya, dia hari ini juga harus segera berangkat bekerja lagi setelah menyusul kedua anaknya di sekolah tadi, mamahnya sebenarnya sempat mengusulkan kalau Zio dan Zia lebih baik di antar jemput oleh sopir pribadi saja tapi Renatta masih belum terlalu yakin untuk membiarkan orang lain yang mengantar jemput Zio dan Zia ke sekolah.
"Mah, antar Zia dan Kak Zio ke kantor papah ya" Zia memohon dengan memelas ke arah Renatta.
"Zio juga ingin bertemu papah sekarang, kami janji nggak bakal ganggu papah selama bekerja" Sahut Zio berusaha meyakinkan mamahnya
Karena tidak tega melihat anaknya sedari tadi terus memohon kepadanya, Renatta akhirnya menuruti permintaan kedua anaknya untuk mengantar mereka bertemu Devan di kantornya "Ya sudah sekarang mamah akan antar kalian ke sana"
Zio dan Zia langsung memekik bahagia saat mendengar mamahnya akan mengantar mereka ke kantor Devan.
Sesampainya di kantor Devan, Renatta hanya mengantarkan Zio dan Zia sampai lobi saja, dia tadi sudah memberi tahu Daniel, asisten Devan kalau Zio dan Zia ada di kantor ini karena ingin bertemu Devan, dia memang sengaja lebih memilih memberitahu Daniel di bandingkan Devan karena sejak kejadian di restauran kemarin sikap Devan kembali dingin lagi kepadanya, bahkan dia seolah di abaikan oleh Devan dan hanya menganggap keberadaan Zio dan Zia saja.
"Kalian duduk di sini, sebentar lagi Om Daniel akan menjemput kalian untuk bertemu papah" Ucapannya ke Zio dan Zia.
Tidak lama kemudian Daniel datang menghampiri mereka.
"Selamat Siang Nona" Sapa Daniel kepada Renatta.
"Selamat Siang Daniel, maaf karena sudah merepotkanmu, tadi Zio dan Zia memaksa ingin bertemu dengan papahnya jadi aku mengantarnya ke sini" Ucap Renatta yang merasa bersalah karena sudah merepotkan Daniel.
"Tidak masalah Nona, itu sudah tugas saya sebagai asisten pribadi Tuan Devan" Balas Daniel mendengar ucapan Renatta.
"Mamah harus kembali lagi ke kantor, ingat jangan buat masalah, nurut sama papah dan Om Daniel" Pinta Renatta kepada Zio dan Zia.
"Siap mah" Ucap mereka bersamaan.
Setelah kepergian Renatta, Daniel mengajak Zio dan Zia untuk dia antar ke ruangan Devan karena Devan saat ini sedang ada meeting penting di luar kantor"
Tiba - tiba ponsel Daniel berbunyi, dia berpamitan sebentar ke Zio dan Zia untuk mengangkat ponselnya dan menyuruh si kembar untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka berdiri.
Merasa bosan karena menunggu Daniel yang masih berbicara dengan orang yang tadi menelfonnya, Zia berinisiatif mengajak kakaknya untuk pergi ke ruangan Devan sendiri tanpa Daniel.
"Kak, kita cari ruangan papah sendiri aja, Zia bosan nungguin Om Daniel dari tadi enggak selesei - selesei nelfonnya" Ucap Zia kepada Kakaknya.
__ADS_1
"Yuk, kakak masih ingat kok dimana ruangan papah berada" Zio berdiri dari duduknya diikuti Zia, mereka berjalan masuk ke lift ketika melihat lift yang terbuka.
"Tante, Zio boleh minta tolong tekanin tombol lantai paling atas sendiri ya" Pinta Zio pada perempuan yang saat ini berdiri di samping mereka.
Perempuan tersebut tersenyum dan menekan tombol sesuai dengan permintaan Zio.
"Terima kasih Tante cantik" Ucap Zio.
Perempuan itu tersenyum malu mendengar ucapan terima kasih Zio kepadanya yang memujinya cantik, dia akui walaupun masih kecil tapi ketampanan Zio memang sudah terlihat, dia yakin kalau besar nanti pasti akan banyak perempuan yang menyukainya.
"Sama - sama manis" Balas perempuan tersebut dengan senyumannya.
Pintu lift terbuka, Zio dan Zia segera keluar dari lift lalu berjalan mencari ruang kerja Papahnya.
"Adik kecil kalian mau kemana?" Tanya Arini, sekretaris Devan.
"Kita mau bertemu dengan pemilik perusahaan ini" Ucap Zio kepada Arini
"Apa maksud kalian Pak Devan?"
"Apa kalian keponakan dari Pak Devan, di mana orang tua kalian?" Tanyanya.
Zio dan Zia menggeleng "Kita anaknya papah Devan" Ucap Zio dan Zia.
"Anak?" Tanyanya " Maaf ya dek, Pak Devan belum menikah jadi tidak mungkin kalau Pak Devan sudah mempunyai seorang anak"
"Tapi kita memang anaknya papah Devan Tante" Ucap Zia kesal "Jadi tolong antarkan Zia dan Kak Zio untuk ke ruangan papah" Pinta Zia.
Arini mengabaikan perkataan Zio dan Zia, dia mengajak Zio dan Zia untuk turun lagi ke lantai bawah melalui lift.
"Lepas in Zio sama Zia Tante" Ucap Zio yang berusaha memberontak dari genggaman Arini.
"Tenang ya, Tante akan antar kamu ke lantai bawah, ke bagian informasi mungkin kalian tersesat di kantor ini" Arini berusaha membujuk Zio dan Zia agar menuruti perkataannya, dia sudah terbiasa dengan orang orang yang mengaku ngaku sebagai orang terdekat Devan, dulu juga pernah ada yang mengaku sebagai istrinya Devan maupun sebagai pacarnya Devan, dan sekarang ada 2 anak yang tiba - tiba mengaku sebagai anak dari Devan.
__ADS_1
Zio dan Zia masih terus memberontak ingin lepas dari genggaman tangan Arini.
"Tante, tangan Zia sakit" Ucap Zia dengan mata berkaca - kaca.
"Pak ini bagaimana bisa ada dua anak kecil masuk sampai lantai atas dan mengaku - ngaku sebagai anaknya Pak Devan" Ucap Arini menyerahkan Zio dan Zia kepada satpam.
"Mereka memang ke dua anak kandung saya" Ucap Devan lantang, yang membuat semua orang melihat ke arah Devan dan menunduk hormat kepadanya.
Zio dan Zia yang melihat kehadiran Devan segera berlari ke arah Devan "Pah Zia takut" Zia memeluk kaki Devan erat.
"Zio juga, tadi tante itu mengusir Zio dan Zia saat mau masuk ke ruangan papah" Sahut Zio.
Devan yang tadi baru saja keluar dari mobil awalnya tidak peduli melihat keributan yang terjadi karena menurutnya itu sudah biasa terjadi, apalagi banyaknya anak dari rekan bisnisnya yang di suruh ke kantornya hanya untuk menggodanya agar mau bekerja sama dengan mereka ataupun mau menawarkan diri untuk melakukan one night stand kepadanya.
Tetapi saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan salah satu karyawan yang mengatakan kalau ada dua anak kecil yang mengaku sebagai anaknya datang lagi ke sini, dia segera menghampiri keributan yang sedang terjadi di kantornya, dia juga baru mengingat kalau tadi Daniel sempat memberitahunya kalau Zio dan Zia datang ke kantor mencarinya.
Ternyata benar yang mereka bicarakan adalah Zio dan Zia, melihat Zio dan Zia seperti orang ketakutan dengan mata berkaca - kaca membuat Devan marah apalagi mendengar perkataan yang di ucapkan Arini, sekretarisnya.
Devan menggendong kedua anaknya, kemudian Zio dan Zia menyembunyikan kepalanya di dada Devan.
Tidak lama kemudian Daniel datang dan meminta maaf karena lalai dalam menjaga Zio dan Zia hingga membuat hal seperti ini terjadi.
"Dan untuk kamu Arini, saya memang berbaik hati memberikan pekerjaan ini ke kamu tapi bukan berarti itu membuat kamu menjadi semena - mena di sini" Devan segera pergi dengan kedua anaknya menuju ruangannya.
Arini sedang menundukkan kepalannya setelah mendengar perkataan Devan, ini baru pertama kalinya dia melihat Devan yang memarahinya seperti ini, sebelumnya Devan memang tidak pernah memarahinya walaupun sifatnya terlihat sangat cuek ketika dia berusaha memberikan perhatian kepadanya, ya Arini memang menyukai Devan bahkan sejak pertama kali Devan menolongnya.
Sedangkan orang - orang yang ada di kantor ini merasa terkejut mendengar fakta kalau pemilik perusahaan tempat mereka bekerja ternyata sudah memiliki seorang anak padahal yang mereka tahu selama ini atasannya itu belum pernah menikah.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue