Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Cemburu Tingkat Akut


__ADS_3

"Dev aku bisa melakukannya sendiri" Renatta berusaha mengambil piring makan yang saat ini di pegang oleh Devan


"Aku tetap akan menyuapi kamu, jadi diamlah Re" di sodorkannya sendok yang sudah berisi nasi ke arah Renatta.


Walaupun Renatta enggan menerima suapan nasi dari Devan tapi dia tetap membuka mulutnya karena dia tidak ingin mendengar Omelan Devan yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Aku sudah kenyang Dev" Mendengar gerutuan Renatta, Devan menghentikan suapannya kepada Renatta lalu dia mengambilkan air minum untuk diberikannya kepada Renatta


Lama mereka terdiam, akhirnya Devan berdiri dari duduknya "Aku akan pulang sebentar Re, aku akan menjemput Zio dan Zia lalu membawanya ke sini, aku tadi sudah menelfon kedua orang tua kamu untuk menemani kamu selama aku pulang" Devan menghela nafasnya pelan ketika Renatta mengabaikannya lagi.


Devan mendekat ke arah Renatta, seperti biasa di mencium kening Renatta, tapi kali ini dia menciumnya sedikit lama "Aku sama seperti kamu Re, aku juga sangat kehilangan anak kita tapi aku mohon tolong jangan bersikap seperti ini kepadaku" Setelah mengatakan itu Devan keluar dari ruang rawat Renatta.


"Aku hanya ingin mendengar kamu menjelaskan semuanya kepadaku Dev, bukan malah tetap diam seperti ini" Ucapnya pelan melihat kepergian Devan.


Sedangkan Aline yang mengetahui kabar kecelakaan yang terjadi pada Renatta, berinisiatif menjenguk Renatta ke ruangannya tetapi dia tidak sengaja berpaspasan dengan Devan yang baru saja keluar dari ruang rawat inap Renatta.


Melihat Aline yang akan masuk mengunjungi Renatta, Devan terlebih dahulu menyeret tubuh Aline dan memojokkannya di salah satu lorong sepi di rumah sakit, dia menatap tajam ke arah Aline yang seketika membuat perasaan Aline menjadi tidak enak.


"Apa saja yang sudah kamu katakan kepada Renatta?" di pojokkannya tubuh Aline ke dinding.


Aline masih diam saja tidak berani melihat ke arah wajah Devan yang sudah penuh amarah "AKU TANYA SEKALI LAGI SAMA KAMU, APA YANG SUDAH KAMU KATAKAN KEPADA RENATTA" di cengkram nya pundak Aline dengan erat.


"Aakkuu... tidak mengatakan apapun kepadanya Dev, aku hanya mengobrol biasa kepadanya" Jawabnya dengan gugup karena dia takut dengan tatapan Devan kepadanya saat ini.


Devan melepaskan cengkraman tangannya di bahu Aline, lalu beralih mencengkram kedua pipi Aline "Kalau kamu tidak menceritakan apapun kepada Renatta, tidak mungkin Renatta mengalami kecelakaan seperti ini dan kita tidak harus kehilangan anak yang sangat aku nantikan" Devan meninggikan intonasi suaranya kepada Aline.


Awalnya dia sedikit terkejut saat mengetahui kalau kandungan Renatta tidak bisa bertahan tetapi dia tidak bisa memungkiri kalau dia bahagia mendengar kabar tersebut, itu artinya dia sudah menyingkirkan satu penghalang lagi yang akan membuat Angel kehilangan kasih sayang dari Devan.


"Tapi aku memang tidak mengatakan apapun kepada Renatta Dev, aku bahkan tidak tahu kalau Renatta mengalami kecelakaan, aku turut bersedih atas meninggalnya anak kalian" Alibinya kepada Devan, tentu saja hal itu tidak akan dengan mudah di percayai oleh Devan.


"Dengar kan aku Lin, walaupun aku terlihat peduli dengan kamu dan Angel selama ini, bukan berarti kamu bisa melebihi batasanmu, jangan membuat aku benar - benar menunjukkan siapa diriku sebenarnya" Devan beranjak meninggalkan Aline


Langkahnya berhenti saat Aline berteriak kepadanya "Tapi kamu juga harus ingat kalau Angel itu anak kamu Dev, anak kandung kamu"


Langkahnya berhenti lalu dia menoleh sekilas ke arah Aline "Benarkah, ah tentu saja aku tidak akan melupakannya kalau Angel itu anakku" Ucapnya dengan nada mengejeknya.

__ADS_1


Tidak jauh dari tempat Devan dan Aline berbicara, terlihat Nicholas tanpa sengaja mendengar percakapan antara Devan dan Aline.


"Apa hal ini yang menyebabkan Renatta menjadi seperti ini, jadi semua dugaannya kepada Devan benar" Ucapnya kepada dirinya sendiri, sungguh hal yang sulit di percaya oleh Nicholas kalau ternyata Devan punya anak lain selain dari Renatta, apa selama ini Nicholas salah sudah melepaskan Renatta untuk Devan atau dia sekarang harus mulai memperjuangkan Renatta kembali.


.


.


.


Devan sangat membenci apa yang di lihatnya saat ini, lagi dan lagi saat dia masuk ke ruang rawat inap Renatta bukan kedua mertuanya yang menunggu Renatta di dalam tetapi justru Nicholas yang menemani Renatta saat ini, apalagi Zio dan Zia terlihat begitu akrab dengan Nicholas.


"Om, Zia rindu tau sama Om Nicholas padahal dulu Om sering main ke rumah saat masih di New York tetapi sekarang Om jarang banget main lagi sama Zia dan Kak Zio" Ucapnya yang sudah duduk di pangkuan Nicholas.


Devan menatap tidak suka dengan perkataan yang di ucapkan Zia barusan, tadi anaknya bilang kalau Nicholas sering main ke rumah mereka itu berarti Nicholas juga sering bertemu dengan Renatta, tentu saja dia sangat benci mengetahui fakta tersebut.


"Iya, Zio juga sangat rindu sekali dengan Om Nicholas, padahal Om sudah janji mau ajak Zio dan Zia pergi jalan - jalan" Sahut Zio.


Devan melirik ke arah Renatta yang justru tersenyum manis ke arah Nicholas, keberadaannya seperti tidak di anggap di sini kalau bukan karena ingin mengantisipasi kalau Nicholas ingin merayu Renatta lagi, dia pasti sudah pergi atau bahkan hal buruknya dia akan memukul wajah Nicholas yang menyebalkan.


Zia menoleh ke arah Devan yang sedang menahan kesal melihat keakraban kedua anaknya dengan Nicholas "Kenapa pipi papah merah" Tanya Zia dengan khawatir, dia turun dari pangkuan Nicholas untuk menghampiri Devan "Papah sakit?" Tanyanya memegang pipi Devan.


"Kalau papah sakit, papah lebih baik pulang saja untuk tidur, biar mamah di jagain oleh Zia, Kak Zio, dan Om Nicholas, Iya kan Kak?" yang di angguki oleh Zio.


"Kalau kamu sakit atau kurang tidur lebih baik kamu menuruti perkataan Zia Dev" Ucap Renatta dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Aku akan tetapi di sini, menjaga kamu dan anak - anak" Dilihatnya Nicholas yang tidak terlalu menanggapi perkataan Devan, sedangkan Renatta hanya mengedikkan bahunya saja.


Seorang suster masuk ke dalam ruang rawat inap Renatta mengantarkan makan siang untuk Renatta, saat Devan akan mengambil alih makanan yang di bawa suster tersebut, tetapi Nicholas terlebih dahulu mengambilnya.


"Kamu apa - apa an hah" Ucap Devan dengan nada kemarahannya.


"Aku hanya menuruti permintaan Renatta yang ingin aku suapi makan lagi"


"Iya Dev, kamu bilang tadi kurang enak badan lebih baik kamu istirahat, biar Nicholas yang menyuapiku makan"

__ADS_1


"Itu tidak perlu, aku suami kamu jadi aku yang lebih berhak untuk menyuapi kamu makan"


"Tapi..." Ucapan Renatta terputus saat Zia menyerahkan kotak bekalnya yang dia bawa dari mansion tadi kepada Devan


"Papah suapin Zia makan ya, biar mamah di suapi sama On Nicholas" Belum sampai dia membalas ucapan Zia, dia sudah terlebih dahulu di seret ke sofa untuk menyuapi Zia.


Berkali - kali dia tidak fokus menyuapi Zia makan karena konsentrasinya terbagi saat melihat Nicholas tertawa bahagia dengan Renatta di sela makannya.


Baiklah Devan akui dia saat ini sangat cemburu dengan pemandangan di depannya, ingat untuk pertama kalinya seorang Devan mengakui kecemburuannya kepada apa yang dia lihat saat ini.


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Hallo author come back๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Yang kesel sama Devan bukan kalian aja kok, Author juga kesel banget sama Devan, apa susahnya sih buat ngejelasin semuanya ke Renatta, kebanyakan nunda entar Renattanya di ambil sama Nicholas nanges๐ŸŒš๐Ÿ˜Œ


Tapi tenang, bab selanjutnya Devan sudah menjelaskan semuanya kepada Renatta, tapiii......


Tapi nya nanti dilihat di bab selanjutnya aja, spoiler judulnya bab selanjutnya adalah "Pengakuan Devan"


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen ya.....


Mohon koreksinya jika ada typo dan kesalahan dalam penulisan...


Happy Reading


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2