Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Kesadaran


__ADS_3

Dengan sabar Devan mengusap punggung tangan Renatta dengan air bersih, kini sudah lebih dari 6 bulan Renatta terbaring tidak sadarkan diri sejak dia nyatakan koma, sejak saat itu pula Devan harus membagi waktunya untuk melihat perkembangan kondisi Renatta


"Pulanglah Dev, biarkan mamah yang menjaga Renatta di sini, sudah dari semalam kamu tidak pulang pasti Zio dan Zia bingung mencari keberadaan kamu"


"Aku titip Renatta ya mah, setelah pulang kerja aku akan mampir ke sini lagi" Devan melepas tangan nya dari tangan Renatta, sebenarnya dia masih ingin menjaga Renatta di sini tapi dia tidak boleh egois sebab ada ketiga anaknya yang juga membutuhkan dirinya di rumah.


"Hati - hati Dev" Devan hanya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan mamah mertuanya.


Di sepanjang lorong rumah sakit Devan tidak bisa berjalan dengan benar, sesekali langkahnya terasa berat, ada rasa takut jika dia meninggalkan Renatta akan ada hal buruk yang kelak akan membuatnya menyesal.


Saat bekerja pun Devan tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, hingga beberapa kali Daniel harus menggantikan Devan untuk memimpin rapat.


"Maaf tuan, besok anda harus pergi ke Bali untuk mendatangi peresmian salah satu hotel yang bekerja sama dengan perusahaan kita" Ucap Daniel yang membuyarkan lamunan Devan.


Devan menolehkan kepalanya menghadap Daniel "Aku tidak bisa meninggalkan Renatta sendiri" Jawabnya singkat.


Daniel menghela nafasnya pelan, dia sejujurnya sudah tahu pasti Devan akan memberikan jawaban seperti itu "Tapi ini sangat penting pak, kalau bukan anda sendiri yang datang maka pihak hotel akan menunda peresmian hotel, tentu hal itu akan mempengaruhi nama baik perusahaan kita yang bisa saja di anggap kurang kompeten dalam bekerja sama" Jelasnya pada Devan.


Lama Devan berfikir akhirnya dia memutuskan untuk menghadirinya besok "Baiklah aku akan datang"


Devan beranjak dari duduknya untuk segera pulang ke rumah, dia sudah sangat merindukan ketiga anaknya apalagi sudah dari kemarin mereka tidak bertemu.


Sesampainya di mansion dia di sambut oleh Zio dan Zia yang bermain di taman depan "Sini, peluk papah" Panggil Devan membuka kedua tangannya agar Zio dan Zia bisa masuk ke dalam pelukannya.


"Zia rindu banget sama papah, kenapa papah tadi malam tidak pulang sih?" Tanya Zia dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


"Maafkan papah ya sayang, kemarin papah nemenin mamah di rumah sakit" Jawab Devan mengusap rambut Zia penuh sayang.


"Zio ingin bertemu mamah pah, Zio sangat rindu mamah" Di eratkannya pelukannya di tubuh papahnya untuk menyalurkan rasa sedihnya yang diam - diam Zio pendam selama ini atas rasa kehilangan akan sosok mamahnya yang dulu selalu ada untuknya dan Zia.


"Nanti kapan - kapan kita jenguk mamah ya, maaf karena papah tidak bisa mengizinkan kalian terlalu sering melihat mamah karena suasana rumah sakit tidak baik untuk anak sekecil kalian" Jelasnya kepada Zio dan Zia, terkadang Devan juga merasa bersalah karena sudah membuat Renatta berbaring di rumah sakit, kalau dulu dia tahu jika sampai Renatta hamil lagi akan mengalami pendarahan tentu saja dia tidak akan meminta anak lagi dari Renatta tetapi di satu sisi dia juga bersyukur dengan kehadiran anak ke tiga mereka yang begitu mirip dengan Renatta membuat suasana mansion mereka lebih berwarna dengan suara seorang anak kecil.


"Kamu sudah pulang Dev" Vira menghampiri Devan


"Zea di mana Bu?" Tanya Devan mencari keberadaan anak ke tiganya.

__ADS_1


"Anak kamu hari ini agak rewel, dan baru saja bisa tidur dengan tenang" Jawab Vira.


"Terima kasih karena sudah membantuku menjaga Zea, maafkan Devan karena harus menyusahkan ibu lagi"


"Ibu justru senang bisa merawat Zea, bagi ibu dia sama seperti waktu kamu kecil dulu" Di tatapnya wajah putranya yang terlihat lebih tirus dan tidak terawat sejak Renatta di nyatakan koma di rumah sakit.


.


.


.


Sudah tiga hari Devan berada di Bali, ternyata bukan hanya acara peresmian yang di hadiri Devan tapi juga beberapa acara penting lainnya untuk kerja sama perusahaannya, dan sudah sejak kemarin tidak ada kabar apapun mengenai Renatta, bahkan hari ini mendadak ponsel ibunya tidak bisa di hubungi, karena rasa khawatirnya yang semakin tidak bisa di kendalikan dia terpaksa memajukan jadwal kepulangannya yang seharusnya besok pagi menjadi malam ini juga.


Tempat pertama yang di tuju setelah sesampainya di Jakarta adalah rumah sakit, dengan sedikit berlari dia menuju kamar perawatan Renatta, saat membuka kamar perawatan Renatta dia tidak menemukan siapapun di dalamnya hal itu membuatnya semakin cemas karena alat - alat yang di gunakan untuk menopang hidup Renatta juga sudah tidak berada di dalam.


Saat dia masih fokus untuk mencari Renatta tiba - tiba panggilan seseorang menghentikan langkahnya "Dev" Ucapnya lirih.


Devan menolehkan kepalanya, tidak lama senyum bahagia muncul dari raut wajahnya


Renatta yang duduk di atas kursi roda dengan Sherly yang mendorongnya tersenyum ke arah Devan.


"Kamu sudah sadar Re, sungguh aku masih tidak percaya kalau pada akhirnya kamu membuka mata kamu" Pelukan Devan di Renatta semakin erat.


Renatta membalas pelukan Devan, dia memang sudar sadar sejak di mana keberangkatan Devan ke Bali, dia memang menyuruh semua orang untuk menyembunyikan nya dari Devan.


Dia sebenarnya sudah menyiapkan kejutan untuk kepulangan Devan besok, tapi dia justru di kejutkan dengan kepulangan Devan yang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.


"Aku juga tidak percaya kalau bisa koma lebih dari enam bulan, aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah putri kita Dev"


Devan melepaskan pelukannya "Dia sangat cantik, sama seperti kamu Re" Di usapnya pelan pipi pucat Renatta.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dia" Mata Renatta berkaca - kaca "Siapa namanya Dev?" Tanya Renatta.


"Zea Azalea Assyifa Abimana" Jawab Devan kepada Renatta.

__ADS_1


"Namanya sangat cantik Dev, aku sangat suka" Pujinya "Aku juga sangat merindukan Zio dan Zia" Kesedihan Renatta tiba - tiba muncul saya mengingat kedua anaknya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Zio dan Zia pasti senang melihat mamahnya akhirnya membuka mata" Jelas Devan.


Sherly sudah berlalu pergi meninggalkan Devan dan Renatta di dalam ruang perawatan berdua.


Renatta menyandarkan kepalanya di pundak Devan "Jangan pernah membuatku takut lagi Re, kamu tidak tahu seberapa beratnya hidupku saat melihat kamu berbaring koma seperti itu"


"Maaf, karena sudah membuat kamu khawatir, aku janji setelah ini aku tidak akan membuat kamu cemas lagi" Renatta tersenyum ke arah Devan.


"Justru aku yang seharusnya meminta maaf dan berterima kasih karena sudah mau bertahan sampai hari ini"


Renatta menganggukkan kepalanya, tidak lama matanya mulai terpejam karena rasa kantuknya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back 🏃🏃


Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....


Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...


Happy Reading


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2