
Terdengar suara derap langkah memasuki sebuah rumah lama yang masih terlihat terawat dengan baik, seorang laki - laki tampak memandang sebuah bingkai yang di dalamnya terdapat sebuah foto perempuan yang tersenyum bahagia dengan membawa boneka pemberiannya.
Dia menatap sendu pada foto tersebut, semua kenangan di masa lalunya muncul memenuhi kepalanya, rasa bersalah terus mengahantuinya, andai saja saat itu dia tidak melakukan kesalahan fatal mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Aku tidak menyangka sudah 7 tahun kamu pergi tanpa kabar meninggalkanku" dia mengusap foto yang masih tergantung rapi di dinding tembok rumah tersebut.
"Maaf jika dulu aku sudah mempermainkan kamu dan membuat kamu terluka, sekarang aku mendapatkan karma dari perbuatan ku dulu kepada kamu, orang yang aku cintai tidak akan pernah bisa aku miliki begitupun yang dulu pernah kamu rasakan akibat ulahku"
Bayangan saat dia menyakiti seorang perempuan yang dengan tega dia sakiti, di mana dia menjadikan perempuan tersebut sebagai bahan taruhannya bersama teman - temannya.
Sebelum pergi meninggalkan rumah yang menjadi saksi bagaimana dia merenggut kehormatan seorang perempuan, dia menolehkan kembali kepalanya untuk sekali lagi memandang foto tersebut.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi dan aku ingin meminta maaf atas semua perbuatan yang pernah aku lakukan kepada kamu" lalu berjalan keluar menutup kembali ruangan tersebut.
.
.
.
Sejak tadi Renatta tidak bisa benar - benar fokus dengan pekerjaannya, perkataan Nicholas mengenai Devan sangat mengganggu pikirannya, di mejanya bahkan sudah berserakan desain baju yang gagal dia buat.
"Rasanya, aku ingin ke kantornya Devan sekarang juga untuk meminta penjelasan mengenai alasannya pergi ke rumah sakit waktu itu" Ujar Renatta.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, akhirnya dia memilih untuk menemui Devan di kantornya.
Renatta memasuki mobilnya menuju kantor Devan, di tengah perjalanan dia sempat memberhentikan mobilnya saat dia melihat seorang perempuan yang baru saja keluar dari toko bunga "Bukankah itu Karin"
Dia segera turun dari mobilnya lalu menghampiri perempuan yang sedang duduk di kursi depan toko bunga
"Karin" Panggil Renatta saat sudah berada di depan perempuan itu
"Kak Re" Balasnya lalu memeluk tubuh Renatta "Aku sangat merindukan Kak Re" Ujarnya.
"Aku juga sangat merindukan kamu" mereka melepaskan pelukannya lalu saling duduk berjejer menghadap jalan raya.
"Kakak, kemana saja, sudah lama sekali aku tidak bertemu Kak Re"
__ADS_1
"Aku pergi ke New York, bagaimana keadaan kamu?, terakhir aku bertemu Om Regan dia mengatakan kalau kondisi kamu sekarang sudah mulai membaik" Renatta bisa melihat sudah ada keceriaan di mata redup Karin yang dulu dia perlihatkan.
"Aku sudah sangat baik Kak, mungkin hanya perlu sedikit waktu lagi semuanya akan kembali pulih"
Renatta ikut senang melihat Karin yang sudah mulai seperti dulu lagi, Karin yang ceria dan selalu menunjukkan senyumnya ke semua orang.
"Kamu beli bunga untuk siapa?" Tanya Renatta saat melihat bunga lily yang di pegang Karin.
"Ah, ini bunga untuk orang yang sangat berharga di hidup aku kak" Senyumnya kepada Renatta.
Renatta tidak bertanya lebih jauh lagi tentang orang spesial yang di maksudkan oleh Karin sebab saat ini yang dia pikirkan hanya segera sampai di kantor milik suaminya.
Sebelum Renatta pergi dia memberikan kartu namanya kepada Karin "Kalau begitu aku pergi dulu ya, kapan - kapan kita bertemu lagi, ini kartu namaku nanti kamu bisa menghubungiku menggunakan nomer yang tertulis di situ" Karin menerima kartu nama pemberian Renatta.
Setelah kepergian Renatta, Karin masuk ke dalam taksi yang tadi di pesannya, dia mencium aroma bunga lily favoritnya, Karin sudah sampai di tempat tujuannya, dia mencari batu nisan yang bertuliskan nama mending anaknya.
"Bunda datang lagi membawa bunga Lily kesukaan bunda, semoga kamu juga suka dengan bunga Lily ini" Karin menaruh bunga lily yang tadi di belinya.
"Maafkan bunda yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, andai saja bunda tidak melakukan kecerobohan itu, mungkin saat ini kamu masih berada di samping bunda".
"Bunda sayang sama kamu nak" Karin menyenderkan kepalanya di atas makam anaknya, hal ini sudah sering dia lakukan saat hatinya merasa tidak tenang, atau ketika anaknya muncul di dalam mimpinya.
Andai saja saat itu dia bisa mengesampingkan amarahnya dan emosinya, kecelakaan itu tidak akan terjadi dan pasti saat ini anaknya sudah besar dan bisa menggenggam tangannya erat.
"Suatu saat nanti, bunda pasti memperkenalkan kamu dengan ayah kamu, tapi untuk saat ini bunda belum siap jika harus menyebut namanya lagi" Lirihnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
.
.
.
Renatta terkejut saat Devan memeluknya dari belakang "Saat Daniel mengatakan kamu ada di ruangan ku, aku menyuruh Daniel untuk menggantikan ku untuk bertemu dengan client ku Re" dia mengecup leher Renatta singkat lalu melepas pelukannya.
Mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Devan, Renatta masih diam belum mengatakan apapun kepada Devan.
Devan yang menatap Renatta hanya diam saja sedari tadi membuatnya merasa bingung.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kamu katakan Re, karena tidak biasanya kamu datang ke kantorku tanpa memberitahuku terlebih dahulu"
"Memang ada yang ingin aku katakan, tapi aku harap kamu jujur dalam menjawabnya, aku tidak mau ada kebohongan yang kamu tutupi"
"Katakan apa yang ingin kamu tanyakan?, jangan membuatku penasaran"
Renatta menyerahkan ponselnya kepada Devan "Siapa bayi yang ada dalam gendongan kamu itu Dev, dan tadi saat aku bertemu Nicholas dia mengatakan kalau tidak sengaja melihat kamu berada di rumah sakit dengan menggunakan masker wajah dan kacamata hitam, apa ada yang kamu tutupi dari aku?" Tanyanya
Devan tidak terkejut lagi, mendengar pertanyaan Renatta, dia memang tahu kalau pada saat dia di rumah sakit ada Nicholas yang melihatnya keluar dari kamar inap Angel karena dia juga sempat melihat Nicholas dengan pakaian dokternya berada di sekitar ruangan tersebut dan untuk foto yang saat ini di tunjukkan Renatta kepadanya pasti kiriman dari Aline, sesuai dugaannya cepat atau lambat Aline pasti akan berusaha memberitahu Renatta yang sebenarnya.
"Itu anak teman aku, kamu tidak perlu berfikir macam - macam Re" Alibinya pada Renatta.
"kamu tidak sedang berbohong kan?" Selidiknya "Lalu kenapa dia mengirimkannya fotonya kepadaku?" Tanyanya dengan nada bingung.
"Adiknya dulu ada yang menyukaiku tapi aku tidak membalas perasaanku jadi mungkin saja dia iseng mengirim foto itu kepada kamu agar membuat kamu cemburu" Devan berharap semoga Renatta mau mempercayainya dan tidak lagi bertanya yang macam - macam megenai foto itu
...🍃🍃🍃...
Selamat malam🌜
Author balik lagi.....
Maaf ya kalau akhir - akhir cuma bisa update satu part per hari, tapi mulai besok author bakal usahain double up tapi kalau masih sibuk kemungkinan tetap satu bab setiap harinya biar kalian nggak kelamaan nunggu endingnya💫
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka dengan alur ceritanya.
Jika ada typo bisa di tulis di kolom komentar ya...
Kalau suka sama ceritanya bisa like, komen dan Vote
Happy Reading
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue