Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Pergi ke Dokter Kandungan


__ADS_3

Sejak kejadian dimana Zio dan Zia memergoki mereka sedang berciuman, Devan dan Renatta lebih berhati - hati jika ingin bermesraan maupun berciuman, sebab Zio dan Zia saat ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi apalagi setelah kejadian kemarin.


Renatta ingat bagaimana saat kedua anaknya menanyakan banyak pertanyaan kepadanya dan Devan yang membuat Renatta seolah kehabisan jawaban untuk menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Zio dan Zia.


Flashback On


"PAPAH, MAMAH, apa yang kalian lakukan" Teriak Zio dan Zia yang saat ini sudah berdiri di depan pintu kamar melihat Devan dan Renatta yang sedang berciuman.


Mendengar teriakan Zio dan Zia membuat Renatta dan Devan segera melepas ciuman mereka.


Devan berdehem berusaha untuk menghilangkan rasa terkejutnya karena kepergok kedua anaknya sedang berciuman dengan Renatta, tidak jauh berbeda dengan Renatta yang wajahnya sudah memerah akibat berusaha menahan malu karena adegan ciumannya dengan Devan di lihat oleh Zio dan Zia.


Zio dan Zia sendiri berjalan menghampiri Devan dan Renatta "Papah sama mamah tadi habis ngapain?" Tanya Zio kepada kedua orang tuanya


Renatta yang sudah mulai bisa menguasai diri kembali tersenyum ke arah kedua anaknya "Mamah sama papah enggak ngapa ngapain kok, tadi mamah hanya membantu papah untuk meniup mata papah yang kelilipan"


"Tapi kok tadi bibir mamah sama bibir papah saling menempel?" Tanya Zia yang membuat Renatta diam seketika, dia melirik ke arah Devan tetapi Devan seolah tidak berniat membantunya untuk menjawab semua pertanyaan Zio dan Zia kepada mereka.


"Iya, tadi Zio juga melihat, papah sama mamah saling menempelkan bibir, terus tadi Zio juga mendengar mamah bilang Ahhh" Sahut Zio


Sedangkan Devan sendiri hanya bisa memijit pelipisnya sebab kepalanya tiba - tiba terasa pusing kembali memikirkan jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan kedua anaknya.


Ketika Renatta masih berusaha mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan yang di lontarkan Zia dan Zio, dia bersyukur ketika Devan bisa mengalihkan pembicaraan mereka karena jujur Renatta sangat kebingungan menjawab semua pertanyaan itu apalagi untuk anak seusia Zio dan Zia.


"Zio, Zia sini, mendekat ke arah papah" Suruh Devan kepada Zio dan Zia "Sekarang Papah mau istirahat sebentar ya, kalian mau kan main di bawah terlebih dahulu bersama para pelayan, nanti biar papah suruh Om Daniel membelikan kalian mainan lagi dan mengantarkannya ke sini" Ucap Devan yang di angguki kedua anaknya, sebab Devan tahu betul kalau Zio dan Zia sangat menyukai mainan.


Tangan Zia menyentuh kening Deva "Papah masih sakit?" Tanyanya "Tubuh papah masih panas" Jawab Zia kemudian.


"Sebentar lagi demamnya juga akan turun" Jawabnya sambil memberikan senyuman manis ke Zio dan Zia


"Papah janji ya kalau sudah sembuh nanti kita main barengan lagi" Ucapnya


"Iya papah janji" Devan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Zia.


Setelah kepergian Zio dan Zia dari kamar tidur mereka, Devan menatap Renatta dengan tatapan yang sulit di artikan, Renatta yang di tatap seperti itu oleh Devan hanya bisa berusaha menetralkan detak jantung


"Apa?" Tanya Renatta kepada Devan yang masih menatapnya.

__ADS_1


Devan menarik kembali tubuh Renatta lalu mencium bibirnya lagi sekilas "Aku tidak menyangka kamu bisa seberani itu menciumku terlebih dahulu" Ucap Devan yang membuat Renatta rasanya ingin menghilang dari hadapan Devan karena rasa malu yang menjalar ke tubuhnya.


"Taa..pi, kamu yang membuat Zio dan Zia memergoki kita berciuman, coba saja kamu tidak menahanku saat ingin melepaskan ciuman tadi, semua ini tidak akan terjadi, lagian juga aku hanya ingin mencari cara agar kamu mau meminum obatnya" Alibinya agar Devan tidak memojokkannya.


Setelah mengatakan itu Renatta berjalan keluar dari kamar tetapi langkahnya berhenti mendengar ucapan Devan.


"Tapi aku menyukai caramu Re, dan kalau bukan kamu yang memulainya aku tidak akan melakukannya, seharusnya kehadiran Zio dan Zia menjadi keberuntungan untuk kamu kalau tidak bisa saja kita berakhir berjam - jam di atas tempat tidur bahkan aku bisa saja membuat kamu meneriaki namaku hingga terdengar oleh Zio dan Zia" Ucap Devan menggoda Renatta.


Renatta menghentakkan - hentakkan kakinya dengan mulutnya yang mendumel kesal saat mendengar perkataan Devan barusan, lalu dia melanjutkan langkahnya untuk keluar meninggal Devan sendirian di dalam kamar tidur.


Devan yang melihat tingkah laku Renatta hanya bisa terkekeh pelan.


Flash Back Off


.


.


.


"Hari ini aku yang akan mengantarkan kamu ke dokter kandungan" Ucap Devan yang sedang merapikan pakaian kerjanya yang sudah melekat di tubuhnya.


"Bukannya kamu hari ini ada meeting penting?" Tanya Renatta kepada Devan


"Aku bisa menemanimu setelah selesei meeting" Ucap Devan "Jam berapa kamu membuat janjinya?" Tanyanya.


"Jam satu siang, aku akan berangkat langsung setelah dari butik, kamu bisa menyusulku langsung ke rumah sakit, aku akan mengirim kartu nama dokternya nanti" Jawab Renatta yang sudah bersiap pergi.


"Kamu tidak ingin aku antar sekalian ke butik?" Tanyanya


"Tidak perlu, itu akan membuat kamu terlambat ke kantor Dev, aku bisa sendiri" Jawabnya.


Tadi Renatta sempat mengajak Sherly untuk mengantarnya check up kandungan, tetapi Devan melarang karena dia sendiri yang akan menemani Renatta untuk pergi ke dokter kandungan.


Sejak meeting tadi Devan berkali kali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dia sudah tidak sabar ingin menemani Renatta untuk check kandungan.


Tidak lama terdengar bunyi pesan masuk dari ponselnya "Baiklah rapat hari ini, kita akhiri sampai di sini, saya berharap kerja sama ini bisa berjalan dengan baik kedepannya" Ucap Devan mengakhiri rapat dengan tiba tiba.

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruang rapat tampak bingung tidak biasanya atasannya itu dengan cepat mengakhiri rapat, biasanya mereka akan melakukan rapat hingga Berjam jam untuk membahas semua proyek dan kerja sama yang di lakukan perusahaan DN Corp dan untuk pertama kalinya rapat hanya di lakukan kurang lebih satu jam, tentu hal itu membuat semua pegawai yang mengikuti rapat hari ini merasa senang.


Setelah keluar dari ruang rapat, Devan dengan cepat membuka pesan yang dikirim Renatta untuknya.


Dia terkejut membaca nama yang tertulis di dalam kartu nama yang ada di pesannya "Aline Airanita", seketika membuat jantung Devan rasanya di paksa keluar dari tempatnya, dari sekian banyak dokter yang ada, kenapa harus Aline, dokter yang akan di datangi Renatta.


Devan berusaha menelfon Renatta untuk membatalkan pertemuannya dengan Aline, dia tidak ingin mengambil resiko kalau sampai Aline mengatakan hal yang tidak- tidak kepada Renatta, tetapi sayangnya ponsel Renatta sedang tidak aktif atau hanya suara operator saja yang di dengarnya.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia bisa lebih cepat datang di Rumah Sakit sebelum Renatta.


Saat dia sudah hampir sampai di Rumah Sakit, ponselnya berbunyi memunculkan nama Renatta di layarnya


"Hallo Re, sekarang kamu dimana?" Tanyanya dengan tidak sabaran.


"Sebelumnya aku minta maaf Dev, tadi ponselku habis baterai dan aku baru bisa menchargernya saat berada di ruangannya Dokter Aline" Ucap Renatta di sebrang telfon.


DEG


"Baik kalau begitu kamu tunggu aku di sana, aku sudah sampai di depan rumah sakit" Devan memutuskan sambungan telfonnya lalu dia menyusuri koridor rumah sakit dengan sedikit berlari.


Harapannya hanya satu, semoga Aline tidak mengatakan apapun kepada Renatta.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Hallo author balik lageπŸ‘πŸ‘πŸ‘


Semoga makin suka....


Kalau ada typo dan kata yang berbelit Belit bisa di tulis di kolom komentar ya..


Happy Reading....


Kalau suka jangan lupa vote, komen dan like yaπŸ€—πŸ€—


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2