Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Rencana kuliah


__ADS_3

Usai acara resepsi yang diselenggarakan 2 hari yang lalu, hari ini Kinar di minta untuk ikut dengan Adiguna untuk melihat-lihat kantor, pabrik, perkebunan, peternakan serta beberapa aset Adiguna yang lain yang kini dalam sekejap telah berubah atas nama dirinya.


Adiguna membawa Kinar ke kantor Utamanya, memperkenalkan cucu satu-satunya itu pada beberapa orang kepercayaannya.


Disaat yang sama, Andra pun tengah berada di kantor itu, mengantarkan map dan beberapa file, pada sekertaris Adiguna, untuk sepersekian detik mata keduanya bertemu, saling tatap, lalu kemudian mengangguk samar, sama-sama meninggalkan tempat itu.


"Kita mampir kedepan ya!"


Setelah 2 jam berkeliling, Adiguna pun mengajak Kinar ke sebuah Cafe yang letaknya bersebrangan dengan kantor miliknya, ia tidak mau kalau sampai cucunya yang tengah hamil itu kecapean.


"Pesan apapun yang kamu mau nak!" Adiguna memberikan 1 lembar menu Cafe kehadapan Kinar.


"Kinar pesan minum aja kek."


"lho kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Tadi dirumah udah sarapan,"


"Beneran, nggak mau ngemil atau apa gitu?"


Kinar tersenyum lembut, "Nggak kek!"


Kinar memperhatikan cara kakeknya memakan croissant dengan begitu lahapnya, apa mungkin kakeknya itu belum sarapan batinnya.


"Mau?" tanya Adiguna saat merasakan gerakan kecil yang dilakukan Kinar.


Cepat Kinar menggeleng, lalu menyedot minumannya hingga tersisa setengah, merogoh benda pipih didalam tasnya, khawatir jika El mengiriminya sebuah pesan.


"Jadi kapan kamu mau kuliah nak?" seru Adiguna setelah menghabiskan seluruh makanannya.


"Umz, mungkin bareng El kek, mau ngambil jurusan yang sama."


"Kamu yakin, mau kuliah disaat kamu tengah hamil seperti ini?"


"Kinar yakin kek,"


"Yasudah, lebih cepat maka akan lebih baik, tapi kakek minta tetap jaga kesehatanmu ya, berhati-hatilah dalam setiap aktifitasmu, kakek tidak mau terjadi apa-apa dengan calon cicit kakek."


"Iya kek." balas Kinar sedikit menunduk, ada perasaan hangat dalam hati saat sang kakek memberikan perhatian, meski terbilang sangat sederhana.


"Oh iya kek, bolehkah Kinar bertanya sesuatu?" seru Kinar dengan penuh keraguan.


"Katakanlah!"


"Umz, apa nggak sebaiknya semua aset kakek diberikan kepada cucu kakek yang lain aja kek, karena Kinar merasa Kinar nggak berhak kek, terutama kak Andra, yang sudah membantu mengembangkan perusahaan selama beberapa tahun terakhir ini,"


Adiguna terkekeh dengan kepolosan cucunya itu.


"Kamu tidak usah khawatir nak, sebelum itu kakek sudah memikirkan nya, dan memberikan bagian yang pantas untuk Andra, begitupun untuk bayu dan adiknya."

__ADS_1


"Selama ini kakek memang sudah dibutakan oleh berbagai kebohongan Yuniar, jujur kakek kecewa, bahkan sangat kecewa, tetapi anak-anaknya tidak bersalah."


"Jadi_"


"Kamu tidak usah khawatir nak!"


**************


"Gimana tadi jalan sama kakek, seneng?" tanya El saat keduanya kini berada didalam mobil El, yang menjemputnya didepan kantor Adiguna siang ini.


Kinar mengangguk kecil, memeluk tubuh El dari samping, hingga ia bisa merasakan aroma khas tubuh El menguar memenuhi indra penciumannya.


El yang hendak melajukan kemudinya ia urungkan, membalas pelukan hangat Kinar, dan menge cup bibirnya sekilas.


"Kita lanjutin ini dirumah!" bisiknya, membuat Kinar terkekeh Dan menepuk pelan punggung tangannya.


"Oh iya udah makan belum nih anak ayah?" tanyanya, seraya mengelus perut istrinya menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk memegangi kemudi.


"Belum, mau di masakin sama ayah katanya." balas Kinar menirukan suara anak kecil. 9


El tergelak, "Masa sih, ok nanti ayah masakin."


Sesampainya dirumah, gegas El melangkah menuju dapur, mengambil beberapa bahan untuk memasak menu kesukaan Kinar, bi Rumi yang hendak ikut Membantu pun dicegahnya.


Setelah berkutat selama 30 menit, akhirnya makanan yang ia buat selesai, membuat Kinar tersenyum manis dan segera melahapnya hingga tandas.


"Sejak kenal kamu." memainkan kedua alisnya dengan mata genit.


"Ihs!"


Kemudian keduanya berjalan menuju arah kamarnya, El memilih merebahkan tubuh diatas kasur, sedangkan Kinar membersihkan tubuh nya di kamar mandi.


Tak lama kemudian Kinar keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandinya, menarik kursi lalu duduk didepan meja rias, menyisir rambut dan memoles tipis wajah cantiknya.


"Kamu makin cantik aja sih yang," El menghampirinya menelusupkan wajahnya dileher Kinar, memberi kecu pan ringan yang membuat Kinar melenguh.


Tanpa aba-aba El Mengangkat tubuh yang masih terlihat mungil itu keatas kasur, menghujaninya dengan sentuhan lembut nan memabukkan, menyalurkan seluruh cinta yang bertambah setiap harinya.


Beberapa saat kemudian, erangan dan desa han panjang keduanya menggema didalam kamar itu, bergerak cepat untuk sampai dipuncaknya bersama-sama, hingga keduanya terkulai lemas bermandikan keringat.


*********


"Kagak ngeluyur lo!" Satya melempar bantal kecil kepangkuan Satria yang sedang duduk santai memainkan gitar diatas sofa.


"Males!" balasnya tanpa menoleh kearah Satya, lalu meneguk coklat panasnya yang sudah tidak lagi panas itu.


"Abaaaangg,?" suara cempreng Cantika yang berlari dari arah luar seketika membuat kedua sang abang menoleh kearahnya dengan mata menyipit.


"Apa sih dek, kebiasaan deh teriak-teriak." protes Satria dengan nada suara yang terdengar kesal, sedangkan sang adik tak mempedulikannya, mengambil keranjang plastik, lalu mengeluarkan sesuatu dari kardus besar yang di tentengnya sejak tadi.

__ADS_1


"Bang lihat deh, lucu banget tahu ini."


Satya yang merasa penasaran dengan yang di pegang sang adik pun bergegas menghampirinya.


"Lucu sih, Beli dimana ini dek?" Satya mengambil salah satu dari 5 kelinci berwarna hitam putih dengan tubuh gembul itu dari keranjang.


"Dibeliin bunda lah, abang mau?" tawarnya, sembari mengusap-ngusap kepala salah satu kelinci yang paling besar diantara yang lainnya.


"Boleh deh, tapi kamu yang rawat ya, abang nitip maksudnya." Satya terkekeh geli, sedangkan sang adik mendengus, menatapnya kesal.


"Nggak usah deh, Tika nggak jadi ngasih abang kalau gitu!" mengambil alih kelinci dari tangan sang kakak.


"Yaudah kalau begitu abang pinjem sebentar ya dek!" melirik sekilas kearah Satria, yang kini tengah fokus dengan benda pipih ditangannya.


"Abang pinjem sebentar kelincinya ya!" ulangnya setengah berbisik, membuat sang adik menatapnya bingung.


"Bentar doang!" Satya beranjak menuju sofa dimana Satria sedang anteng memainkan game di ponselnya, meletakan kelinci tersebut di sebelah paha Satria, sedangkan Satya kembali menghampiri Cantika, menutup mulut dengan telapak tangannya sambil terkekeh.


"Abang ngapain sih, ngendap-ngendap gitu jalannya?"


"Shhhttt, bantu kakak ngitung ya, 1..2..3."


"Aaaaaa...!!" Satria melompat dari atas sofa, berlari terbirit-birit menuju depan rumahnya, membuat mang Rohadi tukang kebun dihalaman rumah buru-buru menghampirinya, dengan raut wajah yang tak kalah panik.


"Aduh den, ada apa?" tanyanya, masih dengan memegangi gunting rumput ditangannya.


"I-itu mang, Ada makhluk berbulu." balasnya dengan nafas tersengal.


"Berbulu gimana atuh den?" mang Rohadi menatapnya dengan raut wajah penasaran.


"Didalam mang, ayo ikut saya mang, bantu usir tuh makhluk!" menarik tangan mang Rohadi agar mengikutinya kedalam rumah.


"Dimana den?"


"Tuh disana!" menunjuk kearah sofa, yang sempat di dudukinya tadi.


Rohadi pun meneliti setiap sudut sofa, matanya awas mencari-cari sesosok makhluk berbulu yang dikatakan sang anak majikannya itu, hingga tatapannya terhenti pada satu makhluk berwajah imut yang sedang mengigit-gigit kaki meja yang berdekatan dengan sofa.


"Den?"


"Hmmm."


"Maksud aden, makhluk berbulu nya yang itu bukan?" telunjuknya terarah pada meja tersebut, membuat Satria seketika menjerit kembali, bahkan melompat keatas punggung mang Rohadi, membuatnya tergendong layaknya anak kecil.


Sedangkan dibelakang keduanya Satya dan Cantika tampak cekikikan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2