Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Orang yang sama


__ADS_3

"Jangan lupa susunya di minum Ji!" seperti biasa Andra selalu membuatkan susu ketika ia hendak tidur.


"Iya, makasih mas."


Tak menjawab, Andra bergegas mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya.


"Ini buat kamu."


"I-ini apa mas?"


"Saya yakin kamu pasti tahu ini apa,"


"I-iya aku tahu, tapi buat apa?"


"Sekarang dan selamanya, kamu itu akan menjadi istri saya Ji, jadi tolong gunakan kartu ini untuk kepentingan kamu dan keluarga kita, lagi pula saya sudah berjanji sama mama kamu, bahwa saya akan selalu memenuhi semua kebutuhan kamu."


"Makasih mas!" ujarnya lirih.


"Hmmmm!"


"Yasudah istirahatlah, ini sudah malam, nggak baik ibu hamil tidur terlalu larut."


"Mas?"


"Hmmm!"


"B-boleh nggak kalau besok main kerumah mama,?"


Andra terdiam sesaat, kemudian beralih kembali menatap Jihan, "Boleh, tapi harus dianter sopir ya, soalnya besok saya banyak pekerjaan."


"Iya mas, makasih!"


Setelah hampir satu bulan menikah keduanya memang masih merasa canggung, terlebih karena Andra memang lebih sibuk dengan pekerjaannya.


***********


"Kak, ikannya enak lho kak, kakak nggak mau coba?" ujar Cantika, yang saat ini tengah berada dirumah El dan Kinar, menginap bersama kedua kakak kembarnya, karena besok hari minggu.


Sementara Kinar, ia susah payah untuk tidak terlihat mual didepan adik ipar kecilnya itu, akibat aroma ikan bule bakar yang dibawa cantika diatas nampan.


"Nggak dek, buat Cantika aja ya, dede bayinya nggak mau katanya sayang."


"Emang Dede bayi udah bisa ngomong ya kak, coba dong Tika mau denger!" ujarnya yang repleks menempelkan telinganya tepat di perut Kinar yang kini sudah terlihat mulai membuncit.


"Aduhh maksudnya gini lho dek, dedenya belum bisa ngomong, tapi kakak bisa ngerasain kalau dedenya nggak mau." Kinar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pasalnya ia tengah kebingungan bagaimana cara menjelaskan pada adik ipar kecilnya itu.


Namun saat melihat reaksi Cantika yang mengangguk kecil, membuat Kinar akhirnya bisa bernafas lega.


"Kenapa sayang?" El yang sejak tadi memperhatikan Kinar menutup mulutnya, memutuskan untuk menghampiri istri kesayangan nya itu.


"Aku nggak tahan sama bau ikannya bang, tapi kasian Cantika!" bisiknya.

__ADS_1


"Oh, yaudah kamu pindah ke deket Satria aja, biar aku yang ajak obrol Cantika ya!"


"Hmmm."


"Gimana dek, ikannya enak?" tanya El, yang kini ikut mencuil daging ikan dari piring Cantika, sedangkan Kinar sudah pindah ke deket Satria yang sedang menghitung biji jagung bakar yang sudah di pretelinya menggunakan tangannya.


"Mau kak?" tanya Satria saat tanpa sengaja melihat gerakan kecil Kinar.


"Gue potekin ya!"


"Eh nggak jangan!" Kinar menahan tangan Satria yang hendak mematahkan jagung bakarnya.


"Kenapa?"


"Kakak nggak mau jagungnya, kakak cuma heran aja, itu jagungnya kenapa mau di makan musti di hitung dulu?" ucapnya dengan dahi berlipat.


"Oh ini, iseng aja kak!''


"Satria kalau abis ketemu mantan tersayang emang suka kaya gitu kak, mending cuma biji jagung yang dihitung, biasanya malah bulu si Morin kak." sambar Satya yang kini ikut bergabung di tikar yang sedang diduduki keduanya.


"Morin siapa lagi itu?" tanya Kinar bingung.


"Huhing hantikha hak." balasnya dengan mulut penuh yang berisi dengan snack yang diambilnya dari dalam kulkas.


"Ngomong apaan sih kagak jelas lo, makanya telen dulu baru ngomong!" ujar Satria seraya melemparkan beberapa biji jagung kearah Satya, yang sedang kesusahan menelan makanannya.


"Kucing Cantika maksudnya." Jawab Satya setelah seluruh makanannya tertelan.


"Lah waktu itu sih?" tuding Satya bersikukuh.


"Ck, gue kan kagak megang, justru gue usir tuh makhluk berbulu, geli banget." Satria bergidik ngeri.


"Katanya lo suka yang berbulu."


"Ck!"


***********


Beberapa waktu telah terlewati, dan tak terasa hari ini kandungan Kinar sudah memasuki bulan ke empat, bukan hanya perutnya yang semakin terlihat, tetapi tubuhnya yang lain juga semakin berisi.


"Apa yang kamu rasain sekarang yang,?" ujar El dengan kepala yang ia tempelkan di perut Kinar, usai Menciumnya beberapa kali.


"Ngerasain apa?" tanya Kinar, yang tidak mengerti dengan maksud suaminya itu.


"Dedenya udah kerasa gerak-gerak belum?"


"Baru kerasa getar-getar doang sih, kalau nendang-nendang kayanya belum!"


El mengusap pelan perut istrinya, sembari mengajaknya berbicara.


"Hei sayang, anak ayah lagi ngapain sih didalem, cepet gede dong dek, biar bisa cepet ketemu."

__ADS_1


"Kira-kira dedenya cewek apa cowok ya yang, mirip aku apa mirip kamu?" ujar El seraya memainkan telunjuknya diatas perut Kinar yang polos, karena kaosnya sudah disingkap oleh El sebelumnya.


"Mana aku tahu sih bang, orang belum kelihatan, masih kecil juga!"


"Kenapa hamil itu harus sembilan bulan sih yang,?"


"Ihs mana aku tahu abang,"


"Oh iya bang, aku lupa kasih tahu abang sesuatu." ujarnya yang kemudian beranjak mengambil sebuah map dari dalam laci.


"Itu apa yang?" ujar El penasaran.


"Coba abang lihat dulu." ucapnya seraya mengangsurkan map tersebut ke tangan El.


"Ini kakek kamu yang ngasih?" tanyanya, setelah selesai melihat isi dari map itu.


"Iya, 2 minggu yang lalu."


"Menurut abang, aku harus apa?"


"Harus apa bagaimana sayang?" ujarnya lembut, seraya menarik tubuh Kinar hingga terduduk di pangkuannya.


"Aku nggak bisa terima bang, karena aku ngerasa nggak berhak aja." ucapnya dengan wajah menunduk.


"Kalau menurut aku sih kakek ngasih semua itu karena emang dia sayang sama kamu yang, dan menganggap kamu yang paling berhak, bukannya kamu pernah bilang kan ya, kalau cuma kamu satu-satunya cucu kandung kakek Adiguna."


"Tapi bang?"


"Yaudah gini aja, mau nerima atau nolak itu kan hak kamu sayang, lagi pula dengan atau tanpa warisan dari kakek pun aku akan pastikan kamu dan anak-anak kita nanti nggak akan kekurangan suatu apapun, aku janji mulai sekarang bakalan lebih giat lagi kerjanya." ucapnya, yang membuat Kinar mengulum senyum bahagia.


"Kok malah senyum-senyum gitu sih, mau cium ya?" ujarnya dengan nada jahil.


"Ihs bukan gitu, aku tuh bahagia dan bersyukur banget punya suami kaya Abang,"


"Masa sih?"


"Iya."


"Aku jauh lebih bersyukur sayang, karena aku mendapatkan istri sebaik kamu, lembut, perhatian, pemaaf, dan cantik tentunya."


"Bukannya lebih cantikan siapa itu tetangga abang_"


"Ck siapa sih, jangan mulai deh, atau aku kerjain nih!" ujarnya dengan wajah yang sudah ia sembunyikan di ceruk leher sang istri.


"Abang ihs!"


"Kangen yang, udah lama nggak kaya gini!" gumam El lirih, dengan tangan yang sudah bergerak kemana-mana.


Dan tanpa menunggu persetujuan sang istri, El pun mulai melancarkan aksinya, memberikan kecu pan hangat dan ringan, sebelum kemudian semakin dalam dan menuntut, dan berakhir dengan kembali menjelajahi keindahan-keindahan yang selalu membuatnya merasakan candu dan mabuk kepayang, dengan orang yang sama.


.

__ADS_1


.


__ADS_2