
Sudah 2 bulan sejak mengetahui kehamilan Kinar, namun baru kali ini Kinar bersedia untuk memeriksakan kandungannya ke salah satu Dokter Langganan Nada sewaktu melahirkan Cantika 10 tahun yang lalu, dan untuk jadwal pertemuannya hari ini sudah di atur oleh Nada dengan antusias, dengan alasan karena demi calon cucu pertamanya.
"Aku kok gugup ya yang!" ujar El sembari meremas sebelah tangan Kinar, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memegang kemudi.
Kinar menoleh, menatap kearah suaminya dengan tatapan bingung.
"Kok kamu yang gugup sih, kan yang mau di periksa aku!" tunjuknya pada diri sendiri.
El kemudian menggaruk tengkuknya seraya tersenyum geli, "Eh iya juga sih!"
*****************
"Hallo, dengan mbak Kinar ya!" ujar Dokter Tita, tersenyum ramah, saat Kinar baru saja masuk kedalam ruangannya, yang diantarkan oleh salah satu perawat disana.
Sementara Kinar mengangguk, lalu balas tersenyum.
"Masih muda sekali ya, umur berapa ini?" lanjut Dokter tersebut, masih dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
"18 tahun Dok,"
"Seumuran ternyata sama mas El ya!" lanjut Dokter Tita, sembari melirik kearah El.
"Umz iya dok!" balas Kinar, sedangkan El hanya mengangguk singkat.
Setelah bertanya banyak tentang apa saja keluhan Kinar, Dokter Tita pun menyuruhnya untuk berbaring diatas ranjang pasien, kemudian meminta izin untuk menyingkap baju atasannya, untuk menempelkan gel diatas perut Kinar.
Tangan Dokter Tita mulai bergerak lincah mengarahkan alat probe menelusuri perut Kinar, sementara ia dengan teliti menjelaskan kondisi janin yang tampak di layar mesin ultrasonografi.
"Tuh si kecilnya sudah kelihatan kan, usianya sudah 12 minggu, dan besarnya sebesar buah jeruk, kondisinya sehat, semoga lancar sampai lahiran ya!" ujar Dokter Tita, sembari menunjuk layar didepannya.
El yang memperhatikan janinnya yang bergerak-gerak di layar mesin ultrasonografi sejak awal, kini tanpa sadar ia telah meneteskan air mata, dalam hati mengucapkan beribu kata syukur pada sang Pencipta, karena telah menganugerahkan malaikat kecil yang dititipkan didalam rahim istrinya.
Sementara Kinar ia sendiri tak dapat lagi menyembunyikan perasaan bahagianya, berulang kali ia menyusut ujung matanya yang berair, berulang kali kata syukurpun terucap dari bibirnya.
"Ada yang mau ditanyakan seputar masa kehamilan?" tanya Dokter Tita, yang kini sudah kembali duduk berhadapan dengan Kinar.
"Euhmz Dok, apa saat istrinya hamil suami juga ada yang merasa ikut ngidam?" tanya Kinar penasaran, karena merasakan banyak hal aneh tentang suaminya 2bulan ini.
"Tentu saja mbak Kinar, tidak jarang si suami merasakan ngidam, atau bahkan merasakan keluhan-keluhan yang dialami oleh ibu hamil, hal itu disebut sindrom couvade, atau kehamilan simpatik." jelas Dokter Tita.
Kinar pun mengangguk mengerti, begitupun dengan El.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" lanjut Dokter Tita.
__ADS_1
"Saat istri hamil apakah boleh melakukan hubungan suami istri Dok?" tanya El dengan Nada santai, yang seketika membuat Kinar membelalakan matanya, dalam hati mengumpati suaminya itu.
"Boleh-boleh aja, tapi jangan terlalu sering!" balas Dokter Tita, seraya tersenyum.
*************
Setelah selesai memeriksa kandungan nya, Kinar pun mengajak El untuk mampir ke rumah Nada dan juga Ando, untuk mengucapkan terimakasih karena bundanya sudah merekomendasikan seorang Dokter obgyn yang begitu baik dan lembut seperti Dokter Tita.
"Eh sayang, gimana kondisi calon cucu bunda, sehat kan dia?" tanya Nada antusias, begitu melihat Kinar datang.
"Alhamdulillah bun sehat, usianya udah 12 minggu."
"Yaampun bunda seneng banget, jaga baik-baik cucu bunda ya!" ujar Nada, sembari mengelus-ngelus perut Kinar yang terlihat masih rata.
"Iya bund, oh iya makasih banyak ya bun, udah di rekomendasiin, Dokternya ramah dan baik, jadi Kinar nyaman dan tenang di periksa sama Dokter itu."
"Iya sayang, yaudah kita makan siang sama-sama yuk, kebetulan dirumah ada si kembar, jadi kita bisa makan bareng."
"Iya bund!" Kinar pun hanya menurut mengikuti langkah Nada, sedangkan El sudah terlebih dulu masuk kedalam sejak tadi, untuk menemui kedua adik kembarnya.
"Wihhh, calon papa muda datang?!" Ujar Satya girang, sedangkan El memilih diam, dan merebahkan tubuhnya diatas sofa, di kamar adiknya itu.
"Hebat juga lo bang tanam cebongnya, tokcer nggak sih Sat?" timpal Satria, yang seketika membuat El menggeram kesal.
"Gimana perasaan lo bang, seneng, bingung, apa gimana, jujur nih ya bang, gue seneng banget tahu, bentar lagi gue dipanggil om, ah rasanya gue pen Cepet-cepet gendong!" lanjut Satya, tak mempedulikan jika abangnya itu sedang tak mau berbicara apapun.
"Gue juga bang, tapi Kira-kira anak lo cewek apa cowok ya, penasaran gue!" kembali Satria berujar.
"Ck lo mau tahu anak gue cewek apa cowok?!" balas El.
"Mau mau!"
"Tunggu sampe bini gue ngelahirin!"
"Ck itu sih gue tahu!"
"Lah ngapain nanya, kalau gitu."
"Iya juga sih." Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pada disini ternyata, ayo pada makan dulu, di suruh Bunda tuh!" ujar Kinar yang kini tengah berada diambang pintu kamar itu.
Ketiganya pun patuh, lalu berjalan beriringan menuju meja makan.
__ADS_1
"Kinar makan yang banyak sayang, biar dedenya sehat!" ujar Nada, saat melihat Kinar hanya mengaduk-aduk makanannya, seperti tak ada keinginan untuk melahapnya, berbeda dengan El yang akhir-akhir ini porsi makannya 2x lipat dari biasanya.
"Atau Kinar nggak suka sama menunya, mau Bunda bikinin yang lain?!" tawar Nada.
"Eh, nggak bun, maaf bun, Kinar memang kehilangan selera makan akhir-akhir ini," balas Kinar tidak enak hati.
Nada tersenyum, "Bunda mengerti sayang, bunda juga pernah merasakannya, yasudah kalau begitu, ini susunya di minum nak!" Nada menyodorkan segelas susu ibu hamil yang sengaja ia siapkan dirumahnya, untuk Kinar jika sewaktu-waktu menantunya itu berkunjung ke rumahnya.
"Terima kasih bund!"
"Sama-sama sayang."
Kinar tersenyum, Seraya meminum susunya hingga tandas.
Ada perasaan hangat yang tiba-tiba memenuhi hatinya, Kinar sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan cinta yang begitu besar dari mertuanya itu, yang membuat ia tak berhenti untuk bersyukur.
Sampai sore hari Kinar dan El masih berada dirumah orang tuanya itu, menikmati kebersamaan dengan keluarganya.
"Udah nyampe lo?" ucap El antusias, yang sejak tadi menunggu kedua adiknya diteras rumah, yang sedang membelikan gado-gado disamping rumah Om Raffan, yang letaknya menempuh perjalanan hingga satu jam lamanya.
"Dapet kan?!"
"Dapetlah, demi ponakan gue apa sih yang nggak, iya nggak Sat?" ucap Satria, sembari menoleh kearah Satya, yang kini berada di belakangnya.
"Yaudah buruan mana,!" El mengambil keresek yang ada ditangan adiknya begitu saja, lalu bergegas masuk rumah.
Sementara kedua adiknya ikut menyusul.
"Lah, kok elo yang makan sih bang, bukannya lo bilang buat kak Kinar yang lagi ngidam ya, wah parah nih, elo ngerjain kita berdua?!" ujar Satya kesal, saat melihat El mulai memakan gado-gado yang ia beli tadi.
"Siapa yang bilang begitu?!" ujar El sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Eh, bang sumpah lo ya, lo beneran ngerjain kita berdua, anjirr gue sama si Satria bela-belain panas-panasan tahu nggak sih demi ponakan gue!" raut wajah Satya terlihat semakin kesal.
"Tadi kan gue cuma bilang, beliin Gado-gado di samping rumah Om Raffan, kalau nggak anak gue nanti ngences, apanya yang salah coba!"
Satya dan Satria pun saling pandang, lalu menghampiri El yang sudah mengambil ancang-ancang berlari terlebih dulu, sebelum adiknya itu mulai menyerangnya.
"Sini lo bang, gue pites-pites kaki lo, enak aja ngerjain gue, tahu gini tadi gue beliin Gado-gado nenek meti aja yang didepan gang, anjir ngerasa ditipu habis-habisan gue!" ujar Satya, dan sore itu berakhir dengan aksi saling kejar-kejaran.
.
.
__ADS_1
"