Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Perhatian kecil


__ADS_3

"Yaampun, Kinar sayang kamu kenapa?" sergah Nada ketika melihat menantunya berjalan dengan tertatih-tatih.


"J-jatuh ma!" balasnya dengan wajah menunduk, meski ia kesal dan marah pada El, tetapi ia tidak mau jika bundanya sampai memarahi El habis-habisan.


"El..? " ucap Nada dengan suara meninggi.


"Apa sih bun, teriak-teriak segala!" ucap El, yang baru saja masuk rumah setelah memarkirkan motornya di garasi.


"Ihs, kamu masih nanya kenapa?" Nada menjewer kuping El, hingga sang pemiliknya mengaduh kesakitan.


"I-iya bun, adududuh sakit bun, ampun!"


"Kamu apain Kinar sih El, kakinya sampai luka gitu, baru juga tiga hari jadi suami, udah bikin istrinya celaka, gimana kalau udah 3 minggu, 3 bulan, atau 3 tahun dan seterusnya?" cerocos Nada emosi.


Sedangkan El, hanya diam menunduk, layaknya seorang tersangka yang menunggu hukuman yang pantas dari hakim.


"Kuat nggak kuat, pokoknya kamu harus gendong istri kamu sampai atas."


"T-tapi bund!"


"El?"


"Iya iya,"


"Ng-nggak usah bun, Kinar bisa sendiri kok!"


"Nggak, nggak, pokoknya El harus bertanggungjawab, Karena sudah lalai menjaga kamu."


El pun, segera mengangkat tubuh Kinar, menggendong nya ala bridal style, sedangkan Kinar hanya bisa pasrah, Karena bicara panjang lebarpun percuma.


"El?"


El, yang hendak memasuki Kamar mandi pun kembali menoleh kearah suara.


Ia bergeming, enggan bertanya, namun dari sorot matanya Kinar yakin, El sedang menunggu apa yang akan Ia sampaikan.


"El, saya minta maaf, gara-gara saya bunda_"


"Udah, nggak usah di bahas!" potongnya cepat, lalu memasuki kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, El melihat istrinya sudah mengganti pakaiannya, dengan dress tidur satin berwarna peach, diatas lutut.


El menyalakan tv, lalu duduk di atas sofa, namun hingga beberapa menit perhatian nya terus tertuju pada Kinar, yang terus meringis memegangi kaki kanannya yang terlihat memar, kebiruan.


"Masih sakit?" tanyanya, lalu duduk Dihadapan Kinar.


Kinar tak membuka suara, tapi Ia mengangguk sebagai jawaban.


"Mau gue urutin?"


"Emang bisa?" tanyanya tak percaya.


"Ck, lo ngeremehin kemampuan gue,?"


"Nggak kok,"


El mulai menuang beberapa tetes kayu putih yang diambilnya dari meja rias, dan mulai membalurkannya di sepanjang betis, hingga ujung kakinya.


"Awww."

__ADS_1


"Sakit?" tanyanya, sembari menatap Kinar.


Kinar melengos, dengan hati berdebar, berhadapan dengan El sedekat ini, membuatnya tegang, bahkan untuk sekedar bernafaspun rasanya ia sangat kesulitan.


"Gue minta maaf!"


"Hah?"


"Bunda bener, gue udah lalai jagain elo!"


Kinar terdiam, dengan perasaan yang tidak sepenuhnya percaya, dengan apa yang ia dengar saat ini.


Benarkah seorang El, bisa berkata seperti itu, Batin Kinar.


"Masih sakit?" tanyanya, setelah cukup lama ia mengurut kaki milik Kinar.


"U-udah kok, udah enakan!" Kinar menarik kakinya, padahal ia masih menikmati pijitan El yang baginya terasa nyaman menyentuh kulitnya.


"Makasih El!"


"Hmmm!"


"Kalau masih sakit besok nggak usah kerja dulu." ucap El yang hendak bangkit untuk menyimpan kembali bekas kayu putihnya.


"S-saya,_"


"Lo jangan membantah, apa kata suami!" potong El, sembari melengos, lalu tersenyum geli.


. .


Jarum jam menunjukan pukul 23:03 malam, namun El belum juga dapat memejamkan matanya, diliriknya Kinar masih di posisi yang sama, setelah tertidur lebih dulu, satu jam yang lalu.


El beberapa kali mengumpat kesal, saat bayangan kaki putih nan halus milik Kinar, terus melintas dalam pikirannya.


Ia menyenderkan kepala nya dikepala ranjang, dan berulang kali mengusap kasar wajahnya, mengingatkan kembali akal sehatnya, agar berada ditempat yang sama.


"Kagak bakal bener nih!" gumamnya, lalu beranjak dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar, menuju kamar adiknya.


"Ngapain lo kesini bang?" ujar Satria, yang saat ini masih fokus memainkan game ditangannya.


"Malem ini gue tidur disini dulu ya, gue janji cuma malem ini doang!" balas El merebahakan tubuhnya dengan posisi tengkurep.


"Udah gila lo bang, terus bini lo gimana, masa lo tinggalin sendiri, lagi lo kan masih pengantin baru, kalau kata ibu-ibu tetangga sebelah tuh, lagi anget-angetnya gitu bang, lah elo malah ke kamar gue, ngapain coba?"


"Anjir, game over! elo sih bang, pake acara dateng kekamar gue, dan ngajakin gue ngobrol segala!"


"Lah, siapa yang ngajakin elo ngobrol, lo sendiri yang ngajak gue ngobrol duluan, aneh lo!" ketus El.


Satria pun meletakan ponselnya diatas nakas, lalu merebahakan tubuhnya disamping El.


"Ceritain dikit dong bang ke gue, gimana rasanya bang?"


"Rasa apaan?" sahut El, masih dengan posisi semula.


"Elaahh, masa lo kagak ngarti sih bang?"


"Udah bocil tidur, kagak usah mikirin yang aneh-aneh, fokus sama sekolah, belajar yang bener, ngomongnya mau jadi dokter, yang diurusin cewek melulu."


"Cewek kan, buat hiburan doang bang,"

__ADS_1


"Jadi gimana bang, rasanya mal_"


"Kayanya gue kagak jadi tidur disini deh, pusing gue dengerin ocehan lo melulu." potong El, dan bergegas keluar dari kamar Satria.


..


Seperti biasa usai mandi, El melewati Kinar dengan bertelanjang dada, dengan Santainya.


Sedangkan Kinar yang mulai terbiasa pun, hanya diam tak lagi menjerit seperti beberapa hari yang lalu.


Ia memperhatikan El diam-diam dari arah samping, rambutnya yang acak-acakan dan sedikit basah membuatnya terlihat lebih keren, dan sexy menurut Kinar.


lalu tiba-tiba Ia teringat dengan El, sebagai bos pemilik Cafe tempatnya bekerja.


"El?"


"Hmmm!"


"kata Mia, kamu ke Cafe cuma 3 bulan sekali ya?"


El menghentikan tangannya yang sedang mencari dasi sekolahnya.


"Emang kenapa?" tanyanya dengan kening Berkerut.


"Nggak, saya cuma pengen tahu aja, kenapa harus selama itu?"


"Karena gue nggak sempet aja, masih banyak kerjaan gue yang lain."


"Tapi, meskipun gue jarang datang kesitu, lo jangan harap bisa bebas berduaan sama orang lain."


"Maksud kamu apa sih, saya nggak ngerti!"


"Pikir aja sendiri!"


"Hah?"


..


"Hai Kin, kaki kamu kenapa, kok jalannya agak pincang gitu sih?" seru Mia, yang melihat cara berjalan Kinar tak seperti biasanya.


"Nggak apa-apa Mi, cuman kepeleset dikit, tapi sekarang udah enakan kok!"


"Kamu ada-ada aja sih Nar!"


"Ya namanya juga musibah Mi, nggak tahu kan kapan datengnya."


Mia pun menyengir, dan membenarkan ucapannya.


....


"Si bos kenapa dateng lagi ya, tumben banget, biasanya juga 3 bulan sekali baru dateng." ujar Vika, yang membawa beberapa tumpukan piring kotor dari depan.


"Seriusan lo, yah kenapa harus dateng hari ini sih, gue kan lagi nggak dandan maksimal." timpal Merry, yang juga membawa barang yang sama seperti Vika.


Mia yang sedang membuat kopi pun menggerenyit, lalu dengan cepat ia mengintip kearah depan.


Dan ternyata yang dikatakan Vika dan Merry benar, El sedang berada disana.


.

__ADS_1


.


__ADS_2