
"Udah sayang, tarik-tarikannya malu tuh dilihatin kakaknya." bisik Nada pada Cantika.
"Iya deh." Cantika pun berlari menuju kamarnya, untuk menonton acara kartun kesukaannya.
"Ma?" menyalami Oma Sarah, lalu beralih pada Kinar.
"Ini pasti yang namanya Kinar ya?" ucap Nada sambil tersenyum.
"Betul tante."
"Sebentar ya, saya buatkan minum dulu kebelakang."
"Biar saya bantu tante."
"Eh, nggak usah kamu kan tamu."
"Nggak apa-apa tante,"
Tak ingin berdebat lama, akhirnya Nada membiarkan Kinar membantunya.
Saat langkahnya sampai di pintu dapur, kini keduanya saling terdiam melihat pemandangan dihadapannya.
Disana tampak seseorang memakai helm, lengkap dengan jaket kulit, serta sarung tangannya, sedang membolak-balikan ikan didalam wajan.
"Itu anak tante Kin, lagi belajar masak." bisik Nada dengan perasaan malu, sekaligus menahan tawa.
"Maaf tante, saya kira tukang ojek." balasnya polos.
Sedangkan Nada melengos, mati-matian menahan tawa, agar tak menyembur tanpa melihat situasi, akhirnya memilih mendekati Satria untuk melihat hasilnya.
"Udah selesai Sat?"
"Udah nih tinggal di angkat!" Balasnya Santai.
Nada membelalakan mata, kala melihat ikan gurame nya telah berubah menjadi ikan arang.
Dalam hati ia memaki putranya yang satu itu, mungkin jika saat ini tidak ada Kinar disini, ia sudah memarahinya habis-habisan.
"Udah, udah sekarang mandi aja gih!" Nada mendorong pelan tubuhnya, agar menjauh dari area dapur, Satria menatap sekilas wajah masam bundanya, tatapan itu seolah mengatakan, kali ini kau selamat, tapi tidak untuk lain kali.
..
"Kinar lanjut kuliah aja ya, biar nanti kami yang menanggung semua biayanya." ucap Nada ditengah obrolan panjangnya kini.
Kinar menggeleng, meskipun menjadi anak kuliahan adalah bagian dari cita-citanya, tapi ia cukup sadar diri untuk tidak menerima bantuan yang menurutnya berlebihan itu.
Karena bagi Kinar saat ini, dengan diberikan tempat yang nyaman saja ia sudah merasa sangat bersyukur, dan tak ingin serakah menginginkan yang lebih.
"Saya ingin bekerja saja tante, karena suatu saat saya ingin mencari kontrakan baru, saya tidak mau merepotkan Oma terus."
Sontak keduanya saling berpandangan.
"Tidak Nar, Kinar akan tetap tinggal selamanya disini, Oma sudah berjanji pada ibumu, untuk merawat dan menyayangimu selamanya."
__ADS_1
Bersamaan dengan seseorang yang sedang menuruni anak tangga dengan langkah yang tak beraturan, membuat tatapan sang Oma beralih pada nya.
"El, mau kemana kamu buru-buru gitu, kesini sebentar?"ucap Nada dengan suara sedikit keras.
" El lagi buru-buru bun!" balasnya tanpa menoleh.
"Kesini dulu sebentar, kalau nggak Oma nggak mau lagi ngomong sama kamu." timpal Oma Sarah dengan nada sedikit mengancam.
El berdecak, dengan terpaksa ia pun membalikan badan dan menghampiri mereka.
"Mau ngomong apa sih bun, El udah telat nih!" ucapnya sembari melihat jam dipergelangan tangannya.
"Kenalan dulu nih sama cucu teman Oma!"
El melirik sekilas, wajah gadis itu terlihat manis, namun di lihat dari penampilannya, El yakin gadis itu hanyalah gadis biasa, meskipun ia bukanlah tipe laki-laki yang suka menilai sisi dari perempuan, tapi setidaknya ia bisa membedakan perempuan biasa dan berkelas.
"El?" Nada menarik tangannya, agar mengenalkan diri.
"El." ucapnya datar, dengan tangan terulur kearah Kinar.
"Apaan sih El, kaku banget!" bisik Nada gemas.
"K-kinar." membalas uluran tangan El dengan tangan bergetar.
"Udah ya, El pergi dulu."
Tanpa Mau mendengar kan ocehan sang bunda maupun Oma nya, El bergegas pergi, dengan langkah lebar.
"Anak kamu itu ya Nad, bener-bener robot, kaku banget!"
Ck!
Sedangkan dari arah tangga kembali dua anak remaja berwajah sama persis, saling berkejaran.
"Satria, Satya mau kemana?" tegur Nada.
Sontak Keduanya pun menoleh kearah suara, "eh?"
"Sini sebentar."
"Kebiasaan ya, kalau mau pergi-pergian nggak pamit dulu, kalian anggap bunda ini apa sih?" tanpa sadar Nada berkacak pinggang.
Sedangkan Satria dan Satya meringis, sembari memegang tengkuknya.
"Iya bun maaf!" akhirnya keduanya menunduk merasa bersalah.
"Kenalan dulu nih sama kak Kinar!"
Keduanya mendongakan wajah menatap Kinar, lalu sama-sama mengulurkan tangan.
"Satria." ucapnya sambil tersenyum manis.
"Kinar." balas Kinar dengan suara lirih.
__ADS_1
"Satya, biasa di panggil Satya!" ucapnya sedikit tergelak.
"Kinar." balasnya menahan tawa.
"Yaudah bun, aku sama Satya pamit dulu ya?" menyalami Nada, lalu beralih pada Oma Sarah.
Keduanya pun bergegas pergi.
"Sebenarnya suami saya ingin sekali bertemu Kinar, tapi sayang pagi-pagi dia udah berangkat, semalem dapat undangan dari temennya yang di Bandung."
"Besok Kinar kesini lagi ya."
"Baik tante."
..
"Gimana Nar, cucu Oma si El ganteng kan?" tanya Oma, ketika kini keduanya sedang berada dimobil, dalam perjalanan pulang kerumah Oma Sarah.
"Eh, G-ganteng kok Oma!"
"Berarti Kinar nggak keberatan kan, kalau dinikahkan dengan si El."
Kinar tertawa, "Oma ih suka bercanda juga ternyata."
Oma Sarah melongo, "Lah, siapa yang bercanda, orang Oma serius."
"Hah?"
"Oma sudah berbicara pada Nada anak Oma, dan kami sepakat untuk menikahkan kalian."
Deg!
Apa, nikah? sama anak sekolahan itu? batinnya menjerit.
Bagai mana bisa, Oma Sarah mau menikahkan dirinya dengan cucunya yang bahkan masih duduk di bangku SMA, begitupun dengan status mereka yang saling tidak mengenal satu sama lain, pernikahan macam apa jadinya nanti, ingin rasanya ia menangis saat ini juga.
"O-oma?" gadis itu bingung harus berkata apa.
"Oma mohon ya Nar, Kinar mau ya nikah sama si El,"
"T-tapi Oma, El kan masih sekolah, Kinar juga kerja." mencoba mencari alasan.
"Itu bukan masalah besar nak, asal Kinar tahu, dulu ayah nya si El itu juga dinikahin waktu masih SMA, cuman bedanya mereka nikah karena keperegok lagi berduaan."
"Salah paham sih sebenernya, belakangan Nada sering cerita kalau mereka itu sama sekali nggak saling kenal, cuma nggak sengaja aja ketemu di hotel yang sama."
"Mereka kami nikahkan, tanpa berbekal cinta, waktu itu Nada bahkan masih sangat labil dan manja, dan Ando sendiri masih menyandang status sebagai murid kelas XII, tapi dengan berjalannya waktu, akhirnya diantara mereka tumbuh ribuan cinta, hingga akhirnya mereka saling membutuhkan satu sama lain, dan berakhir tak ingin saling melepaskan."
"Seperti yang Kinar lihat, 19 tahun mereka berumah tangga, kini sudah memiliki 4 anak, si El anak pertama, si kembar S, anak kedua, dan yang terakhir Cantika." lanjut Oma, begitu bersemangat untuk bercerita.
Sedangkan Kinar, hatinya kini merasa tersentuh, salut akan perjalanan cinta kedua orang tua El.
Akan tetapi ia tidak yakin dengan pernikahan nya Nanti, yang bahkan baginya kini adalah sebuah mimpi buruk.
__ADS_1
.
.