
"Ganteng banget ya, jauh sama si Dio mah!" ujar Rossida, seraya tersenyum hangat, sembari mengulurkan tangannya.
"El_Syahki bu!" El membalas uluran tangan Rossida dan mencium punggung tangannya.
"Cocok banget emang kalian ini, cantik sama ganteng, hayu atuh masuk dulu, ngeteh atau ngopi gitu didalem."
"Eh nggak usah repot-repot bu, Kinar cuma mau ngambil Album Foto punya Ibu yang ketinggalan."
"Belum dibuangin kan bu, Sisa-sisa barangnya?" lanjut Kinar.
"Belum kok Nar, ibu juga nggak berniat ngontrakin buat orang lain, soalnya buat Kenang-kenangan."
"Masa sih bu?" ucap Kinar tak percaya.
"Iya, ibu tuh suka keingetan banget sama Safira, apalagi ibu ngerasa bersalah, karena nggak tahu kalau Safira punya penyakit separah itu sampai dia_"
"Udah bu, jangan di ingat lagi, semuanya sudah berlalu, ibu jangan ngerasa bersalah gitu, justru kami sangat berterima kasih karena selama ini ibu lah tempat kami bersandar." Ujar Kinar sembari mengusap punggung tangan Rossida.
"Kinar kedalem dulu ya bu!"
"Iya iya silahkan!"
"Dulu kamu tinggal disini yang?" tanya El sembari memperhatikan seisi kontrakan tersebut, kontrakan sempit dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan sebuah dapur yang juga terlihat sangat sempit.
Tidak ada barang-barang mewah disana, selain kulkas dan TV yang juga sudah tidak layak pakai, lemari baju yang terbuat dari kayu, yang kini sudah dimakan rayap.
El terdiam, tak sanggup membayangkan susahnya hidup Kinar selama ini, ia berjanji dalam hati, akan selalu membuat istrinya bahagia, melimpahkan dirinya harta serta kasih sayang yang besar.
"Udah ketemu yang?" tanyanya dari belakang tubuh Kinar.
"Udah nih!" balasnya, sembari membuka lembaran demi lembaran album foto yang berada ditangannya.
"Itu siapa yang?" tanyanya, yang ikut melihat album foto tersebut.
"Aku juga nggak tahu El, selama ini kan ibu ngelarang aku buat lihat-lihat album ini!"
"Kenapa ya?"
"Entahlah, aku juga nggak tahu kenapa!" Kinar mengangkat bahu.
"Yang ini, perasaan mirip deh sama yang di bandul kalung kamu yang!" El menunjuk salah satu foto seseorang yang sedang duduk dengan kaki bersila diatas batu besar.
Hingga di lembaran berikutnya, ada beberapa foto pernikahan ibunya dan juga ayahnya.
"Aku juga nggak tahu kalau ibu ternyata punya foto pernikahan sama ayah, karena waktu itu ibu cuma ngasih lihat foto ayah yang sendirian." ujar Kinar, sembari menoleh kearah El yang wajahnya sangat dekat dengannya.
"Tapi udah nggak penasaran kan Sekarang, karena udah ketemu."
"Iya juga sih!"
__ADS_1
"Gimana sayang perasaan kamu waktu pertama ketemu dia?"
"Euhmz biasa aja, nggak ada yang spesial."
El pun mengangguk, ia dapat mengerti perasaan Kinar saat ini, mungkin kasih sayang itu tak terasa, karena selama ini ayahnya tidak pernah mengurusnya. batin El.
Hari pun semakin sore, El dan Kinar pun akhirnya memutuskan untuk pulang setelah berpamitan pada Rossida.
"Kok berhenti disini,?" tanya Kinar, saat El menghentikan motornya didepan sebuah restaurant cepat saji.
"Laper yang!" balasnya seraya terkekeh, menarik pelan tangan Kinar, berjalan memasuki sebuah restaurant tersebut.
"Kamu kayaknya suka banget sih sama menu yang satu itu!" ujar Kinar menunjuk satu piring udang asam manis yang baru saja diantarkan pelayan ke mejanya.
"Dari kecil aku emang suka banget, Bunda juga sama, apalagi kalau kamu yang masakin, beuuh lebih enak banget!" ujar El tersenyum hangat.
"Yaudah Besok-besok aku masakin deh!"
"Makasih istriku!"
"Sama-sama suamiku!" balas Kinar, dan keduanya pun sama-sama melempar senyum kebahagiaan.
Selesai memakan seluruh makanannya, Kinar pun meminta izin El untuk ke toilet sebentar.
Setelah keluar dari toilet Kinar pun berjalan sedikit tergesa menuju meja yang tadi, karena kini hari sudah hampir gelap, dan ia harus tiba dirumahnya sebelum magrib.
Bruukkk..
"Eh, maaf pak, maaf saya lagi Buru-buru!'' ucapnya,sembari mengatupkan kedua tangannya memohon maaf.
" Lain kali Jalan nya hati-hati ya!" balasnya ramah.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi!" ucapnya dan bergegas pergi.
Setelah kepergian Kinar, laki-laki itu melanjutkan kembali langkahnya.
Craakk..
Sesuatu tertendang oleh ujung sepatunya, lalu ia melihat kearah bawah, dan mengambil benda tersebut.
"Kalung?" gumamnya.
Ia pun gegas berlari kearah Kinar melewatinya tadi, berlari kesana-kemari mencari keberadaan Kinar, hingga kearah luar karena ia yakin gadis itu pemilik kalung tersebut.
Namun, setelah ia mengamati satu persatu wajah perempuan pengunjung restaurant, tak ada satupun diantara mereka yang berwajah sama dengan gadis yang ditemuinya tadi.
Akhirnya dengan perasaan lesu, ia kembali kemeja nya, memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa bertemu gadis itu lagi suatu hari, untuk mengembalikan kalung yang kini berada di genggaman nya.
Ia pun menyimpan kalung tersebut kedalam saku jasnya, namun saat ia hendak beranjak tiba-tiba ia teringat sesuatu.
__ADS_1
Laki-laki tua itu pun kembali mendudukkan dirinya, mengambil lagi kalung yang ia simpan tadi.
"Maaf kalau saya sedikit lancang!" gumamnya, lalu kemudian membuka liontin besar itu.
deg!
Ia membelalakan matanya dengan tubuh membeku, saat mengetahui isi dari liontin tersebut, lalu menggeleng tak percaya.
Sementara itu, Kinar yang baru sampai rumah dan hendak mandipun gelisah mencari-cari keberadaan kalungnya, yang hilang entah kemana.
"Kenapa sih sayang, mondar-mandir gitu?" tanya El yang merasa gemas dengan tingkah istrinya yang seperti sengaja menggodanya, mengenakan handuk yang hanya menutupi dada dengan panjang yang menutupi setengah pahanya.
"Kamu nggak lihat kalung aku El, kalung aku nggak ada." ucapnya dengan suara bergetar, menahan tangis.
"Kok bisa, tadi kamu simpen dimana kalungnya?"
"T-tadi sewaktu keluar kalungnya aku pake."
"Ya berarti kemungkinan kalungnya hilang diluar dong sayang."
"Nggak tahu," balasnya, bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes menjatuhi kedua pipinya.
"Cup cup, aduh jangan nangis dong sayang!" El pun beranjak dari atas kasur, menghampiri Kinar untuk menenangkannya.
"Itu kan Satu-satunya kenangan terakhir dari ibu, kalau nggak ketemu lagi gimana?" ucapnya dengan suara terisak-isak, di dalam pelukan El.
"Coba kamu Inget-inget sayang, dimana jatuhnya tadi!"
"Ck, kalau aku tahu pas jatuhnya, udah aku ambil langsung waktu itu juga!" Kinar mendorong tubuh El dengan perasaan kesal.
"Iya juga sih!" El terkekeh sembari memegangi tengkuknya.
"Yaudah, kalau gitu aku balik lagi kelokasi yang kita datengin tadi ya!" menyambar jaket, serta kunci motor yang ia lemparkan tadi diatas nakas.
"Mau kemana?" tanya Kinar, sembari menahan tangannya yang hendak membuka handle pintu.
"Kan mau nyari kalungnya sayang."
"Nggak usah besok aja, ini kan udah malem,"
"Tapi gimana sama kalungnya?"
"Udah kita cari besok aja!"
"Tapi yang?"
"El aku nggak mau kamu kenapa-napa." ujar Kinar yang langsung memeluk tubuhnya.
.
__ADS_1
.