
"Minum dulu susunya, kasihan bayi kita, saya khawatir dia kekurangan nutrisi karena ibunya kurang asupan." ujar Andra, menyodorkan nampan yang berisi segelas susu yang di khususkan untuk ibu hamil.
Siang ini Andra memang memilih menghabiskan waktu dirumah, selain karena ia mengambil cuti, ia juga ingin menemani Jihan yang terlihat masih canggung ketika berada didekatnya, bukan hanya Jihan memang, Andra akui ia juga merasa masih sangat Canggung ketika berdekatan dengan istrinya itu.
Terlebih setelah menikah, Jihan tak lagi menunjukkan sifat arogan nya ketika sedang bersama Andra, sangat jauh berbeda saat pertama kali mereka bertemu di tempat yang menjadikan mereka kini menjadi sepasang suami-istri.
"Eumz M-mas,?" ucapnya ragu, saat Andra hendak kembali kebelakang.
"Kenapa, kamu butuh sesuatu?" matanya memicing menatap Jihan penuh selidik.
Sementara Jihan menautkan jari jemarinya untuk mengurangi kegugupan nya.
"Eumz kak Andra nggak kerja?" ucapnya kemudian, membuat Andra tersenyum samar.
"Saya yakin bukan itu yang ingin kamu tanyakan, katakan ada apa?" Andra maju satu langkah, yang repleks membuat Jihan bergerak mundur.
"Eumz," Jihan menyentuh perut nya, "Apakah setelah bayi ini lahir, kak Andra akan menceraikan aku?" tanyanya, yang sontak membuat Andra membulatkan kedua matanya, sama sekali tak menyangka dengan ucapan istrinya itu.
Andra menggeleng seraya tersenyum kecut, "Sampai kapanpun nggak akan ada kata cerai dari saya untuk kamu, itu komitmen yang akan selalu saya pertahankan Ji, karena saya hanya akan menikah satu kali seumur hidup."
"Saya tahu pernikahan kita terjadi karena sebuah kesalahan, begitupun dengan perasaan kamu ke saya, saya yakin kamu tak memiliki cinta untuk saya, begitupun dengan saya, tapi kalau boleh saya memohon Ji, tolong jangan buat kesalahan lagi, tetaplah bertahan disisi saya, untuk membesarkan anak kita bersama, sampai dewasa, dan sampai tua nanti."
"Kamu tahu Ji, menjadi seorang anak tanpa orang tua yang utuh itu rasanya sangat menyakitkan, dan saya tidak mau hal itu terulang oleh anak kita." lanjut Andra yang terdengar begitu serius, dan tanpa sadar Jihan meneteskan air mata.
Ia sadar, yang dikatakan Andra memang benar adanya, memiliki orang tua yang tidak utuh itu sangat menyakitkan, seperti dirinya yang tak mendapatkan kasih sayang seorang ayah, karena sang ayah memiliki keluarga lain selain dirinya, dan terlepas dari hal tersebut, dari awal kedua orang tuanya tak memiliki hubungan yang baik, dan pada akhirnya sang mama pun melarang keras ia untuk menemui ayahnya.
Jihan menghela nafas beratnya, mencoba menguatkan hatinya sendiri, mengubur semua angan yang pernah terlintas dalam hatinya selama ini, melupakan semuanya, termasuk keinginan memiliki El, pujaan hatinya.
Kini hatinya benar-benar sadar, bahwa cinta tak harus memiliki, dan saat ini ia tak bisa untuk terus egois, karena ia tak akan hidup untuk dirinya sendiri lagi, ada mahluk kecil yang sedang berkembang di rahimnya, dan tentunya membutuhkan banyak kasih sayang darinya.
"Baik mas, saya akan berusaha untuk menjadi lebih baik, demi bayi kita!" ujar Jihan kemudian, membuat Andra tersenyum lega.
**********
Di tempat yang berbeda disebuah Rumah sakit, Satria yang tengah duduk dikursi tunggu pun mulai jengah dan merasa bosan, terlebih saat beberapa ibu hamil yang mengantre untuk periksa disana, Terus-terusan menggosipinya.
Ia pun memutuskan untuk mengirim chat pada Kinar, untuk menunggunya di luar saja, lalu dengan santainya ia berjalan melewati koridor rumah sakit, tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan mencemooh. Ia sungguh tak peduli.
Setelah sampai di parkiran matanya celingukan, mencari sosok perempuan cantik, yang ia lihat sebelum sampai disana.
__ADS_1
"Nah itu dia!" gumamnya, berjalan sedikit tergesa, menghampiri seseorang yang ia cari.
"Swittt, swiitt...!" Satria bersiul riang, membuat perempuan cantik dengan tubuh semampai itu menoleh kearahnya.
"Mbak, kenalan dong?" Satria mengulurkan tangan, sembari mengedipkan sebelah matanya, jurus andalan saat ia sedang mendekati seseorang.
"Satria Aji Arsenio, biasa dipanggil Satria."
"Rianti." jawabnya tersenyum manis.
"Anjirr, senyumnya manis bats!"
"Kamu bilang apa?"
"Eh, nggak kok, mbaknya cantik banget sumpah!" balasnya sedikit tergagap.
"Bisa aja ah kamu, kamu juga ganteng, lucu lagi!" menjawil dagu Satria gemas, membuat sang pemiliknya Ketar-ketir senang bukan main.
"Yaudah saya kedalem dulu, mau cek kandungan!" ucapnya, yang kemudian bergegas meninggalkan Satria yang masih senyum-senyum sendiri.
"Seneng banget sumpah, apa dia bilang tadi, gue lucu, ganteng!" tanpa Sadar ia menguyel-uyel gemas wajahnya sendiri.
Satria mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh kearah jok sebelahnya.
"Aaaaaa...!"
"Ihs Satria apa-apaan sih, bikin kaget aja!" Kinar menepuk pelan bahu adik iparnya itu dengan perasaan gemas sekaligus kesal.
"Anjirr kaget gue sumpah, lo naik kok kagak Bilang-bilang sih kak, jantung gue hampir aja copot tahu nggak?" ucapnya, seraya mengusap-usap dadanya.
"Ck kamu aja yang kebanyakan ngelamun kali, masa iya kakak nutup pintu segitu kencengnya nggak denger sih!"
"Iya gitu kak?"
"Iya, kamu kenapa sih, ngelamunin apaan emang, terus kenapa ke parkiran duluan?"
"Tadi kan gue udah chat lo kak."
"Iya tahu, maksud kakak kamu nggak kenapa-napa kan tadi?"
__ADS_1
"Siapa bilang, gue tuh justru kenapa-napa ini."
"Ih serius Sat?"
"Nggak nggak, gue kagak kenapa-napa, tadi gue keluar duluan, karena gue bosen aja didalem, apa lagi dengerin emak-emak bunting yang lagi pada gibahin gue."
"Gibahin kamu, nggak salah?"
"Ck, iya kak, masa gue di kirain yang nanem cebong di perut lo itu!"
"Ihs cebang-cebong, ini tuh bayi manusia tahu." ujar Kinar membrengut kesal.
"Iya gue juga tahu!"
"Yaudah yuk pulang aja, kalau ngobrol sama kamu tuh suka nggak ada ujungnya,"
"Ok boss, siap!"
"Tapi pulangnya kerumah bunda ya, kakak tiba-tiba kangen sama Cantika nih!"
"Siapppp!"
*****
"Pantesan gue cariin kagak ada, ngelayap ternyata?" ujar Satya yang kini tengah rebahan diruang tamu.
"Ngelayap, enak aja, gue tuh habis melaksanakan tugas dari ibu negara tahu nggak?"
"Gayanya."
"Dih Dibilangin kagak percaya,"
"Mana ada jenis mahluk modelan kaya begini bisa di percaya!" Ujar Satya seraya menarik sebelah ujung boxer Satria, membuat celananya itu hampir melorot, dan menampilkan separuh celana dal amnya.
Sementara Kinar yang berada di ambang pintu ruang tamu pun menjerit, dan seketika menutupi wajahnya menggunakan keresek yang berisi vitaminnya.
.
.
__ADS_1