
Minggu pagi itu, Kinar dan El langsung bergegas menuju tempat yang ia datangi sewaktu sore.
Pertama mereka mendatangi Arsenio Cafe, lalu ke kontrakan lama Kinar.
"Eh Kinar, kenapa lagi nak?" tanya Rossida yang sedang menjemur pakaian didepan kontrakannya pagi ini.
"Euhmz itu bu, kalung pemberian dari ibu hilang, saya nggak tahu tapi hilangnya dimana,"
"Dari kapan hilangnya?"
"Sepulang dari sini kemarin sore itu bu, tapi saya juga emang sempet mampir ke restaurant juga sih."
"Yaampun kok bisa sih nak, sebentar ibu ambilkan dulu kunci kontrakannya!" ujar Rossida, yang bergegas masuk kedalam rumahnya.
"Ini kuncinya Nar, coba cari didalam, siapa tahu ada, kemarin kan kamu sempat lama didalam."
"Iya bu, makasih ya, maaf Kinar ngerepotin ibu terus."
"Udah nggak apa-apa."
Kinarpun segera memasuki kontrakannya, dan ditemani oleh El.
"Gimana sayang, ketemu?" tanya El, yang sudah mencari disetiap sudut kontrakan tersebut.
Kinar menggeleng lemah, "Nggak ada."
"Terus gimana dong, aku juga udah nyari di setiap sudut, tapi nggak ada yang!"
"Yaudah sekarang gini aja, kita datengin tempat terakhir kita mampir semalem," lanjut El sembari merangkul bahunya.
"Maksud kamu ke restaurant?"
"Iya."
"Tapi masa iya disana, lagian kan disana banyak orang El!"
"Apa salahnya kalau kita coba dulu kan yang,"
"Yaudah."
Keduanya pun kembali berpamitan pada Rossida, untuk melanjutkan pencarian nya.
"Nar?" panggil seseorang, saat keduanya hendak menaiki motor.
"D-dio?" gumam Kinar.
Dio pun berlari kecil menghampirinya.
"Ini buat elo Nar, gue denger dari ibu katanya lo udah married, bener?" menyerahkan kotak hitam kecil, sembari melirik ke arah El dengan raut wajah tak bersahabat.
"I-iya Di, makasih ya!"
"Hmm, yaudah cuma mau ngasih itu doang kok, lagian lo juga udah mau balik kan?" lanjutnya dan bergegas pergi.
"Siapa sih yang?" tanya El dengan nada suara yang terdengar kesal.
"Dio, anaknya bu Rossida."
"Yang punya kontrakan itu."
"Iya."
"Berarti dia udah kenal banget dong sama kamu?"
"Hmmm."
"Keknya dia suka deh sama kamu yang!"
"K-kata siapa?"
"Ck, dari cara dia natap kamu aja udah jelas beda kali yang!"
__ADS_1
"Mungkin itu cuma perasaan kamu aja kali El, yaudah yuk jadi ke Restaurant nya nggak sih?" ujar Kinar berusaha mengalihkan pembicaraan, karena saat ini ia sedang tidak mood untuk berantem.
"Iya."
Keduanya pun melanjutkan kembali perjalanan nya menuju restaurant yang dikunjungi nya kemarin sore.
"Mau sekalian makan nggak yang?" tanya El, saat keduanya baru saja sampai didepan restaurant tersebut.
"Kamu laper?"
"Dikit sih."
"Yaudah terserah kamu kalau kamu mau makan dulu."
"Kamu nggak keberatan?"
"Nggak kok."
Keduanya pun memasuki restaurant, berjalan beriringan.
"Kamu tunggu sini sebentar ya yang, aku mau coba minta tolong ke manager nya supaya ngizinin lihat CCTV yang kemarin."
"Pesen aja apapun yang kamu suka, samain punya aku, nanti bakal aku makan kok!" lanjut El.
"Iya."
Setelah kepergian El, Kinarpun bergegas memesan makanan, untuk dirinya dan juga El.
Namun, hampir 15 menit menunggu El tak kunjung kembali, Kinarpun akhirnya memakan makanan nya terlebih dahulu untuk mengalihkan rasa bosannya.
"Dek, kamu yang semalem nggak sengaja saya tabrak kan?" ucap seseorang yang kini berdiri di hadapannya, dan sontak membuat Kinar mendongak menatap kearahnya.
"Gimana, ingat?" ulangnya, saat melihat raut wajah bingung Kinar.
"I-iya pak saya ingat."
"Boleh saya ikut duduk disini?" tanyanya, sembari menunjuk kursi dihadapannya.
"Kebetulan sekali ya kita ketemu lagi disini," ujar laki-laki berperawakan tinggi serta sudah berumur itu.
"Perkenalkan nama saya Hardiantara." lanjutnya, sembari mengulurkan tangannya.
"S-saya Kinar pak!" balasnya ragu-ragu, lalu mencium punggung tangannya, membuat Hardi menegang, dengan hati menghangat.
"Jangan panggil saya bapak, usia saya sudah cukup tua untuk di panggil bapak, panggil saja saya kakek ya!" ucapnya, Seraya terkekeh.
"Iya Pak, eh kek." balas Kinar canggung.
"Saya mau tanya, apakah semalam Kinar kehilangan sesuatu,?"
Repleks Kinarpun menganggukan kepalanya.
"Iya kek, semalem saya kehilangan kalung peninggalan ibu saya."
Deg!
"Bagaimana ciri-ciri kalungnya.?"
"Warna perak, dengan liontin besar berbentuk hati."
Deg!
"Apakah kalungnya yang ini?" ujar kakek Hardi, sembari mengeluarkan kalung yang dimaksud nya dari dalam kantong jasnya.
"Eh,"
"Benar yang ini?" tanyanya, sembari mengangsurkan nya kehadapan Kinar.
Kinarpun gegas mengambilnya, dan membuka isi liontin tersebut untuk memastikan bahwa kalung itu memang miliknya.
"Iya kek, kalung ini memang milik saya, Terima kasih banyak ya kek, saya pikir kalungnya benar-benar hilang." ujar Kinar sumringah.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, kemarin kakek sudah lancang membuka isinya, kalau boleh tahu apa foto di dalamnya ayah Kinar?"
"Iya kek nggak apa-apa, mengenai foto kata Oma, ini foto kakek sama ibu saya."
Deg!
"B-begitu ya?"
"Iya kek, oh iya kakek mau pesan makanan nggak, kebetulan saya dan suami saya sedang sarapan, tadi pagi Buru-buru soalnya, gara-gara nyari kalung ini!" ujar Kinar seraya tersenyum.
"Nggak dek, kakek sudah sarapan tadi, sebenarnya kakek memang sengaja kembali lagi kesini, takutnya Kinar mencari-cari kalungnya dan ternyata benar!" balasnya terkekeh pelan.
"Iya kek makasih banyak ya, maaf saya sudah merepotkan kakek!"
"Sama-sama, tidak repot sama sekali kok!"
"Ngomong-ngomong tadi Kinar bilang sama suami, Kinar ini udah punya suami?" tanyanya tak percaya.
"Iya kek."
"Masa sih, emang umur Kinar berapa tahun?"
"18 tahun kek!"
"Yaampun kakek pikir kamu itu masih SMP, habisnya badan kamu mungil, imut begitu." ucapnya, yang membuat Kinar tersipu.
"Mana suaminya, kakek jadi penasaran ini."
"Nggak tahu kek, sebentar ya saya panggilkan dulu."
"Nggak usah, nggak usah Repot-repot, biar kakek tunggu saja disini." ujar Kakek Hardi, menahannya.
"Nggak apa-apa kek, lagian dia udah lama banget nggak Balik-balik!" balas Kinar, seraya melangkahkan kakinya.
"El,?" ucap Kinar saat mendapati El tengah mengobrol santai dengan seseorang yang tidak ia kenal.
"Eh, Sorry bro gue duluan!"
"Kenapa sayang, lama ya?" ujar El sembari merangkul bahunya.
"Iya, ngapain sih?"
"Tadi aku mau lihat CCTV nya dan ternyata nggak bisa, lagi proses perbaikan katanya."
"Kalungnya udah ketemu kok."
"Serius?"
"Iya, ternyata Kakek-kakek yang semalem nabrak aku itu yang nemuinnya."
"Masa sih yang?"
"Iya, ayo katanya Kakeknya mau kenalan sama kamu."
...................
"Kek, kenalin ini El suami saya!" ujar Kinar saat sudah berada dihadapannya.
"Wah kalian ternyata memang pasangan muda ya, sangat serasi, tampan dan cantik."
"Terima kasih kek!" balas Kinar tersenyum malu.
"Perkenalkan saya Hardiantara, panggil saja saya kakek ya!"
"Saya El-syahki kek!" El membalas uluran tangannya.
Tak lama kakek Hardipun memutuskan untuk segera pulang, karena ada urusan mendadak, ia pun sempat meminta nomor telpon Kinar, agar mudah untuk bertemu kembali di lain waktu."
.
.
__ADS_1