Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Ujian berumah tangga


__ADS_3

El berulang kali menyentak nafasnya, perasaan marah, kesal, dan khawatir kini berpadu menjadi satu, selama satu bulan ini.


Bagaimana tidak, setiap hari ia selalu dihadapkan dengan masalah selama belajar dikampus, yang mengakibatkan ia tak mampu berkonsentrasi dengan baik.


Yang ia takutkan selama ini kini terjadi, Frans Laki-laki itu memenuhi janjinya, ia kembali melanjutkan study nya di Jakarta, dan dengan terang-terangan ia mengatakan akan berusaha merebut Kinar darinya, dan bahkan beberapa teman Laki-laki El pun tak sedikit yang menggoda Kinar, bahkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan tentang Kinar yang kini tengah berbadan dua.


"Abang, kok diem aja sih?" Kinar menyentuh tangan suaminya yang tengah mengemudi dengan wajah datar dan terkesan dingin.


"Aku lagi nyetir, kita ngobrol nya dirumah aja!" balas El dengan tatapan lurus kedepan, tanpa menoleh sedikitpun kearah Kinar.


Kinar pun akhirnya hanya memilih diam, memalingkan wajah menghadap kearah kaca mobil, memperhatikan jalanan yang siang ini terlihat lumayan ramai.


Ini bukan kali pertama El bersikap seperti itu, dan semuanya ia rasakan semenjak masuk kuliah di minggu pertama.


Terkadang ia bingung dengan sikap El yang sekarang, yang terkadang membuatnya merasa ketakutan, takut jika cinta El padanya tidak sebesar dulu, atau bahkan semakin berkurang.


Ia sadar betul, dengan keadaan dirinya saat ini, tubuh yang sedikit berisi, perut yang mulai membesar, bahkan penampilannya terbilang kurang menarik, hingga beberapa teman Laki-laki yang memujinya ia anggap adalah sebuah ejekan untuknya.


Tidak sedikit gadis cantik serta terlihat glamour disana, membuat Kinar terkadang hilang rasa percaya diri, menambah ketakutan jika El akan benar-benar berpaling, dan tergoda dengan gadis-gadis itu.


Meski El berulang kali mengatakan hal yang sama, tentang cintanya yang tak akan berubah sampai akhir, namun nyatanya tak membuat Kinar tak bisa percaya sepenuhnya.


***********


"Abang tunggu?" dengan suara yang dibuat sedikit manja, Kinar meraih lengan kokoh El yang hendak menutup pintu mobil, membuat gerakannya terhenti seketika.


El menghela nafas, lalu mengusap kasar wajahnya, melihat wajah istrinya yang mengiba, dengan bibir mengerucut membuat ia gemas, dan ia mati-matian berusaha untuk tidak tertawa.


"Abang?"


"Aku laper," balasnya lalu ngeloyor masuk rumah terlebih dulu membuat Kinar semakin mengerucutkan bibirnya kesal, lalu mengikuti langkah lebar suaminya.


"Katanya laper?" tanyanya, ketika melihat El malah memasuki kamar, dan menanggalkan pakaian bekas kuliahnya, menggantinya dengan pakaian rumahannya.


"Bau keringat!" jawabnya singkat, kembali membuka pintu kamar, dan melangkah keluar.


"Ihs dasar, suami nyebelin!" teriaknya, yang masih mampu terdengar ditelinga El.


El mengulum senyum, bersenandung lirih menuju meja makan, ia memang benar-benar butuh makan saat ini, terlebih ia merasa kekurangan tenaga karena telah menahan emosi sejak tadi pagi.


"Laper ya den?" tanya bi Rumi saat melihat majikan mudanya itu makan dengan begitu lahapnya, bahkan selesai dalam waktu yang singkat.


"Banget bi, butuh extra tenaga soalnya!" balasnya seraya menarik satu lembar tisu untuk mengelap bibirnya yang basah, setelah meneguk segelas air putih, sebagai penutup makan siangnya.


"Emang kuliah cape ya den?"


El memijat dahinya yang mendadak kembali berdenyut, pertanyaan bi Rumi mengingatkannya tentang masalah yang ia hadapi semenjak ia masuk kuliah akhir-akhir ini.


"Lebih cape ke hati sih bi!" El beranjak dari meja makan, kembali kekamarnya setelah tersenyum kecut kearah bi Rumi, membuat bi Rumi berpikir keras tentang hal yang diucapkan majikan mudanya barusan.

__ADS_1


"Ari si aden teh ngomong apa coba, tahu ah jadi pusing sendiri!" gumamnya, sembari merapikan piring bekas makan El.


"Abang udah selesai makannya?" tanya Kinar saat melihat suaminya kembali memasuki kamar.


"Abang ihs, mukanya judes gitu sih, jelek tahu nggak?" Lanjut Kinar sembari menggoyangkan tangan El yang dilipatnya diatas dada.


El bergeming, masih dengan posisi semula, berdiri memperhatikan nya lekat, yang semakin lama membuat Kinar salah tingkah dengan tatapan datar suaminya, dan sialnya terlihat sangat tampan di matanya.


"Abang?"


El menghela nafas, tangan nya beralih memegangi kedua pundak Kinar, sedikit memiringkan wajah mendaratkan bibirnya diatas bibir Kinar, menge cup hingga berakhir melu matnya dengan dalam dan lembut, menarik wajahnya sejenak kemudian melanjutkan nya kembali hingga beberapa saat.


"Yang?"


"Hmmm!" Kinar mendongak, untuk menatap wajah El yang memang tubuhnya lebih tinggi darinya.


"Kamu cinta kan sama aku?" digenggamnya kedua tangan Kinar, dan di ke cupnya satu persatu secara bergantian.


Wajah Kinar mendadak merona, padahal ini bukan pertama kalinya El bertanya hal itu padanya.


"K-kenapa nanya gitu?"


Terlihat El menghela nafas, menundukan wajah, kemudian menatapnya kembali dengan tatapan yang sulit terbaca.


"Aku cuma mau mastiin aja!" jawabnya lirih, membalikan tubuh lalu melangkah menuju tempat tidur, duduk disisi ranjang dengan kedua kaki menggantung.


Sementara Kinar ia mendadak bingung, dengan dahi berlipat, namun menit berikutnya ia melangkah mendekati El lalu duduk disampingnya.


Tidak ada lagi yang memulai obrolan, keduanya terhanyut dalam pikirannya masing-masing, hingga sebuah gerakan dari dalam perut Kinar, membuat ia tersadar, mengulas senyum seraya menyentuh perutnya yang terus bergerak.


El yang melihat hal itupun repleks tangannya terulur ikut menyentuh perut istrinya, terkekeh geli saat malaikat kecilnya menyambutnya dengan sangat antusias.


"Dia gerak yang!" El melirik Kinar dengan mata yang berbinar bahagia, sama sekali tak menunjukan raut wajah seseorang yang tengah banyak pikiran.


"Bang?" suara lembut Kinar membuat tawa El terhenti, berganti menatapnya dalam.


"Abang pernah denger nggak, cerita dari beberapa orang tua yang sudah berpengalaman berumah tangga,?"


"Maksudnya?"


Kinar mengangkat tangan kanannya, menyentuh wajah tampan El yang hanya berjarak beberapa centi darinya.


"Abang percaya nggak, kalau semua pasangan yang berumah tangga itu akan memiliki ujiannya masing-masing,"


El mengangguk, tangan besarnya menyentuh tangan Kinar yang masih memegangi pipinya.


"Ketika ujian itu datang, berjanjilah bahwa kita akan selalu bersama, saling mempertahan kan dan saling menguatkan satu sama lain, apapun yang terjadi."


"Yang?"

__ADS_1


"Abang mau janji."


"I Love you."


"Sayang?"


"I just want to be with you till the end of my life."


"I love you to sayang." El beringsut untuk memeluk tubuh istrinya, dengan senyum mengembang.


Keduanya pun berpelukan, dalam hati saling berjanji akan terus bersama melewati rintangan apapun yang akan menerpanya suatu hari, hingga moment haru itu terhenti saat suara teriakan serta ketukan pintu diluar kamarnya semakin menggema.


"Abang.. woi buka pintunya."


El mengusap wajahnya kasar, berdecak keras lalu melangkah dengan raut wajah emosi menuju pintu kamarnya.


"Ck ngapain sih lo, kurang kerjaan banget, siang-siang begini teriak-teriak di depan kamar gue?" ujar El dengan suara meninggi.


"Yeee, gue juga males banget kesini kali, kalau bukan bunda yang nyuruh!" balas Satria tak kalah garang.


"Ck, mau ngapain emang?" suara El berubah lebih santai dari sebelumnya.


"Nih!" menyodorkan sebuah kardus yang lumayan besar kehadapan El.


"Apaan nih?"


"Pesenan kak Kinar."


"Iya apaan?"


"Panci!"


"Hah?, udah tahu panci kok lo malah bawa kekamar gue, lo pikir ini dapur."


"Ck, lo kagak pernah belanja online ya?"


"Apa hubungannya?"


"Kelihatan muka lo kek cengo gitu!"


"Mak_"


"Dengerin gue bang, dimana-mana seorang kurir itu selalu memastikan barang yang dia antar sampai ditangan si pembeli."


"Ck, tapi gue juga baru tahu kalau ada kurir yang nganter paket nyelonong masuk rumah orang sembarangan, mana teriak-teriak nyampe kamarnya lagi."


Satria melengos, "Anjirr, gue kalah tarung!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2