
"Gimana sayang, udah siap kan?" tanya Nada, ketika sore ini ia berkunjung ke rumah El dan Kinar, lebih tepatnya menjemput Kinar mendatangi sebuah butik langganan Nada, untuk fitting gaun pengantin yang akan di gunakan saat menggelar resepsi pernikahannya yang tinggal 2 minggu lagi.
Meski Kinar sudah menolak berulang kali, dan memilih mengadakan resepsi yang sederhana, namun nyatanya semua itu tak digubris oleh kedua orang tua El, karena bagi Nada dan Ando El adalah anak pertama mereka, terlebih mereka merasa sangat mampu menggelar resepsi sesuai yang diinginkannya.
Begitupun dengan Adiguna dan Surya, bahkan mereka rela memohon-mohon pada Kinar, agar mengijinkan membayar sebagian dari acara resepsinya.
"Kinar nya ada bi?" ujar Nada, saat bi Rumi membuka pintu utama yang sebelumnya terdengar beberapa ketukan dari arah luar.
"Oh ada bu ada, silahkan masuk dulu bu, saya panggilkan non Kinar nya dulu." ucapnya, dan langsung melangkah dengan sedikit tergopoh menuju dapur.
"Non ibu datang!"
"Eh, Bunda dateng bi?" Kinar pun segera menghentikan aktifitasnya, yang hendak membantu bi Rumi untuk memotong sayuran.
"Iya non, non kedepan aja, ini biar bibi yang lanjutin."
"Yaudah bi, maaf ya saya jadinya nggak jadi bantuin deh!"ujar Kinar dengan raut wajah tak enak.
"Ih si non mah, udah nggak apa-apa kok!"
"Hai sayang?" Nada memeluk menantu kesayangan nya itu dengan penuh kelembutan.
"Bun, kirain nggak jadi hari ini?" ujarnya, yang kini tengah membalas pelukan Nada.
"Iya sayang, maaf ya tapi bunda pikir besok bunda takut lebih sibuk lagi, makanya sekarang aja perginya."
"Terus bang El?"
"Tadi si El udah telpon bunda, katanya dari Cafe langsung kesana."
"Yaudah, tunggu sebentar ya bun, Kinar mau ganti baju dulu, oh iya bunda mau minum apa, biar Kinar ambilkan."
"Nggak usah sayang, bunda nggak haus kok, yaudah kamu ganti baju gih!" ucapnya, yang kemudian diangguki oleh Kinar.
*********
30 menit menempuh perjalanan, akhirnya keduanya pun sampai di Erina Boutique, tampak El pun sudah menunggu didepan sana.
__ADS_1
"Kamu ternyata lebih cepet dari yang bunda Kira El." ujar Nada, seraya merangkul putra sulungnya itu.
"Lah, kalau El lama-lama, kasihan dong istri El harus nungguin." balasnya yang kini mengusap pelan kepala istrinya, membuat Nada mengu lum senyum, sedangkan Kinar ia merasa sangat tersipu dengan kelakuan manis El yang ditunjukan dihadapan ibu mertuanya.
"Yaudah yuk kita masuk sekarang, keburu gelap, kata orang tua dulu, perempuan hamil itu nggak boleh jalan-jalan sewaktu magrib, pamali!" menggamit keduanya memasuki butik.
"Gimana El, menurut kamu gaunnya bagus mana, biru atau putih?" menunjuk 2 gaun yang terpasang di patung manekin dihadapannya.
"El sih lebih suka putih, tapi El nggak suka kalau punggung Kinar terekpos gitu bun!"
"Nggak apa-apa dong El, lagian kan resepsinya cuma kita adakan setengah hari, kinar kan nggak boleh kecapean,"
"Iya sih tapi kan bun tetep aja_"
"Nggak pokoknya, bunda nggak menerima protes, fix Kinar pakai gaun putih!" ujar Nada tak menerima bantahan, sedangkan El hanya bisa menghela pasrah, dengan keinginan bunda nya itu.
Lalu Nada pun menyuruh sang pelayan butik untuk mencoba gaun tersebut, begitupun dengan El yang kini tengah mencoba tuxedo hitam, yang dipadukan dengan kemeja putih didalamnya.
"Aduuuh, bunda jadi berasa muda lagi deh kalau lihat kalian berdua." ujar Nada menatap kagum pada pasangan muda dihadapannya itu.
Begitupun dengan El dan Kinar, saling menatap mengagumi keindahan dirinya masing-masing.
Setelah selesai fitting baju, El dan Kinar pun segera pulang, karena hari hampir gelap, sedangkan Nada ia mampir ke tempat catering untuk acara resepsi.
*******************
"Entar deh kita pesen di online, si bibi yang suruh nerima."
"Emang ada?"
"Ada lah, dari pada kita cuma punya satu, jadi rebutan, Eh sekarang malah hilang lagi di razia bunda."
Samar-samar, Nada mendengar obrolan keduanya, didalam kamar.
"Bukannya turun dan sarapan, itu anak dua malah ngerumpi." gerutu Nada.
"Satria, Satya, ini udah jam berapa, turun Sarapan bareng-bareng dibawah, 3 menit nggak turun, jatah jajan kalian hari ini hangus!" ujar Nada lalu kembali kebawah.
__ADS_1
"Sekolah yang bener, itu ubinya juga di habiskan biar kalian pinter!" ujar Nada menatap Satya dan Satria, sembari meletakkan 4 gelas susu, untuk si kembar S, Cantika, dan juga Ando, sebagai penutup sarapan mereka pagi ini.
"Emang ubi bisa bikin kita pinter ya bun?" tanya Cantika dengan raut wajah polosnya.
"Iya sayang, Tika mau nak?" tawar Nada, mengambil satu ubi rebus dari piring Satria.
"Mau bun, tika mau coba!" ujarnya, mengulurkan tangan meraih satu buah ubi yang diangsurkan sang bunda, namun untuk beberapa saat gadis itu hanya terdiam, memandangi ubi rebus tersebut dengan penuh keraguan.
"Kenapa nak, kok nggak di makan ubinya?" tanya Nada, saat menyadari gelagat Putri bungsunya itu.
"Euhmz, Tika baru inget bun, kemarin abang kembar bilang, abis makan ubi mereka bawaannya pengen buang angin terus, bener gitu bun?" tanyanya, yang sontak membuat kedua kakak kembarnya itu tersedak secara bersamaan.
"Minum, makanya kalau makan pelan-pelan, kayak nggak pernah nemu ubi aja sebelumnya." ujar Nada, sembari mendekatkan masing-masing gelas susu kearah kedua putra kembarnya itu, sedangkan Ando yang berada disamping Nada, hanya terkekeh geli melihat perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Oh ya sayang, kalau Tika makannya cuma satu, nggak bakalan bikin Tika kaya abang kok, kalau abang kaya gitu sih wajar, karena makan ubinya kan banyak-banyak."
"Tapi bun, kita makan ubi banyak kan disuruh b_"
"Nggak usah banyak bicara, habiskan sarapannya, bentar lagi jam 7 tuh.'' potong Nada, saat Satria hendak protes terhadap nya.
Keduanya pun berhasil menghabiskan sepiring ubi itu dengan susah payah, beranjak menyalami Ando, Nada, dan menguyel pipi Cantika.
"Jangan Aneh-aneh kalau disekolah,"
"Iya bun!"
************
"Kenapa lo?" tanya Satya saat melihat Satria meringis memegangi perutnya beberapa kali, ketika keduanya kini sedang berjalan menuju kearah kelasnya.
"Perut gue kagak enak banget, sial! pasti kebanyakan makan ubi nih," keluh Satria.
"Ah cemen banget lo, ini baru 3 hari padahal, inget bang ubinya masih ada satu kresek penuh lagi lho di dapur."
"Anjiir, cobaan kapan berakhir!"
"Udah nikmatin aja."
__ADS_1
"Bunda kok tega sih punya anak ganteng begini, tiap hari disuruh makan ubi, nggak tahu apa, selama di kelas harus nahan angin terus." ujar Satria mencebik kesal.