Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Ikan mas bule 2


__ADS_3

"Berkas yang Anda minta sudah selesai tuan?" ujar Agus sopan, ketika keduanya kini sedang berada didalam ruangan yang sama.


"Ternyata lebih cepat dari yang saya duga ya!" Adiguna tersenyum senang, yang kemudian mengulurkan tangan untuk mulai membuka isi lembaran dari map coklat yang diberikan Agus padanya.


"Baiklah gus, saya rasa ini cukup jelas, dan tolong atur jadwal saya dari jam 10 kedepan ini, karena saya tidak akan kembali kekantor, ada sesuatu hal yang harus saya urus diluar!"


Agus pun mengangguk sopan tanpa bertanya tentang urusan apa yang akan dilakukan tuan besarnya di luar, karena menurutnya itu adalah hal pribadi bos nya.


Sementara Kinar siang itu mengisi waktu kosongnya, untuk merawat tanaman bunga mawarnya di halaman rumah, hingga kedatangan seseorang yang ia kenal menghentikan aktifitas nya.


"Apa kabarnya?" ujar Adiguna dengan suara tercekat, pasalnya ia merasa sangat malu karena dengan tiba-tiba datang lagi menemui Kinar tanpa pemberitahuan terlebih dulu, dan yang lebih membuatnya malu adalah ketika ia mengingat perlakuan nya dulu terhadap Kinar.


Masih ia ingat dengan jelas, ketika gadis itu memohon dengan kaki berlutut meminta belas kasihan darinya, agar sudi membantu meminjamkan uang untuk biaya rumah sakit ibunya kala itu, namun dengan tanpa perasaan ia mengusir cucunya dengan penuh kebencian.


"B-baik kek!" balas Kinar yang tak kalah canggung, berjalan menuju kearah keran untuk mencuci tangannya yang belepotan dengan tanah.


Setelah mencuci tangannya, Kinar mempersilahkan Adiguna untuk masuk, tak lupa menyuruhnya untuk duduk, dan juga membawakan minum untuknya.


"Euhmz, kakek apa kabar?" tanya Kinar, setelah beberapa menit terjadi keheningan diantara keduanya.


"Baik nak, euhmz bagaimana keadaan suamimu, kemana dia?" ujar Adiguna kaku.


"Bang El sekolah kek!" balasnya, yang ditanggapi dengan anggukan kecil oleh Adiguna.


"Kakek kesini untuk memberikan ini nak!" Mengangsurkan map coklat yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


"Apa ini kek?"


"Buka saja dulu."


Kinar menghela nafas, kemudian membuka map itu dengan sedikit ragu, dan matanya terbelalak lebar saat ia sudah membaca isi dari map tersebut.


"I-ini maksudnya apa kek?" ujar Kinar dengan tangan gemetar.


"Semua itu buat kamu nak, cucu kakek"


"Maafkan kakek karena selama ini tidak sedikit pun memberikan apa yang seharusnya menjadi hak kamu, seharusnya dari awal kakek menyadari hal ini, tetapi ternyata kakek terlambat, kakek terlalu memikirkan dunia kakek sendiri, tanpa memikirkan bahwa ada bagian hidup berharga kakek yang terbuang."


"Yaitu kebersamaan dengan cucu kakek."

__ADS_1


Kinar bergeming, rasanya ia seperti mimpi disiang hari, bahwa kakeknya itu kini benar-benar terlihat berubah, dan menganggapnya sebagai cucu, namun semua hal yang telah di lewatinya kebelakang, tak mampu terbayar dengan 70% harta yang diberikan kakeknya hari ini.


Sesungguhnya Kinar bukanlah seorang gadis pendendam, namun ia juga bukanlah gadis yang mudah melupakan begitu saja dengan semua apa yang ia alami.


Dan Kinar bukanlah sosok gadis yang haus akan harta dan kekuasaan, meski sejak kecil ia tidak pernah memilikinya. Namun bagi Kinar hidup bahagia itu bukan soal banyak uang, tetapi memiliki keluarga yang sangat mencintainya.


"Maaf kek, Kinar rasa Kinar tidak pantas menerima semua ini," ujar Kinar seraya mengembalikan map tersebut ke tangan kakeknya.


"Kenapa, apa kurang besar, kalau begitu akan kakek full kan sampai 100%."


"T-tidak kek bukan begitu, Kinar hanya merasa tidak memiliki hak apapun untuk hal ini, lagi pula saat ini Kinar sudah memiliki suami yang bertanggung jawab, dan penuh perhatian, dan Kinar rasa semua kebutuhan Kinar sudah terpenuhi oleh bang El."


Deg!


Ucapan Kinar adalah sebuah pukulan telak bagi Adiguna, ia merasa tertampar sangat keras oleh ucapan cucunya itu.


Ia menyadari dari kecil tak pernah memberikan gadis yang berstatus cucunya itu sebuah fasilitas mewah, atau sekedar memberikan sesuap nasi untuknya, sama sekali tidak pernah, dan ia mengakui semua hal itu.


***********


dari jarak yang cukup jauh, seorang gadis cantik tersenyum kearah Satria yang saat ini tengah mengisi bensin di pom mini milik bu Endah, warung kecil yang menjual berbagai macam cemilan berat maupun ringan di samping toko kue bundanya.


"Berapa bu?" tanyanya, setelah bu Endah mengisi penuh tangki motor gedenya itu.


"Full kan, 20 ribu aja Sat."


"Kembaliannya buat ibu aja deh, saya lagi buru-buru." menyerahkan selembar uang berwarna biru, lalu kemudian bergegas kembali melajukan motornya.


Satria mengendarai motornya sedikit kencang, dan berharap gadis yang sejak tadi tersenyum kearahnya tak menghentikan nya, namun baru saja ia hendak menambah kecepatan laju motornya gadis itu sudah melambaikan tangan tepat dihadapannya, dan membuat Satria menghentikan motornya seketika.


"Sat, aku udah panggil-panggil kamu lho dari tadi, kamu nggak denger?" tanyanya, dengan suara yang dibuat sedikit manja.


Satria menghela nafasnya, kemudian membetulkan helm yang menutupi bagian kepalanya yang sedikit membuatnya tidak nyaman.


"Sorry gue nggak denger!" ucapnya dengan wajah datar, membuat gadis yang berdiri di hadapannya menggerenyitkan dahi bingung, pasalnya pertemuan pertama setelah beberapa bulan kemarin, Satria masih terlihat baik-baik saja.


"Gue cabut dulu, masih banyak urusan!" lanjutnya, tanpa memperdulikan tatapan bingung gadis disamping nya.


********

__ADS_1


"Ada?" pertanyaan pertama yang El lontarkan saat adiknya itu baru saja sampai di depan pintu rumahnya.


"Ada bang, tapi masih kecil-kecil, kata Oma sih ini anak kedua."


"Ck, lo pikir apaan anak kedua, mana coba gue pengen lihat?" El mengambil kresek hitam dari tangan Satria.


"Kok bentuknya kagak sama sih Sat,?" protes El setelah membuka dan melihat isi dari kresek hitam tersebut.


"Ya mana gue tahu bang, emang gue yang bikin," balas Satria seraya mengambil minuman yang diangsurkan Kinar.


"Abang kamu nggak usah di dengerin Sat, dia emang suka aneh kadang-kadang!" ujar Kinar membela sang adik.


"Emang bener yang dibilang Oma, kalau suami bisa ngidam juga, atau cuma akal-akalan bang El aja,?" ujar Satria penasaran.


"Kakak sih nggak tahu Sat, tapi kamu lihat sendiri kan abang kamu tuh aneh, makanan yang nggak dia suka itu malah sekarang jadi kesukaannya."


"Bisa gitu ya kak?"


"Entahlah!"


"Tuh coba lo lihat, totol-totol nya beda kan?" ujar El yang kini tengah menumpahkan seluruh ikan mas bule dari dalam keresek yang dibawa Satria tadi.


"Ck terus gue musti gimana, apa gue perlu tambahin aja totolnya pake spidol gitu?"


"Mana bisa begitu, ada-ada aja bocah!"


"Bocah bocah, elo tuh yang bocah tapi punya bocah, pakai acara elo yang ngidam segala lagi." lanjut Satria dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Lah masalah buat lo?"


"Ck, jelas masalah banget lah, gue itu kek kurang ikhlas gitu lho Bang kalau lo yang ngidam!"


"Durhaka banget sih lo jadi adek."


"Kagak kebalik tuh bang, lo tahu kagak bang, tadi siang gue ketemu mantan gue lagi, tapi gara-gara ikan sialan ini, gue jadi kagak bisa lama-lama,"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2