
Setelah satu jam lamanya mengobrol dengan Nada, kini Kinarpun berpamitan pulang, dengan suasana hati yang lebih baik dari sebelumnya.
Selama di perjalanan menuju rumahnya, tak Henti-hentinya ia mengingat-ingat ucapan dari ibu mertuanya, tentang jawaban atas pertanyaan nya mengenai apa saja ujian berumah tangga.
"Dengar bunda nak, setiap yang berumah tangga itu akan memiliki ujiannya masing-masing, dan semuanya tergantung dari cara bagaimana kita menyikapi hal tersebut, berpikir bagaimana caranya agar keharmonisan keluarga kita selalu terjaga."
Saat melewati deretan warung makanan yang terletak dipinggir jalan, kilasan matanya tidak sengaja menangkap bayangan sosok El yang sedang menoleh kekiri dan kekanan memperhatikan sekitar, layaknya sedang mencari-cari seseorang.
"Pak saya turun disini aja ya!" pintanya pada sopir Taxi tersebut.
"Siap neng!" balasnya, sembari menepikan Taxinya dipinggir jalan.
Setelah membayar ongkos, Kinarpun bergegas turun dan menghampiri El, yang berulang kali mengelap titik-titik keringat yang mengucur dari dahi hingga pipinya.
"El?" ucapnya pelan, namun masih dapat terdengar jelas olehnya.
"Sayang, kok kamu ada disini, kemana aja sih kamu, aku tuh khawatir banget dari tadi nyariin kamu, aku udah nyari kamu kemana-mana, termasuk ke Panti asuhan tempat biasa kamu berkunjung tahu nggak?" cerocosnya, sembari memeluk tubuh Kinar, tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatapnya bingung.
"Nanti aja ya dirumah jelasinnya, sekarang kita pulang yuk, malu tahu nggak sih dilihatin orang terus tuh!" Ucapnya, dan bergegas menarik ujung kaos yang Sedang dikenakan El, agar segera menaiki motornya, dan detik kemudian motor yang ditumpangi keduanya melesat meninggalkan tempat tersebut.
"Jadi tadi kamu kemana sayang?" tanya El saat keduanya kini sudah berada di dalam kamarnya, dan sudah selesai mandi tentunya.
"Kerumah bunda." jawabnya santai.
"Kenapa nggak izin dan minta anter aku aja sih, kenapa main pergi gitu aja,"
"Ck emang harus ya setiap pergi kemana-mana minta izin kamu dulu!"
"Yang aku ini suami kamu lho, kamu lupa?"
"Oh iya, emang kamu juga selalu minta izin aku kalau mau pergi."
"Aku nggak gitu yang!"
"Oh ya, kamu pasti lupa deh, apa perlu aku ingetin?" sorot mata Kinar menunjukkan betapa ia sangat merasa kesal saat ini.
"Sa_"
"Diem! kamu inget nggak, selama 2 minggu ini kamu itu banyak berubah tahu nggak, pulang sekolah kamu nggak pernah kerumah dulu, terus pulang-pulang udah hampir tengah malem, kamu bilang kamu nggak kaya gitu, maksudnya nggak kaya gitu gimana?" nada bicara Kinar sudah mulai meninggi, bersamaan dengan air matanya yang Terjun bebas dikedua pipinya.
Sementara El, ia terdiam menunduk, menatap kedua kakinya yang berpijak diatas lantai, ucapan Kinar barusan adalah sebuah pukulan telak baginya.
Kemudian El mendongak, menghela nafasnya pelan, kembali menatap wajah istrinya, lalu meraih sebelah tangannya untuk ia genggam.
"Yang, aku sama sekali nggak bermaksud kaya gini sama kamu, aku cuma mau melindungi kamu dari diri aku sendiri,"
__ADS_1
Kinar bergeming, namun ia balas menatap El dengan raut wajah penuh tanya.
"Satu hal yang harus kamu tahu sayang, bahwa selama ini aku nggak menghindari kamu, aku cuma jaga jarak supaya aku nggak nyakitin kamu."
"M-maksud kamu?" Kinar pun kembali bersuara.
"Kamu tahu kan sayang, kalau selama ini aku nggak bisa mengendalikan diri kalau lagi deket kamu,?" ujar El yang masih menatapnya dengan tatapan hangatnya seperti biasa.
Kinar terdiam, namun detik kemudian ia mengangguk membenarkan ucapan El.
"Jadi, sekarang kamu ngerti kan kenapa kemarin-kemarin aku selalu jaga jarak dari kamu." lanjutnya, yang kemudian diangguki kembali oleh Kinar.
El beringsut menarik tubuh Kinar kedalam pelukannya, "Dengerin aku sayang, rasa cinta aku ke kamu nggak pernah berubah sedikitpun, justru malah bertambah semakin banyak setiap harinya,"
"Tapi_"
"Maafin aku sayang!" El semakin mengeratkan pelukannya, ia benar-benar sangat merindukan moment seperti ini dengan istrinya.
"Mau kan maafin aku?" tanyanya, sembari menyatukan dahinya dengan dahi Kinar, bahkan hidung mancung keduanya kini saling bergesekan.
"Tapi jangan di ulangin lagi ya, aku takut El!"
"Takut kenapa?"
"Ck, kalau seandainya itu terjadi, aku udah nggak waras kali yang!"
"El?"
"Siapa tahu kan disekolah kamu ada anak baru, atau adik kelas kamu!"
"Maksudnya apa tuh?"
"Ck, Pura-pura nggak ngerti lagi!"
El tersenyum jahil, tak bisa ia pungkiri bahwa saat ini perasaan nya tengah bahagia, karena merasa di cemburui oleh istri kesayangan nya.
"Cemburu nih?" godanya.
"Nggak."
"Nggak salah lagi pasti!" balas El Seraya mengulum senyumnya.
"El?"
"Tinggal bilang iya sih, apa susahnya coba?"
__ADS_1
"El?"
"Iya iya cemburu, tahu kok!"
"El?" Kinar semakin merengek.
"Iya sayang, gemesin banget sih kamu." tanpa ia sadari ia sudah menempelkan bibirnya di bibir Kinar, mel umatnya lembut, dan menuntut.
Kemudian ia tersadar, ia pun cepat melepaskan pagutannya, sebelum menginginkan yang lebih.
"Kenapa?" tanya Kinar, saat melihat El memalingkan wajahnya kearah lain, namun El pun kembali menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi oleh kabut gairah.
"Y-yang?" ucapnya dengan suara yang terdengar berat dan parau.
"Kamu mau ini kan?" ucap Kinar sembari mulai membuka piyama yang ia kenakan, yang membuat mata El melotot seketika.
"S-sayang kamu ngapain?" tangannya repleks menahan tangan Kinar yang hendak melanjutkan membuka kancing piyamanya, sementara Kinar ia kembali melepaskan cengkraman El di kedua tangannya, lalu menyingkap kaos yang sedang El gunakan, membuat sang pemiliknya menggeram pelan.
Kinar melupakan rasa malunya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membuat El selalu bertahan untuknya.
"S-sayang berhenti sekarang juga atau_"
Kinar menggeleng, "Aku nggak takut ancaman El!" balas Kinar dengan tatapan menantang.
Merasa tertantang, El pun mendorong tubuh Kinar hingga terlentang diatas kasur, sementara Kinar ia mengerjap gugup saat El mengungkung tubuhnya, dengan kedua tangan El yang berada disamping kedua pinggang nya.
Lama keduanya bersitatap, dan detik kemudian tatapan El sudah berubah menjadi lebih lembut dan penuh cinta.
"Kepalanya masih sakit?" tanyanya, sembari menyentuh kepala Kinar yang perbannya sudah di lepas satu minggu yang lalu.
Kinar menggeleng, "Udah nggak."
"J-jadi, udah boleh?" lanjut El dengan suara bergetar.
"Boleh apa tuh?" goda Kinar, dengan senyum di kul um.
"S-sayang?" El menatapnya dengan tatapan memuja.
Detik kemudian Kinar pun tersenyum, menangkup sisi wajah El dan mendaratkan ciuman singkat di bibirnya, yang cukup memberi El sebuah jawaban atas pertanyaan nya.
Dan sore itu, menjadi saksi bisu sepasang insan yang saling merindukan satu sama lainnya, lewat penyatuan diri dari keduanya.
.
.
__ADS_1