
"Kamu kemana aja sih El, jam segini kok baru pulang?" Nada berkacak pinggang dihadapan anak sulungnya itu, sedangkan El, hanya bisa menyengir sembari menggaruk tengkuknya.
Setelah pulang dari Cafe tadi, ia langsung nongkrong di warung kopi milik bang Fajar, karena minggu lalu ia sudah berjanji pada Windy putri bungsunya bang Fajar, untuk membawakan boneka dan makanan.
Sejak masuk SMA, El memang lebih sering menghabiskan waktunya disana, terlebih mereka sudah seperti saudara.
Sudah 3 tahun bang Fajar berhenti di bengkel milik Ando, yang kini di gantikan oleh Hanafi putra pertamanya, sedangkan bang Fajar membuka warung kopi tersebut, untuk aktifitas barunya sehari-hari.
El melihat sekilas jam di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukan pukul 19:30 malam.
"Buruan mandi, kasian Kinar udah nungguin dari tadi, kamu tuh ya, nggak bisa di pegang banget sih omongannya." cerocos Nada yang berjalan di belakangnya.
"Iya bun, iya!"
Sesampainya di kamar, El langsung berjalan kekamar mandi, untuk mebersihkan diri terlebih dahulu.
"Aaaaa. " Kinar yang belum terbiasa melihat pemandangan yang menurutnya vulgar, hanya bisa menjerit setiap saat.
"Berisik banget sih!" gerutu El, sembari memakai kaos putih polos yang di lapisi jaket denim di luarnya.
Ia memperhatikan penampilan Kinar sekilas, kali ini tidak ada yang salah batinnya, karena malam ini gadis itu menggunakan celana panjang dan kaos yang di lapisi jaket sebagai atasannya.
"Hati-hati di jalan, jangan Ngebut-ngebut, awas aja!" ancam Nada, ketika kini mereka berpapasan, saat berjalan menuju garasi.
"Kinar sayang, hati-hati nak, kalau si El bikin ulah, bilang langsung ke bunda, biar nanti bunda kasih dia pelajaran."
Kinar tersenyum, seraya mengangguk, lalu kemudian berpamitan pada Nada.
"Mau kemana?" ucap El, ketika keduanya sudah keluar dari halaman rumahnya.
"Saya terserah kamu aja!"
"Ck! kalau terserah gue, ya mana gue tahu keinginan elo yang mau pergi kemana,"
"Nggak apa-apa saya ikut aja!"
Lagi-lagi El berdecak, "Cewek emang ribet!" ucapnya ketus.
"Kamu kalau nggak ikhlas nggak usah maksain, lebih baik sekarang kita pulang aja lagi." balas Kinar dengan perasaan kesal.
"Hah pulang? lo gila, lo mau gue dimarahin habis-habisan sama bunda." bentak El.
"Itu urusan kamu, bukan urusan saya!"
"Elo rese juga ternyata!"
"Apalagi kamu nyebelin, datar, beku, kaya kulkas!" ucap Kinar yang seketika menutup mulutnya.
Sedangkan El yang hendak menyalakan motor nya kembali, terdiam sejenak, memikirkan ucapan Kinar barusan.
..
__ADS_1
El menghentikan motornya diparkiran pasar malam, yang terletak dipinggir kota, entah apa yang membuatnya berhenti disana.
Ini kali pertamanya El memasuki area pasar malam, selama ini ia hanya mendengar namanya saja, ketika si kembar Satria dan Satya, juga adik bungsunya Cantika Berceloteh riang menceritakan tentang ramainya pasar malam.
El berbeda dari ketiga adiknya, selain memiliki sifat Datar dan dingin, El juga tidak terlalu suka dengan keramaian, yang di penuhi oleh orang yang berdesak-desakan untuk memperebutkan jalan lewat.
"Kamu sering kesini?" tanya Kinar dengan wajah berbinar.
"Nggak pernah!"
"Kok bisa tahu tempat ini?"
"Nyoba aja!" balasnya singkat dan berjalan mendahului Kinar, dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku jaketnya.
"Kamu mau nyoba makan bubur sumsum nya mang Dadan nggak, enak lho!" ucap Kinar, sembari mengangkat kedua ibu jari tangannya, dan bergegas mencari pedagang bubur sumsum yang ia maksud.
Sedangkan El hanya meliriknya dengan kening Berkerut, tanpa berniat menjawabnya, Namun sedetik kemudian, ia mengikuti langkah Kinar, menuju tenda dengan sepanduk yang bertuliskan Bubur sumsum & biji salak.
"Kamu mau nggak?" ulang Kinar, bertanya pada El.
"Terserah!"
"Yaudah, berarti saya pesan dua ya!"
"Mang buburnya dua, yang manis ya!"
"Siap neng, padahal neng Kinar udah manis, terlalu kemanisan entar malah diabetes lho!" Goda mang Dadan.
"Ngomong- ngomong itu pacarnya si neng ya?" ujar mang Dadan sedikit berbisik.
"Bisa aja si amang," gumamnya, lalu berjalan menuju bangku dimana El sedang duduk.
"Nih dimakan ya!" meletakan satu mangkuk bubur sumsum didepan El.
El sempat terdiam, memperhatikan makanan lembek Dihadapan nya, namun ketika melihat Kinar mulai memakannya dengan lahap, ia pun ikut memakannya.
Satu suapan, dua suapan, dan seterusnya hingga tandas tak tersisa, membuat Kinar menatapnya tak percaya.
"Enak?" tanya Kinar.
"Mayan!"
Setelah makanan keduanya habis, Kinar pun segera menghampiri mang Dadan untuk membayar 2 porsi bubur sumsumnya, dengan uang yang diberikan oleh El.
"Sok akrab banget sih!" ujar El dengan suara lirih, namun masih terdengar jelas oleh Kinar.
"Siapa?" tanya Kinar.
"Elo, sama mang siapa tuh tadi!"
"Mang Dadan."
__ADS_1
"Iya itu, gue nggak peduli siapa namanya."
"Itu bukan sok akrab, tapi emang akrab." El sempat menoleh sekilas, namun detik kemudian wajahnya kembali menatap lurus kedepan.
"Dulu waktu ibu saya masih ada, dia juga berjualan disini kalau malem, dan saya juga sering ikut untuk membantunya." lanjut Kinar dengan wajah sendu.
Seketika El menghentikan langkah nya, dan kembali menoleh kearah Kinar.
"Kok berhenti, kenapa?" tanyanya, karena El menghentikan langkah nya secara tiba-tiba.
"Nggak apa-apa."
..
Setelah lama berkeliling, dan membelikan satu buah boneka barbie cantik untuk Cantika, Kinar pun mengajak El, untuk melanjutkan kembali berkeliling, namun El menolak, dengan alasan, cape dan membosankan.
"Mau pulang, atau gue tinggal?" ucapnya, sembari berjalan kearah tempat parkir motornya.
"El, tungggu!" Kinar berusaha mengejar langkah panjang El.
Brugg..
Kinar terjatuh, karena tersandung batu kecil yang terletak dipinggir pasar tersebut.
El yang mendengar Kinar merintih pun langsung menoleh, dan segera menghampirinya.
"Lo kenapa sih, ribet deh!"
"Pake acara nangis segala lagi, cengeng! makanya kalau jalan tuh lihat-lihat, jangan maen tabrak aja, gini kan jadinya! " ujar El, lalu membantu mengangkat tubuh kinar agar berdiri, yang kemudian di tepis kasar olehnya.
"Kamu bisa nggak sih, nggak marah-marah terus, saya cape tahu nggak kamu marahin terus, kalau nggak niat bantu ya nggak usah!" ucapnya dengan air mata yang sudah menganak sungai, lalu berjalan dengan tertatih-tatih.
El berdecak, berjalan melewati Kinar, lalu berjongkok membelakangi Kinar.
"Naik!"
Kinar bergeming.
"Ayo Naik, nggak usah keras kepala deh, lo seneng kalau gue di marahin bunda terus."
"Buruan!" ucapnya tak sabaran.
Hingga beberapa pengunjung pasar menoleh dan menatapnya dengan gemas.
"Sampai kapan lo mau berdiri disitu terus, nggak malu di lihatin orang?"
Mendengar bentakan demi bentakan dari El, membuatnya ingin segera sampai rumah secepat mungkin.
Dan tanpa berpikir panjang, Kinar pun segera menempelkan tubuhnya di tubuh El, dan seperti tanpa merasa berat atau terbebani, El berjalan sambari menggendong Kinar dengan Santainya.
Sedangkan Kinar, dalam hatinya ia menyumpahi El, dengan sumpah serapahnya, Mungkin jika keadaan hubungannya dengan El, tidak seperti sekarang ini, ia akan merasa sangat bahagia, digendong disaat kakinya sedang terluka, terlebih berada ditempat yang ramai, terlihat so'sweet bukan Batin Kinar.
__ADS_1
.
.