
Setelah selesai makan malam, Kinar kembali kekamar El terlebih dahulu, sedangkan El memasuki kamar Satria yang diikuti Satya untuk battle bermain game.
"Bang, lo kok nikahin Kinar lo cinta emang sama dia?" ujar Satya, yang masih penasaran dengan pernikahan mendadak kakaknya itu.
"Nggak usah banyak tanya, bocil!"
Satya mendesis, "Ck! tinggal Jawab doang, apa susahnya sih!"
"Kalau lo butuh bantuan cara meluluhkan hati Kinar, lo bisa belajar langsung dari pakarnya,"
"Atau mau di ajarin yang lainnya juga boleh!" lanjut Satya menahan tawa.
"Kalau lo nggak mau, Kinar buat gue aja bang, sayang cakep gitu." timpal Satria santai.
"Nggak usah macem-macem deh!"
"Dih, posesif! Cieee!" ledek Satria mencibir.
"Rese lo berdua." akhirnya El beranjak dari kamar Satria, sedangkan keduanya tergelak bersama.
El membuka pintu kamarnya perlahan, ia menggerenyit melihat Kinar yang sudah tertidur diatas sofa, dalam posisi yang tidak nyaman menurutnya.
Namun El mengabaikannya, dan memilih merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya, namun hingga setengah jam berlalu matanya tak kunjung terpejam, membuatnya berdecak dan mengumpat kesal.
Kembali ia menoleh kearah gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, dan Tanpa sadar ia mulai menurunkan kedua kakinya, dan berjalan kearah Kinar.
Di tatapnya wajah imut Kinar, yang terlihat damai dan tenang dalam tidurnya, wajah bersih dan putih tanpa make up itu terlihat bertambah bercahaya ketika sedang tidur.
Akhirnya tanpa kembali berpikir panjang, El segera Mengangkat tubuh Kinar, dan membaringkannya di atas kasur, lalu ia ikut terlelap di sampingnya.
Kinar menggeliat pelan, lalu mengerjap beberapa kali, ada yang terasa berbeda baginya pagi ini, tubuhnya terasa hangat dan merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya, ia yakin kali ini bukanlah sekedar guling yang biasa ia peluk.
"Aaaa.. " jeritnya, saat menyadari El sedang memeluk tubuhnya.
"Apaan sih lo, berisik banget! ganggu orang tidur aja, tahu nggak?" ketus El.
"Maaf, saya cuma kaget." ucapnya dengan suara lirih.
.
.
Setelah insiden dipeluk guling bernyawa, kini Kinar tak lagi bisa memejamkan matanya, bayangan tangan kekar nan hangat itu masih begitu terasa menempel di kulitnya.
Ia menggeleng-gelengkan kepala, untuk mengusir perasaan aneh yang membuatnya terus berdebar hingga kini.
__ADS_1
"Lho non, kok udah bangun? ini masih sangat pagi lho, setahu bibi biasanya kalau pengantin baru itu bangunnya sudah siang, lah ini masih pagi begini kok si non nya udah di dapur aja, emang jalannya nggak sakit?" ucap bi Tirah, anak bi Mimin yang bekerja dirumah Ando dulu, setelah cuti beberapa hari, kini ia pun kembali 1 hari yang lalu.
Gaya bicara bi Tirah memang begitu adanya, latah, suka ceplas-ceplos, dan suka jahil.
"Eh?" Kinar menoleh dengan sedikit terlonjak.
"Nggak usah masak, kan sekarang ada bibi, non balik kekamar aja lagi ya!" lanjut bi Tirah.
"Ya-yaudah, kalau gitu saya permisi ya bi!" ucapnya dengan wajah menunduk.
"Iya sok non!"
Kinarpun buru-buru kembali kekamarnya, sedangkan bi Tirah tak berhenti untuk tertawa dengan suara lirih, sembari mulai melakukan pekerjaannya.
Saat Kinar memasuki kembali kamarnya, hal pertama yang ia lihat adalah tempat tidur yang sudah kosong, kecuali guling, bantal, serta selimut yang berserakan.
Matanya berkeliling mencari-cari sosok El yang tak terlihat di sudut manapun, namun suara gemercik air dari dalam kamar mandi, membuatnya yakin bahwa suaminya berada disana.
Kinarpun mulai merapikan satu persatu barang-barang tersebut, lalu mengambil baju yang akan ia gunakan untuk bekerja pagi ini.
Tidak lama, El keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang yang menutupi hingga atas lututnya, berjalan santai melewati Kinar.
"Aaaaa.."
Lagi-lagi Kinar menjerit sembari menutupi kedua matanya menggunakan tangannya.
"Maaf, s-saya cuma kaget." ucap Kinar dengan suara lirih.
Setelah selesai mengenakan seluruh pakaiannya, El menghampiri Kinar, dan menarik kedua tangannya yang masih menempel menutupi kedua matanya.
"Lo, dengerin gue! kita itu sekarang satu kamar, jadi mulai sekarang elo harus terbiasa sama keadaan ini, elo harus terbiasa lihat gue dalam keadaan apapun, tanpa harus teriak-teriak segala, ngerti?" ucap El dengan nada penuh penekanan.
"Dan satu lagi, elo tahu sendiri kan, pernikahan kita bukan atas dasar suka sama suka, jadi lo nggak usah berharap banyak dari gue, gue nikahin elo karena gue sayang banget sama bunda."
Kinar mengangguk, dari awal ia sudah mempersiapkan hati dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, seperti halnya sekarang ini.
"Saya minta maaf, saya janji tidak akan mengulangnya lagi!"
El yang hendak keluar dari kamar, seketika menghentikan langkahnya, terdiam sesaat tanpa menoleh, namun detik kemudian ia melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Lho, kok turunnya sendirian El, Kinarnya mana, enggak kamu ajak sekalian?" ujar Nada yang sedang membantu bi Tirah, untuk menyiapkan sarapan.
"Lagi mandi!"
"Lho kok ditinggal, harusnya ditungguin dong, jangan gitu ah, besok-besok turun dan sarapan bareng."
__ADS_1
"Iya bun!"
El pun mengambil 2 lembar roti tawar lalu mengunyahnya.
"Cie, pengantin baru udah rapi aja nih! gimana semalem bang, sukses?" goda Satya yang baru saja datang, sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi gue perhatiin, kok mukanya kaya BT gitu sih bang, kurang ya?" Sambung Satria, sembari menarik kursi di sebelahnya.
Tanpa mempedulikan celotehan keduanya, El beranjak dari kursi, mencangklong tasnya yang Ia sampirkan tadi dikursi yang di dudukinya.
"Bun, El pamit!"
"Lah, buru-buru banget, biasanya juga berangkat jam 7 kan?" ucap Nada sembari menyodorkan segelas susu yang baru saja di bawanya.
"Males, banyak nyamuk!" balasnya, sembari melirik kearah kedua adik kembarnya dengan wajah tak bersahabat.
"Kalian berdua, ngomong apa sama abang kalian?" Nada menatap anak kembarnya dengan tatapan menuduh, seakan mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan Satria dan Satya saling pandang, dengan mulut menganga, yang penuh dengan roti.
"Euhmmz, itu bun Satya yang mulai!" Satria menyambar cepat.
"Si kambing, malah nyalahin gue!" Satria menoyor kepala kembarannya itu.
"Bukan Satria bun, si Satya yang duluan tuh, aku cuma ikut-ikutan aja!"
"Bohong bun, Satria yang mulai."
"Enak aja, elo yang mulai."
"Elo."
"Elo!"
"Elo!"
"Stoooppp!" Nada menggebrak meja makan hingga keduanya terdiam.
"Bunda pusing, dan bunda nggak mau denger!" ucap Nada kesal.
"Dan kamu El, kamu harus tungguin istri kamu, berangkat bareng, anterin dia kerja,"
"Kamu tahu kan Cafe tempat Kinar bekerja, tidak jauh dari sekolah kamu."
"Dengerin tuh bang, anterin istri kerja!" ucap Satya, yang seketika menutup rapat mulutnya.
__ADS_1
.
.