
Di sebuah Kantor, Adiguna group..
"Bagaimana dengan berkas yang saya minta Gus, apakah sudah selesai,?" tanya Adiguna pada Agus yang merupakan Asisten kepercayaan nya selama ini.
"Mohon maaf sebelumnya tuan, berkasnya belum selesai sepenuhnya, tapi saya akan usahakan agar selesai besok siang." balas Agus seraya menunduk sopan.
"Baiklah, saya tunggu sampai besok!" lanjut Adiguna, yang kini menyenderkan kepalanya di senderan kursi kebesarannya itu, dengan kedua mata terpejam.
"Maaf sebelumnya tuan kalau saya lancang untuk bertanya, sebenarnya siapakah seseorang yang bernama Kinar itu tuan, sepertinya dia sangat berarti untuk tuan?" tanya Agus dengan wajah sedikit mendongak menatap bos besarnya itu.
Terlihat Adiguna menghela nafas berat, kemudian kembali duduk tegak, dan menatap Agus yang kini terlihat sedikit gugup dan canggung.
"Dia seseorang yang sangat berharga dalam hidup saya, tetapi karena keegoisan saya selama ini saya kehilangan kesempatan untuk selalu berada disisi dia." balas Adiguna, dengan raut wajah sendu dan penuh penyesalan.
"Dia cucu saya Gus!" lanjutnya, saat menyadari tatapan bingung dari asistennya tersebut.
**********
Sore itu di sebuah Cafe, di jejeran kursi terdepan, seorang wanita hamil muda yang tak lain adalah Jihan, tak sedetikpun tatapan nya berpaling dari area parkiran Cafe,
menunggu Kinar yang juga tak kunjung datang, setelah ia menunggu hampir 20 menit lamanya.
2jam yang lalu Jihan dan Kinar membuat Janji untuk bertemu disana, atas permintaan Jihan.
"Aduh maaf ya Ji, aku telat!" Kinar sedikit ngos-ngosan dan menarik kursi disamping Jihan, lalu mendudukkan dirinya disana.
"Yaudah nggak apa-apa kok!" jawab Jihan santai, membuat Kinar menatapnya tak percaya, pasalnya Jihan yang ia kenal selama ini selalu bersikap arogan dan terdengar ketus.
"Lo pesen minum dulu gih, atau cemilan gitu!" ujar Jihan, seraya mengangsurkan sebuah buku yang berisi menu Cafe, yang kemudian di terima Kinar dengan senang hati, pasalnya saat ini ia benar-benar sangat haus.
Setelah memanggil pelayan, dan menyebutkan pesanannya, kini tatapan Kinar beralih pada Jihan, yang terus menundukkan wajah.
"Ji, kamu nggak apa-apa kan,?" tanyanya, yang di angguki oleh Jihan.
"Lo kesini sama siapa Nar?"
"Sama El, makanya tadi aku telat, soalnya musti nungguin dulu."
"Lo bahagia sama El?"
"Iya Ji, El itu suami yang baik dan perhatian banget, dan yang pasti dia itu sosok laki-laki yang sangat bertanggung jawab!"
"Lo bilang apa, S-suami?"
Deg!
__ADS_1
Kinar membulatkan matanya, seraya menggigit bibir bawahnya.
"Eh itu eumz_" Kinar menghela nafas beratnya, mungkin sudah saatnya bagi dirinya untuk jujur pada Jihan, tentang status hubungan yang sesungguhnya dengan El, lagi pula saat ini Jihan sudah menikah, batinnya.
"A-aku sama El udah nikah Ji," lanjut Kinar, yang sontak membuat Jihan terbatuk-batuk.
"Minum Ji!" Kinar menyodorkan minuman milik Jihan kearahnya.
"E-elo serius, lo udah nikah sama El Nar,?" ujar Jihan dengan mata Berkaca-kaca, ia memang berusaha untuk melupakan semuanya, namun kenyataan bahwa El sudah menikah dengan Kinar membuat perasaan Jihan terasa sakit, dan setengah tak terima.
"Elo beruntung banget Nar, bisa dapetin El," lanjut Jihan yang kemudian meneteskan air mata.
"Kamu juga beruntung Ji, karena dapetin kak Andra, dia juga laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, buktinya dia nggak pernah berniat ninggalin kamu kan?"
"I-iya, gue minta maaf ya Nar, karena selama ini sikap gue ke elo udah keterlaluan banget, gue harap kedepannya, hubungan kita berdua bisa lebih baik.''
Kinar tersenyum, " Aku udah maafin kamu Ji, dan aku seneng banget karena kamu udah kasih aku kesempatan, untuk dekat sama kamu."
*********
"Udah selesai?" tanya El, ketika Kinar masuk kedalam mobil, dan duduk disebelahnya.
"Udah!" Jawab Kinar singkat.
"Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?"
"Ck, lupa lagi deh!" El memasang wajah masamnya.
"Maksudnya apa sih,?" Kinar menyentuh tangan El yang memegang kemudi, namun El bergeming dengan raut wajah yang terlihat semakin masam.
"Abang?!"
"Gitu dong," balasnya, yang membuat Kinar mengerutkan dahinya.
"Jangan diganti lagi ya panggilannya." ucap El seraya mengelus lembut pipi istrinya, membuat Kinar mengerjapkan mata beberapa kali.
"I love you sayang,"
"I love you too abang!" balasnya, membuat El mengulum senyum bahagia.
"Jadi nggak sabar pengen nyampe rumah, berbagi keringat sama kamu yang!" bisiknya, yang membuat Kinar repleks mencubit perutnya.
"Aww, sakit yang!"
"Lagian, udah mau jadi ayah tapi masih me sum."
__ADS_1
"Ck, me sum sama istri sendiri kok!"
"Awas aja kalau sampai me sum sama cewek lain."
"Nggak akan lah."
***********
"Anjiir tuh bocah ngapain lagi coba, perasaan kagak ngundang dia deh!" gerutu El, saat melihat kedua adik kembarnya itu tengah tiduran di teras rumahnya.
"Abang jangan galak-galak dong sama mereka, mereka itu kan sering bantu kita."
"Bukan itu masalahnya yang!"
"Lah, terus?"
"Ck, yang aku bilang tadi nggak jadi dong kalau mereka ada disini,"
"Ish, tahu ah aku mau masuk!" sahutnya, bergegas turun dari mobil lalu menghampiri kedua adik ipar kembarnya itu.
"Kok pada tiduran di luar sih, masuk yuk!" ajak Kinar, membuat keduanya beranjak untuk mengikuti Kinar yang sudah memasuki rumah terlebih dahulu.
"Nggak enak lah kak, main masuk rumah disaat yang punya kagak ada!" ujar Satya.
"Halah sok-sok an kagak enak segala, biasanya juga langsung masuk," sambar El yang kini sudah berada di belakang ketiganya.
"Eh bang El, gue kangen!" ucapnya, memeluk tubuh El erat, yang repleks membuat El mendorong tubuh Satya seketika.
"Jijik gue!" ucapnya, sedangkan Satya memajukan bibir dan mendengus kesal.
"Lo berdua ngapain sih maen mulu kesini, dirumah kagak ada kerjaan emang?" ucap El sembari mendudukkan dirinya diatas sofa, yang kemudian diikuti oleh kedua adik kembarnya itu.
"Lah kan ada bi Sari, yang ngerjain!" sahut Satria.
"Bukan itu maksud gue, lo kagak ada tugas atau maen kerumah teman-teman lo gitu?"
"Males keluar gue bang, lo tahu kagak sih, kemarin tuh gue kagak sengaja lihat mantan gue di deket Cafe, pake acara nyapa gue segala lagi, Ck gagal moveon deh gue!" keluh Satria, yang tanpa sadar mere mas-remas wajah Satya dengan kedua tangannya.
"Anjirr, mulut lo curhat sih curhat, tapi tangan lo kagak usah ngacak-ngacak muka gue segala kali, mana tangan lo bau lagi, curiga abis ngacak-ngacak tong sampah lo ya!" tangan Satya terangkat menuding kearah Satria.
"Sembarangan lo, sebelum kesini gue udah cuci tangan kali," balas Satria tak terima.
El menghela nafas kasar, kemudian meneguk segelas minuman dingin yang diletakkan istrinya diatas meja, yang langsung tandas dalam satu kali tegukan.
"Kalau ada lo berdua, rumah gue ini benar-benar udah kaya hutan tahu nggak sih, Benar-benar makhluk langka lo berdua." lanjut El, dengan kepala yang ia senderkan di senderan sofa.
__ADS_1
.
.