Suamiku Anak SMA 2

Suamiku Anak SMA 2
Sebuah syarat


__ADS_3

"Nah, pulang juga akhirnya kamu El, sini ikut bunda, bunda Mau ngobrol sebentar sama kamu." ujar Nada, ketika El baru saja, sampai didepan rumahnya, lalu Nada pun memimpin langkah kakinya menuju teras belakang.


"Duduk!" titahnya, menunjuk kursi rotan disampingnya.


Nada menghela nafasnya sebelum memulai apa yang ingin ia ucapkan, lalu menatap tajam pada putra sulungnya tersebut. "El, bunda Mau tanya, sejauh apa hubungan kamu dan Kinar selama seminggu ini?"


El mendongak, dengan gelagapan, bingung harus menjawab apa.


"M-maksud bunda gimana, El nggak ngerti bun?"


"Ck, kamu ini, nggak usah belaga nggak ngerti deh, bunda yakin, kamu sangat paham dengan maksud bunda yang satu ini."


"Terus kejadian yang waktu bunda nyuruh kamu ngajakin Kinar jalan, pulang-pulang kakinya pincang, dan kemarin sore bunda nggak sengaja lihat Kinar nangis, kamu apakan dia sih El,?" lanjut Nada gemas.


"Bun?"


"Mulai besok, jika bunda lihat Kinar nangis lagi, bunda nggak akan segan-segan aduin ini ke Oma Sarah, biar kamu kapok! kamu tahu sendiri kan, kalau Oma sayang banget sama Kinar,?"


"El dengerin bunda, hati wanita itu terkadang rapuh dan mudah menangis, jadi tolong jaga ucapan kamu jangan sampai menyakiti Kinar, Kinar itu butuh kasih sayang El, ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya sudah membuangnya dari sejak dia kecil."


"Bunda tahu kamu sebenarnya memiliki hati yang lembut dan hangat, coba El kamu tunjukan perasaan itu perlahan pada Kinar, jangan jutek-jutek terus."


"Bunda Mau jemput cantika dulu dirumah Oma, tolong kamu renungkan semua ucapan bunda barusan." cerocos Nada, lalu bergegas menuju garasi.


..


"Pulang bareng siapa lo?" tanyanya, pada Kinar yang baru saja masuk kedalam kamarnya, sepulang ia bekerja sore ini.


Kinar bergeming, seolah tidak mendengar apa pun.


"Lo_"


El menjeda ucapannya, yang hendak memarahi Kinar, saat tiba-tiba perkataan bunda tadi siang melintas dalam ingatannya.


"Nar, gue minta maaf!" ucapnya dengan suara lirih.


Kinar yang hendak keluar kamarpun menghentikan langkahnya seketika.


"Gue nggak tahu, bagian mana aja kesalahan gue, dan juga seberapa banyaknya kesalahan yang udah gue buat ke elo, gue minta maaf Nar." ucapnya, yang tanpa sadar menggenggam sebelah tangan Kinar.


"Elo mau kan maafin gue,?" lanjut El dengan tatapan memohon.


Kinar terdiam sebentar. "Ok, tapi ada syaratnya." ucapnya kemudian.


El mendesis, "Apaan sih pake syarat segala?"


"Nggak mau yaudah," Kinar pun melanjutkan langkahnya, hingga keberadaan El yang merentangkan tangan didepan pintu, berhasil menghentikan kembali langkah Kinar.

__ADS_1


"Ok, gue setuju, sekarang lo bilang apa syaratnya?"


"Nggak jadi deh, saya yakin cowok seperti kamu ini nggak akan sanggup dengan syarat yang saya minta." entah mendapat keberanian dari mana, Kinar menekankan telunjuknya di dada bidang El.


"Berani lo ngeremehin gue?" El mendorong tubuh Kinar dengan gerakan pelan, hingga punggungnya membentur dinding.


"Iya, emangnya kenapa?" tantang Kinar tanpa rasa takut.


"Bilang ke gue sekarang, apa syarat yang lo minta!" ucap El dengan tatapan horornya.


"Saya mau, setiap hari dan setiap pagi kamu tersenyum sama semua orang yang ada dirumah ini."


"Lo!"


"Gimana, sanggup?" ucap Kinar tersenyum mengejek.


"Lo gila ya!"


"bilang aja kalau kamu itu lo-ser!" balas Kinar, yang kemudian menepis tangan El dari bahunya.


"Apa lo bilang tadi?" El kembali menarik bahu Kinar.


"Apa, loser!" Kinar melipat kedua tangan di dadanya.


"Tarik semua kata-kata lo!" ucapnya, sembari memukul pintu dibelakang Kinar, lalu bergegas pergi.


..


"Pagi semuanya?" ujar El, dengan diiringi senyum cerahnya.


Yang sontak membuat semua orang yang berada di meja makan menoleh kearahnya, Ando dan Nada mengerutkan kening bingung, sedangkan Satria dan Satya saling beradu pandang, seolah saling bertanya lewat sorot matanya.


Begitupun dengan Kinar, yang hampir tersedak dengan roti yang kini sedang di kunyahnya.


"Tumben banget sih abang senyum, abis dapet hadiah ya?" ujar Cantika dengan polosnya.


Sementara Satya langsung ngeloyor mendekati Sang kakak, menempelkan punggung tangan di atas keningnya.


"Kagak panas kok, lo kenapa sih bang,?" tanyanya dengan raut wajah penuh tanya.


"Apaan sih lo!" El menepis tangan adiknya.


"Gue diem salah, senyum juga salah, mau lo apa sih?" ucapnya dengan wajah yang kembali datar.


"Elaaah, ngambek lagi." Satya pun kembali ketempat duduknya, untuk melanjutkan kembali sarapannya yang sempat tertunda.


,.

__ADS_1


"Puas lo!" ujar El, ketika kini sedang berjalan beriringan menuju motornya yang sudah terparkir cantik dihalaman rumahnya.


"Sebenarnya kamu itu ganteng, kalau lagi senyum El?" ujar Kinar, yang seketika menutup rapat mulutnya.


"Lo bilang apa?" El membalikan badan menatap Kinar.


"Eh, eummz." Kinar pun menjadi gelagapan, dan salah tingkah.


"U-udah ah, nanti aku telat El!" ucapnya kemudian, saat El terus menatapnya tanpa berkedip, lalu Kinarpun berjalan cepat mendekati motornya.


...


"Kenapa musti berhenti disini sih, Cafe nya kan masih jauh?" ujar El, saat menghentikan motornya didepan warung sembako.


"Nanti jadi bahan ghibah anak-anak, kalau sampai mereka tahu saya di antar sama cowok, apa lagi kalau mereka tahu cowoknya itu kamu."


"Nggak usah dengerin omongan orang lain!"


"Emangnya kamu!" balas Kinar dengan nada mencibir.


"Serah lho deh."


"Yaudah saya jalan dulu." Kinar mengulurkan tangannya dihadapan El, membuat El menggerenyit bingung.


"Elo kagak bawa uang jajan?" tanyanya.


"Apaan sih?" Kinar pun segera meraih, dan mencium punggung tangan El, membuat sang pemiliknya terbengong seketika.


"Tunggu!" Cegah El, ketika Kinar hendak melangkahkan kakinya menuju Cafe.


"Tar sore gue jemput!" ucapnya, dan langsung melajukan kembali motornya.


..


"Hai bro, lo tahu kagak, Kemarin gue sama si Yoga nongkrong di Arsenio Cafe, dan disana gue ketemu sama pelayan cewek, cakep banget gila! lo kok kagak cerita sih, kalau lo punya karyawan baru cakep begitu.?" ujar Bian, yang kini tengah berpapasan saat menuju kelasnya.


"Iya, curang lo El, punya karyawan cakep kagak bilang-bilang! " timpal Yoga, yang sedang merangkul pundaknya.


"Siapa sih Ga, kemarin tuh namanya, Ki-ki gitu?" Lanjut Bian.


"Tahu, gue juga lupa siapa, pokoknya entar sore kita musti kesana lagi, siapa tahu kan dia jodoh sama gue!"


"Enak aja, jodoh gue kali!" Bian tak terima.


Sedangkan El ia hanya terdiam, tidak menanggapi ocehan kedua sahabatnya, yang menjadi fokusnya saat ini adalah bagaimana caranya agar Kinar mau berhenti bekerja.


Karena semakin Kinar lama disana, semakin banyak juga yang mengagumi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2